Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurus Bangau Linglung vs Begal Apes
.Langit Jakarta sore itu berwarna ungu kelabu, pertanda maghrib sebentar lagi tiba. Jalanan pintas menuju Gang Senggol—yang melewati area kebon kosong bekas proyek mangkrak—terlihat sepi dan remang-remang. Lampu jalan di sana sudah mati berbulan-bulan, korban vandalisme anak-anak nakal.
Aku duduk di boncengan motor ojek pangkalan langganan, Bang Udin. Motor Supra X tua itu menderu pelan, berjuang melewati jalanan berbatu.
"Neng Sifa, tumben lewat sini? Biasanya lewat jalan raya," tanya Bang Udin sedikit cemas, melirik spion. "Di sini rawan lho kalau jam segini. Katanya banyak begal."
"Biar cepet, Bang. Ibu lagi sakit perut, saya harus buru-buru pulang bawa obat," jawabku. Sebenarnya aku juga takut, tapi rasa khawatir pada Ibu mengalahkan rasa takutku.
Tiba-tiba...
NGIIIIING!
Dua motor RX King knalpot brong muncul dari arah semak-semak, memotong jalan kami dengan agresif. Mereka berhenti melintang, memblokir jalan.
Bang Udin mengerem mendadak sampai ban belakangnya ngepot. "Waduh! Mampus kita, Neng!"
Empat orang pria turun dari motor. Mereka memakai helm full face hitam dan jaket kulit lusuh. Di tangan mereka berkilau senjata tajam: celurit dan golok karatan.
Jantungku berhenti berdetak. Ini bukan latihan. Ini begal beneran!
"Turun lo semua! Serahin motor sama dompet!" bentak salah satu begal yang badannya paling besar, mengacungkan celurit ke arah Bang Udin.
Bang Udin yang nyalinya ciut langsung mengangkat tangan, gemetar hebat. "Ampun, Bang! Ambil aja motornya! Jangan bacok saya!"
Aku turun dari motor dengan kaki lemas seperti jeli. Lututku beradu, tasku kupeluk erat di dada. Ya Tuhan, baru tadi siang pelukan sama CEO, masa sore ini pelukan sama maut?
"Heh, cewek!" Begal kedua menunjukku dengan golok. "Siniin tas lo! Sama HP! Cepetan atau gue bikin lo jadi perkedel!"
Air mataku sudah mau menetes. Aku melirik jam tanganku. Chrono menyala merah menyala.
"Deteksi ancaman fisik: Kritis. Empat target bersenjata. Peluang selamat: 0,01% kalau lo ngandelin otot lo yang lembek itu," analisis Chrono cepat dan dingin.
"Terus aku harus gimana, Chrono?! Tolongin aku!" jeritku dalam hati.
"Tenang. Aktifkan Mode: Marionette Combat (Pertarungan Wayang). Gue bakal alirkan impuls listrik mikro ke saraf motorik lo. Lo nggak perlu mikir, nggak perlu liat. Cukup merem dan biarin gue yang nyetir badan lo."
"Merem? Di depan golok?!"
"Percaya sama gue. Atau lo mau jadi headline koran kriminal besok? Tutup mata lo. SEKARANG!"
Aku tidak punya pilihan. Dengan napas tertahan dan doa komat-kamit, aku memejamkan mata rapat-rapat. Pasrah.
"Eits, malah merem dia. Takut ya, Neng?" ejek si begal, melangkah mendekat. "Sini tasnya!"
Begal itu mengayunkan tangannya hendak merampas tasku.
Saat itulah keajaiban—atau kegilaan—dimulai.
BZZZT!
Sengatan listrik kecil menyentak saraf di lengan kananku. Tanpa kuperintah, tanganku bergerak sendiri dengan kecepatan kilat!
PLAK!
Tanganku menepis tangan begal itu dengan presisi bedah.
Begal itu kaget. "Lho? Kok bisa nepis?"
"Gerakan 1: Tari Piring Sumatera," instruksi Chrono di kepalaku.
Tubuhku tiba-tiba berputar. Kakiku melangkah menyilang. Tanganku meliuk-liuk aneh seperti penari piring, tapi ujung jariku menusuk tepat ke arah ketiak si begal—titik saraf yang sangat sensitif.
TUK!
"ADUH! Geli campur sakit!" Begal itu menjerit, mundur sambil memegangi ketiaknya. Goloknya terlepas jatuh.
Tiga begal lainnya bengong. Bang Udin melongo sampai lalat bisa masuk mulutnya.
"Serang barengan!" teriak bos begal.
Tiga orang maju serentak mengepungku. Aku masih memejamkan mata, hanya mengandalkan setruman Chrono yang menggerakkan tubuhku seperti boneka tali.
"Gerakan 2: Gasing Humanoid."
Tubuhku merendah, jongkok kuda-kuda. Lalu... berputar!
Aku berputar di poros tumitku dengan kecepatan yang tidak wajar (mungkin Chrono memanipulasi gravitasi sedikit?). Tanganku terentang kaku ke samping.
Saat berputar, tanganku "tidak sengaja" menampar helm-helm para begal itu.
PLAK! PLAK! PLAK!
Suaranya nyaring seperti petasan. Para begal itu pusing tujuh keliling, terhuyung-huyung mabuk darat.
"Ini cewek apa baling-baling bambu?!" teriak salah satu begal panik.
"Finishing Move: The Tornado Throw," kata Chrono. "Siap-siap, Fa. Ini bakal sedikit... terbang."
Tangan kananku tiba-tiba mencengkeram pergelangan kaki begal pertama yang sedang oleng. Tangan kiriku mencengkeram pergelangan kaki begal kedua.
Bagaimana mungkin aku punya tenaga sekuat ini? Jawabannya: Chrono mengaktifkan exoskeleton field (medan penguat otot) di sekitar lenganku. Tenagaku dilipatgandakan sepuluh kali lipat.
"Hiyah!" teriakku tanpa sadar (itu juga diprogram Chrono).
Aku menarik kaki kedua begal besar itu. Dan dengan gerakan memutar pinggang, aku... melempar mereka!
WUUUUUUSSS!
Kedua begal itu melayang di udara. Benar-benar melayang! Mereka berputar seperti gangsing, berteriak histeris.
"MAMAAAAA! AKU TERBAAAANG!"
Tubuh mereka melengkung indah di udara, melewati semak-semak, dan...
BYUUUR!
Mendarat mulus di parit comberan hitam pekat yang ada di pinggir jalan. Cipratan air got muncrat setinggi dua meter.
Dua begal sisanya melihat teman mereka jadi atlet loncat indah dadakan. Wajah mereka pucat pasi di balik helm.
"Setan! Cewek ini pake susuk Nyi Roro Kidul!" teriak mereka ketakutan. Tanpa pikir panjang, mereka lari terbirit-birit, meninggalkan motor RX King mereka, bahkan salah satu sampai sandalnya copot.
Hening kembali melanda kebon kosong itu. Hanya terdengar suara glup-glup dari parit tempat dua begal tadi tenggelam dalam lumpur dosa.
"Combat Mode: Deactivated," lapor Chrono santai. "Kalori terbakar: 150 kkal. Lumayan buat diet cimol lo."
Aku membuka mata perlahan. Napas ngos-ngosan. Badanku pegal semua seperti habis dipijat tukang urut amatir.
Aku melihat sekeliling. Dua begal lari, dua begal berenang di got. Bang Udin masih berdiri mematung di samping motornya, memegang helmnya seolah itu jimat pelindung.
"Bang Udin..." panggilku pelan.
Bang Udin tersentak kaget, mundur selangkah. "A-ampun Neng Sifa! Jangan lempar saya ke got! Saya cuma tukang ojek!"
Aku ingin tertawa tapi juga ingin menangis. "Nggak, Bang! Itu tadi... tadi refleks! Sumpah! Saya juga nggak tau kenapa bisa gitu!"
Bang Udin menatapku dengan tatapan horor campur takjub. "Neng... Neng Sifa ternyata pendekar ya? Selama ini nyamar jadi orang culun? Itu jurus apa tadi? Jurus Mabuk Kepayang?"
"I-itu jurus... Jurus Senam Kesegaran Jasmani, Bang!" jawabku asal.
Bang Udin menggeleng-gelengkan kepala. "Gila. Besok-besok kalau ada begal lagi, saya panggil Neng Sifa aja deh. Nggak usah lapor polisi."
Aku berjalan mendekati parit. Dua begal itu sedang berusaha naik, badan mereka hitam legam penuh lumpur bau busuk.
"Tolong, Neng... Ampun..." rintih mereka, sudah kehilangan garangnya. "Kita tobat, Neng. Kita janji bakal jadi marbot masjid aja abis ini."
"Pergi! Jangan ganggu orang lagi!" bentakku, kali ini dengan keberanian asli. "Kalau saya liat kalian lagi, saya puter kalian sampe jadi jus!"
"Siap Neng! Siap!" Mereka lari terpincang-pincang, bau got menyebar ke mana-mana.
Aku kembali naik ke boncengan motor Bang Udin.
"Jalan, Bang. Keburu maghrib."
"Si-siap, Neng Pendekar!" Bang Udin menyalakan motor dengan semangat 45, merasa aman karena diboncengi bodyguard super.
Di perjalanan pulang, aku mengelus jam tanganku.
"Kamu gila, Chrono. Tadi itu bahaya banget," omelku dalam hati.
"Bahaya? Itu namanya seni bela diri, Nona. Lagian, lo keren tadi. Mas Adi pasti bangga kalau liat pacarnya bisa melempar manusia kayak melempar karung beras."
"Pacar?! Siapa yang pacaran?!"
"Belum resmi sih. Tapi bentar lagi. Gue udah simulasiin 14 juta kemungkinan masa depan, dan 99 persen berakhir di pelaminan. 1 persen sisanya berakhir lo jadi janda kaya raya karena Adi mati ketawa liat kelakuan lo."
Aku tertawa lepas, membiarkan angin sore menerpa wajahku. Hari ini benar-benar hari paling absurd dalam hidupku. Pagi ditagih rentenir, siang dipeluk CEO, sore melempar begal.
Sifa yang dulu—yang penakut dan lemah—sudah mulai pudar. Berganti dengan Sifa yang baru, yang mungkin masih ceroboh, tapi punya kekuatan tak terduga.
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi kembang tujuh rupa (bohong, cuma mandi sabun batangan biasa) untuk menghilangkan aura negatif begal.
Saat makan malam, Ibu bertanya curiga. "Nduk, kok tanganmu gemeteran gitu pas pegang sendok? Kenapa?"
"Oh, ini Bu... tadi di kantor ada senam aerobik. Sifa semangat banget sampe ototnya kaget," jawabku berbohong lagi demi ketenangan jantung Ibu.
"Oh, bagus itu. Olahraga biar sehat," kata Ibu polos.
Aku tersenyum, menyuap nasi dengan tangan yang masih sedikit gemetar sisa aliran listrik Chrono.
Di luar sana, dua begal yang apes itu mungkin sedang mandi kembang beneran untuk buang sial, bersumpah tidak akan pernah membegal wanita berkacamata lagi seumur hidup mereka.
baik tapi perhitungan 👍
jangan baik tapi oon
talk about real
kamu baik, oon, siap jadi keset parra manusia ambisius
semangat kakak