NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Konsekuensi Kemenangan

Lantai-lantai kayu di koridor Puncak Terasing tidak lagi hanya menyuarakan derit sepi. Pagi ini, ada getaran lain, yaitu bisik-bisik yang tertahan di balik pilar, tatapan yang berpaling cepat saat tongkat bambu Guiren mengetuk lantai pualam. Nama itu merayap seperti rembesan tinta di atas kertas basah.

Si Pelukis Buta.

Julukan itu lahir dalam semalam, sebuah label yang diberikan oleh mereka yang menyaksikan runtuhnya harga diri Bai Feng di Menara Latihan. Bagi para murid luar, nama itu adalah harapan yang mustahil. Bagi para murid inti, itu adalah gangguan yang tidak menyenangkan.

Guiren berjalan dengan punggung tegak, meski sisa kelelahan dari duel kemarin masih terasa seperti beban timbal di meridiannya. Di sampingnya, Xiaolian melangkah dengan binar yang tidak bisa ia sembunyikan. Gadis itu membawa keranjang berisi pakaian bersih, namun dagunya terangkat sedikit lebih tinggi dari biasanya.

"Kak, kau tahu? Mereka semua melihatmu dengan mata terbuka lebar," bisik Xiaolian. Suaranya kecil, namun mengandung nada kebanggaan yang kental. "Bahkan murid-murid dari Puncak Utama yang biasanya sombong itu... mereka menepi saat kita lewat."

Guiren tidak tersenyum. "Perhatian adalah jenis tinta yang paling sulit dihapus, Lian-er. Sekali kau menumpahkannya, noda itu akan menarik setiap mata, termasuk mereka yang ingin merobek kertasnya."

"Tapi Kakak tetap menang," bantah Xiaolian pelan namun tegas. "Kakak membuktikan bahwa kita bukan sekadar serangga yang bisa mereka injak seenaknya. Aku... ," Ia terdiam sejenak, jemarinya meremas pegangan keranjang. "Aku ingin bisa membantumu lebih dari sekadar mencuci pakaian atau menggiling tinta. Jika satu garis bisa menjatuhkan jenius seperti Bai Feng, aku ingin tahu bagaimana cara mendukung garis itu agar tidak patah."

“Aku tahu.” Guiren menghentikan langkahnya sejenak. Ia merasakan tekad Xiaolian yang tumbuh, sesuatu yang lebih dewasa daripada sekadar kekaguman seorang adik. Ada bibit tanggung jawab yang mulai bersemi di sana, sebuah keinginan untuk tidak lagi menjadi pendukung, melainkan menjadi bagian dari kekuatan utama yang sedang mereka bangun.

Langkah mereka terhenti saat seorang murid pengiring berbaju abu-abu menghadang. Ia tidak lagi membawa wajah jijik seperti saat pertama kali mereka tiba, melainkan sebuah topeng netralitas yang dipaksakan.

"Yuen Guiren," ucap murid itu, menyerahkan sebuah token perunggu kecil dengan ukiran riak air. "Atas perintah pengawas latihan, kemenanganmu di menara memberimu hak atas satu sesi di Kolam Qi sore ini. Ini adalah pengecualian langka bagi seorang murid luar."

Xiaolian menarik napas pendek. Kolam Qi adalah jantung dari sekte, tempat di mana energi murni dialirkan langsung dari urat nadi gunung. Baginya, itu adalah pengakuan.

Namun bagi Guiren, beratnya token itu terasa berbeda. Ia menerimanya dengan tangan yang stabil. "Terima kasih."

Murid pengiring itu tidak segera pergi. Ia menatap kain penutup mata Guiren dengan rasa ingin tahu yang dingin sebelum berbalik tanpa kata.

Saat mereka kembali berjalan, atmosfer di sekitar mereka terasa semakin kental. Popularitas bukanlah hadiah di Sekte Mo-Yun, itu adalah sasaran tembak. Guiren bisa merasakan niat iri yang mulai mengkristal di sudut-sudut koridor. Bai Feng mungkin sedang bersembunyi di balik luka egonya, namun para pengikutnya dan mereka yang merasa terancam oleh kemunculan "Si Pelukis Buta" mulai menyusun rencana dalam diam.

Mereka sampai di ambang gubuk bambu mereka. Xiaolian segera meletakkan keranjang dan mulai menyiapkan air untuk Guiren.

"Gunakan sesi kolam itu dengan baik, Kak," ucap Xiaolian sambil menatap token perunggu di atas meja kayu. "Biarkan mereka bicara apa saja. Selama kau kuat, aku tidak takut pada apa pun yang mereka rencanakan."

Guiren duduk di dipan bambunya, meraba guratan pada token itu. Ia tahu, masuk ke Kolam Qi berarti masuk lebih dalam ke jantung pengawasan sekte. Namanya kini telah melampaui batas Puncak Terasing.

Matahari mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang yang tajam di lantai gubuk. Di kejauhan, lonceng sekte berdentang, sebuah panggilan bagi mereka yang berhak mengecap energi gunung. Guiren tahu, mulai besok, ia tidak akan lagi hanya membersihkan debu di perpustakaan. Ia kini adalah debu yang menolak hilang, dan sekte memiliki caranya sendiri untuk "membersihkan" anomali seperti dirinya.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!