Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
13
Suasana di dalam rumah kayu itu terasa tegang sejak surat dari kota itu datang. Aris menjadi lebih pendiam ia sering kali duduk di pojok teras sambil memeluk buku gambarnya, matanya terus mengawasi pagar mawar, takut jika tiba-tiba ada mobil datang untuk membawanya pergi.
Anjeli tahu, ia tidak boleh membiarkan ketakutan ini berlarut-larut. Pagi itu, setelah memastikan Aris sibuk mewarnai, Anjeli masuk ke kamar ayahnya membawa botol keramik kecil berisi Minyak Penguat Tulang dan Saraf yang ia dapatkan dari Ruang Ajaib semalam.
"Ayah, Anjeli punya minyak urut baru. Pak Hendra yang memberikannya, katanya ini ramuan herbal khusus dari kota," dusta Anjeli untuk kesekian kalinya. Ia harus berbohong demi menjaga rahasia cincin itu.
Pak Burhan tersenyum lemah. "Nak, kamu sudah melakukan terlalu banyak untuk ayah. Ayah merasa sangat tidak berguna melihatmu memikul beban ini sendirian."
"Ayah adalah kekuatan Anjeli. Kalau sehat sehat, beban Anjeli hilang separuh," sahut Anjeli sambil mulai mengoleskan minyak keemasan itu ke kaki ayahnya.
Begitu minyak itu menyentuh kulit Pak Burhan, sebuah reaksi ajaib terjadi. Minyak itu meresap seketika, tidak meninggalkan bekas lemak, melainkan memancarkan hawa hangat yang membuat otot-otot kaki Pak Burhan yang tadinya kaku dan mengecil, perlahan berkedut kuat.
"Nak? Kaki Ayah… kaki Ayah rasanya seperti dialiri air hangat yang sangat deras!" seru Pak Burhan terkejut.
Anjeli menahan napas. Ia memijat perlahan, mengarahkan energi itu ke saraf-saraf utama. "Coba Ayah gerakkan sekarang."
Dengan tekad yang luar biasa, Pak Burhan menggertakkan giginya. Perlahan tapi pasti, kaki kanannya terangkat, lalu kaki kirinya. Tidak hanya jempol, tapi seluruh tungkai bawahnya bergerak.
"Ayah mau mencoba berdiri, sayang. Bantu Ayah. Nak," pinta Pak Burhan dengan mata berapi-api.
Anjeli memegang lengan ayahnya yang kokoh. Pak Burhan bertumpu pada pundak kecil putrinya. Dengan napas yang memburu, ia mulai mengangkat bokongnya dari kursi roda. Sendi-sendinya berderit, namun rasa nyeri yang biasanya menghalangi kini hilang digantikan oleh kekuatan yang asing.
Satu detik,,, dua detik,,,epuluh detik,,,
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun ini. Pak Burhan berdiri tegak tanpa bantuan sandaran kursi roda. Meskipun tubuhnya masih sedikit gemetar, ia berdiri di atas kedua kakinya sendiri.
"Ayah…Hikss…Hikss, Ayah bisa berdiri!" Anjeli terisak bahagia, air matanya jatuh di lengan ayahnya.
Aris yang mendengar suara gaduh segera berlari masuk. Saat melihat ayahnya berdiri, bocah itu menjatuhkan pensil warnanya. "Ayah sudah bisa jalan lagi?"
"Belum bisa jalan, jagoan. Tapi Ayah sudah bisa berdiri. Sebentar lagi, Ayah akan antar kamu ke sekolah dengan kaki Ayah sendiri," sahut Pak Burhan sambil memeluk kedua anaknya.
Kebahagiaan itu terusik ketika sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti di depan pagar mawar. Seorang pria berpakaian necis dengan koper kulit turun dari mobil. Ia tampak kesulitan melewati pagar mawar Anjeli yang rimbun dan berduri tajam.
"Permisi! Apakah ini rumah Pak Burhan?" teriak pria itu dari balik pagar.
Anjeli segera menyeka air matanya. Ia membantu ayahnya kembali duduk di kursi roda, ia belum mau menunjukkan kemajuan ayahnya pada orang asing ini. "Aris, di dalam saja sama Ayah ya. Jangan keluar."
Anjeli melangkah keluar menuju pagar. Pria itu adalah Pak Baskara, pengacara yang namanya tertera di surat kemarin.
"Saya Baskara, perwakilan dari Ibu Anita. Saya datang untuk melihat kondisi lingkungan tempat tinggal Aris dan melakukan mediasi awal," ujar pria itu dengan nada bicara yang sangat formal dan dingin.
Anjeli tidak membuka gerbang. Ia berdiri di balik barisan mawar. "Ibu saya sudah tidak ada di sini sejak dua tahun lalu. Dan kami tidak butuh mediasi. Aris tetap di sini." Tegasnya
Pak Baskara melihat sekeliling dengan pandangan meremehkan, atap yang bocor di beberapa sisi dan dinding papan. Namun, matanya tertahan pada kebun di belakang yang tampak hijau subur dan pagar mawar yang sangat indah.
"Kondisi ekonomi keluarga ini tidak stabil, Dek Anjeli. Ibu Anita sudah menyiapkan kamar mewah dan sekolah internasional untuk Aris di kota. Secara hukum, kesejahteraan anak adalah yang utama. Dengan kondisi ayahmu yang lumpuh, pengadilan kemungkinan besar akan memberikan hak asuh pada pihak yang lebih mampu," jelas pengacara itu sambil mencatat sesuatu di bukunya.
"Ayah saya sedang dalam masa pemulihan dan dia akan segera sembuh. Dan soal kesejahteraan... kami tidak kekurangan makanan sedikit pun," sahut Anjeli tajam.
"Kita lihat saja di persidangan bulan depan. Oh, satu lagi Ibu Anita menitipkan uang ini untuk kalian," Pak Baskara menyodorkan sebuah amplop cokelat berisi uang.
Anjeli menatap amplop itu dengan muak. "Bawa kembali uang itu. Bilang pada Ibu, kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang yang dia dapat dari hasil meninggalkan suaminya yang sedang sekarat. Kami punya harga diri."
Pak Baskara tampak sedikit terkejut dengan keberanian gadis remaja di depannya. Ia menarik kembali amplopnya. "Baiklah. Sampai jumpa di pengadilan, Anjeli."
Setelah mobil itu pergi, Anjeli masuk ke dalam rumah dengan tangan mengepal. Ia melihat ayahnya sedang mencoba melangkah satu per satu di sepanjang tembok, dibantu oleh Aris.
"Yah, pengacara itu meremehkan kita. Dia bilang Ayah idak mampu merawat Aris karena Ayah lumpuh," kata Anjeli dengan suara bergetar.
Pak Burhan berhenti melangkah. Ia menatap kakinya, lalu menatap Anjeli. "Nak, ambilkan Ayah tongkat kayu kakekmu di gudang. Ayah idak mau lagi duduk di kursi roda itu saat mereka datang lagi."
Anjeli mengangguk mantap. "Dan Anjeli akan membuat kebun kita menghasilkan lebih banyak lagi. Kita akan buktikan bahwa kita punya penghasilan yang tetap dan layak."
Malam itu, Anjeli masuk ke Ruang Ajaib dengan rencana baru. Ia harus memperluas jenis tanamannya. Ia mulai menanam berbagai jenis sayuran organik yang mahal seperti brokoli dan selada keriting menggunakan benih yang ia temukan di laci kedua. Ia juga mulai mengolah Padi Emas yang sudah dipanen menjadi beras.
Ia menyadari, perjuangan ini bukan lagi hanya tentang bertahan hidup, tapi tentang memenangkan martabat keluarga di mata hukum dan di mata wanita yang telah membuang mereka.
"Semua ini untuk kebahagiaan Ayah dan Adik," bisiknya di tengah kesunyian Ruang Ajaib. "Dan tidak akan kubiarkan siapa pun merebutnya."
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄