NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Malam itu berakhir dengan pemandangan yang langka: Namira benar-benar khusyuk memelototi kitab sampai matanya hampir juling, sementara Ayyan sesekali membetulkan bacaannya dengan sabar. Namira akhirnya tumbang dan tertidur di atas meja, yang kemudian dipindahkan oleh Ayyan dengan sangat hati-hati ke tempat tidur.

Keesokan Paginya...

Suasana pesantren sudah ramai sejak subuh. Namun, sekitar jam sembilan pagi, sebuah mobil kurir logistik berhenti tepat di depan gerbang ndalem. Seorang kurir turun dengan membawa kotak besar berlogo mewah bertuliskan Al-Husna.

"Paket untuk Ning Namira!" seru kurir itu.

Namira yang sudah menunggu sejak tadi langsung lari keluar teras, diikuti Ayyan yang baru saja selesai mengisi pengajian pagi.

"Mas! Paketnya datang! Ayo buka, ayo buka!" Namira menarik kotak itu ke ruang tengah.

Begitu dibuka, isinya benar-benar memukau. Ada satu set gamis premium berwarna emerald green dengan payet mutiara yang sangat elegan untuk Namira, dan satu set baju koko modern berkerah tinggi dengan motif bordir senada untuk Ayyan.

"Wah... Mas, lihat! Ini keren banget! Mas Ayyan kalau pakai ini pasti mirip pangeran dari Timur Tengah!" Namira mengangkat baju koko itu ke depan tubuh Ayyan.

Ayyan meraba kainnya. "Bahannya bagus, adem. Tidak mencolok tapi berkelas," komentarnya jujur.

"Iya kan? Ayo, Mas, ganti baju sekarang! Aku juga mau dandan tipis-tipis. Kita ambil lokasinya di taman belakang yang banyak pohon pinusnya, biar estetik!"

Setengah jam kemudian, Namira keluar dari kamar dengan penampilan yang bikin siapa pun terpana. Ia terlihat sangat anggun, jauh dari kesan bocah Jakarta yang hobi makan seblak. Tapi yang membuat jantung Namira sendiri mau copot adalah saat melihat Ayyan keluar dari kamar mandi.

Ayyan memakai baju koko emerald itu, dipadukan dengan celana kain hitam dan peci yang masih terpasang rapi. Aura dinginnya mendadak berubah menjadi aura "Mahal".

"Gimana? Aneh ya?" tanya Ayyan sambil membetulkan kancing lengannya.

Namira melongo, tidak berkedip. "Mas... aku baru sadar kalau aku nggak cuma nikah sama Ustadz, tapi sama model internasional. Netizen pasti bakal pingsan jamaah lihat ini!"

"Jangan berlebihan, Namira. Ayo cepat, sebelum matahari terlalu terik," ajak Ayyan meski telinganya mulai memerah karena dipuji istrinya.

Di taman belakang, Namira sudah menyiapkan tripod. Beberapa santriwati yang kebetulan lewat langsung berhenti dan berkumpul di kejauhan, berbisik-bisik heboh melihat pemandangan langka Gus mereka sedang "syuting".

"Oke, Mas. Konsepnya simpel. Mas jalan pelan dari sana, terus aku lari kecil nyamperin Mas dan kita jalan berdampingan sambil Mas pegang payung ini buat aku. Bisa kan?" instruksi Namira bak sutradara profesional.

Ayyan mengernyit. "Pegang payung? Kenapa saya harus pegang payung?"

"Biar romantis, Mas! Gentleman gitu lho!"

Ayyan akhirnya menurut. Musik mulai diputar, kamera merekam. Ayyan berjalan dengan langkah tegap dan wajah berwibawa. Namira berlari kecil, lalu masuk ke dalam dekapan payung yang dipegang Ayyan. Saat Namira menatap Ayyan sambil tersenyum lebar, Ayyan tanpa sadar menoleh dan menatap balik Namira dengan sorot mata yang sangat lembut—bukan dibuat-buat, tapi tulus.

"Perfect! Ini dia! Golden shoot!" pekik Namira senang setelah mematikan rekaman.

Namira gemetar saat melihat angka di layar ponselnya. Hanya dalam hitungan jam setelah video "Gus Payung" itu diunggah, jagat media sosial benar-benar meledak. Notifikasi ponselnya tidak berhenti berbunyi sampai ponselnya terasa panas.

​"Mas... Mas Ayyan... lihat ini..." suara Namira tercekat.

​Ayyan yang baru saja selesai mengganti baju kokonya dengan baju santai, menghampiri istrinya. "Ada apa lagi? Kamu jangan menakut-nakuti saya."

​"Mas... followers aku... 100 JUTA!" teriak Namira histeris. Ia melompat ke pelukan Ayyan sampai suaminya itu hampir terjungkal. "Kita pecah rekor! Video kita ditonton hampir seluruh orang di Indonesia kayaknya! Lihat komennya, Mas! 'Gus National Treasure', 'Ibu Nyai Tershining', 'Couple Halal Paling Meresahkan'!"

​Ayyan terdiam seribu bahasa. Angka 100 juta di kepalanya hanyalah sebuah angka statistik, tapi melihat reaksi Namira yang begitu bahagia, ia tahu ini hal besar. "100 juta orang melihat saya memegang payung? Dunia ini sudah benar-benar aneh," gumam Ayyan heran.

​Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan sangat keras. Brak! Brak! Brak!

​"Ayyan! Namira! Keluar, Nduk! Di depan banyak orang!" suara Umi Fatimah terdengar panik bercampur semangat.

​Begitu mereka keluar ke ruang tamu, mereka kaget melihat Abah Kyai sedang berdiri di depan pintu ndalem sambil memijat pelipisnya. Di halaman pesantren, sudah ada beberapa mobil stasiun TV dan wartawan yang mencoba masuk, namun tertahan oleh barikade para santri putra.

​"Ini ada apa, Bah?" tanya Ayyan bingung.

​Abah Kyai menoleh, lalu tertawa kecil. "Ayyan, sepertinya istrimu ini benar-benar membawa perubahan besar. TV nasional mau meliput 'Pesantren Digital' kita. Mereka bilang mau mewawancarai Gus dan Ning yang sedang viral."

​Namira langsung pucat. "Waduh, aku belum siap masuk TV, Mas! Mana belum pakai make up lagi!"

​Ayyan menarik napas panjang, mencoba menenangkan istrinya. "Tenang, Namira. Ini konsekuensi dari 100 juta pengikutmu itu. Tapi tunggu dulu..." Ayyan menatap ponselnya sendiri yang tiba-tiba bergetar.

​Ada sebuah email masuk ke ponsel Ayyan—yang ternyata tersambung dengan akun pendaftaran kuliah Namira.

​"Namira, lupakan dulu soal wartawan itu," ucap Ayyan dengan nada serius.

​"Kenapa, Mas? Ada apa?"

​Ayyan menunjukkan layar ponselnya. Ada sebuah pengumuman resmi dengan kop surat universitas.

"Selamat, kamu tidak hanya viral. Kamu Lulus Seleksi di jurusan Psikologi dengan beasiswa penuh jalur prestasi non-akademik karena dianggap sebagai penggerak konten positif."

​Namira terdiam. Air matanya tiba-tiba luruh. Ia tidak menyangka dunia pesantren yang awalnya ia takuti akan mengekang mimpinya, justru membawanya ke puncak popularitas dan pendidikan sekaligus.

​"Mas... aku kuliah!" Namira menangis haru di dada Ayyan.

​"Iya, kamu kuliah. Tapi ingat," Ayyan berbisik sambil tersenyum penuh arti, "100 juta followers bukan alasan untuk bolos ngaji malam ini. Dan besok, saya sendiri yang akan mengantarmu ke kampus pakai motor, biar wartawan itu makin punya bahan berita."

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!