NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Gua Persembunyian

​"Awas, Mas! Itu isinya CPU server, bukan kulkas mini! Jangan dibanting!"

​Elena berteriak memperingatkan kurir ekspedisi yang sedang terhuyung-huyung membawa kotak kardus besar masuk ke dalam unit apartemen barunya. Pria berseragam merah itu wajahnya sudah merah padam, keringat bercucuran sebesar biji jagung.

​"Busyet, Mbak... ini berat banget. Isinya batu kali ya?" keluh si kurir sambil meletakkan kardus itu dengan hati-hati di lantai parket kayu. Napasnya memburu. "Ini kardus terakhir, kan?"

​"Iya, itu yang terakhir. Terima kasih, Mas," Elena menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah sebagai tip. "Buat beli es teh. Maaf lift barangnya agak jauh."

​Mata kurir itu langsung berbinar melihat uang merah. "Wah, makasih banyak, Mbak! Kalau butuh angkat-angkat lagi, panggil saya saja. Saya pamit dulu."

​Kurir itu pergi dengan langkah ringan, menutup pintu unit di belakangnya.

​Klik.

​Suara kunci pintu otomatis yang mengunci memberikan kepuasan tersendiri bagi Elena.

​Hening.

​Akhirnya, ketenangan yang sesungguhnya.

​Elena berdiri di tengah ruangan tipe studio seluas 45 meter persegi itu. Ruangan ini terletak di lantai 35, dengan jendela kaca besar dari lantai ke langit-langit yang menampilkan pemandangan hutan beton Jakarta.

​Kondisinya kosong melompong. Tidak ada sofa empuk. Tidak ada karpet bulu. Tidak ada vas bunga, lukisan abstrak, atau pernak-pernik "estetik" yang biasanya disukai wanita sosialita seperti Sora.

​Bagi orang lain, ruangan ini terlihat menyedihkan. Seperti gudang kosong yang belum dihuni.

​Tapi bagi Elena, ini adalah kanvas putih. Ini adalah gua persembunyiannya.

​Dia melirik jam tangannya. Pukul satu siang. Dia punya waktu enam jam sebelum "jam malam" yang ditetapkan Kairo.

​"Oke, Elena. Waktunya bekerja," gumamnya pada diri sendiri. Dia menggulung lengan kemeja sutranya. "Mari kita bangun benteng pertahanan."

​Dia berjalan menuju tumpukan kardus yang baru saja diantar. Dia tidak membawa baju ganti sehelai pun ke sini.

​Barang yang dia bawa tadi isinya bukan pakaian, tapi kabel-kabel, hard disk eksternal, dan perangkat keras yang dia beli secara kilat di toko komputer Mangga Dua sebelum ke sini.

​Elena merobek selotip kardus pertama.

​Isinya adalah sebuah meja kerja rangka besi warna hitam. Model industrial. Kokoh, dingin, dan fungsional.

​Elena merakitnya sendiri. Dia memutar baut, memasang kaki meja, dan menegakkannya di sudut ruangan yang paling strategis—membelakangi dinding, menghadap ke pintu. Posisi command center. Dia tidak butuh tukang. Dia butuh privasi.

​Satu jam kemudian, meja itu sudah berdiri tegak.

​Di atasnya, Elena mulai menyusun "senjata"-nya.

​Tiga unit monitor LED 27 inci dipasang berjajar membentuk setengah lingkaran. Sebuah PC high-end dengan spesifikasi gaming—bukan untuk main game, tapi untuk memproses data berat—diletakkan di bawah meja. Keyboard mekanik dan mouse presisi tinggi melengkapi setup itu.

​Tidak ada hiasan. Tidak ada foto keluarga. Hanya ada warna hitam, abu-abu, dan kilatan logam.

​Steril. Dingin. Efisien.

​Persis seperti ruang server.

​"Sempurna," desis Elena sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

​Dia menarik kursi ergonomis jaring-jaring—kursi yang nyaman untuk duduk 12 jam nonstop—dan menghempaskan tubuhnya di sana.

​Rasanya luar biasa.

​Duduk di kursi ini terasa jauh lebih nyaman daripada duduk di sofa beludru Italia di rumah Kairo. Di sini, dia adalah ratu. Di sini, dia adalah otak.

Elena menekan tombol power pada CPU.

​Whirrr...

​Kipas pendingin berputar halus. Lampu LED biru menyala. Tiga monitor di hadapannya berkedip hidup secara bersamaan, menampilkan logo booting yang tajam.

​"Halo, Sayang," sapa Elena pada komputernya. "Sudah lama tidak bertemu."

​Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard. Bunyi tik-tik-tik yang renyah memenuhi ruangan kosong itu. Musik favorit Elena.

​Hal pertama yang dia lakukan: Keamanan jaringan.

​Dia tidak menggunakan Wi-Fi gedung yang gampang diretas. Dia sudah memesan jalur internet dedicated line yang kabelnya ditarik khusus.

​Elena menginstal VPN (Virtual Private Network) berbayar dengan enkripsi militer. Dia mengarahkan alamat IP-nya memutar ke server di Swiss, lalu ke Singapura, baru masuk ke Jakarta.

​"Coba saja lacak aku sekarang, Kairo," tantang Elena pada layar kosong. "Bahkan tim IT kantormu pun bakal butuh waktu seminggu buat menembus firewall ini."

​Setelah benteng digitalnya aman, Elena masuk ke tahap kedua: Logistik Finansial.

​Wajahnya berubah serius. Ini momen krusial.

​Di kehidupan sebelumnya, Elena adalah konsultan bisnis termahal di Asia. Bayarannya jutaan dolar per proyek. Tentu saja, dia punya tabungan raksasa. Masalahnya, uang itu tersimpan di bank offshore yang sangat aman.

​Biasanya, untuk mengakses akun itu butuh verifikasi wajah atau sidik jari Elena yang asli. Tapi sekarang dia ada di tubuh Sora. Wajahnya beda, sidik jarinya beda.

​"Untung aku paranoid," gumam Elena sambil merogoh saku celananya.

​Dia mengeluarkan sebuah benda kecil berbahan titanium. Sebuah flashdisk enkripsi tingkat tinggi.

​Dia menatap benda itu dengan tatapan nostalgia.

​Tadi siang, setelah memborong peralatan komputer di Mangga Dua, Elena menyempatkan diri mampir ke sebuah gedung tua di kawasan Jakarta Pusat. Gedung itu adalah fasilitas Private Vault Anonim—tempat penyewaan kotak deposit yang tidak terafiliasi dengan bank manapun. Tempat favorit para kriminal dan orang kaya yang ingin menyembunyikan rahasia.

​Elena di masa lalu menyewa kotak nomor 889 untuk jangka waktu sepuluh tahun. Tidak perlu KTP, tidak perlu wajah. Hanya butuh kode PIN 12 digit yang hanya ada di kepalanya.

​Di sanalah dia menyimpan "Doomsday Drive" ini. Cadangan akses darurat jika sewaktu-waktu dia harus kabur, diculik, atau... mati dan hidup kembali di tubuh orang lain mungkin.

​"Siapa sangka paranoia-ku menyelamatkan hidupku," bisik Elena.

​Ini bukan flashdisk biasa. Ini adalah "Kunci Darurat" (Hardware Security Key). Benda ini berisi kode enkripsi RSA 4096-bit yang berfungsi sebagai "Backdoor" atau pintu belakang.

​Jika flashdisk ini dicolokkan, sistem bank akan mengenali pemegangnya sebagai "Admin Super" tanpa perlu memindai wajah.

Elena menancapkan flashdisk itu ke port USB.

​Layar monitor berkedip sebentar, lalu muncullah tampilan saldo rekening lamanya yang tersimpan di Bank Cayman Islands.

​USD 45,000,000.00

​Sekitar 700 Miliar Rupiah. Uang hasil kerja kerasnya dulu masih utuh, "tidur" dengan tenang menunggu pemiliknya kembali.

​Elena tersenyum puas. Tapi dia belum mau menyentuh uang raksasa itu. Itu dana pensiun.

​Fokusnya sekarang adalah mengamankan uang 1,4 Miliar rupiah yang ada di rekening Sora—sisa hasil memeras Kairo dan jualan tas kemarin.

​Kalau uang itu tetap di bank Indonesia, Kairo bisa dengan mudah membekukannya. Kairo punya kenalan direktur bank di mana-mana. Sekali Kairo marah, uang itu bisa dikunci dan Elena bakal miskin lagi.

​"Aku harus memindahkannya ke tempat yang tidak bisa dijangkau tangan panjang suamiku," gumam Elena.

​Beruntung sekali, di kehidupan sebelumnya, Elena bukan cuma konsultan bisnis yang duduk manis di kantor. Dia juga seorang hacker.

​Hobi sampingan yang dulu dia pelajari untuk memata-matai saingan bisnis, sekarang jadi juru selamatnya.

​Bagi orang biasa, memindahkan uang miliaran ke luar negeri itu ribet. Harus isi formulir, kena biaya admin, dan menunggu berhari-hari.

​Tapi bagi Elena? Itu cuma permainan jari.

​Dia membuka program khusus di komputernya. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, membobol jalur cepat perbankan, membuat "terowongan digital" yang tidak bisa dilacak oleh sistem keamanan bank biasa.

​Dia mengetik nominal: Rp 1.400.000.000.

​Lalu dia mengarahkan tujuannya ke rekening rahasianya di luar negeri.

​"Selamat tinggal, Rupiah. Selamat datang, Dolar," bisik Elena.

​Satu ketukan mantap di tombol Enter.

​Klik.

​Layar berkedip sekali.

​TRANSFER SUKSES.

​Dalam hitungan detik, uang 1,4 Miliar itu lenyap dari bank lokal, terbang melintasi benua secara digital, dan mendarat aman di brankas rahasianya di Kepulauan Cayman.

​Sekarang, saldo di bank lokal Sora tinggal lima puluh juta untuk jajan sehari-hari. Sisanya? Aman.

​Kairo mau ngamuk sampai kayang pun, dia tidak akan bisa menyentuh uang itu.

​Elena menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lega. Rasanya beban satu ton baru saja diangkat dari pundaknya.

​"Nah, dompet sudah aman. Sekarang saatnya cari mainan baru," kata Elena.

​Dia menegakkan tubuhnya lagi. Wajahnya berubah serius.

​Dia tidak bisa melamar kerja pakai nama "Sora". Itu sama saja cari mati. Dia harus kerja diam-diam.

​Elena membuka situs gelap di internet. Sebuah forum rahasia tempat para bos-bos besar mencari bantuan "orang pintar" tanpa harus ketahuan publik.

​Dulu, Elena adalah ratu di forum ini. Sekarang, dia harus mulai lagi dari nol.

​Dia mendaftar akun baru.

​Nama Samaran: EL.

​Keahlian: Penyelesai Masalah Bisnis & Strategi Perang.

​Bio: Saya tidak butuh nama Anda. Saya hanya butuh masalah Anda dan bayaran di muka.

​Singkat. Sombong. Meyakinkan.

​Elena menekan tombol Enter. Akun "EL" resmi aktif.

​Jantungnya berdebar antusias. Di apartemen kosong ini, sang predator telah kembali ke habitat aslinya.

​"Mari kita lihat," gumam Elena sambil matanya menelusuri layar. "Siapa orang kaya putus asa yang butuh bantuanku hari ini?"

1
Warni
Astaga
Warni
🤭🤣🤣🤣😁
Warni
😱
Warni
🤣
Warni
Langsung,50%:50%
Warni
Oh
Warni
Padahal sering bikin drama.
Warni
Hahahahahhahah
Warni
Tumben kerja sama?
Warni
🤭
Warni
😁
Warni
Auu
Warni
/Kiss/
Warni
Wah habis ini.
Warni
Bella TDK ada artinya.
Warni
🤣🤣🤣🤣
Warni
😂
Warni
Hooooo🤭
Warni
Kayaknya Reza lebih takut sama Bu bos dari pada pak bos.
Savana Liora: iya wkwk
total 1 replies
Warni
Hahahhaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!