Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangun Tidur, Salah Tingkah, dan "Penculikan" Kecil
Ada sensasi lembut yang menyentuh pipi Nara. Rasanya hangat, empuk, dan baunya... wangi banget. Wangi yang sangat familiar, wangi campuran kayu manis dan peppermint yang selalu bikin Nara ngerasa aman. Nara mengerang pelan, mengucek matanya yang masih terasa lengket, lalu meregangkan badannya dengan malas.
"Eungh... nyenyak banget gila," gumam Nara dengan suara serak khas bangun tidur.
Pas dia mau muter badan buat cari posisi bantal yang lebih enak, tangannya malah menyentuh sesuatu yang keras tapi empuk. Kayak... kaki meja? Atau... kaki manusia?
Nara langsung melek lebar. Detik itu juga, nyawanya yang baru terkumpul 10% langsung melesat jadi 100%. Dia bukan lagi di kasur empuknya di unit 401. Dia masih di unit 402, tidur meringkuk di atas karpet bulu milik Rian, dan yang paling parah—dia ditutupin selimut flanel warna abu-abu yang baunya "Rian banget".
Di depannya, Rian lagi duduk di kursi kerjanya, masih pakai kacamata, dan lagi natap Nara dengan satu alis yang terangkat.
"Udah puas hibernasinya, Tuan Putri?" tanya Rian datar, tapi ada nada geli di suaranya.
Nara langsung loncat duduk, selimutnya melorot ke lantai. Wajahnya langsung merah padam kayak kepiting yang baru aja masuk penggorengan. "M-mas Rian! Kok... kok saya nggak dibangunin?!"
Rian nutup laptopnya dengan tenang. "Saya udah coba panggil nama kamu tiga kali. Kamu cuma bales dengan suara 'ngghhh' terus lanjut tidur lagi. Saya males denger kamu ngomel kalau dibangunin paksa, jadi ya udah saya biarin aja."
Nara megang rambutnya yang pasti udah acak-acakan banget mirip sarang burung. Dia buru-buru berdiri, ngerasa malu banget sampai pengen ngilang aja dari bumi sekarang juga. "Duh, maaf ya Mas... kayaknya gue emang kebluk banget kalau kena AC dingin."
"Nggak apa-apa. Lagian karpet saya emang nyaman buat tidur, kan?" Rian berdiri, jalan ke arah dapur. "Sekarang udah jam enam sore. Kamu tidur hampir tiga jam."
"JAM ENAM?!" Nara teriak kaget. "Gila, gue beneran pingsan apa gimana sih?"
Nara buru-buru lipat selimut Rian dengan canggung. Pas dia lagi rapihin selimut, dia baru sadar kalau kacamatanya Rian udah dilepas dan ditaruh di meja. Tampilan Rian sekarang kelihatan lebih rileks, lengan hoodie-nya disingkap sampai ke siku.
"Karena kamu udah habisin Wi-Fi saya, makan kue nyokap saya, dan tidur di lantai saya... saya mau nagih poin bantuan darurat," ucap Rian tiba-tiba sambil nyender di konter dapur.
Nara nyipitkan mata curiga. "Bantuan apa lagi? Kan saya udah vakum rumah Mas minggu lalu!"
"Bukan vakum. Malam ini saya ada acara keluarga, semacam makan malam formal gitu. Dan nyokap saya... dia terus-terusan nanya soal tetangga baru saya yang katanya 'ceroboh tapi lucu' itu."
Nara melongo. "Maksudnya... Tante tahu soal saya?"
Rian berdehem, sedikit buang muka. "Ya, saya sempat cerita sedikit pas dia kirim kue. Intinya, dia maksa saya bawa kamu malam ini. Katanya mau kenalan langsung."
"HAH?! Mas, yang bener aja! Kita kan cuma tetangga yang terikat kontrak damai! Masa saya harus ikut acara keluarga?" Nara panik. Dia ngebayangin bakal ketemu keluarga besar Rian yang pasti semuanya kaku dan rapi kayak robot juga.
"Cuma makan malam biasa, Nara. Bukan lamaran," potong Rian cepat, wajahnya sedikit memerah. "Lagian ini kesempatan buat kamu makan makanan mewah secara gratis, daripada kamu balik ke unit terus masak mie instan lagi."
Nara sebenernya mau nolak, tapi pas denger kata "makanan mewah gratis", imannya goyah. Lagian, dia juga ngerasa berhutang budi soal Wi-Fi dan selimut tadi.
"Oke, oke. Tapi saya nggak punya baju formal ya! Baju saya kebanyakan kaos sama daster buah naga!"
Rian ngeliatin Nara dari atas sampai bawah. "Pakai baju yang tadi pagi kamu pakai buat ketemu saya juga nggak apa-apa. Kamu... kelihatan bagus pakai apa aja, asal rambutnya disisir."
Nara diem. Dia barusan denger Rian muji dia? Seorang Rian Ardiansyah memuji dia?
"Mas... Mas barusan muji saya?" tanya Nara memastikan, matanya berkedip-kedip genit.
"Nggak. Saya cuma kasih observasi objektif. Cepetan balik ke unit kamu, mandi, dandan dikit—jangan terlalu banyak bedak biar nggak kayak pejuang zaman batu lagi. Saya tunggu di bawah dalam tiga puluh menit."
Nara langsung lari keluar unit 402 sambil teriak, "SIAP, PAK ROBOT! JANGAN JATUH CINTA YA LIAT SAYA DANDAN!"
Rian cuma bisa geleng-geleng kepala sambil senyum tipis pas denger teriakan Nara. Dia balik ke kamarnya buat ganti baju, tapi jantungnya mulai deg-degan dengan cara yang nggak logis. Dia nggak tahu kenapa dia nekat ngajak Nara, padahal dia tahu mamanya pasti bakal godain dia habis-habisan nanti.
Tiga puluh menit kemudian, mereka udah ada di dalam mobil Rian—sebuah sedan hitam yang baunya wangi banget kayak lobi hotel bintang lima. Nara tampil manis banget pakai dress selutut warna sage green yang simpel, rambutnya digerai rapi dengan jepitan mutiara di samping.
"Gimana? Udah nggak kayak gelandangan kan?" tanya Nara pas masuk ke mobil.
Rian diem sebentar, natap Nara agak lama sebelum akhirnya muter kunci kontak. "Lumayan. Setidaknya saya nggak malu bawa kamu ke restoran."
"Dih, dasar kaku!" Nara nyubit lengan Rian pelan.
Perjalanan menuju restoran di daerah Jakarta Selatan itu diisi sama obrolan-obrolan santai. Nara baru tahu kalau Rian itu sebenernya punya selera musik yang oke juga. Di mobilnya diputar lagu-lagu Lo-fi yang bikin suasana makin nyaman.
"Mas, nanti kalau Mama Mas nanya macem-macem, saya jawab apa?" tanya Nara agak grogi.
"Jawab jujur aja. Tapi bagian kamu numpahin kopi ke kemeja saya... mungkin lebih baik disimpan buat kita aja," saran Rian.
"Kenapa? Takut dicengin Mama ya?"
"Takut Mama langsung minta kamu tanggung jawab jadi asisten pribadi saya selamanya," gumam Rian pelan, hampir nggak kedengeran.
"Apa, Mas? Nggak denger!"
"Bukan apa-apa. Fokus aja nanti jangan sampai kamu kesedak pas makan," sahut Rian sambil markirin mobilnya.
Begitu sampai di restoran, Nara langsung dibuat kagum sama suasananya. Mewah, tapi hangat. Di pojokan meja besar, udah duduk seorang wanita cantik paruh baya yang gayanya modis banget. Begitu liat Rian dan Nara, wajah wanita itu langsung cerah.
"Riaaaan! Akhirnya kamu dateng juga!" seru Mama Rian, Tante Shinta.
Tante Shinta langsung berdiri dan meluk Rian, terus matanya langsung tertuju ke Nara. "Dan ini pasti Nara ya? Ya ampun, aslinya jauh lebih cantik daripada yang diceritain Rian!"
Nara langsung salim dengan sopan. "Halo Tante, saya Nara. Maaf ya Tante, saya tetangga Rian yang paling berisik."
Tante Shinta ketawa renyah, suaranya enak banget didenger. "Nggak apa-apa sayang! Rian itu butuh orang berisik di hidupnya biar dia nggak lumutan jadi patung. Ayo duduk, Tante udah pesen banyak makanan."
Makan malam itu berjalan jauh lebih seru dari yang Nara bayangkan. Tante Shinta orangnya sangat friendly, beda jauh sama Rian. Dia cerita gimana Rian waktu kecil itu sangat manja dan nangis kalau mainannya nggak disusun rapi.
"Ma, stop. Jangan bikin aku malu di depan Nara," keluh Rian sambil nutup mukanya pakai tangan, sementara Nara udah ketawa ngakak denger cerita Rian nangis gara-gara balok susunnya miring.
"Lho, kan Nara harus tahu sisi lain kamu, Ian. Biar dia betah jagain kamu di apartemen," goda Tante Shinta sambil kedipin mata ke arah Nara.
Nara ngerasa wajahnya panas, tapi dia ngerasa sangat diterima di situ. Dia ngerasa kalau keluarga Rian ini sangat hangat, dan mungkin itu alasan kenapa Rian sebenernya punya sisi lembut di balik sikap kakunya—karena dia dibesarkan dengan kasih sayang yang besar.
Di tengah acara makan malam, Tante Shinta sempat izin ke toilet sebentar, nyisain Nara dan Rian berdua di meja.
"Tante Shinta asik banget, Mas. Beda jauh sama Mas yang kayak kulkas," bisik Nara.
Rian nyeruput minumannya pelan. "Dia emang gitu. Makanya saya selalu ragu bawa orang ke rumah, karena dia pasti bakal langsung anggap orang itu spesial."
Nara diem, natap Rian. "Terus... saya spesial nggak menurut Mas?"
Rian naro gelasnya, dia natap Nara lurus-lurus. Suasana restoran yang tadinya ramai mendadak kerasa senyap bagi mereka berdua.
"Kamu itu... satu-satunya orang yang berani gedor pintu saya jam satu malam cuma buat karaokean. Kalau itu nggak disebut spesial, saya nggak tahu lagi apa sebutannya," jawab Rian dengan suara rendah yang bikin bulu kuduk Nara meremang.
Nara baru mau bales, tapi Tante Shinta udah balik lagi.
Malam itu berakhir dengan manis. Pas mereka jalan balik ke parkiran, Rian jalan di samping Nara, tangan mereka sesekali bersentuhan. Pas sampai di depan mobil, Rian nahan pintu buat Nara.
"Nara," panggil Rian sebelum Nara masuk.
"Ya?"
"Makasih ya udah mau ikut. Mama kelihatan seneng banget tadi."
"Sama-sama, Mas Robot. Saya juga seneng kok. Makanannya enak, Mamanya Mas juga keren."
Pas di dalam mobil perjalanan pulang, Nara ketiduran lagi. Capek karena dandan dan ketawa seharian. Rian yang liat Nara tidur, kali ini nggak ngedumel. Dia malah sengaja matiin AC-nya dikit biar nggak terlalu dingin, dan nyetir pelan-pelan banget biar Nara nggak kebangun.
Rian sadar, malam ini dia bukan cuma bawa tetangganya makan malam. Dia baru aja ngenalin Nara ke dunianya yang paling dalam. Dan anehnya, dia nggak ngerasa takut lagi. Dia justru ngerasa kalau dunianya sekarang jadi jauh lebih berwarna sejak ada "si daster buah naga" di sampingnya.
Sampai di apartemen, Rian nggak langsung bangunin Nara. Dia cuma duduk diem di kursi kemudi, dengerin lagu slow di radio, sambil ngeliatin wajah Nara yang damai.
"Selamat tidur, si berisik," bisik Rian pelan banget, hampir kayak angin lalu.
Kontrak damai mereka baru masuk bab awal, tapi rasanya ceritanya udah mulai jauh melampaui kertas yang mereka tanda tangani.