alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lima belas
Aku harap kamu bisa serius kali ini langit, aku lelah selalu membereskan semua kekacauan yang kamu buat" keluh bara tanpa ekspresi, langit hanya melirik malas acuh tak acuh mendengar keluhan bara.
"Minggu depan aku harus sudah pulang untuk mengurus perusahaan kita di Jakarta, aku tak tega membiarkan papa menghandle di sana sendirian."
"Iya...iya.." sahut langit malas memutar bola matanya.
"Lakukan apapun yang kau suka bung, harta ini milikmu, aku hanya pekerja di keluarga kalian" jawab langit dengan intonasi menyebalkan.
Bara terlihat tersinggung, namun pria kalem itu hanya diam tanpa menjawab apapun, karena jika ia mengatakan apa yang ada di hatinya saat ini, bisa dipastikan perdebatan antara mereka pasti terjadi.
"Ada proyek yang harus kamu tangani hari ini langit" ujar bara mengingatkan langit yang terlihat duduk dengan sikap asal-asalan dan tak peduliannya
"Suruh saja edo yang pergi" jawab langit asal, mulutnya menguap lebar.
"Tidak bisa.." geleng bara kesal,
" proyek ini harus ditangani oleh direktur utama langsung"
"Alahhhh, lantas apa gunanya kamu menggaji karyawan sebanyak itu, jika harus turun langsung".
Bara menghembuskan nafasnya yang terasa berat, kelakuan langit sama sekali tidak berubah, sangat menyebalkan.
"Kalau begitu biar saja aku yang pergi" usul bara yang disambut senyum puas oleh langit, terlihat bara menekan interkom meminta sekretaris memanggil manager pemasaran.
Suara pintu di ketuk dari luar, bara menoleh ke arah pintu. Ia memerintahkan untuk masuk, dengan menegakkan tubuhnya langit duduk di kursi dirut, menatap alia yang pagi ini terlihat sangat fresh. Kemeja berwarna mustard yang dipadu dengan rok span hitam sebetis dengan belahan sampai kelutut, membuat alia terlihat begitu eksotis, mata langit tak henti menatap wanita yang sedang berdiri di hadapan bara itu.
"Apakah dokumen yang saya minta untuk hari ini sudah selesai?" Terdengar bara bertanya dengan suara beratnya,
"Sudah pak," jawab alia singkat,
"Dan bu wirda meminta saya menemani bapak hari ini, karena beliau sedang dalam perjalanan dinas menuju proyek dengan perusahaan dari semarang itu pak" jelas alia tenang dan runtut.
"Baiklah alia, kamu siapkan semua keperluan yang perlu kita bawa, 10 menit lagi kita berangkat" perintah bara dengan suara yang lebih lembut.
Langit mengamati alia dan bara, ia merasa tatapan bara untuk alia sedikit berbeda. Langit berdiri dari duduknya, melangkah menghampiri bara yang masih berdiri tenang.
"Aku ikut" ujar langit singkat setelah alia berlalu dari ruangan itu, bara menoleh heran, kerutan di keningnya menunjukkan rasa penasaran.
"Kenapa tiba-tiba?, tadi kamu bersikeras tidak mau pergi!"
"Kamu bilang aku harus belajar, yah karena itu kupikir aku harus ikut" ujar langit menyeringai, seringaian yang terlihat di wajah tampan langit sedikit mencurigakan.
Bara merasa langit mengincar sesuatu, dan entah mengapa hatinya resah, ia takut kalau langit akan mengincar alia.
"Mana pak bara?" Tanya alia datar, ia berdiri di depan pintu mobil yang sudah terbuka, mata indahnya mencari bara di dalam mobil, namun tidak menemukan siapapun di dalam. Langit yang membuka pintu mobil untuk alia,terlihat tersenyum dengan gaya urakan dan bad boynya.
"Bara mendadak pulang ke Jakarta, ada hal yang harus diselesaikannya disana" jawab langit malas, namun seringaian itu masih terpatri di wajahnya.
"Lantas kemana pak edo?" Tanya alia lagi, masih dengan raut wajah datarnya,
"Bukankah seharusnya pak edo ikut?."
"Dia itu anj*ngnya bara, kemana tuan melangkah, bukankah peliharaan harusnya mengikuti" jawab langit kasar.
"Masuklah, atau kamu mau proyek ini gagal karena keterlambatan kita" perintahnya menatap tajam alia yang belum juga bergerak.
Alia mendesah kesal, entah mengapa ia merasa bahwa ini adalah akal-akalan langit. Namun ia tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil, dan duduk dengan tenang.
Langit tersenyum penuh kemenangan, ia menutup pintu mobil sebelah alia, dan berjalan santai dengan gaya slenge'annya menuju sebelah setir mobil berada.
Pertemuan hari ini membahas tentang proyek baru yang akan diterima oleh perusahaan mereka berjalan lancar, alia tidak menyangka, langit yang begitu terlihat tidak dapat di andalkan, ternyata mampu menanganinya dengan baik.
Namun persepsinya selama ini terhadap langit tidak berubah, bagi alia, langit tetaplah pria brengsek yang menyebalkan.
"Apakah kamu ingin kembali ke kantor?" Tanya langit memecah kesunyian di antara mereka, senyum separuh khasnya tetap terpatri di wajahnya.
Alia menoleh sekilas, dan dengan cepat ia kembali menatap jalanan, mata langit masih sempat mengedip sebelah, menggoda alia.
"Ini masih jam kerja pak langit, tentu saja saya harus kembali ke kantor" tukas alia singkat. Terlihat langit memutar bola matanya malas, tiba-tiba senyum smirknya terlihat kembali menghiasi bibirnya.
"Bagaimana kalau kita istirahat sebentar di hotel" ujarnya menatap alia dengan raut menggodanya yang menyebalkan, alia terkejut, duduknya beringsut merapat ke pintu, tatapan antisipasi terlihat dari wajahnya yang mulai memerah, antara marah dan takut.
"Apa..maksudmu?" Bentak alia dengan suara bergetar, ia benar-benar ketakutan melihat mata pria itu menatapnya penuh keinginan, yah kalau tak mau dibilang, penuh nafsu.
"Hahahhahaha...." tawa langit pecah, terdengar begitu menakutkan.
"Kenapa?.." tanyanya usil dengan tawa yang masih terdengar,
"Kamu menginginkannya juga kan?"
"Kau gila" maki alia setengah berteriak.
"Turunkan aku di sini, aku akan naik taksi ke kantor" perintah alia masih dengan suara yang meninggi.
"Ayolahhh..sayang, pasti kamu masih mengingat malam panas kita itukan?"smirk pria itu semakin terlihat menyebalkan.
"Tidak....tidak.." teriak alia menutup rapat telinganya,
"Stop..kumohon hentikan.." pintanya menatap langit dengan wajah ketakutan.
Langit tersentak menatap mata alia yang ketakutan, ia melihat tatapan memohon, dan..ada rasa trauma di mata itu, tubuh wanita itu terlihat gemetar.
Langit menepikan mobilnya, tangannya ingin menyentuh alia yang masih terlihat cemas,
"Alia..." panggil langit menyentuh lengan alia yang gelisah dan pucat.
"Jangan...jangan sentuh aku..kumohon" teriak alia menepis tangan langit, ia semakin beringsut merapat ke pintu, tubuh alia semakin meringkuk.
Langit sangat terkejut, ia tidak menduga reaksi alia begitu ketakutan, penampilan yang ditunjukkannya selama ini, ternyata tidak sekuat kenyataannya, alia begitu rapuh, air mata terlihat menggenang di sudut mata alia yang indah itu.
"Aku antar kamu pulang yah" ujar langit menyarankan, ia ingin menenangkan alia yang masih ketakutan,
"Jangan..., aku bisa pulang sendiri, turunkan aku disini" pinta alia meraih handle pintu mobil yang ternyata masih terkunci.
"Alia.." panggil langit yang melihat wanita itu masih berusaha membuka pintu mobil. Tubuh alia tiba-tiba membeku terdiam tidak bergerak, entah mengapa hati langit merasa sakit.
"Maafkan aku..."
"Kumohon..buka pintunya, kumohon" pinta alia mulai terisak, langit membuka kunci handle pintu yang terletak di pintu sebelahnya, dengan cepat alia keluar, tanpa pamit ia meninggalkan langit yang masih tergugu.
Langit sangat terkejut melihat reaksi alia, apakah wanita itu takut kepadanya, padahal langit hanya berusaha bercanda untuk memecah kecanggungan diantara mereka.
Namun reaksi alia tadi benar-benar tidak terduga. Awalnya langit menduga kalau alia hanya berpura-pura, namun air mata itu tidak berbohong, wanita itu benar-benar ketakutan.
Benaknya di penuhi dengan alia dan reaksinya, langit mengernyitkan keningnya keheranan, mengingat alia tadi yang ketakutan.
'Tidak mungkin wanita setakut itu, wanita yang takut mendengar kata-kata vulgar, terikat dalam sebuah pernikahan" batin langit dalam hati.
Tiba-tiba tubuhnya tersentak, menegang. Mulutnya terperangah, terkejut namun kurang yakin.
'Apakah mungkin alia belum menikah?, lantas apakah mungkin..., apakah mungkin putra alia itu adalah putranya?'
Langit terkejut dengan pikirannya sendiri yang tiba-tiba melintas di kepalanya, langit menghitung hari sejak alia menghilang, dan usia bocah laki-laki itu sesuai dengan perhitungannya.
Hati langit berdetak lebih kencang, ingatannya tentang ciri fisik bocah itu membuat langit tersentak.
Yah, bocah itu memiliki ciri-ciri sepertinya, bola mata berwarna abu-abu itu tidak bisa bohong. Langit tersenyum, namun kali ini senyum itu terlihat berbeda.
Dengan cepat langit menstater mobilnya, dengan kekuatan penuh, langit mengendarai mobilnya ugal-ugalan, hingga ban mobil itu terdengar berdecit keras.
Bersambung..