Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKAN DI LANGIT JAKARTA
"Kak Nirmala... sepertinya Auditor nggak suka Kakak lolos secepat itu. Dan saya di sini bukan cuma buat nganter kopi."
Viona—bukan, identitasnya sekarang adalah Nirmala—merasakan dingin yang lebih tajam daripada air hujan menyergap tengkuknya. Ia menatap Andre, pemuda yang baru saja memberinya kopi hangat. Mata Andre yang tadinya cokelat ramah kini telah berubah menjadi perak murni, tanpa pupil, persis seperti permukaan jam saku yang dipoles. Di dalam mata itu, Nirmala bisa melihat pantulan dirinya yang tampak ketakutan, namun yang lebih mengerikan adalah angka-angka romawi yang berputar cepat di sekeliling iris perak tersebut.
"Kamu... kamu siapa?" Nirmala mundur hingga punggungnya menabrak tiang halte. Kopi di tangannya mendadak terasa sangat berat, suhunya turun drastis hingga gelas plastik itu dilapisi es tipis.
"Saya adalah Echo, Kak. Sisa-sisa kesadaran yang ditarik Ordo dari memori Adrian untuk melacak Kakak di realitas baru ini," jawab Andre. Suaranya masih terdengar seperti pemuda biasa, namun ada gema mekanis yang mengikuti setiap kata-katanya. "Origin memang membersihkan identitas Kakak, tapi bekas luka di garis waktu nggak bisa hilang begitu saja. Kakak itu seperti tinta merah di atas kertas putih. Mencolok."
Nirmala melihat ke sekeliling. Orang-orang di jalan raya mendadak berhenti bergerak. Seorang pengendara motor yang sedang melakukan wheelie terjebak di udara dengan posisi miring yang mustahil. Burung-burung pipit membeku di langit, sayapnya terkunci dalam kepakan yang kaku. Hujan pun berhenti di tengah jalan, jutaan butiran air menggantung di udara seperti tirai kristal yang tidak bergeming.
Waktu telah dihentikan. Lagi.
"Kenapa Ordo nggak bisa biarin saya tenang?" Nirmala menggenggam gagang payung birunya yang rusak. Tangannya gemetar, namun ia merasakan getaran hangat mulai merambat dari gagang payung itu ke telapak tangannya. "Saya sudah kehilangan Ayah. Saya sudah kehilangan memori saya. Apa lagi yang kalian mau?"
"Kami mau keteraturan, Kak," sahut sebuah suara wanita dari arah jalan raya.
Sebuah mobil sedan hitam mengkilap meluncur tenang menembus hujan yang membeku. Mobil itu seolah mengabaikan hukum waktu yang sedang menjerat Jakarta. Pintu belakang terbuka, dan seorang wanita keluar dengan langkah yang sangat anggun. Ia mengenakan setelan blazer abu-abu metalik yang pas di tubuhnya, rambutnya diikat ekor kuda dengan sangat rapi. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet digital transparan yang memancarkan cahaya biru pucat.
"Namanya Sera. Dia Auditor lapangan yang baru," bisik Andre, matanya tetap tertuju pada Nirmala.
Sera melangkah mendekat, sepatu hak tingginya menimbulkan bunyi klik yang nyaring di atas aspal yang membeku. Ia menatap Nirmala dengan pandangan yang lebih dingin daripada es. "Materi 001, atau 'Nirmala' sebagaimana kamu ingin dipanggil. Kamu adalah anomali paling mahal dalam sejarah Ordo Chronos. Prosedur pembersihan di pusat poros tadi seharusnya menghapusmu, tapi entah bagaimana, Nathan Mahendra berhasil memasukkan kode proteksi emosional ke dalam inti materimu."
"Ayah melakukan itu untuk menyelamatkan saya!" Nirmala berteriak, amarahnya mulai mengalahkan rasa takutnya.
"Ayahmu melakukan itu karena dia egois," Sera berhenti tepat di depan halte, hanya terhalang oleh tirai hujan yang membeku. Ia menggeser sesuatu di tabletnya. "Dia mengacaukan statistik keberhasilan abad ini hanya demi satu 'boneka' yang ia bentuk dari cahaya. Dan sekarang, saya di sini untuk melakukan format ulang secara manual."
Sera mengangkat tangannya ke arah langit. Retakan perak di balik awan hitam tadi mendadak melebar dengan suara robekan yang mengerikan. Dari dalam retakan itu, muncul ribuan benang perak tipis yang turun perlahan, mencari target.
"Andre, amankan payungnya," perintah Sera tanpa menoleh.
Andre melangkah maju, tangannya terjulur ke arah Nirmala. "Maaf, Kak. Ini demi kebaikan realitas. Kalau Kakak terus ada di sini, Jakarta ini bakal runtuh karena beban paradoks yang Kakak bawa."
"Jangan sentuh saya!" Nirmala menyentakkan payung birunya terbuka.
Meskipun salah satu rangkanya sudah bengkok dan kainnya tampak kusam, payung itu tetap mengeluarkan pendar cahaya biru safir saat terbuka. Cahaya itu membentuk kubah pelindung kecil yang mendorong Andre mundur beberapa langkah.
"Kak, jangan melawan! Itu cuma bakal bikin prosesnya makin sakit!" seru Andre.
"Gue nggak peduli!" Nirmala menggunakan bahasa aslinya, bahasa Viona yang penuh dengan bara perlawanan. "Kalian selalu bilang soal realitas dan keteraturan, tapi kalian sendiri yang ngerusak hidup orang-orang! Ayah gue mati buat kasih gue kesempatan, dan gue nggak bakal buang kesempatan itu cuma karena lo bawa tablet canggih!"
Sera mendengus meremehkan. "Emosi. Selalu emosi yang menghalangi logika. Benang-benang perak itu adalah Data Eraser. Sekali mereka menyentuh kulitmu, setiap detik keberadaanmu akan ditarik kembali ke pusat."
Benang-benang perak itu mulai menyentuh kubah cahaya payung Nirmala. Terdengar suara desisan panas, dan pendar biru safir itu mulai meredup. Nirmala merasakan beban yang luar biasa menekan pundaknya, seolah ia sedang menahan beban seluruh gedung di Jakarta.
"Andre, bantu saya!" teriak Nirmala. "Saya tahu Adrian masih ada di dalam sana! Lo bilang lo Echo dari memori dia, kan? Adrian yang gue kenal nggak bakal biarin Ordo menang!"
Andre tertegun. Mata peraknya berkedip-kedip, angka-angka jam di irisnya berputar berlawanan arah. Ia memegangi kepalanya, tampak kesakitan. "Kak... Adrian... dia... dia sudah dihapus..."
"Nggak! Dia masih ada! Inget pas kita di atas jembatan cahaya? Inget pas dia drifting buat nyelamatin kita?" Nirmala terus mendesak, ia bisa merasakan perlindungan payungnya mulai retak.
Sera mengerutkan kening. "Echo, selesaikan tugasmu! Jangan biarkan anomali itu mengacaukan frekuensi memorimu!"
"Gue... gue bukan cuma data..." gumam Andre. Tangannya yang tadinya terjulur untuk mengambil payung, kini mengepal kuat. "Gue inget... gue inget bau kopi di halte ini..."
Tiba-tiba, Andre memutar tubuhnya dan menerjang Sera. Ia tidak menggunakan kekuatan fisik, melainkan melepaskan gelombang energi perak dari tubuhnya yang bertabrakan dengan tablet Sera.
BUMMM!
Ledakan energi itu membuat waktu yang membeku mendadak pecah. Suara klakson motor, deru mobil, dan bisingnya hujan kembali menyerbu indra Nirmala dengan kekuatan penuh. Pengendara motor yang tadinya membeku kini meluncur jatuh, burung-burung kembali terbang dengan panik.
"Andre! Apa yang kamu lakukan?!" Sera berteriak murka, tabletnya kini retak dan mengeluarkan percikan api biru.
"Lari, Kak Nirmala! Sekarang!" Andre berteriak, tubuhnya mulai terlihat transparan dan bergetar hebat. "Gue cuma bisa nahan dia sebentar! Cari Alfred! Dia punya kunci yang sebenarnya!"
Nirmala tidak menunggu lagi. Ia menyambar tasnya dan berlari menjauh dari halte, menembus hujan deras yang kini terasa sangat dingin. Ia tidak tahu harus kemana, tapi kakinya seolah digerakkan oleh insting yang tertanam jauh di dalam materinya.
Di belakangnya, ia bisa mendengar suara Sera yang memerintahkan para Penyapu untuk mengejarnya. Ribuan burung gagak mekanis mulai muncul dari retakan langit, menukik turun dengan pena perak di kaki mereka.
Nirmala berlari masuk ke dalam sebuah gang sempit di antara gedung-gedung tinggi. Nafasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas, bersandar pada tembok bata yang lembab.
"Alfred... di mana kamu, Kek?" bisik Nirmala.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang. Nirmala berbalik dengan cepat, siap mengayunkan payungnya, namun ia berhenti saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Seorang wanita tua dengan pakaian kumal sedang duduk di atas tumpukan kardus bekas. Wanita itu memegang sebuah jam dinding tua yang jarumnya tidak bergerak. Wajahnya dipenuhi kerutan, namun matanya memancarkan kecerdasan yang aneh.
"Alfred nggak suka dipanggil di tempat berisik seperti ini, Nak," ucap wanita tua itu dengan suara serak.
"Nenek siapa? Nenek kenal Alfred?" tanya Nirmala waspada.
Wanita tua itu tersenyum, menyingkapkan beberapa gigi yang tanggal. "Nama saya masih rahasia. Tapi kamu bisa panggil saya 'Penjaga Sisa'. Kamu Nirmala, kan? Arsitek yang nggak punya rumah?"
Sebelum Nirmala sempat menjawab, suara kepakan sayap burung gagak terdengar sangat dekat di atas gang. Cahaya merah dari mata mekanis mereka mulai memindai kegelapan gang tersebut.
"Mereka datang, Nek! Kita harus pergi!" seru Nirmala.
Wanita tua itu tidak bergerak. Ia justru menyerahkan jam dinding tua di tangannya kepada Nirmala. "Puter jarumnya ke belakang, Nak. Jangan cuma lari dari masa depan, tapi bersembunyi lah di detik yang mereka lupakan."
Nirmala menerima jam itu. Di saat yang sama, seorang Penyapu mendarat di ujung gang, sabit cahayanya sudah terangkat tinggi.
"Lakukan sekarang, atau kamu bakal jadi sejarah yang basi!" teriak wanita tua itu.
Nirmala memutar jarum jam itu sekuat tenaga ke arah kiri.
Dunia di sekitar Nirmala mendadak berputar. Gang sempit itu meluruh, gedung-gedung di sekelilingnya mencair menjadi aliran cahaya biru. Namun, bukannya berpindah tempat, Nirmala justru merasa dirinya terhisap masuk ke dalam jam dinding tersebut.
Satu detik sebelum segalanya gelap, ia mendengar suara Sera yang berteriak tepat di telinganya.
"Kamu pikir kamu bisa sembunyi di dalam waktu, Nirmala? Kamu baru saja masuk ke dalam ruang eksekusi Ordo yang paling tua!"
Nirmala terjatuh di sebuah lantai kayu yang berderit. Saat ia membuka mata, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di Jakarta. Ia berada di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan ribuan cermin, dan di setiap cermin itu, ia melihat wajah ibunya, Elena, sedang menatapnya dengan pandangan penuh dendam.