Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dua bulan berlalu begitu cepat, Gibran sudah pulih sepenuhnya, ingatannya sudah kembali sepenuhnya, berkat terapi dan dukungan dari Rangga dan Tita. Kini ia sudah sehat sepenuhnya, mulai beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja aktivitas agak di batasi karna keadaan yang belum mendukung.
Sejauh ini, Arya belum mengetahui keberadaanya. Mungkin Arya masih menganggapnya sudah mati dan tidak akan pernah kembali ke perusahaan. Tapi dugaanya salah, Gibran akan merebut kembali perusahaan yang Arya rebut secara paksa. Gibran hanya menunggu waktu yang pas untuk merebut semuanya kembali.
Sepulang dari kantor, Rangga langsung mampir ke mension milik Gibran. Laki-laki itu mengajak Gibran untuk joging di luar, sekaligus berjalan-jalan di taman yang tidak jauh letaknya dengan mension Gibran.
"Ayolah... kamu sepertinya butuh refresing." ajak Rangga.
Gibran membuang napas kasar,"Aku seperti kehilangan sesuatu, rasanya sepi dan bosan."
"Dari pada kamu murung dan kesepian, mending kita joging ke luar, sudah lama juga kita tidak berolahraga bersama. Nanti aku ajak Tita untuk ikut, bagaimana?"
Sebenernya, Gibran masih memikirkan Nadia. Bagaimana kabar gadis itu sekarang? meskipun cerewet dan menyebalkan, tapi Gibran sangat merindukannya. Ia selalu merasa nyaman dan bahagia jika di dekat gadis itu. Meski begitu, Gibran selalu menyuruh Rangga untuk mengirimi stok makanan sebulan sekali dan membantu perekonomian gadis itu dari jauh.
"Aku penasaran, bagaimana kabar Nadia sekarang?"
Rangga tersenyum,"Kau menyukainya?"
Gibran mendelik tajam,"Tidak! aku tidak menyukainya, aku hanya merindukanya saja."
"Rindu dan cinta itu beda tipis, bro."goda Rangga sambil tergelak.
" Ah, kau ini! sudah jangan di bahas, kita berolahraga sekarang saja!"Gibran beranjak bangun, untuk menganti pakaiannya jadi pakaian joging.
Rangga masih tergelak di tempat, sembari menggelengkan kepalanya tak habis pikir."Dasar gengsian!"
"Diam kau!" teriak Gibran, yang masih bisa di dengar Rangga.
Setelah mengganti pakaian, keduanya joging di taman, disana sudah ada Tita yang menunggu ke datangan mereka berdua. Gibran tak lupa memakai topi dan masker untuk menutupi identitasnya, ia takut ada anak buah Arya yang mengetahui keberadaannya.
"Hey! lama sekali, kamana saja kalian berdua!" ujar Tita, raut wajah gadis itu tampak cemberut karna menunggu lama.
Rangga terkekeh kecil."Sorry-sorry, tadi di jalan macet banget, Ta."
"Macet? macet, kayak dari sabang sampai merauke saja!" cetus Tita."Jarak rumah Gibran ke taman ini tuh dekat, tahu tidak?!"
Rangga yang melihat Tita mengomel bukannya minta maaf, malah tertawa melihat raut wajah lucu gadis itu."Ya sudah, dari pada marah-marah, mending kita joging yuk."
Gibran dan Tita mengangguk setuju, keduanya langsung berlari kecil mengitari taman.
Setelah beberapa kali putaran, mereka bertiga memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon rindang yang dekat dengan tepi danau. Suasana sore ini di taman, tampak begitu ramai. Banyak orang-orang yang sedang menghabiskan waktu di taman.
"Aku lapar, kalian mau pesan makanan tidak?" tanya Tita.
"Boleh," jawab Gibran dan Rangga bersamaan.
"Aku mau pesan makanan lewat gofood, kalian mau pesan, apa?"
"Ayam goreng saja," jawab Rangga.
"Salad sayur dan ayam katsu," ujar Gibran.
Tita mengangguk, gadis itu langsung memesan makanan tersebut. Sambil menunggu makanan sampai, mereka bertiga berbincang sambil bercanda di bawah sinar matahari yang hampir senja.
Beberapa menit kemudian, seorang gadis membawa pesanan makanan mereka. Gibran yang sedang tertawa tiba-tiba berhenti dan menatap gadis itu dengan mata melebar.
Nadia' batinnya.
Tapi karna Gibran memakai topi dan masker, Nadia tidak mengenali dan mengetahuinya. Rangga yang sudah mengetahui jika kurir pengantar makanan itu adalah Nadia, refleks melihat Gibran, yang ternyata sesuai dugaannya, jika laki-laki itu menatap Nadia terus menerus.
Nadia menghampiri mereka dan menyapa."Hallo! pesanan atas nama Tita, Rangga dan...... "
Gibran yang masih memakai topi dan masker tidak menjawab, hanya menatap Nadia dengan mata yang sedikit terbuka.
Rangga menjawab,"Ya, itu untuk kami. Terima kasih Mbak."
Nadia tersenyum dan memberikan makanan tersebut."Baik, silahkan di nikmati. Terimakasih."
Gibran masih menatap Nadia dengan lekat, ia sama sekali tidak memalingkan perhatiannya kepada gadis itu, setelah dua bulan tidak bertemu. Gadis itu tampak lebih berbeda sekarang. Rambutnya tumbuh lebih panjang, berbeda saat pertama kali mereka bertemu, rambut Nadia tampak pendek sebahu.
Nadia menatap Gibran agak aneh, karna sejak kedatangannya, laki-laki yang wajahnya tertutup masker itu terus memperhatikannya. Setelah selesai mengantar pesanan, Nadia pamit pergi meninggalkan mereka bertiga.
Ada rasa ingin menegur dan menahan gadis itu, tapi Gibran tidak bisa. Mulutnya kelu untuk berbicara, padahal, ia sangat ingin berbincang atau sekedar bertanya kabar dengan Nadia.
Rangga menatap Gibran yang masih menatap ke arah Nadia yang sudah pergi,"Bran, itu..... Nadia, kan? kau tidak menyapa nya?"
Gibran termenung sembari menatap kepergian Nadia,"Hmm, aku tidak bisa menahannya. Aku bingung, harus menjelaskan apa pada dia."
Jujur Gibran bingung, jika suatu hari nanti ia bertemu lagi dengan Nadia, entah apa yang harus ia jelaskan. Gibran tidak mau Nadia mengetahui identitasnya, ia tidak mau jika Nadia berada di dekatnya, keselamatanya akan terancam.
Arya akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkannya, termasuk mengincar orang-orang terdekat Gibran. Ia tidak mau Nadia terseret masuk ke dalam kehidupannya yang rumit dan penuh ancaman.
Tita menatap Gibran penasaran,"Jadi....? itu Nadia? gadis yang sempat kamu ceritakan, yang menolongmu saat hanyut di sungai."
Gibran mengangguk pelan."Untuk saat ini, aku harus menahan diri untuk tidak menemuinya dulu, saat waktunya sudah tepat. Aku akan menemuinya lagi."
**********
Arya duduk di ruang tamu, menatap Ibunya dengan tajam."Ibu, aku sudah bilang, ingin perusahaan pusat itu segera di sahkan atas namaku. Aku sudah siap mengambil alih perusahaan."
Ibunya, nyonya Tina menatap Arya dengan rasa kekhawatiran,"Arya, anaku, aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat. Aku masih mengharapkan adikmu kembali, entah kenapa aku yakin, jika Gibran masih hidup dan akan kembali kepada kita."
Arya menggelakkan kepala,"Ibu, Gibran sudah pergi. Dia tidak akan kembali! Sebagai anak tertua, aku berhak mengambil alih perusahaan yang seharusnya dari dulu menjadi miliku!"
"Jangan serakah, Arya. Kamu sudah memegang perusahaan cabang satu, mendiang Ayah sudah membagi rata seluruh asetnya untuk kalian. Kamu tidak berhak mengambil alih perusahaan milik Gibran secara paksa!" ujar Nyonya Tina dengan tegas.
"Tapi Bu.... Gibran sudah mati! dia sudah mati dan tidak akan kembali!"sergahnya penuh emosi. "Aku yang seharusnya mengambil alih perusahaan ini, kenapa Ibu selalu tidak percaya padaku!"
"ARYA!!" sentak Tina, matanya memerah menahan air mata. Hatinya terasa nyeri ketika Arya menyebut Gibran sudah mati.
"Jaga bicaramu! adikmu belum mati, dia akan kembali. Kamu dan Karlina memang sama saja, tidak memiliki rasa empati kepada adik kandung kalian sendiri!"
Arya menatap Ibunya dengan mata yang penuh kemarahan,"Ibu, aku tidak percaya kamu masih mengharapkan Gibran! dia sudah pergi dan meninggalkan kita. Bahkan dua bulan sudah berlalu, jasadnya belum di temukan! tapi Ibu masih berharap dia kembali?!"
"Gibran adalah anaku, adik kalian! dia juga berhak bahagia, Arya," jawab Nyonya Tina dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.
Arya menggelengkan kepalanya tak percaya,"Ibu, kamu selalu saja seperti ini. Kamu selalu memihak Gibran dan mengambaikanku. Aku sudah bosan dengan ini!"
Nyonya Tina menatap Arya dengan rasa kecewa,"Aku tidak selalu memihak Gibran, aku menyayangimu, Gibran maupun Karlina. Aku selalu mengusahakan yang terbaik untuk kalian bertiga."
Arya tertawa sarkastis,"Melakukan yang terbaik? Ha! Kamu hanya melakukan yang terbaik untuk Gibran, bukan untuk aku maupun Karlina! Ibu dan Ayah selalu pilih kasih, padahal selama ini, Aku yang bekerja keras untuk perusahaan. Tapi Ibu tidak mempercayai ku sedikit pun."
"Kamu benar-benar tidak memiliki rasa empati!"
"Aku tidak peduli!" sentak Arya penuh amarah."Aku ingin perusahaan pusat di sahkan atas namaku, dan aku tidak akan mundur. Aku, akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan!"
"Jangan Arya, jangan merusak semua ini." peringat Tina.
Arya tersenyum dingin,"Hubungan kita?? dari dulu, kamu yang selalu merusak hubungan kita! kamu yang selalu memihak Gibran dan mengambaikanku. Kali ini, aku tidak akan mengalah lagi untuk ke sekian kalinya. Jangan berharap, aku akan menuruti ucapanmu lagi. Karna mulai sekarang, aku tidak akan pernah mendengarkanmu lagi!"ujarnya, melenggang pergi meninggalkan Tina.
bersambung....