Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Panjang
Malam itu terasa aneh, AC sentral menyala dingin, tapi entah kenapa udara di dalam apartemen terasa panas dan pengap.
Baskara berdiri di dekat lemari, menatap Ririn yang masih berdiri kikuk di dekat sofa.
“Rin, kamu mau mandi duluan?” tanyanya akhirnya.
“Atau, saya dulu.” Kata Baskara lagi kikuk,
Ririn menggeleng cepat.
“Bapak aja duluan.”
Baskara terkekeh kecil, menggaruk tengkuknya.
“Aku mandi dulu ya, Sa... Sayang,” ucap Baskara canggung, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi seolah ingin kabur dari situasi itu.
Panggilan itu membuat Ririn semakin kikuk.
“I-iya”
Di balik pintu, Baskara menghela napas panjang kenapa begini sih batinnya.
Playboy macam apa yang mati gaya di depan istri sahnya sendiri? Padahal semuanya sudah halal, tapi rasa canggung itu justru terasa lebih besar.
Beberapa menit kemudian, Baskara keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan mata Ririn yang juga menatapnya.
Mereka sama-sama memalingkan wajah hampir bersamaan.
“Sana, cepetan mandi,” ujar Baskara, berusaha terdengar santai.
Ririn mengangguk cepat dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Baskara baru tersadar sesuatu Ririn tidak membawa baju ganti
Dia membuka lemari, mengambil kaus bersih, lalu berjalan ke depan pintu kamar mandi dan mengetuk pelan.
“Rin?”
Pintu terbuka sedikit. Ririn muncul dengan handuk yang menutupi dadanya. Rambutnya basah, wajahnya merah karena terkena air panas atau mungkin karena gugup.
Baskara terpaku beberapa detik dia menelan ludah.
“Ini, kaus,” katanya pelan, Ririn buru-buru mengambilnya.
“Terimakasih,”
Saat Ririn hendak menutup pintu, Baskara refleks menahan daun pintu itu, Ririn tersentak jantungnya berdegup keras.
“Jangan lama-lama ya,” ucap Baskara sambil tersenyum tipis.
Ririn hanya mengangguk cepat, saking malu Ririn tak berani menatap mata Baskara.
Tak lama kemudian, Ririn keluar dari kamar mandi. Baskara sudah berada di atas tempat tidur, bersandar di kepala ranjang, matanya mengikuti setiap langkah Ririn yang mendekat.
Ririn naik ke atas tempat tidur dengan gerakan canggung, duduk di sampingnya, jarak mereka sangat dekat, tapi tak satu pun di antara mereka yang berani bergerak terlebuh dahulu.
Hening beberapa detik, rasanya terlalu panjang mereka melirik bersamaan, tatapan mereka bertemu.
“Kita, mau langsung tidur?” celetuk Baskara kikuk mencoba memecah suasana yang canggung.Ririn terkekeh kecil, gugup.
“Kayaknya iya.”
Baskara mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu tidur yang temaram dia menarik selimut, Ririn ikut berbaring di sampingnya.
Mereka sama-sama kaku, bingung harus menghadap ke arah mana, Perlahan Baskara menggeser tubuhnya memeluk Ririn dari samping, sentuhan itu lembut, ragu, Baskara takut membuat Ririn tidak nyaman.
“Euh, Sayang,” bisik Baskara ke telinga Ririn.
“Iya, Sayang” jawab Ririn pelan suaranya tercekat saking gugup.
Baskara mendekatkan wajahnya, dia mengecup Ririn dengan lembut pelahan lahan. Jatung mereka berdegub kencang, Ririn menutup matanya Baskara menciumnya lagi kali ini lebih berani, Ririn menerima ciuman itu lalu membalasnya dengan gugup.
Ciuman itu terhenti sejenak, Baskara menatap Ririn tajam dadanya naik turun seolah ada gairah yang tak bisa dia tahan tatapannya seolah meminta izin tanpa kata.
Ririn tak berkata apa-apa, tangannya hanya mencengkeram baju Baskara, memberi jawaban dengan caranya sendiri.
Napas mereka menyatu, berat dan tak teratur, Baskara mendekap tubuh Ririn lebih erat tidak memberi kesepatan Ririn untuk menolak atau menjauh.
Malam itu berjalan perlahan, setuhan Baskara membuat Ririn melayang Baskara menaklukan Ririn tanpa paksaan, tanpa rayuan yang berlebihan. Suara Rintihan desahan lolos dari keduanya.
Ririn menyerahkan dirinya dengan kepercayaan penuh, dan Baskara menyetuhnya dengan kesabaran. Membelai dengan lembut menenangkan dengan mengecup keningnya berulang kali.
Karena Baskara tau, ini kali pertama Ririn melakukan hubungan intim, mereka terhanyut dalam nafsu, saling menerima dan memberi kenikmatan, kenikmatan yang hanya bisa mereka rasakan dan pahami sendiri.