NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Jari yang Salah Sasaran

Bab 20: Jari yang Salah Sasaran

Menit 23:49 hampir habis, namun bagiku, waktu telah membeku menjadi serangkaian malapetaka digital. Akibat desakan kerumunan di Bundaran HI dan getaran panik dari notifikasi Tante Lastri (Bab 19), aku justru melakukan kesalahan motorik yang fatal. Niatku untuk menutup jendela balasan cepat agar bisa kembali ke kolom chat Lala justru berakhir dengan bencana: jempolku mendarat tepat di barisan shortcut emoji.

Seketika, kolom input teks yang seharusnya menjadi tempat kata "Cinta" atau "Sayang" lahir, kini justru dibanjiri oleh invasi visual yang mengerikan.

Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana layar ponselku merespons sentuhan jempol yang gemetar. Puluhan emoji wajah kuning yang tertawa hingga mengeluarkan air mata—😂—berderet dengan kecepatan transmisi data yang sangat efisien. Satu ketukan yang meleset, ditambah dengan lag pada sistem operasi yang sedang terbebani panas baterai (Bab 35), membuat input tersebut terulang secara berantai.

😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂

Deretan wajah kuning itu tampak mengejekku dari balik kaca tempered glass. Mereka seolah-olah mentertawakan ketidakberdayaanku, keragu-raguanku, dan kegagalanku untuk tetap fokus di tengah kebisingan keluarga Bani Mansyur.

"Oh, sial..." desisku pelan.

Kepanikan motorik tahap kedua pun dimulai. Aku harus menghapus ini. Sekarang juga. Jika deretan emoji ini terkirim—atau jika Lala melihat layarku sekarang—semua gravitasi emosional yang kubangun selama sepuluh tahun akan hancur. Ia akan menganggapku sedang bercanda, atau lebih buruk lagi, menganggapku sedang menertawakan momen suci kami di malam pergantian tahun ini.

Aku menggerakkan jempol kananku menuju tombol backspace. Secara mekanis, ini adalah tugas sederhana: menekan tombol kecil bertanda silang di sudut kanan bawah papan ketik virtual.

Namun, di bawah tekanan 23:49 yang menghakimi (Bab 3), koordinasi motorik halusku telah terdegradasi menjadi gerakan kasar yang tidak akurat.

Tap.

Aku menekan tombol backspace. Namun, bukannya menghapus satu per satu secara terkendali, sensor kapasitif ponsel mendeteksi tekanan yang terlalu lama—sebuah long press.

Secara mikroskopis, aku melihat kursor vertikal itu (Bab 10) bergerak mundur dengan kecepatan yang tidak bisa kuhentikan. Ia melahap emoji-emoji kuning itu dalam hitungan milidetik. Namun, kecepatannya melampaui kemampuan otakku untuk memerintahkan "berhenti". Kursor itu tidak hanya menghapus emoji sialan dari Tante Lastri.

Ia terus bergerak mundur, melintasi batas input, dan mulai mengincar draf suci yang sudah kutulis dengan susah payah.

Huruf 'L' itu.

Huruf pertama yang menandai dimulainya pengakuanku (Bab 15) kini berada di jalur pemusnahan. Aku melihat kursor itu mendekat. Hanya berjarak beberapa piksel dari garis vertikal huruf 'L'.

"JANGAN!"

Aku mengangkat jempolku dengan sentakan tiba-tiba, seolah-olah layar ponsel itu baru saja dialiri arus listrik tinggi. Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada logika. Aku memelototi layar, napas pendekku (Bab 14) tertahan sepenuhnya.

Aku melakukan audit visual pada kolom input.

Emoji-emoji kuning itu sudah hilang. Bersih.

Namun, jantungku nyaris berhenti saat melihat kursor berkedip tepat di sebelah huruf 'L'. Huruf itu masih di sana. Selamat dari pembantaian digital secara tidak sengaja.

Aku merasakan keringat dingin mengucur dari pelipisku, melewati pinggiran kacamata, dan jatuh di atas permukaan casing silikon (Bab 7).

Tanganku bergetar begitu hebat hingga ponsel itu terasa seolah memiliki nyawanya sendiri, mencoba melompat keluar dari genggamanku.

"Arka? Kamu kenapa sih? Kok kayak orang lagi jinjit di atas bara api?"

Suara Lala masuk kembali ke kesadaranku. Dia memperhatikanku. Dia melihat kegugupan fisikku yang sudah melampaui batas kewajaran seorang sahabat yang hanya sedang "menunggu tahun baru".

Aku menoleh padanya sejenak. Secara mikroskopis, aku melihat pupil matanya yang melebar di tengah kegelapan, menangkap pendaran cahaya biru dari ponselku. Dia sedang mencoba membaca ekspresiku. Dia sedang mencari jawaban atas anomali perilakuku malam ini.

"Cuma... HP-ku agak hang," bohongku. Suaraku terdengar pecah, sebuah bukti kegagalan laring akibat stres akut.

Aku kembali menatap layar. Aku harus memulihkan draf ini. Aku harus melanjutkan huruf kedua. 'A'.

Namun, proses pemulihan draf setelah insiden emoji itu tidak semudah yang kubayangkan. Jendela balasan cepat Tante Lastri masih menggantung di bagian atas layar seperti awan mendung (Bab 19). Aku harus menutupnya dengan presisi agar tidak terjadi "salah sasaran" lagi.

Aku memfokuskan seluruh sisa energi kognitifku pada ujung jari telunjuk tangan kiri. Aku tidak akan menggunakan jempol yang sudah terbukti tidak reliabel. Aku membidik ikon "X" kecil di pojok kanan atas notifikasi tersebut.

Secara mikroskopis, aku memperhatikan debu-debu halus yang menempel di layar ponsel, tersinari oleh cahaya LED. Aku menekan ikon itu dengan tekanan yang konstan dan tegak lurus.

Klik.

Notifikasi keluarga Bani Mansyur itu akhirnya menghilang. Ia meluncur kembali ke dalam lubang hitam sistem operasi, meninggalkan kolom chat Lala dalam keadaan bersih dan sunyi.

Aku menghela napas panjang—sebuah proses ekshalasi yang membawa keluar sebagian dari residu kortisol di dadaku. Akhirnya. Aku kembali ke medan perangku yang sesungguhnya. Aku kembali ke kolom input chat Lala.

Jam menunjukkan 23:49:55.

Hanya lima detik tersisa sebelum menit berganti. Lima detik sebelum gangguan eksternal berikutnya—Notifikasi Instagram (Bab 21)—datang untuk kembali menyabotase misiku.

Aku memposisikan jempolku di atas huruf 'A'. Aku tidak akan terburu-buru. Aku akan melakukan gerakan ini dengan presisi seorang ahli bedah.

Aku memperhatikan tekstur kulit di ujung jempolku, pola sidik jari yang kini terlihat jelas karena pendaran cahaya layar (Bab 8).

Satu detik.

Dua detik.

Tepat saat aku akan menekan huruf 'A', aku menyadari sebuah detail mikroskopis di sudut layar. Sebuah ikon kecil muncul di bilah status. Ikon kamera berwarna gradasi ungu-pink.

Sinyal baru dari dunia luar.

Pemberitahuan dari dimensi lain yang jauh lebih berbahaya daripada grup keluarga Bani Mansyur.

"Lala baru saja membagikan cerita (Story)."

Duniaku kembali berguncang. Kali ini, bukan karena gangguan dari orang luar, tapi gangguan yang berasal dari subjek cintaku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!