NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Ada jutaan perempuan di dunia ini yang pernah mencintai seseorang terlalu dalam.

Dan sebagian dari mereka tahu dengan cara yang paling menyakitkan bahwa mencintai terlalu dalam tidak selalu berakhir dengan bahagia. Kadang berakhir dengan duduk sendirian di dapur sempit pada jam dua belas malam, menatap layar ponsel yang retak, membaca nama seseorang yang sudah terakhir aktif dua menit lalu tapi tidak membalas satu pesan pun dalam tiga minggu terakhir.

Elena adalah salah satu dari perempuan itu. Ia bukan perempuan yang lemah. Siapapun yang mengenalnya akan mengatakan hal yang sama, Elena perempuan yang kuat, yang tidak mudah menyerah, yang bahkan ketika hidupnya sedang paling berat pun masih bisa tersenyum di depan anak-anaknya seolah tidak ada yang salah. Tapi kekuatan itu ada harganya. Dan Elena sudah membayarnya terlalu mahal selama satu tahun terakhir.

Satu tahun sejak Adrian pergi ke kota dengan satu koper dan sejuta janji.

Satu tahun sejak kiriman uang berhenti, kabar berhenti, dan yang tersisa hanya dua centang biru yang tidak pernah berubah menjadi balasan.

Orang-orang di kampung Sukawening tahu siapa Elena. Mereka tahu ia perempuan baik yang bekerja keras, yang membesarkan dua anak sendirian tanpa pernah mengeluh ke siapapun, yang meminjam uang dengan malu-malu dan mengembalikannya meski harus menunda makan. Mereka kasihan padanya, kasihan dengan cara orang-orang kampung mengasihani seseorang, yaitu dengan berbisik-bisik di belakangnya sambil berpura-pura tidak tahu apa-apa di depannya.

Tidak ada yang tahu bahwa malam-malam Elena jauh lebih berat dari yang terlihat.

Tidak ada yang tahu bahwa ia pernah duduk di lantai dapur yang dingin menghitung koin receh untuk membeli obat anaknya yang demam. Tidak ada yang tahu bahwa ia pernah meminjam dua puluh ribu rupiah ke tetangga dan pulang dengan tangan kosong setelah dihina. Tidak ada yang tahu bahwa ada malam-malam ketika ia menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis terlalu keras dan membangunkan anak-anaknya.

Dan tidak ada yang tahu tentang malam itu. Malam ketika Anaknya kejang.

Malam ketika Elena berlari dengan kaki telanjang menembus dinginnya kampung untuk meminta pertolongan. Malam dimana ia menggendong tubuh kecil anaknya, berdoa dengan cara yang paling hancur yang pernah ia lakukan, dengan tangisan yang keluar begitu saja dari perempuan yang sudah kehabisan segalanya kecuali harapan.

Ternyata malam itu harapan pun tidak cukup.

Dokter muda di IGD rumah sakit kabupaten itu keluar dari balik tirai dengan cara yang sudah cukup bagi Elena untuk tahu jawabannya sebelum satu kata pun diucapkan. Bukan dari kata-katanya, tapi dari cara ia berjalan. Dari cara matanya tidak langsung menemukan mata Elena.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Bu." Dokter itu menghela napas panjang.

Elena masuk ke balik tirai. Duduk di sisi ranjang yang terlalu besar untuk tubuh sekecil anaknya. Mengambil tangan anaknya, tangan yang sudah tidak hangat lagi, tangan yang empat tahun lalu ia pegang pertama kali di ruang bersalin dengan perasaan yang tidak pernah bisa ia deskripsikan dengan kata-kata, tangan yang selalu mencari genggamannya saat takut atau saat gelap atau saat tidak ada siapapun selain mereka berdua.

Elena tidak langsung menangis. Ia hanya duduk. Memegang tangan kecil itu. Merapikan selimut yang sudah rapi. Mengusap rambut yang sudah disisir oleh tangan-tangan yang tidak dikenal.

Lalu air matanya datang, deras mengalir di pipinya, dadanya terasa sesak, dunianya terasa hancur, ia terluka begitu dalam.

Di luar sana malam masih gelap. Di rumah Evan masih sendirian menunggu dengan pintu yang terkunci. Dan di kota yang jauh, Adrian, suaminya, ayah dari anak yang baru saja meninggal tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Atau mungkin tidak peduli.

Elena mengambil ponselnya dan menelepon. Adrian mengangkat setelah lima kali nada sambung. Suaranya berat, tidak sabar, suara orang yang terganggu, bukan suara orang yang menunggu kabar dengan cemas.

"Jam berapa ini, Elena?"

"Ara sudah tidak ada."

Hening sesaat. Elena menunggu. Mungkin ia akan mendengar tangisan. Mungkin kepanikan. Mungkin suara lelaki yang menyesal karena tidak ada di saat yang paling dibutuhkan. Tapi yang ia dengar adalah ini sebuah caci maki dari Adrian.

Malam itu Elena pulang tanpa Ara. Tangannya kosong di tempat yang biasanya selalu ada jari-jari mungil yang hangat, jari-jari yang selalu mencari genggamannya, yang selalu terasa seperti pengingat bahwa ada alasan untuk terus berdiri meskipun semuanya terasa terlalu berat.

Kekosongan itu tidak pernah terisi. Tapi dari kekosongan itulah sesuatu tumbuh perlahan, diam-diam, dengan cara yang bahkan Elena sendiri tidak langsung menyadarinya. Sesuatu yang mengubah perempuan yang dulu menangis di lantai dapur menjadi perempuan yang berdiri di lobi gedung pencakar langit tiga bulan kemudian dengan senyum yang tidak ada yang bisa membacanya.

Mereka pikir Elena datang karena tidak punya pilihan lain. Mereka belum tahu bahwa justru Elena yang akan mengambil semua pilihan dari tangan mereka.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!