Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.
Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.
Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Skill
Saat penentuan akhirnya tiba. Setelah semua diskusi dan keputusan yang dibuat, inilah bagian paling penting dari seluruh kesepakatan ini. Karena di sinilah akan ditentukan bagaimana Onad menyusun langkah untuk mencapai tujuannya.
Kemampuan Ilahi ini bukan sekadar jalan untuk menjadi kuat. Ini adalah cheat miliknya.
Onad memiliki pengetahuan tentang sebagian besar skenario semacam ini, di mana seseorang yang bereinkarnasi dalam manga dan novel akan dianugerahi kemampuan seperti itu.
Berkat pengalamannya, ia telah membaca banyak cerita serupa dan tahu ke mana berbagai jenis Kemampuan Ilahi itu akan membawanya di masa depan.
Karena itu, ia harus meneliti semuanya dengan saksama dan memilih yang paling sesuai dengan situasinya saat ia dilempar ke dunia Solmara nanti.
Karena pilihan harus ditentukan sekarang, ia tentu harus mencari yang paling berguna dan memiliki potensi terbesar.
Kemampuan yang bukan hanya membuatnya lebih kuat, tetapi juga menjadi kartu as yang bisa menyelamatkan nyawanya saat ia berada di ambang kematian lagi.
Dulu, mungkin ia akan memilih dengan cara berbeda. Namun sekarang, karena ia diberi kesempatan hidup sekali lagi, ia harus membuat segalanya semudah dan senyaman mungkin bagi dirinya.
Kemampuan ini bukan hanya membantunya mencapai tujuan akhir, tetapi juga akan membentuk masa depannya.
"Gue siap. Tunjukin aja."
"Kita cuma boleh memilih dua Kemampuan Ilahi. Setiap Dewa memberi itu ke pahlawannya masing masing. Dan tiap Dewa punya Kemampuan Ilahi unik yang berhubungan sama Hukum Eksistensinya. Tapi kau tidak akan bisa milih lagi setelah ini. Jadi pikirin matang matang."
Dewa kegelapan mengangkat tangan kirinya. Seketika itu juga, lebih dari lima puluh monolit raksasa sebesar rumah muncul di hadapan Onad dan berbaris membentuk antrean.
Sebagian memancarkan cahaya emas, sebagian perak, dan sebagian perunggu, seakan diklasifikasikan berdasarkan tingkat kegunaannya.
Namun ada juga tiga monolit hitam yang tidak memancarkan cahaya sama sekali. Justru sebaliknya, seakan menyerap cahaya di sekitarnya.
Onad paham, itulah kemampuan yang akan ia dapatkan setelah memilih. Pendekatannya di masa depan sangat bergantung pada pilihan itu.
Ia menatap tiap monolit. Informasi mengenai fungsi dan cara penggunaannya mengalir begitu saja ke dalam pikirannya.
Pengendalian Pikiran, Pemanggilan Arwah, Teleportasi, Telekinesis, Telepati, Levitas, Integrasi, Mimic, Penglihatan Jarak Jauh, Mata Sage. Sekitar lima puluh kemampuan berbeda tertera pada monolit monolit itu, dan semuanya berada pada tingkat tertinggi, sempurna tanpa cacat.
Onad menyentuh satu per satu monolit tersebut. Entah bagaimana, ia merasakan keterikatan alami dengan mereka. Seakan tiap Kemampuan Ilahi itu memanggilnya dan memintanya untuk menerima mereka.
Namun Onad tidak berhenti dan tidak tergoda. Ia tetap menelusuri semuanya dengan tenang, satu per satu. Ia tidak boleh salah langkah.
Setelah beberapa waktu, ia selesai meninjau semua monolit emas, perak, dan perunggu. Dengan rasa penasaran, ia bertanya.
"Itu cahaya terang maksudnya apa? Kenapa warnanya beda beda?"
Dewa Kegelapan menatapnya lalu menjawab, "Yang emas paling sering dipilih oleh pendahulumu. Minimal empat kali untuk dua slot yang mereka dapatkan. Yang perak tiga kali, yang perunggu dua kali."
"Kalau yang hitam itu?"
"Belum pernah sekalipun."
"Mencapai kekuatan yang cukup buat melawan Dewa Iblis dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun. Gila sih." Onad mengangguk pelan.
Namun detik berikutnya, ia langsung menimpali.
"Tapi semuanya terikat syarat tertentu. Contohnya Pengendalian Pikiran. Gue harus natap mata orang itu minimal satu menit sambil ngobrol dulu baru bisa ngendaliin dia. Kalau lagi pertarungan hidup dan mati, jelas gak bakal kepake. Musuh mana mau diajak ngobrol baik baik ... Terus kemampuan Necromancer. Gue harus ngerampok kuburan dulu buat nambahin pasukan arwah. Berguna banget buat jangka panjang, tapi ribetnya minta ampun. Clairvoyance cuma bisa lihat beberapa waktu ke depan dan gak bisa dipakai terus terusan. Habis dipakai, harus nunggu beberapa jam. Potensinya gede, bisa cegah gue ketipu atau mati sia sia. Tapi tetap aja, cuma ngasih keunggulan awal. Gak cukup buat bener bener ngubah situasi. Telekinesis juga ada batas jarak dan berat yang bisa gue angkat. Ya wajar sih, kalau bisa mindahin gunung bakal terlalu gak masuk akal. Mata Sage cuma ngasih informasi selama itu bukan level Divine atau di level para Dewa. Tapi percuma juga kalau gue gak punya kemampuan buat manfaatin informasi itu. Telepati malah harus nyentuh target, minimal sekali dulu buat bikin koneksi pikiran. Itu sih bikin gue kelihatan kayak orang aneh atau mesum."
Onad memberi jempol pada Dewa Kegelapan.
Setelah itu ia mulai membeberkan satu per satu syarat dan ketentuan merepotkan dari semua Kemampuan Ilahi tersebut, seakan sedang membaca daftar risiko investasi.
Dewa Kegelapan. yang tadi memasang wajah bangga saat memamerkan kemampuan itu, berharap melihat ekspresi kagum dan pemujaan, kini terdiam bisu.
Dan orang ini malah mengeluh karena semuanya dianggap tidak fleksibel dan hanya berguna di situasi tertentu. Secara tidak langsung, Onad seperti mengacungkan jari tengah pada Dewa Kegelapan yang dulu selalu menyodorkan kemampuan ini kepada para Manusia Terpilih sebelumnya.
Untuk pertama kalinya dalam miliaran tahun keberadaannya, Dewa Kegelapan. merasa ingin menangis.
Onad seperti menendangnya di wajah berkali kali. Bahkan Khelgar menatap Dewa Kegelapan. dengan penuh rasa iba.
"Kenapa dia gak bikin Kemampuan Ilahi sendiri aja sekalian?" batin Dewa Kegelapan.
Tentu saja ia tidak mengucapkannya keras keras. Harga dirinya sebagai Dewa Mahakuasa bisa runtuh hanya karena tersulut oleh beberapa kata dari jiwa orang mati.
Saat ia hendak berbicara, Onad justru mengalihkan pandangan ke tiga monolit gelap dan mulai memeriksanya.
Penyerapan Kemampuan.
Hukum Dimensi.
Sintesis.
Begitu informasi mengenai tiga Kemampuan Ilahi itu sepenuhnya diproses dalam pikirannya, Onad terdiam. Ia membaca dengan saksama, dan raut bingung muncul di wajahnya.
Salah satu monolit menampilkan detail berikut ...
...────୨ৎ────...
...Kemampuan Ilahi: Penyerapan Kemampuan...
...Memungkinkan pemiliknya menyerap kemampuan fisik dan sihir dari target tanpa komplikasi atau efek samping. Namun, pemilik tetap harus mengikuti batasan dan syarat penggunaan dari masing masing kemampuan yang diserap....
...Syarat: Target yang kemampuannya ingin diserap harus sudah mati sebelum kemampuan ini digunakan. Jika tidak, proses penyerapan akan gagal. Target juga tidak boleh terlalu lama meninggal, dan tubuh fisiknya harus dalam kondisi yang cukup utuh agar kemampuan dapat diekstraksi sepenuhnya....
...────୨ৎ────...
Kemampuan itu membutuhkan sesuatu seperti darah atau bagian tubuh tertentu. Proses penyerapan akan gagal jika tubuh target hancur terlalu parah atau jumlah yang dibutuhkan untuk menyerap kemampuan tidak mencukupi.
Lalu ia membaca Kemampuan Ilahi kedua.
...────୨ৎ────...
...Kemampuan Ilahi: Hukum Dimensi...
...Pemilik kemampuan ini memiliki akses ke seluruh ruang dan kehampaan di sekitarnya. Ia dapat membuka kehampaan dan masuk ke dalamnya tanpa membahayakan tubuh fisiknya. Ia juga dapat menempatkan sebagian tubuhnya di dalam kehampaan, sementara sisanya tetap berada di dunia nyata tanpa merusak tubuh aslinya. Jarak tempuh dan lama waktu berada di dalam kehampaan akan meningkat seiring bertambahnya penguasaan atas hukum tersebut....
...Syarat: Pemilik harus memiliki efisiensi yang sangat tinggi dalam sihir dan hukum ruang. Kemampuan Ilahi ini hanya dapat diakses setelah prasyarat tersebut terpenuhi....
...────୨ৎ────...
Kemudian ia beralih ke Kemampuan Ilahi ketiga.
...────୨ৎ────...
...Kemampuan Ilahi: Sintesis...
...Memungkinkan pemiliknya menggabungkan dua Kemampuan Fisik dan Keterampilan Sihir yang berbeda untuk menciptakan varian baru berdasarkan prinsip kerja keduanya dalam proses sintesis. Kemampuan yang diciptakan tidak menimbulkan efek samping pada tubuh maupun kondisi mental pemilik. Kemampuan ini juga dapat digunakan untuk menciptakan makhluk dengan mencampurkan berbagai jenis makhluk dan kemampuan....
...Syarat: Harus memenuhi tingkat prasyarat tertentu seperti kemampuan fisik dan keterampilan yang diperlukan sebelum proses sintesis dapat dilakukan. Kekuatan dan keunikan makhluk yang diciptakan bergantung pada subjek dasar yang digunakan dalam percobaan....
...────୨ৎ────...
Onad kembali terdiam. Tiga kemampuan ini benar benar di luar dugaannya. Ia paham kenapa para pendahulunya tidak pernah memilih ketiganya sekalipun.
Syarat yang dibutuhkan memang merepotkan dan sulit dicapai. Namun Onad berbeda dari mereka. Tidak seperti para pendahulunya yang merupakan ahli strategi hebat, pemimpin besar, atau jenderal ternama di zamannya, tak satu pun dari mereka pernah menjadi Otaku, Nerd, atau Geek sepertinya.
Dari sudut pandang orang biasa, tiga kemampuan ini memang terlihat tidak layak dipilih.
Butuh waktu lama untuk menyempurnakannya, dan banyak waktu akan terbuang hanya untuk memenuhi prasyaratnya.
Misalnya, mereka harus terus membunuh seseorang atau monster untuk menyerap kemampuan.
Mereka harus mempelajari dan memahami Hukum Ruang dan Waktu, sesuatu yang jauh lebih sulit dari sekadar teori.
Kemampuan Sintesis pun pasti memiliki banyak batasan saat mencoba menggabungkan dua kemampuan atau makhluk yang berbeda.
Dalam jangka panjang, tiga Kemampuan Ilahi ini justru akan merepotkan, membuang waktu, menghambat jalan menuju kekuatan, dan memperumit keadaan karena membutuhkan riset serta dedikasi yang besar.
Tidak heran jika ketiganya dianggap pilihan terburuk.
Namun semenit kemudian, Onad menatap Dewa Kegelapan dan berkata,
"Gue mau yang itu. Gue mau semuanya. Tiga tiganya."
Mendengar keputusan itu, Dewa Kegelapan dan Khelgar langsung menatapnya bersamaan dan berteriak, "LO WARAS GAK SIH?!"