Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Memesan Menu
Bab 34: Memesan Menu
Lantai McDonald’s yang mengkilap seolah memantulkan beban kecemasan yang berkecamuk di dalam tempurung kepala Rafi. Ia berdiri di depan meja kasir yang tingginya setara dengan dadanya, menghadap seorang kru berbaju merah yang tersenyum sangat ramah—sebuah keramahan standar korporasi yang bagi Rafi terasa seperti tuntutan untuk segera mengeluarkan uang.
Di belakangnya, antrean mulai menumpuk. Ia bisa merasakan tatapan tidak sabar dari seorang pria paruh baya yang terus melihat jam tangan.
Namun, Rafi tidak boleh goyah. Ia memiliki misi yang jauh lebih krusial daripada sekadar menghilangkan lapar: ia sedang melakukan manuver finansial paling berisiko dalam kencannya hari ini.
"Selamat siang, Kak. Mau pesan apa?" suara mbak kasir itu terdengar renyah, kontras dengan kerongkongan Rafi yang masih kering kerontang.
Rafi tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit ke arah meja pojok yang ia pilih di Bab 33. Nisa sedang duduk di sana, sibuk memperhatikan orang-orang yang lewat di luar jendela. Gadis itu tampak tenang, tidak tahu bahwa di garis depan ini, 'panglimanya' sedang melakukan kalkulasi logis yang amat ketat.
"Nis! Sini sebentar," panggil Rafi sambil melambaikan tangan.
Nisa berdiri dan menghampirinya. Langkah kakinya yang ringan di atas lantai granit itu membuat jantung Rafi berdegup tidak keruan.
Saat Nisa berdiri di sampingnya, aroma sabun mandi yang lembut kembali tercium, mengalahkan aroma minyak goreng yang mendominasi
ruangan.
"Pilih aja dulu, Nis. Kamu mau makan apa?" tanya Rafi, suaranya diusahakan tetap rendah dan berwibawa. Ia memberikan panggung sepenuhnya kepada Nisa, sebuah gestur yang secara sosiologis bertujuan untuk menunjukkan bahwa ia adalah tuan rumah yang baik.
Nisa menatap layar menu digital yang terus berganti. Matanya bergerak cepat dari satu paket ke paket lainnya. Rafi menahan napas. Secara analitis, ia sedang memindai gerakan mata Nisa.
Jika Nisa memilih paket yang harganya di atas lima puluh ribu rupiah, maka seluruh struktur anggaran yang ia susun sejak Bab 5 akan mengalami defisit serius.
"Emm... Paket Panas yang pakai burger itu kayaknya enak ya, Fi? Yang ada kentang gorengnya," ujar Nisa sambil menunjuk gambar Cheeseburger yang tampak sangat menggoda dengan lelehan keju kuning.
Rafi melirik harganya.
Paket Hemat Cheeseburger: Rp45.455 (sebelum pajak).
Ditambah pajak 10%, maka totalnya menjadi Rp50.000.
Angka bulat. Angka yang cantik namun mematikan.
"Oke, satu Paket Hemat Cheeseburger buat dia, Mbak," ujar Rafi kepada kasir. Ia tidak ragu. Ia ingin Nisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kebahagiaan Nisa adalah prioritas operasionalnya.
"Minumannya mau ganti ke McFloat atau tetap Coke reguler, Kak?" tanya kasir itu lagi, mencoba melakukan upselling.
"Tetap saja, Mbak," jawab Rafi cepat. Ia tahu jebakan itu. Menambah es krim di atas minuman soda berarti menambah lima ribu rupiah lagi.
Secara skeptis, ia menganggap es krim yang mencair di dalam soda hanyalah pemborosan glukosa yang tidak perlu.
Kini giliran Rafi. Inilah momen "Efisiensi Panglima".
Ia harus makan. Ia tidak bisa hanya menonton Nisa makan karena itu akan terlihat sangat aneh dan menciptakan suasana canggung yang akan merusak Bab 35 nanti. Namun, ia tidak boleh memesan menu yang sama mahalnya dengan Nisa.
Mata Rafi memindai barisan menu paling bawah, area di mana McDonald's menyembunyikan opsi-opsi bagi mereka yang sedang berhemat atau "berakting" hemat. Ia mencari Entry Level dari segala menu yang ada.
"Saya... Paket Panas 1 saja, Mbak. Yang ayam sama nasi," ucap Rafi pelan.
Paket Panas 1: Rp25.000 (sebelum pajak).
Total setelah pajak: Rp27.500.
Selisih dua puluh dua ribu lima ratus rupiah. Sebuah penghematan yang signifikan. Nisa mendapatkan burger kelas menengah, sementara ia cukup dengan nasi dan sepotong ayam yang ukurannya mungkin akan ia pasrahkan pada keberuntungan nasib. Secara sosiologis, ia bisa memberi alasan bahwa ia sedang "ingin makan nasi" atau "butuh energi lebih besar karena belum sarapan". Alasan logis selalu lebih baik daripada pengakuan kemiskinan.
"Ada tambahan lain? Es krim kerucut mungkin?" tanya kasir itu, mencoba keberuntungan terakhirnya.
Rafi melirik Nisa. Nisa menggeleng kecil. "Nanti aja, Fi. Kenyang kalau sekarang."
"Itu saja dulu, Mbak," sahut Rafi.
"Totalnya jadi tujuh puluh tujuh ribu lima ratus rupiah, Kak."
Rafi merogoh saku belakangnya. Ia mengeluarkan dompetnya yang kaku. Ia mengambil selembar uang seratus ribu rupiah—lembaran kedua terakhir yang ia miliki. Tangannya sedikit gemetar saat menyodorkan uang itu, namun ia menutupinya dengan membetulkan posisi tas ransel di dadanya.
Kasir menerima uang itu, memasukkannya ke dalam laci yang berdenting keras, lalu memberikan kembalian dua puluh dua ribu lima ratus rupiah beserta selembar struk panjang.
Rafi menerima uang kembalian itu. Ia merasakannya di telapak tangan: dua lembar sepuluh ribu yang lecek dan sekeping koin lima ratus perak. Koin itu terasa berat di tangannya, seolah mewakili setiap keringat yang ia teteskan saat mengerjakan tugas orang lain.
"Silakan ditunggu di ujung sana ya, Kak," ucap kasir sambil memberikan nomor antrean.
Rafi mengajak Nisa kembali ke meja pojok pilihan mereka. Sambil berjalan, otak Rafi kembali melakukan kalkulasi.
Sisa uang setelah makan: Rp137.500.
Bus pulang: Rp40.000 (untuk berdua).
Cadangan sisa: Rp97.500.
Ia merasa sedikit lega. Angka sembilan puluh tujuh ribu itu adalah "ruang bernapas". Ia masih bisa membeli es krim nanti (Bab 41) atau mungkin naik becak jika cuaca terlalu panas (meski ia lebih memilih jalan kaki di Bab 43 demi efisiensi).
Mereka sampai di meja. Nisa duduk kembali dengan wajah cerah. "Makasih ya, Fi. Jadi nggak enak aku pesannya yang mahal."
"Halah, beda dikitnya itu, Nis. Lagian sekali-sekali kita makan enak di Kisaran, kan?" jawab Rafi, berbohong dengan sangat elegan. Di kepalanya, ia membandingkan harga paket burger itu dengan seporsi nasi uduk di Tanjungbalai yang hanya tujuh ribu perak.
Rafi duduk di depan Nisa. Dari sudut matanya, ia melihat nomor antrean mereka muncul di layar monitor besar. Ia kembali berdiri.
"Aku ambil dulu ya," katanya.
Saat ia berdiri di depan meja pengambilan makanan, ia melihat nampannya disiapkan. Satu kotak merah berisi burger, satu bungkus kentang goreng yang aromanya sangat gurih, satu nasi yang dibungkus kertas putih rapi, dan satu potong ayam goreng. Dan tentu saja, dua gelas besar minuman soda yang penuh dengan es batu.
Rafi memegang nampan itu dengan kedua tangannya, sangat hati-hati agar minuman itu tidak tumpah dan membasahi kemeja flanelnya. Ia berjalan menuju mejanya dengan langkah yang sangat diperhitungkan. Bagi orang lain, ia mungkin hanya remaja yang membawa nampan McD. Tapi bagi dirinya sendiri, ia adalah seorang pria yang sedang membawa hasil kemenangan dari sebuah perjuangan panjang melawan realitas ekonomi.
Ia meletakkan nampan itu di meja dengan suara klak kecil yang memuaskan.
"Wah, kentangnya banyak banget!" seru Nisa, matanya berbinar melihat tumpukan kentang goreng yang masih panas.
Rafi duduk, ia mengambil napas dalam-dalam. Akhirnya, rasa haus dari Bab 32 akan segera terbayar. Ia melihat es batu yang mulai mencair di dalam gelas sodanya, menciptakan embun di dinding plastik gelas. Secara skeptis, ia tahu ini hanya air gula berkarbonasi, tapi saat ini, cairan itu terlihat seperti nektar para dewa.
Rafi menyerahkan kotak burger kepada Nisa dengan senyum tipis yang tulus. Ia telah berhasil melewati fase pemesanan tanpa cacat finansial.
Di depannya, Nisa tampak sangat senang, dan bagi Rafi, itu adalah konfirmasi bahwa strategi "Paket Hemat" miliknya adalah pengorbanan yang sangat layak dilakukan.