Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin Calapan dan Mata yang Sayu
Sore itu, langit Calapan berubah menjadi kanvas berwarna jingga keunguan. Setelah menyelesaikan rapat online yang alot dengan direksi SM Corp, Matthias keluar ke teras dan menemukan Sheena baru saja menutup laptopnya di kursi rotan.
"Sudah selesai belajarnya?" Tanya Matthias, suaranya lebih rendah dari biasanya karena kelelahan.
Sheena mendongak, matanya sedikit lelah di balik kacamata bulatnya. "Sudah. Kepalaku hampir meledak karena kuliah anatomi dadakan tadi. Aku butuh oksigen yang tidak tercemar polusi Makati."
"Ayo keluar. Nenek bilang ada pantai tidak jauh dari sini," ajak Matthias datar, meski sebenarnya dia sendiri butuh pelarian dari angka-angka saham.
Mereka akhirnya memutuskan menggunakan sepeda tua milik mendiang ayah Matthias. Matthias yang setinggi 204 cm terlihat sangat mencolok saat menuntun sepedanya—dia benar-benar terlihat seperti pangeran Eropa yang tersesat di perkampungan Filipina.
"Jangan sok tahu jalan. Kau sudah enam tahun tidak pulang, kau pasti sudah pikun," ejek Sheena sambil menaiki sepedanya lebih dulu. "Ikuti aku."
Matthias hanya mendengus, namun ia patuh mengikuti punggung mungil Sheena yang lincah mengayuh sepeda melewati jalanan setapak yang dikelilingi pohon kelapa.
Begitu sampai di bibir pantai, Sheena langsung memarkirkan sepedanya asal-asalan dan berlari menuju air. Angin laut menyambut mereka dengan pelukan dingin yang menyegarkan. Sheena melepas kuncir rambutnya, membiarkan rambut hitamnya yang sepanjang pinggang terurai bebas, menari-nari tertiup angin.
Ia melepaskan kacamata bulatnya, menyimpannya di saku hoodie-nya, lalu memejamkan mata dalam-dalam. Ia menghirup oksigen Calapan yang bersih dengan rakus, membiarkan dadanya terasa lapang.Matthias berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia terpaku melihat Sheena dari sudut ini.
"Sheena," panggil Matthias tiba-tiba. Suaranya hampir tertelan debu ombak.
Sheena menoleh. Tanpa kacamata, pandangannya sedikit kabur karena minusnya yang lumayan tinggi, tapi justru itu yang membuat matanya terlihat sangat cantik. Sleepy eyes itu menatap sayu ke arah Matthias—setengah mengantuk, setengah menggoda tanpa disadari, dengan bulu mata yang lentik menaungi manik matanya yang jernih.
Deg.
Jantung Matthias berdetak dua kali lebih cepat. Visual Sheena tanpa kacamata di bawah sinar matahari terbenam benar-benar melumpuhkan logikanya. Dia terlihat seperti dewi laut yang rapuh namun berbahaya.
"Ada apa?" Tanya Sheena lembut, suaranya terbawa angin.
Matthias tertegun selama beberapa detik. Ia ingin mengatakan bahwa Sheena terlihat sangat cantik, atau ingin bertanya kenapa matanya bisa seindah itu. Namun, harga dirinya yang setinggi langit segera menariknya kembali ke kenyataan.
Matthias buru-buru membuang muka ke arah laut lepas, tenggorokannya mendadak kering. "Tidak... tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bilang... jangan terjauh. Airnya mulai pasang," ucapnya bohong, suaranya sedikit terbata.
Sheena menyipitkan matanya, berusaha memfokuskan pandangan pada wajah Matthias yang mendadak kaku. "Kau aneh sekali. Memanggil orang hanya untuk bilang begitu?"
Sheena kembali memakai kacamatanya, dan seketika wajahnya kembali menjadi "mahasiswi kutu buku" yang imut. Ia tidak melihat kalau telinga Matthias sudah merah padam. Pria sesempurna dia, yang biasanya membuat wanita-wanita seperti Celine bertekuk lutut, baru saja salah tingkah hanya karena ditatap oleh gadis kecil itu.
"Ayo pulang, sudah mau gelap." Ajak Matthias, berjalan cepat mendahului Sheena menuju sepeda mereka.
Sheena tertawa kecil, mengikuti langkah lebar Matthias. "Hei! Kenapa buru-buru? Tenang saja, ini belum jam berapa."
Matthias tidak menjawab, ia hanya terus berjalan dengan jantung yang masih berisik. Dalam hati ia menggerutu, Kenapa gadis bermulut pedas itu harus punya mata seindah itu? Sial.