NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sore itu matahari sudah condong ke barat ketika Xiao Han memarkir motor bututnya di depan gang sempit dekat Sungai Abadi. Kosan Hua Ling'er berada di lantai dua rumah tua bercat krem yang sudah mengelupas, dengan tangga besi berkarat dan jemuran penuh seragam SMA yang bergoyang ditiup angin lembab dari sungai.

Dia naik pelan, tangannya memegang kantong plastik berisi dua bungkus nasi ayam geprek dan es teh manis dari warung pinggir jalan. Pintu kamar nomor 7 sudah setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara lagu ballad lembut dari speaker kecil.

"Ling'er?" panggilnya pelan.

Hua Ling'er muncul dari balik pintu, rambut panjangnya diikat ponytail tinggi, masih mengenakan seragam SMA kelas 3 yang sudah dilepas dasinya. Wajahnya cerah begitu melihat Xiao Han, tapi ada sedikit kekhawatiran di matanya.

"Kak Han... kamu datang. Aku kira hari ini sibuk lagi."

Xiao Han tersenyum tipis, masuk dan menutup pintu di belakangnya. Kamar kecil itu rapi seperti biasa, kasur single ditutup sprei motif bunga, meja belajar penuh buku pelajaran dan catatan UN, poster motivasi kuliah di dinding. Bau sabun mandi dan parfum vanila samar-samar tercium, bercampur aroma tanah basah dari sungai yang terbawa angin.

"Aku bawa makan. Kamu belum makan, kan?"

Hua Ling'er menggeleng, lalu memeluk pinggang Xiao Han dari depan. Kepalanya bersandar di dada pria itu. "Kangen banget. Udah dua minggu kamu jarang ke sini."

Xiao Han membalas pelukan itu pelan, tapi tangannya tidak bergerak lebih jauh. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Hua Ling'er melalui seragam tipis itu, lekuk pinggang yang ramping, dada yang naik-turun pelan, dan aroma rambut yang selalu membuatnya gelisah.

Mereka duduk di kasur, makan sambil ngobrol ringan: ujian akhir semester Hua Ling'er, rencana kuliah di Universitas Tinggi jurusan Hukum, cerita ibu Hua Ling'er yang lagi sakit di kampung. Tapi sepanjang obrolan, mata Hua Ling'er sering mencuri pandang ke wajah Xiao Han, lalu ke bibirnya, lalu ke tangannya.

Setelah makan selesai, Hua Ling'er membersihkan bungkus plastik, lalu kembali duduk lebih dekat. Dia meletakkan tangannya di paha Xiao Han, jari-jarinya mengusap pelan.

"Kak... aku tahu kamu lagi capek. Tapi... aku juga pengen deket sama kamu. Lebih dari peluk doang."

Xiao Han menarik napas dalam. Dia tahu maksud Hua Ling'er. Sudah beberapa bulan ini setiap kali bertemu, ada ketegangan yang tak terucap, keinginan yang sama-sama mereka rasakan, tapi selalu ditahan oleh Xiao Han.

"Ling'er..." suaranya rendah. "Kamu masih kelas 3 SMA. Semester akhir. UN bentar lagi. Aku nggak mau kamu kehilangan fokus gara-gara aku."

Hua Ling'er menatapnya tajam, matanya berkaca-kaca tapi penuh tekad. "Aku tahu resikonya, Kak. Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah 18. Dan aku... aku ingin kasih yang terbaik buat Kak Han. Aku tahu kamu lagi berat, lagi usaha keras buat Ibu sama Xiao Mei. Biar aku bantu ringanin bebanmu, meski cuma sebentar."

Dia merangkak lebih dekat, tangannya naik ke dada Xiao Han, membuka satu kancing kemeja. Bibirnya mendekat, hampir menyentuh bibir Xiao Han.

Xiao Han menangkap pergelangan tangan Hua Ling'er dengan lembut tapi tegas. "Jangan, Ling'er."

Hua Ling'er terdiam, tapi tidak menarik tangannya. "Kenapa? Kamu nggak mau aku?"

"Bukan gitu." Xiao Han menatap mata gadis itu lama sekali. "Aku sangat ingin. Setiap kali di sini, setiap kali kamu peluk aku, aku harus nahan diri mati-matian supaya nggak kebablasan. Tapi aku nggak mau jadi alasan kamu nyesel nanti. Kamu harus lulus dengan nilai bagus, masuk UI, punya masa depan yang cerah. Aku... aku cuma tukang antar surat yang kerja sampingan gelap. Aku nggak mau rusak itu semua."

Air mata Hua Ling'er akhirnya jatuh. Dia menyandarkan kepala di bahu Xiao Han, bahunya bergetar pelan.

"Aku nggak peduli masa depan kalau tanpa Kak Han..."

Xiao Han memeluknya erat, tapi tetap menjaga jarak. Dia mencium kening Hua Ling'er pelan, seperti kakak pada adik, bukan kekasih yang haus.

"Kita tunggu dulu. Sampai kamu lulus. Sampai aku bisa kasih yang lebih baik buat kamu. Janji."

Hua Ling'er mengangguk kecil di dada Xiao Han, meski tangisnya masih tersendat.

Mereka diam begitu beberapa menit, hanya memeluk dalam hening yang penuh perasaan tak terucap.

Tiba-tiba ponsel Xiao Han berdering keras di saku celana. Nada dering khusus, nomor Lin Qing.

Dia menatap layar sejenak, jantungnya langsung berdegup kencang. Hua Ling'er juga melihat nama itu, matanya langsung redup.

"Kak... siapa?"

Xiao Han menghela napas pelan, lalu menjawab panggilan itu dengan suara datar.

"Halo?"

Suara Lin Qing di seberang dingin tapi penuh perintah.

"Xiao Han. Aku di villa sekarang. Aku butuh kamu malam ini. Jam 9. Jangan terlambat. Ada yang harus kita bicarakan... dan aku tidak suka menunggu."

Panggilan terputus sebelum Xiao Han sempat menjawab.

Dia menatap ponsel yang sudah gelap, lalu ke Hua Ling'er yang sekarang menunduk, tangannya mencengkeram sprei erat-erat.

"Kak... kamu harus pergi?"

Xiao Han diam lama. Lalu dia berdiri pelan, mengambil helm di lantai.

"Aku harus pulang dulu. Besok aku jemput kamu pulang sekolah ya."

Hua Ling'er tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil, matanya penuh pertanyaan yang tak berani diucapkan.

Xiao Han keluar dari kosan itu dengan langkah berat. Di luar, angin sore bertiup kencang dari Sungai Abadi, membawa bau tanah basah dan asap knalpot. Tapi di dadanya, angin itu terasa dingin sekali.

Malam ini, villa Lin Qing memanggil lagi.

1
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
APRILAH
Chapter 11, sabar ya guys
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: 🤭/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
tapi aman sih harusnya, Aria cukup lembut dan baik
APRILAH: iya sih
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantul
APRILAH: 🤭/Grin//Proud/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!