Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurang Kesengsaraan!
Tidak lama kemudian, pelayan wanita tadi kembali. Kedua tangannya membawa nampan besar berisi makanan. Xu Hao tertegun melihat jumlahnya. Setidaknya sepuluh piring berbeda, semangkuk sup besar, dan satu kendi minuman.
Pelayan itu meletakkan semua hidangan di meja, lalu tanpa diminta, dia duduk di kursi seberang Xu Hao. Senyum lembut dan manis terukir di bibirnya. Senyum yang bisa membuat pria manapun bergairah. Beberapa pria di meja lain melirik dengan iri, jakun mereka naik turun, seolah ingin menerkam.
Xu Hao tidak peduli. Dia mengambil mangkuk sup dan mulai menyendoknya ke mulut. Sup itu hangat, dengan rasa gurih yang sempurna. Saat masuk ke perut, energi ilahi mengalir ke seluruh tubuh, memperkuat fondasinya. Kultivasinya terasa semakin kokoh.
"Ceritakan," kata Xu Hao di antara suapan.
Pelayan itu tersenyum, lalu memulai penjelasannya. Suaranya lembut tapi jelas.
"Jurang Kesengsaraan adalah lorong alam yang menghubungkan Alam Satu dan Alam Dua. Panjangnya sekitar seratus kilometer, dengan kedalaman rata-rata sepuluh kilometer dari permukaan. Di dalamnya, tekanan kesengsaraan pikiran dan tubuh bekerja setiap saat. Racun korosif menggerogoti tubuh. Makhluk makhluk kegelapan berkeliaran."
Dia berhenti sejenak, memastikan Xu Hao mendengarkan. Xu Hao mengangguk, mulutnya masih mengunyah daging aneh.
"Sebulan belakangan ini, tingkat bahaya meningkat drastis. Biasanya, Dewa Bumi bintang sepuluh punya peluang dua puluh persen untuk selamat. Sekarang, bahkan Dewa Langit bintang satu pun dipastikan mati jika mencoba. Kalau pun bisa melewati dan berhasil ke Alam Dua, banyak harga yang harus dibayar. Terutama kultivasinya akan merosot. Ada yang turun satu bintang, ada yang turun dua bintang."
Xu Hao mengambil sepotong daging. Bentuknya seperti ayam, tapi di bagian belakang ada ekor panjang seperti ikan. Daging itu bergerak sedikit di piringnya. Xu Hao merinding melihatnya. Tubuhnya gemetar sesaat. Tapi dia tetap mengambilnya dan memasukkan ke mulut.
Rasanya luar biasa enak. Perpaduan rasa ayam panggang dan ikan segar yang sempurna.
Pelayan itu tersenyum melihat ekspresi Xu Hao. "Itu daging Burung Ikan. Hewan khas Alam Satu yang hanya bisa ditemukan di daerah sini. Berkhasiat untuk memperkuat tulang."
Xu Hao mengangguk, melanjutkan makan sambil mendengarkan.
Pelayan itu melanjutkan penjelasan panjangnya. Dia menjelaskan tentang jenis makhluk di dalam jurang, tentang titik titik aman yang bisa digunakan untuk beristirahat, tentang cara mendeteksi ancaman, dan tentang posisi pintu keluar di Alam Dua.
Dia juga menjelaskan tentang biaya masuk. Seratus kristal ilahi tingkat tinggi. Dengan biaya itu, pengunjung mendapat gelang pendeteksi makhluk kesengsaraan yang bisa mendeteksi ancaman dalam radius satu kilometer.
Setelah selesai menjelaskan, Xu Hao juga selesai menghabiskan semua makanan. Dia berdiri, mengangguk singkat pada pelayan itu, lalu meninggalkan restoran tanpa berkata apapun.
Pelayan itu hanya tersenyum, matanya mengikuti punggung Xu Hao hingga hilang di kerumunan.
"Pria aneh."
Xu Hao berjalan menuju sisi lain kota. Di sana, di balik tembok besar, ada gerbang menuju Jurang Kesengsaraan. Beberapa kultivator terlihat antre, membayar biaya masuk dengan wajah tegang.
Xu Hao menunggu dengan sabar. Saat gilirannya tiba, dia menunjukkan identitasnya kepada pengawas jurang. Pengawas itu adalah pria tua dengan jubah abu abu. Di dahinya, sepuluh bintang bersinar. Tapi aura di sekitarnya menunjukkan dia sudah setengah langkah menuju Dewa Langit.
"Berapa biaya masuk?" tanya Xu Hao.
Pengawas itu menjawab dengan suara serak, "Seratus kristal ilahi tingkat tinggi. Bayar, dan kau dapat gelang pendeteksi makhluk kesengsaraan. Gelang itu bisa menyelamatkan nyawamu, atau setidaknya memberimu peringatan sebelum mati."
Xu Hao mengeluarkan kantong dari cincinnya. Dia menuangkan seratus kristal tinggi ke meja. Kristal kristal itu berkilauan, jauh lebih terang dari kristal rendah. Pengawas itu memeriksanya sebentar, lalu mengangguk. Dia mengambil sebuah gelang hitam dari laci dan menyerahkannya pada Xu Hao.
"Ini gelangmu. Saat mendeteksi bahaya, gelang ini akan bergetar. Semakin kuat getarannya, semakin dekat dan semakin berbahaya ancamannya. Jika gelang ini hancur, itu artinya kau sudah mati. Atau sebentar lagi mati. Sesederhana itu."
Xu Hao memakai gelang itu di pergelangan tangan kirinya.
Pengawas itu lalu memberi isyarat pada dua prajurit di sampingnya. Mereka membuka pintu gerbang kecil di samping gerbang utama. Di balik pintu, tangga batu menurun ke dalam kegelapan.
"Anak muda," panggil pengawas itu. Xu Hao menoleh.
Pengawas itu menatapnya dengan tatapan campuran iba dan sinis. "Kuharap kau bukan Dewa Bumi ke sepuluh ribu, yang mati selama seribu tahun terakhir saat melewati jurang ini. Angka itu baru yang tercatat. Yang tidak tercatat, mungkin dua kali lipatnya."
Xu Hao mengangguk. Tanpa berkata apa apa, dia melangkah menuruni tangga batu.
Di belakangnya, pengawas itu melambaikan tangan. "Jangan mati. Semoga kau berhasil."
Xu Hao tanpa melihat ke belakang, mengangkat tangan kanannya dan melambai sekali. Lalu tubuhnya ditelan kegelapan tangga.
Pengawas itu menatap ke dalam jurang untuk beberapa saat. Lalu dia bergumam pelan, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
"Dewa Bumi bintang sepuluh. Tapi ketenangan seperti Dewa Langit bintang sepuluh. Anak muda sekarang aneh aneh."
Xu Hao terus menuruni tangga batu. Setiap langkah membawanya lebih dalam ke dalam jurang. Udara di sekitarnya berubah semakin dingin dan berat. Kabut hitam mulai muncul, menebal seiring kedalaman.
Di kedalaman lima ratus meter, Xu Hao masih menuruni tangga. Di sini, tekanannya sudah sangat berat. Jika Leluhur Abadi diletakkan di tempat ini, hanya setengah jam mereka pasti mati. Racun korosif di udara akan menghancurkan tubuh mereka. Tekanan kesengsaraan pikiran akan menghancurkan jiwa mereka. Tapi Xu Hao berjalan santai, seolah tidak merasakan apa apa.
Lima kilometer kemudian, kaki Xu Hao akhirnya menginjak permukaan tanah keras. Dia sekarang berada di dasar jurang. Di atasnya, dua ratus meter dari permukaan tanah, awan hitam pekat bergulung gulung. Dari awan itu, sesekali kilat menyambar, menerangi kegelapan sesaat.
Xu Hao mulai melangkah.
Pelan pelan.
Lalu sedikit lebih cepat.
Lumayan cepat.
Cepat.
Sangat cepat.
Xu Hao melesat dengan kecepatan luar biasa di dasar jurang. Di sekelilingnya, bayangan bayangan bergerak, tapi tidak ada yang berani mendekat. Tekanan kesengsaraan pikiran terus mengganggu pikirannya, memaksanya mengingat saat saat terburuk dalam hidupnya. Kematian Lianxue. Pengorbanannya. Wajahnya yang tersenyum sebelum menghilang. Saat saat kematian ayah ibunya pun ikut muncul.
Tapi Xu Hao tetap tenang. Hukum Asal di tubuhnya bekerja, pohon Willow di Dantiannya memancarkan cahaya hangat yang menenangkan. Dao Pemberontakan memblokir sebagian besar ancaman, hanya menyisakan gangguan kecil yang bisa diabaikan.
Tiba tiba!
Gelang di pergelangan tangan Xu Hao bergetar hebat. Getaran itu begitu kuat hingga hampir membuat gelang itu copot. Lalu dengan suara keras, gelang itu hancur berkeping keping.
CRAAACK!
Xu Hao langsung berhenti. Dia mundur perlahan, matanya menyipit menatap ke depan.
Dari balik kabut hitam, dua mata merah besar terbuka. Mata itu sebesar gerbong kereta, memancarkan cahaya merah darah yang menakutkan. Lalu seluruh tubuh makhluk itu muncul.
Naga hitam raksasa.
Panjang tubuhnya mencapai lima kilometer. Sisiknya hitam pekat, memancarkan aura kematian yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya membeku. Kepalanya sebesar gunung kecil, dengan tanduk panjang bercabang delapan. Aura yang terpancar dari tubuhnya sangat berat, sangat menekan.
Setara Raja Dewa.
Xu Hao diam di tempat. Matanya menatap tajam ke arah naga itu. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Hanya kewaspadaan dan perhitungan.
Naga itu membuka mulutnya. Suaranya berat, dalam, menggema di seluruh jurang.
"Siapakah kau? Kenapa kesengsaraan tidak mempengaruhi mu?"
Xu Hao menjawab dengan satu kata. Dingin. Tegas.
"Pergi!"
Satu kata itu mengandung kekuatan Dao Pemberontakan. Tekanan jiwa yang luar biasa melesat dari Xu Hao, menghantam naga itu tepat di kesadarannya.
Naga itu terhuyung mundur beberapa langkah. Tanah berguncang. Matanya yang tadinya penuh arogansi, kini berubah menjadi keterkejutan.
"S-siapa kau sebenarnya?" suara naga itu kini bergetar.
Xu Hao tidak menjawab. Dia langsung melesat, terbang dengan kecepatan maksimal melewati naga itu. Tubuhnya seperti kilat ungu yang membelah kegelapan.
Naga itu hanya terdiam beberapa detik. Tapi naluri pemburunya segera bangkit.
"Mangsa seperti ini, tidak boleh dilepaskan."
Dia melesat mengejar.
Di belakang, Xu Hao merasakan kehadiran naga itu semakin dekat. Dia berbalik di udara, dan saat naga itu hampir mencapainya, Xu Hao melompat.
Tubuhnya melesat ke atas, lalu jatuh tepat di atas kepala naga itu. Telapak tangannya terbuka, mengandung seluruh kekuatan Dewa Bumi bintang sepuluh yang diperkuat Dao Pemberontakan.
"Jangan ikuti diriku!"
BUMMM!
Pukulan itu menghantam kepala naga dengan keras. Kepala naga itu terpukul ke bawah, dan seluruh tubuhnya yang lima kilometer ikut jatuh ke dasar jurang. Tanah berguncang hebat. Debu membubung tinggi.
Xu Hao tidak menunggu. Dia langsung melesat lagi, kali ini dengan kecepatan lebih tinggi.
Di dasar jurang, naga itu bangkit perlahan. Kepalanya sedikit sakit, tapi tidak ada luka berarti. Dia menggelengkan kepala, matanya menyipit.
"Dia cukup kuat. Bisa membuatku merasakan sedikit sakit."
Dia tersenyum, senyum predator yang menemukan mangsa menarik.
"Ini menarik. Makanan sepertinya tidak boleh dilepaskan."
Naga itu pun melesat lagi, mengejar Xu Hao dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Tubuh raksasanya melesat di kegelapan, menembus kabut, menembus tekanan, hanya fokus pada satu target.
Xu Hao di depan.
Dan perburuan di Jurang Kesengsaraan pun dimulai.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"