Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 20_Nomor Tak di Kenal
Mereka sampai di sebuah hotel bernama The Merlion Heritage, ini adalah hotel butik yang tampak bersahaja dari luar, namun memiliki standar kenyamanan bintang lima di dalamnya.
Adrian telah memesankan kamar terbaik yang tersedia, tentu saja melalui voucher "hadiah undian" yang ia berikan pada Arumi sebelumnya.
Begitu masuk ke kamar, Arumi kembali dibuat takjub, jendela kamarnya langsung menghadap ke arah Marina Bay Sands dan patung Merlion.
"Mas, undian ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Arumi sambil meletakkan tasnya.
"Hotel ini sangat cantik, lihat balkonnya! Aku bisa menggambar pemandangan kota dari sini untuk inspirasi presentasi besok." serunya lagi.
"Nikmatilah, Arumi. Anggap saja ini adalah dukungan dari alam semesta untuk bakatmu," jawab Adrian.
Saat Arumi sedang mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan, Adrian keluar ke balkon. Ia mengeluarkan ponsel rahasianya.
"Hendra, pastikan semua relasiku di Singapura mendapatkan memo rahasia yaitu jika melihatku bersama seorang wanita, jangan pernah menyapa. Jika ada yang melanggar, putus semua kontrak kerja sama kita dengan mereka," perintah Adrian dingin.
"Baik, Tuan Muda. Lalu bagaimana dengan Pak Chen Wei? Dia sudah mengetahui bahwa Anda berada di Singapura dan sedang mencoba melacak di hotel mana Anda menginap."
Adrian menyipitkan mata, Chen Wei adalah tipe pria yang tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Dan saat ini, yang diinginkan Chen Wei adalah menjatuhkan reputasi Adrian.
"Biarkan dia mencari, tapi pastikan dia tidak mendekati Arumi di lokasi kompetisi esok hari. Jika dia menyentuh Arumi, aku akan meratakan bisnis kasinonya di Genting dalam satu malam." serunya.
Di saat yang sama, di sebuah sudut kumal di Jakarta, Siska sedang berada di ujung tanduk.
Pak Surya, yang ditugaskan Adrian untuk memberi "pelajaran", benar-benar tidak mengenal ampun.
Siska dipaksa bekerja di dapur belakang hotel melati milik Pak Surya untuk membayar kerusakan properti dan minuman yang ia pesan.
Tangan Siska yang biasanya mulus karena perawatan kini mulai pecah-pecah karena sabun cuci piring murah.
Ia menangis setiap malam, meratapi nasibnya yang berubah dari calon model menjadi pencuci piring.
"Mama... jemput aku..." isak Siska di sela tumpukan piring kotor.
Namun Bu Ratna sendiri sedang kesulitan, ia kini tinggal sendirian di gudang belakang rumah lama yang sudah disita.
Ia hanya bisa makan dari uang saku yang diberikan Arumi sebelum berangkat ke Singapura.
Bu Ratna mencoba menghubungi teman-teman sosialitanya, namun begitu mereka tahu rumahnya sudah disita, semua pintu tertutup baginya.
Keluarga itu kini benar-benar merasakan apa yang dirasakan Arumi selama bertahun-tahun.
Kehampaan, penghinaan, dan ketiadaan harapan.
Kembali di Singapura, malam sebelum presentasi final, Arumi tampak sangat gelisah.
Ia terus merapikan maket kecilnya dan memeriksa ulang slide presentasinya di laptop.
"Bagaimana kalau mereka tidak suka konsepku, Mas? Bagaimana kalau mereka menganggap idenya terlalu sederhana dibandingkan kontestan dari Jepang atau Eropa?" Arumi menoleh ke arah Adrian dengan mata yang berkaca-kaca.
Adrian berjalan mendekat, ia berlutut di depan Arumi yang duduk di kursi meja rias, ia menggenggam kedua tangan istrinya agar lebih rileks.
"Arumi, dengarkan aku. Kesederhanaan adalah bentuk tertinggi dari kemewahan. Desainmu bukan soal berapa banyak emas yang kau pasang, tapi soal seberapa besar kedamaian yang bisa dirasakan orang di dalamnya. Mereka mencari jiwa, dan desainmu punya itu." tuturnya memberikan semangat untuk sng istri.
Adrian mengecup punggung tangan Arumi. "Tidurlah. Besok, dunia akan melihat apa yang selama ini aku lihat padamu."
Arumi mengangguk perlahan rasa cemasnya mereda, ia terlelap di pelukan Adrian, tidak menyadari bahwa di luar sana, tim pengamanan Arkadia sedang berjaga di setiap lorong hotel untuk memastikan tidak ada seorang pun, termasuk Chen Wei, yang bisa mengganggu tidurnya.
Namun di tengah malam, ponsel Adrian bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Adrian, aku tahu kau ada di Merlion Heritage dengan simpanan barumu. Mari kita lihat, apa yang terjadi jika istrimu tahu siapa suaminya sebenarnya di tengah-tengah presentasi finalnya besok?"
Adrian menatap pesan itu dengan rahang yang mengeras, Chen Wei sedang bermain api, dan Adrian siap untuk membakar seluruh kerajaannya demi melindungi Arumi.
Babak final esok hari bukan hanya soal desain interior bagi Arumi, tapi soal pertempuran hidup dan mati bagi identitas Adrian Arkadia.
Ia harus bergerak cepat untuk membungkam Chen Wei sebelum pria itu merusak momen terbesar dalam hidup istrinya.
Kegelapan di langit Singapura seolah lebih pekat daripada biasanya, meski cahaya neon dari Marina Bay Sands terus berpijar di kejauhan.
Di dalam kamar hotel yang tenang, napas Arumi terdengar teratur, sebuah tanda bahwa ia telah tenggelam dalam mimpi setelah kelelahan yang luar biasa.
Namun, di sampingnya, Adrian masih terjaga. Matanya menatap layar ponsel rahasianya yang menampilkan pesan ancaman dari Chen Wei.
Adrian perlahan melepaskan pelukan Arumi dengan gerakan yang sangat halus, hampir tidak menimbulkan getaran di kasur.
Ia bangkit, mengenakan jaket gelapnya, dan menoleh sekali lagi ke arah istrinya.
Wajah Arumi tampak begitu polos dalam tidurnya, tanpa beban, tanpa tahu bahwa suaminya sedang bersiap untuk masuk ke dalam sarang serigala demi dirinya.
Adrian keluar dari kamar dan menutup pintu dengan suara klik yang nyaris tak terdengar.
Di koridor hotel yang sepi, ia tak lagi berjalan dengan bahu yang merosot seperti "Ian" dengan langkahnya tegap, matanya tajam, dan auranya begitu dominan hingga membuat udara di lorong itu terasa menyesakkan.
Di ujung lorong, dua pria berpakaian safari gelap segera menunduk saat melihat Adrian. Mereka adalah tim keamanan elit yang dipimpin oleh Hendra.
"Tuan Muda," bisik Hendra sambil menyodorkan sebuah tablet. "Chen Wei berada di bar rahasia di lantai dasar. Dia membawa empat pengawal pribadi. Dia tampaknya sangat yakin bisa memeras Anda."
Adrian mengambil tablet itu, melihat denah lokasi. "Dia tidak sedang memeras uang, Hendra. Dia sedang mencoba menghancurkan satu-satunya hal yang membuatku merasa menjadi manusia kembali. Siapkan tim di semua titik keluar. Jangan biarkan ada satu pun lalat yang lewat."
Bar di lantai dasar itu ditutup untuk umum dengan dalih renovasi.
Di dalamnya, cahaya merah remang-remang memantul pada deretan botol kristal.
Chen Wei duduk di sofa kulit paling besar, menyesap wiski berumur lima puluh tahun dengan senyum sombong yang menghiasi wajahnya yang tirus.
Pintu bar terbuka. Adrian melangkah masuk sendirian.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, ULASAN DAN BINTANGNYA, VOTE, LIKE DAN HADIAHNYA YAAAAA,, DITUNGGU MAWARNYA BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA
KOMEN GIMANA YA SAMA CERITANYA
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡