NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - MALAM YANG SALAH

Lily tidak pernah berencana memergoki mereka. Dia cuma mau ambil selimut cadangan dari lemari di lorong belakang, karena malam itu angin masuk dari celah jendela dapur dan dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Besok dia akan menikah. Seharusnya malam ini dia tidak bisa tidur karena gugup, karena senang, karena semua perasaan yang wajar dirasakan perempuan di malam terakhirnya sebagai gadis.

Tapi yang Lily rasakan justru gelisah yang berbeda. Gelisah yang tidak punya nama.

Dia sudah coba pejamkan mata dari jam sembilan. Tidak bisa. Dia coba hitung napas seperti yang pernah dia baca di majalah bekas milik ibu tirinya. Tidak mempan. Akhirnya dia bangkit, ambil cardigan tipis yang tergantung di balik pintu, dan berjalan keluar kamar dengan kaki telanjang.

Kamarnya di pojok paling belakang rumah. Sudah dari dulu begitu, sejak Tante Sari dan Nindi datang tujuh tahun lalu. Kamar Lily yang tadinya di lantai dua dipindah ke sini dengan alasan "biar lebih dekat dapur, kan kamu yang paling sering masak." Ayahnya tidak protes. Lily juga tidak. Waktu itu dia baru empat belas tahun dan sudah terlatih untuk tidak protes.

Lorong belakang gelap. Lily tidak nyalakan lampu, sudah hafal jalurnya di luar kepala. Tapi di ujung lorong, ada cahaya tipis keluar dari bawah pintu kamar tamu.

Lily berhenti.

Kamar tamu seharusnya kosong. Tidak ada tamu malam ini. Semua persiapan pernikahan sudah selesai, dekorasi sudah dipasang di aula, keluarga Dimas sudah pulang tadi sore setelah makan malam bersama. Tidak ada alasan ada orang di sana.

Dia hampir melanjutkan langkah.

Hampir.

Sampai dia dengar suara Nindi. Bukan suara bicara. Tapi cukup untuk membuat perut Lily langsung dingin.

Dia berdiri di depan pintu itu selama dua detik yang terasa seperti dua tahun. Tangannya naik sendiri, menyentuh permukaan kayu pintu yang dingin. Pikirannya bilang jangan buka. Kakinya sudah tidak bisa diajak mundur.

Lily membuka pintu.

Yang dia lihat pertama adalah punggung Dimas.

Yang dia lihat kedua adalah wajah Nindi yang langsung memucat, lalu dalam sepersekian detik berubah menjadi sesuatu yang bukan rasa malu... melainkan rasa jengkel karena terganggu.

Dunia Lily berhenti.

Bukan dramatis. Bukan seperti di sinetron yang pernah dia tonton diam-diam sambil menggosok baju Tante Sari. Tidak ada musik. Tidak ada slow motion. Hanya hening yang tiba-tiba sangat penuh, sampai Lily bisa dengar suara darahnya sendiri berdesir di telinga.

Dimas berbalik. Mukanya merah. Matanya ... mata yang kemarin menatap Lily dan bilang "besok kamu jadi milik aku selamanya", sekarang menghindari pandangannya.

Lily berdiri di ambang pintu. Cardigan tipisnya tiba-tiba terasa tidak ada gunanya.

"Lily---" Dimas mulai bicara.

"Keluar," kata Nindi.

Lily menatap saudara tirinya itu. Nindi sudah duduk tegak, menarik selimut ke atas tubuhnya, rambutnya berantakan tapi dagunya terangkat seperti tidak ada yang salah. Seperti Lily yang salah karena sudah masuk ke sini.

"Apa?" suara Lily keluar sendiri. Pelan. Aneh rasanya di telinga sendiri.

"Kamu keluar," Nindi mengulang. Lebih keras. "Kamu ganggu."

Sesuatu di dada Lily, sesuatu yang hangat dan berdenyut yang selama ini dia jaga baik-baik mulai retak dari pinggirnya.

"Nin," Dimas akhirnya bicara, tapi nada suaranya bukan nada orang yang membela. Lebih ke nada orang yang minta situasinya tidak makin runyam.

"Mas Dimas." Suara Lily keluar lebih stabil dari yang dia kira. "Jelaskan."

Dimas akhirnya menatapnya. Di matanya ada sesuatu yang membuat Lily lebih sakit dari pemandangan yang baru saja dia lihat ... kelegaan. Seolah dia sudah lama menunggu ini terjadi dan sekarang beban itu akhirnya bisa dia lempar.

"Aku minta maaf, Lily. Kami... ini sudah lama. Jauh sebelum kamu dan aku..."

"Tiga tahun," Nindi memotong, suaranya datar. "Kami sudah tiga tahun. Lebih panjang dari kamu."

Lily tidak bergerak.

"Dan aku hamil," lanjut Nindi. Kali ini tanpa nada apa-apa. Seperti laporan cuaca. "Empat bulan. Jadi kamu yang harus pergi, Lily. Bukan kami."

Tiga kalimat itu masuk ke kepala Lily satu per satu, seperti palu yang dipukulkan dengan sabar dan teratur.

Tiga tahun. Lebih panjang dari kamu.

Empat bulan.

Kamu yang harus pergi.

"Kami saling mencintai," kata Dimas pelan. Seperti itu harusnya jadi penjelasan yang cukup. "Kamu pasti bisa ngerti, kan?"

Lily akhirnya bergerak. Dia mundur satu langkah. Dua langkah. Tangannya memegang kusen pintu karena lantai tiba-tiba terasa miring.

Lalu dia dengar langkah kaki dari ujung lorong yang lain. Ayahnya berdiri di sana dengan wajah yang sudah tahu.

Itu yang paling menyakitkan. Bukan ekspresi terkejut, bukan marah, bukan malu. Wajah ayahnya adalah wajah orang yang sudah tahu dan sudah memilih, dan sekarang cuma menunggu Lily menyelesaikan reaksinya supaya semuanya bisa dibereskan dengan rapi.

"Lily," kata ayahnya.

"Ayah tahu?" suaranya pecah di kata terakhir.

Ayahnya tidak menjawab. Itu sendiri sudah jawaban.

"Sudah. Masuk kamar."

"Ayah---"

"Masuk kamar!"

Lily tidak masuk kamar. Lily berlari.

Dia tidak tahu mau ke mana. Kakinya membawa dia melewati dapur, melewati pintu belakang yang tidak pernah dikunci, keluar ke halaman belakang yang gelap dan berbau tanah basah karena sore tadi sempat hujan. Angin malam menghantam mukanya dan Lily baru sadar dia menangis. Bukan isak tangis yang cantik tapi tangis yang jelek dan berisik dan tidak dia rencanakan sama sekali.

Di belakangnya pintu dibuka keras.

"Lily! Kamu mau ke mana?!" suara ayahnya.

Lily terus lari. Tapi halamannya tidak besar, dia tersandung batu yang tidak kelihatan di gelap. Lututnya menghantam tanah, tangannya menahan jatuh di atas tanah basah. Dinginnya langsung menggigit telapak tangannya.

Dia dengar langkah ayahnya mendekat. Lalu suara ibu tirinya dari pintu belakang.

"Pak, sudah. Suruh dia masuk gudang saja dulu. Biar besok kita bereskan baik-baik."

Gudang.

Gudang tua di pojok belakang yang sudah tidak terpakai bertahun-tahun. Yang pintunya berkarat dan di dalamnya cuma ada kardus lama, perabot rusak, dan bau apek yang tidak pernah hilang.

Lily tidak sempat protes. Ayahnya menarik lengannya berdiri, menggiring dia ke pintu gudang yang geraknya berat saat dibuka, dan Lily masuk atau lebih tepatnya didorong masuk ... sebelum pintu itu ditutup dari luar.

Suara gerendel dipasang.

Lalu hening.

Lily duduk di lantai gudang yang dingin. Lututnya masih sakit. Telapak tangannya penuh tanah. Di luar, suara langkah kaki ayahnya menjauh.

Gelap di sini. Gelap yang pekat.

Lily memeluk lututnya sendiri dan mencoba bernapas.

Besok harusnya hari pernikahannya. Sekarang dia dikurung di gudang seperti...

Seperti apa?

Seperti pembantu yang kurang ajar. Seperti anak yang tidak punya hak. Seperti debu yang terlanjur kena angin dan sekarang harus disapu balik ke sudut.

Lily menundukkan kepala ke atas lututnya.

Lalu dia melihatnya.

Di sudut paling belakang gudang, di balik tumpukan kardus yang miring, ada garis cahaya. Tipis. Hampir tidak kelihatan kalau Lily tidak sedang duduk di posisi ini, di ketinggian ini, dengan sudut pandang yang persis seperti ini.

Cahaya kuning keemasan. Dari balik dinding batu.

Lily mengerjap. Mengusap matanya dengan punggung tangan yang kotor.

Cahaya itu masih ada.

Dia bangkit. Kakinya membawa dia ke sana sebelum pikirannya sempat memutuskan apapun. Menyingkirkan satu kardus, lalu dua, lalu melihat apa yang selama ini tersembunyi di balik tumpukan itu.

Sebuah pintu kecil. Setinggi bahunya. Dari kayu tua yang catnya sudah mengelupas. Dengan gagang besi berkarat yang bentuknya seperti tangan mengepal.

Dan dari bawahnya, dari celah tipis antara kayu dan lantai batu ... cahaya itu keluar. Hangat. Stabil. Seperti ada matahari kecil di balik sana.

Lily meletakkan tangannya di gagang pintu.

Dingin.

Lalu tiba-tiba tidak dingin lagi, justru hangat seperti ada yang memegang tangannya dari sisi yang lain.

Dan dari balik pintu itu, perlahan, seperti suara yang datang dari dalam kepala sendiri.

"Kamu mau apa?"

Lily menelan ludah.

Tangannya tidak lepas dari gagang pintu itu.

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!