NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Puncak yang Berbeda

Enam bulan telah berlalu sejak ketukan palu hakim meresmikan kebebasan Hana. Waktu seolah bergerak lebih cepat ketika seseorang tidak lagi hidup di bawah tekanan. Hana kini bukan lagi wanita yang terburu-buru pulang dengan perasaan waswas; ia adalah Manajer Senior Strategi Keuangan yang langkahnya menggema penuh percaya diri di koridor gedung perkantoran prestisius di kawasan Sudirman.

Pagi itu, Hana berdiri di depan cermin besar di apartemen barunya yang bernuansa modern minimalis. Ia mengenakan setelan jas berwarna charcoal yang dipadukan dengan blus sutra berwarna maroon. Rambutnya kini dipotong dengan gaya bob yang elegan, membingkai wajahnya yang tampak jauh lebih segar dan bercahaya. Tidak ada lagi kantung mata akibat tangisan tengah malam atau rona pucat karena kurang makan.

"Rapat koordinasi regional dimulai tiga puluh menit lagi, Bu Hana," suara asistennya melalui telepon kantor membuyarkan lamunannya.

"Saya segera ke sana, Maya. Pastikan semua laporan dari tim Singapura sudah siap di meja rapat," jawab Hana dengan suara yang tegas namun tenang.

Rapat pagi itu berjalan dengan sangat sukses. Hana memimpin presentasi dengan penguasaan materi yang luar biasa. Ia menjelaskan proyeksi ekspansi perusahaan dengan logika yang tak terbantahkan, memukau para direktur dan mitra bisnis internasional. Adrian, yang duduk di kursi utama dewan direksi, hanya bisa memberikan tatapan bangga. Ia tahu sejak awal bahwa Hana adalah permata yang hanya butuh dibersihkan dari debu masa lalu.

Setelah rapat selesai, Adrian menghampiri Hana di ruangannya. "Presentasi yang luar biasa, Hana. Kamu benar-benar sudah melampaui ekspektasi dewan direksi. Bagaimana rasanya?"

Hana tersenyum sambil merapikan tabletnya ke dalam tas. "Rasanya... benar. Seperti inilah seharusnya saya menjalani hidup saya bertahun-tahun yang lalu. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan ini, Adrian."

"Kamu yang menciptakan kesempatan itu sendiri, Hana," sahut Adrian. "Ngomong-ngomong, saya mendengar kabar bahwa mantan suamimu mencoba melamar pekerjaan di salah satu anak perusahaan mitra kita. Kamu tahu?"

Hana terhenti sejenak. "Saya tidak tahu, dan jujur saja, saya tidak lagi mencari tahu. Apa yang terjadi padanya?"

"Dia ditolak," ujar Adrian singkat. "Rekam jejaknya di media sosial tentang drama rumah tangga itu rupanya sampai ke telinga tim HRD mereka. Perusahaan besar tidak suka mempekerjakan orang yang tidak bisa menjaga integritas dan emosinya di ruang publik. Dia sekarang kabarnya bekerja sebagai tenaga pemasaran lepasan di sebuah diler kecil."

Hana hanya mengangguk pelan. Tidak ada rasa puas atau dendam. Ia hanya merasa kasihan bahwa Aris tetap menjadi orang yang sama, yang menghancurkan peluangnya sendiri karena egonya.

Siang itu, Hana memiliki jadwal makan siang bisnis di sebuah restoran kelas atas di pusat kota. Saat ia sedang berjalan menuju mobilnya di area lobi, ia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri di dekat pintu keluar, tampak sedang berdebat dengan petugas keamanan.

Itu Aris. Dia mengenakan kemeja yang tampak terlalu besar dan agak lusuh, membawa tas selempang yang permukaannya sudah terkelupas. Dia terlihat sedang mencoba menawarkan sesuatu—mungkin brosur kendaraan—kepada pengunjung yang lewat.

Langkah Hana terhenti sejenak. Aris menoleh dan mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar bagi Aris. Ia menatap wanita di depannya dengan mulut setengah terbuka. Ia tidak melihat "Hana si istri penurut" yang dulu bisa ia bentak kapan saja. Di depannya berdiri seorang wanita berkelas, dikelilingi oleh asisten dan petugas keamanan yang menghormatinya. Hana tampak begitu tinggi, begitu jauh, dan begitu tidak terjangkau.

Aris mencoba melangkah mendekat, namun petugas keamanan segera menghalanginya. "Maaf, Pak, jangan mengganggu tamu."

"Hana...?" panggil Aris dengan suara yang parau dan penuh penyesalan.

Hana berhenti tepat dua meter di depan Aris. Ia tidak menunjukkan kemarahan. Ia hanya menatap Aris dengan tatapan yang biasa ia berikan kepada orang asing yang tidak sengaja berpapasan di jalan.

"Mas Aris," sapa Hana singkat.

"Hana, kamu... kamu hebat sekarang. Aku dengar kamu jadi manajer besar," Aris mencoba tersenyum, namun senyumnya tampak menyedihkan. "Ibu sering menanyakanmu. Dia... dia menyesal. Aku juga menyesal, Hana. Kalau saja dulu aku..."

"Masa lalu sudah selesai, Aris," potong Hana dengan lembut namun dingin. "Saya harap kamu benar-benar belajar dari semuanya. Fokuslah pada pekerjaanmu yang sekarang dan jaga Ibu dengan baik."

"Bisa kita bicara sebentar? Hanya sepuluh menit, untuk minum kopi?" Aris memohon, matanya menunjukkan keputusasaan seorang pria yang baru menyadari bahwa ia telah membuang berlian demi segenggam kerikil.

Hana melirik jam tangannya yang elegan. "Maaf, Aris. Waktu saya sangat terbatas. Saya memiliki tanggung jawab yang besar sekarang, dan saya tidak ingin menoleh ke belakang lagi."

Hana kembali melangkah menuju mobilnya yang sudah menunggu. Ia masuk ke dalam kursi belakang yang nyaman. Melalui kaca jendela yang gelap, ia melihat Aris masih berdiri mematung di pinggir jalan, tampak kecil dan tersisih di tengah hiruk-pikuk kemegahan Jakarta yang dulu ia banggakan di depan Hana.

Saat mobil itu melaju, Hana membuka komputernya. Ia memiliki jadwal yang padat, tim yang harus dipimpin, dan masa depan yang harus dibangun. Penyesalan Aris bukanlah bagian dari dunianya lagi.

Malam harinya, Hana kembali ke apartemennya. Ia tidak lagi merasa kesepian. Ia memiliki Bi Inah yang kini ia pekerjakan secara resmi sebagai asisten rumah tangga di tempat barunya dengan gaji yang sangat layak. Ia juga memiliki lingkungan pertemanan baru yang suportif dan profesional.

Ia duduk di balkonnya, menyesap teh kamomil panas sambil melihat cakrawala Jakarta yang dihiasi lampu-lampu gedung pencakar langit. Ia teringat masa-masa ia hanya bisa menangis di dapur rumah Aris, bertanya-tanya kapan penderitaannya akan berakhir.

Kini ia tahu jawabannya: Penderitaan itu berakhir di saat ia berhenti meminta izin orang lain untuk menjadi bahagia.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari Adrian.

"Ada konser orkestra klasik akhir pekan ini. Saya punya tiket lebih. Kamu tertarik untuk ikut? Bukan sebagai bawahan, tapi sebagai teman."

Hana tersenyum. Ia tidak langsung menjawab. Ia ingin menikmati momen ini dulu—momen di mana ia memiliki hak sepenuhnya untuk berkata "ya" atau "tidak" tanpa tekanan dari siapa pun.

Hana Anindita telah benar-benar melampaui sabarnya. Ia telah membuktikan bahwa kebangkitan terbaik bukanlah tentang membalas dendam dengan kekerasan, melainkan dengan kesuksesan yang begitu tinggi hingga orang yang meremehkannya tidak lagi mampu menyentuh ujung bayangannya.

Ia menutup matanya, menghirup udara malam dengan lega. Hidupnya benar-benar baru, dan ia sangat mencintainya.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!