NovelToon NovelToon
Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.

Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.

Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.

Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.

Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Tugas Dadakan

Langkah kaki Liana yang terbungkus sepatu olahraga terdengar pelan di atas lantai kayu perpustakaan yang mengkilap. Baru saja ia keluar dari toilet, sebuah notifikasi mendenting dari ponselnya. Grup WhatsApp mata kuliah Pengantar Bisnis sedang heboh. Pak Bram, dosen yang terkenal sangat perfeksionis, baru saja mengirimkan tugas analisis kasus yang referensinya hanya ada di buku-berta-tertentu.

"Aduh, Pak Bram ada-ada saja. Hari hujan begini malah kasih tugas dadakan," gumam Liana pelan.

Masih dengan mengenakan hoodie abu-abu besar milik Justin yang menutupi separuh tubuhnya, Liana menyusuri lorong-lorong rak buku yang menjulang tinggi. Bau kertas lama dan keheningan yang menenangkan menyambutnya. Ia mencari di berbagai kategori, mulai dari Manajemen hingga Ekonomi Makro, sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah buku tebal bersampul biru tua di rak paling atas.

"Nah, itu dia! Dasar-Dasar Analisis Bisnis Modern," seru Liana pelan dengan wajah berbinar.

Namun, binar itu meredup saat ia menyadari posisi buku tersebut. Tinggi badan Liana yang hanya 159 cm menjadi kendala besar. Rak itu terlalu tinggi untuknya. Liana berjinjit, meregangkan tangan kanannya setinggi mungkin. Lengan hoodie yang kebesaran terus melorot menutupi jemarinya, membuatnya semakin sulit menggapai ujung buku itu.

"Ayo... sedikit lagi," bisiknya sambil terus berusaha. Ia melompat kecil, namun jemarinya hanya mampu menyentuh ujung rak.

Beberapa meter dari sana, di pojok belakang dekat jendela, Justin masih berada di posisinya. Ia baru saja mengganti lagunya di ponsel, namun saat ia menoleh ke arah kanan untuk merenggangkan lehernya yang kaku, pandangannya tertuju pada sosok kecil yang sedang sibuk "berduel" dengan rak buku.

Justin melihat Liana. Gadis itu terlihat menggemaskan sekaligus merepotkan dengan jaket miliknya yang tenggelam di tubuhnya. Liana tampak seperti anak kecil yang sedang berusaha mengambil toples kue di tempat tinggi.

Justin melepaskan earphone-nya, membiarkan lagu Fearless terhenti sejenak. Ia bangkit dari kursi dengan gerakan tenang, lalu berjalan mendekat. Langkahnya tidak terdengar, sehingga Liana sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

Saat Liana sedang dalam posisi berjinjit maksimal, sebuah tangan panjang dengan urat-urat yang terlihat maskulin terjulur dari belakang kepala Liana. Dengan gerakan yang sangat mudah dan santai, tangan itu menarik buku biru tua yang sedari tadi diincar Liana.

Liana tersentak. Ia merasakan ada bayangan besar yang mengurungnya dari belakang. Aroma kayu cendana yang familiar langsung menyerbu indranya. Ia refleks berbalik arah dengan cepat.

Bruk!

Wajah Liana menghantam dada bidang Justin yang keras. Jantung Liana serasa mau copot. Ia mendongak dengan mata membelalak, menyadari bahwa ia baru saja menabrak "dinding" hidup yang sangat ia kenal.

Justin menunduk, menatap Liana dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Ia menyodorkan buku itu tepat di depan wajah Liana.

"Kalau sudah tahu pendek, mending minta bantuan staf perpustakaan. Jangan dipaksa," ucap Justin dengan suara beratnya yang bergema rendah di lorong sepi itu.

Mendengar kata "pendek", bibir Liana langsung mengerucut. Ia merenggut buku itu dari tangan Justin dengan wajah cemberut. "Saya nggak pendek, Kak. Raknya saja yang nggak tahu diri tingginya."

Justin melihat perubahan ekspresi Liana—dari panik ke kesal—dan entah kenapa, ia merasa itu lucu. Sebuah kilatan jenaka muncul di matanya, meski wajahnya tetap berusaha terlihat serius.

"Tugas dari Pak Bram?" tanya Justin kemudian.

Liana mengangguk pelan, kekesalannya sedikit mereda. "Iya. Kakak tahu?"

"Gue asisten dosennya tahun lalu," jawab Justin singkat. Ia kembali melirik buku di tangan Liana, lalu menatap meja kerjanya yang masih memiliki satu kursi kosong di depannya. "Kalau ada materi yang nggak mengerti, tanya gue saja daripada lo bingung sendiri. Duduk di meja gue saja, di depan masih kosong."

Liana terdiam sejenak. Duduk berhadapan dengan Justin? Di tempat yang begitu sepi? Tawaran itu terdengar seperti mimpi sekaligus tantangan bagi jantungnya. Namun, ia tidak mungkin menolak bantuan dari sang "asisten dosen" itu sendiri.

"Boleh, Kak? Nggak mengganggu?"

"Kalau mengganggu, gue nggak akan tawarin. Ayo," Justin berbalik dan berjalan kembali ke mejanya.

Liana menurut. Ia mengekor di belakang Justin, duduk di kursi kayu yang berhadapan langsung dengan sang kapten basket. Justin kembali memasang earphone-nya dan membuka bukunya, sementara Liana mulai membuka buku tulis dan menyiapkan alat tulisnya.

Dua puluh lima menit berlalu. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan pena Liana di atas kertas dan rintik hujan yang masih setia mengetuk jendela. Liana mulai mengerutkan kening. Materi tentang "Kurva Elastisitas dalam Skala Besar" benar-benar membuatnya pening. Ia membaca satu paragraf berkali-kali, namun otaknya seolah menolak untuk paham.

Liana melirik Justin. Laki-laki itu tampak sangat fokus, dahi yang sedikit berkerut dan mata yang bergerak cepat menyusuri barisan kata. Liana ragu, tapi ia butuh bantuan.

"Ehm... Kak Justin?" panggil Liana pelan.

Justin melepaskan satu earphone-nya, menatap Liana. "Ya?"

"Ini... bagian ini saya nggak paham. Kenapa variabelnya harus dipindah ke sisi kiri?"

Justin menutup bukunya. Tanpa diduga, ia bangkit dari duduknya. Bukannya menjelaskan dari seberang meja, ia justru menyeret kursinya dan membawanya ke samping kursi Liana. Kini jarak mereka hanya sejengkal.

"Sini, gue kasih tahu," ucap Justin.

Ia mulai menjelaskan materi tersebut. Suara Justin yang berat dan tenang terdengar sangat jelas di telinga Liana. Justin menunjuk baris demi baris di buku Liana, memberikan analogi yang mudah dimengerti. Namun, masalahnya bukan pada materinya. Masalahnya adalah jarak.

Liana yang awalnya berusaha fokus, perlahan-lahan kehilangan konsentrasi. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bulu mata Justin yang lentik, rahangnya yang tegas saat berbicara, dan wangi maskulin yang menguar dari tubuhnya. Liana terpaku, matanya tidak lagi melihat ke buku, melainkan menatap wajah Justin dengan pandangan terpesona.

Justin yang sedang serius menjelaskan tiba-tiba berhenti. Ia merasa tidak ada respon dari lawan bicaranya. Saat ia menoleh, ia mendapati Liana sedang menatapnya tanpa berkedip.

"Liana," panggil Justin.

Liana masih diam.

"Liana Putri," panggil Justin lagi, kali ini lebih tegas.

Liana tersentak, "Eh? Iya, Kak?"

Justin menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Liana dengan tatapan yang seolah bisa menembus pikirannya. "Fokus ke bukunya, bukan ke wajah gue. Wajah gue nggak akan bantu lo ngerjain tugas Pak Bram."

Wajah Liana langsung merah padam sampai ke telinga. Ia tertangkap basah! "A-ah! Maaf Kak! Saya... saya cuma mikir... anu..."

"Mikir apa?"

"Mikir kenapa... kenapa Kakak pintar banget," kilah Liana asal, langsung menundukkan kepala dan pura-pura sangat sibuk membaca bukunya kembali.

Justin mendengus kecil, menahan senyumnya yang hampir pecah. "Makanya dengerin. Gue nggak akan jelasin tiga kali."

Justin kembali menjelaskan materi tersebut selama sepuluh menit berikutnya. Ia mencoba lebih detail, memastikan Liana benar-benar paham. Namun, karena suasana perpustakaan yang hangat, suara hujan yang meninabobokan, dan rasa lelah setelah latihan basket yang berat tadi sore, pertahanan Liana mulai runtuh.

Suara Justin perlahan-lahan terdengar seperti dongeng pengantar tidur di telinga Liana. Matanya terasa sangat berat. Perlahan, kepala Liana mulai terkulai.

Duk.

Kepala Liana mendarat di atas meja, berbantalkan lengannya sendiri. Ia tertidur pulas. Beberapa helai rambutnya yang halus jatuh menutupi sebagian matanya yang terpejam.

Justin menghentikan penjelasannya. Ia menatap gadis di sampingnya itu dengan pandangan yang perlahan melunak. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Justin tidak membangunkan Liana. Sebaliknya, ia justru memperhatikan wajah tidur Liana yang tampak sangat damai.

"Dasar bocah," bisik Justin pelan.

Tangan Justin terangkat, bergerak ragu di udara sejenak sebelum akhirnya ia memberanikan diri. Dengan sangat pelan dan hati-hati, jemari Justin menyisipkan helaian rambut Liana yang menutupi matanya ke belakang telinga. Gerakannya begitu lembut, seolah takut akan memecahkan ketenangan itu.

Di luar sana, hujan mulai mereda, namun di pojok perpustakaan itu, waktu seolah berhenti berputar untuk Justin dan Liana yang sedang terlelap.

1
nesha
🤭🤭
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Kostum Unik
Justin Timberlake jealous /Slight/
Kostum Unik
Justin Timberlake.. Jgn cemburu kan kamu yg minta putus. Apapun alasannya ttp kalian sudah putus. Biarkan Liana memulai hidup baru. Dan buat Liana move on jgn naif jgn baper
Azalea Qziela
mulai muncul saingan justin😄
Reni Anjarwani
cemburu justin
Elprasco
😍💪
Widya Ekaputri
semangatttt!!!😍
SarSari_
iyaa...aku pun juga sama penasarannya sama liana🫣 halo kakak ..aku mampir di novelnya kakak ..mampir juga ya di novel aku. mkasih....🤗
Celine
Keren Author, lanjut thor
MayAyunda
keren👍👍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Azalea Qziela
bagus KK,, ditunggu crazy up nya👍
Azalea Qziela
semangat kak😍💪
Veline: Terimakasih udah Mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!