Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Algara diam-diam menatap Kirana dari sudut ruangan kecil yang kini selalu ramai sejak jam makan siang. Asap tipis dari wajan yang masih panas menari di udara, bercampur aroma bawang goreng dan sambal yang menggugah selera. Warung sederhana itu tak pernah benar-benar sepi. Sejak pukul sebelas siang, mahasiswa datang bergelombang, ada yang duduk berdesakan, ada yang rela berdiri sambil menunggu pesanan dibungkus.
Kirana bergerak cepat di balik etalase makanan. Tangannya cekatan, suaranya ramah, senyumnya tulus meski peluh membasahi pelipis. Ia mengingat pesanan satu per satu tanpa perlu mencatat. Nasi tambah, sambal dipisah, lauk diganti, semua ia layani dengan sabar.
Algara memperhatikan itu semua dengan dada yang terasa hangat sekaligus sesak. Sejak dulu, Kirana memang seperti itu. Kuat tanpa perlu banyak bicara. Teguh meski hidup berulang kali mencoba merobohkannya.
“Om Alga, kok malah melamun?” suara Gita memecah lamunannya.
Algara tersentak ringan. Gadis kecil itu duduk di sampingnya, kaki mungilnya bergoyang pelan di bawah kursi. Nasi di piringnya hampir habis, hanya tersisa sedikit sayur dan tempe.
“Siapa yang melamun?” sanggah Algara sambil tersenyum tipis, lalu menyuap sisa makanannya.
Gita memiringkan kepala, menatap Algara dengan ekspresi penasaran yang terlalu jujur untuk disembunyikan. “Dari tadi Om Alga terus lihat ke arah Mama. Memangnya ada apa sama Mama?”
Algara terdiam sejenak. Tatapannya kembali meluncur ke arah Kirana yang sedang menyerahkan pesanan sambil mengucap terima kasih pada pelanggan.
“Mamamu itu wanita hebat sejak dulu,” ucap Algara akhirnya, suaranya pelan namun mantap. “Jadi Gita harus bangga dan sayang sama Mama sampai kapan pun, ya.”
Gita mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja. Aku akan sayang selalu sama Mama. Soalnya Mama itu keluargaku.”
Jawaban polos itu menghantam dada Algara lebih keras dari yang ia duga. Ia menelan ludah, lalu mengusap kepala Gita dengan lembut.
Kirana selesai melayani satu meja dan melirik ke arah mereka. Tatapan mereka bertemu sesaat. Ada senyum kecil yang tak diucapkan, tapi terasa. Ingatan Algara melayang jauh ke masa lalu.
Hari pertama SMA. Hujan turun deras sejak subuh. Ia datang terlambat karena bangun kesiangan, seragamnya kusut, rambutnya masih setengah basah. Di gerbang sekolah, seorang gadis berdiri dengan napas tersengal, sepatu basah, rok abu-abu sedikit ternoda lumpur. Gadis cantik itu adalah Kirana.
Mereka dihukum bersama memunguti sampah di sekitar gedung sekolah sambil menahan dingin. Tak ada obrolan panjang saat itu, hanya saling lempar senyum canggung. Tapi sejak hari itu, entah bagaimana, semesta terus mempertemukan mereka.
Ternyata mereka satu kelas. Lalu, duduk di bangku yang berdekatan, sehingga hubungan keduanya pun terjalin dekat dan suka berbagi cerita. Algara dan Kirana menjadi teman curhat. Mereka suka berbagi kesedihan, kebahagiaan, membantu jika ada masalah.
Algara tahu bagaimana kerasnya hidup Kirana. Tentang orang tua yang tak pernah benar-benar hadir. Tentang bayang-bayang Kinanti yang selalu dijadikan pembanding.
Kirana tahu luka Algara tentang ambisi yang terlalu besar, tentang tuntutan keluarga yang menyesakkan. Pria itu terlahir dari keluarga yang broken home. Tidak diinginkan oleh ibu kandungnya dan dibesarkan oleh ibu tirinya.
Mereka tumbuh bersama, saling menguatkan tanpa janji, tanpa label.
“Kalian mau tambah lagi?” Suara Kirana membuyarkan ingatan Algara akan masa lalu mereka.
Kirana berdiri di hadapan mereka, senyumnya masih sama seperti dulu, hangat dan menenangkan.
“Tidak, terima kasih,” jawab Algara. “Aku sudah sangat kenyang.”
Gita mengelap mulutnya dengan tisu, lalu menatap ibunya dengan mata berbinar. “Mama, boleh nggak aku ajak Om Alga buat lihat aku lomba mewarnai di mal nanti?”
Kirana menoleh ke Algara. Ada jeda singkat, seolah ia ingin memastikan sesuatu dari sorot mata pria itu.
Algara terkejut. Ada rasa haru yang tak sempat ia sembunyikan. Ia tak menyangka, dalam dunia kecil Gita, dirinya punya ruang sebesar itu.
“Alga,” Kirana membuka suara, suaranya lembut tapi hati-hati. “Hari Minggu nanti kamu ada waktu?”
Algara mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja. Dengan senang hati.”
“Hore!” Gita bersorak kecil, membuat beberapa pelanggan menoleh sambil tersenyum.
Kirana tertawa pelan. Untuk sesaat, hidup terasa ringan.
Sementara itu di tempat lain, suasana sangat berbeda. Rafka berdiri di tengah pabrik dengan helm proyek di tangan. Deru mesin dan bau besi panas menjadi latar hidupnya sehari-hari. Tubuhnya kini lebih kurus, bahunya sedikit membungkuk. Tak ada lagi tawa lepas yang dulu sering menghiasi wajahnya.
Rafka memeriksa laporan sambil mengangguk singkat pada para buruh. Semua berjalan sesuai prosedur, tapi hatinya kosong.
“Sudahlah, Bro,” ujar Boby, rekan kerjanya, sambil menyenggol bahunya. “Sekarang waktunya kamu move on. Cari wanita baru. Banyak, tuh, yang muda, cantik, bisa diajak senang-senang.”
Rafka menghela napas panjang. “Tidak. Aku lagi berusaha menata hidupku. Aku cuma mau satu hal sekarang.”
“Apa?”
“Aku ingin Gita mau dekat lagi denganku.”
Boby terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu. “Anak itu pada akhirnya akan kembali sama kamu.”
Rafka tersenyum hambar. Ia teringat satu sore ketika ia nekat datang ke warung Kirana. Melihat Gita tertawa lepas bukan bersamanya, tapi dengan Algara. Dadanya seperti diremas. Ada cemburu, ada rasa kalah, ada penyesalan yang terlambat.
“Hey,” bisik Boby lagi. “Sering aku lihat Putri menoleh ke arah kamu kalau kamu lewat.”
Rafka melirik ke arah meja keuangan. Putri sedang mengetik, rambutnya tergerai rapi, senyumnya ramah.
“Dia bukan tipemu?” goda Boby.
Rafka menggeleng. “Bukan. Aku trauma dengan wanita penggoda. Saat ini aku mau hidup yang tenang.”
Hari sudah sore, Kirana pun membereskan warungnya. Pelanggan berangsur pergi. Kirana membersihkan meja, Gita membantu mengelap kursi kecil dengan penuh semangat.
Algara berdiri di ambang pintu, menatap mereka berdua. Dalam hatinya, ia tahu cinta lama itu tak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu waktu, menunggu luka-luka reda, menunggu keberanian untuk tumbuh kembali. Kini, tanpa disadari, cinta itu perlahan menemukan jalannya pulang.
“Apakah hatimu sudah sembuh?” batin Algara.