Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda yang Terbangun
Lampu kristal di aula utama Akademi Arcanova berpijar lembut, namun suasananya terasa sedingin es. Di tengah ruangan, Vivienne Seraphine berdiri dengan dagu terangkat, membiarkan tatapan remehnya menyapu kerumunan siswa tingkat bawah yang tampak gugup. Sebagai salah satu siswi paling cerdas dan berbakat, harga dirinya setinggi menara sihir tertinggi di kerajaan ini. Baginya, sihir adalah tentang kendali mutlak, bukan sekadar mantra keberuntungan.
Namun, ketenangan itu seketika hancur saat rasa panas membakar menjalar dari bawah tulang selangkanya. Vivienne tersentak, napasnya tertahan. Ia segera menyelinap pergi menuju koridor perpustakaan yang sepi, menjauh dari keramaian. Di depan sebuah cermin tua, ia menarik sedikit kerah seragamnya yang kaku.
Matanya membelalak. Tepat di bawah tulang selangkanya, sebuah simbol lingkaran hitam pekat—simbol Iblis Bayangan—berdenyut seolah memiliki detak jantung sendiri.
“Apa-apaan ini?” bisiknya dengan suara bergetar. “Ini tidak mungkin…”
Langkah kaki berat menggema di lantai kayu perpustakaan. Seorang pria berambut pirang terang dengan jubah biru tua berjalan santai dari balik rak buku. Daefiel Carmiora, si jenius sombong dari kelas sebelah, memutar-mutar lidi sihir di tangannya dengan wajah jahil yang khas.
“Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu, Vivienne,” ujarnya mengejek. “Atau kau baru sadar kalau nilai ujianmu kali ini di bawahku?”
Vivienne segera merapikan kerah bajunya, kembali ke sikap angkuhnya. “Jangan konyol, Daefiel. Apa yang kau lakukan di sini? Menguping?”
Daefiel tertawa kecil dan melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa jengkal. “Aku tidak perlu menguping untuk tahu aura sihirmu sedang kacau. Katakan padaku, Vivienne, apakah kau juga merasakan panas yang sama di tubuhmu?”
Vivienne tertegun. Sebelum ia sempat membalas, Daefiel menyingsingkan lengan seragamnya, memperlihatkan pergelangan tangannya. Di sana terdapat simbol retakan merah yang menyala redup—simbol Iblis Api.
“Sepertinya,” Daefiel menyeringai tipis, “kita baru saja mendapatkan hadiah yang sangat berbahaya.”
Vivienne menatap simbol itu dengan saksama, lalu beralih ke wajah Daefiel yang tampak begitu tenang—bahkan seolah menikmati situasi ini. Ketakutan yang sempat merayap di hatinya segera ia bungkus kembali dengan keangkuhan. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan saingannya.
“Kau pikir ini lucu, Daefiel?” desisnya sembari menarik kerah seragam lebih rapat. “Kutukan iblis bukan sesuatu yang bisa kau pamerkan seperti lencana kehormatan. Jika pihak akademi tahu, kita bisa dikarantina atau lebih buruk lagi.”
Daefiel menyandarkan punggungnya pada rak buku tua yang berdebu. “Kau terlalu tegang, Vivienne. Bukankah kau selalu menginginkan kekuatan lebih? Lihat ini.” Ia menjentikkan jarinya. Seketika, api merah pekat berkobar di ujung jarinya, namun api itu tidak memancarkan panas normal; aura kegelapan kental menyelimutinya.
Hanya dalam hitungan detik, wajah Daefiel berubah pucat. Ia meringis, memegangi pergelangan tangannya ketika api itu padam sendiri. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
“Kau lihat?” Vivienne mencibir, meski ngeri menyelinap di dadanya. “Ada harga yang harus dibayar. Kekuatan itu memakanmu dari dalam.”
“Hanya… sedikit kejutan kecil,” sahut Daefiel, mencoba mengatur napas agar tetap terdengar percaya diri.
Tiba-tiba pintu perpustakaan yang berat terbuka perlahan. Langkah kaki teratur dan tenang mendekat. Seorang pria dengan seragam merah marun gelap milik Akademi Crimson Crest muncul dari balik bayang-bayang. Ia adalah Lucien Vlad. Rambut hitamnya dengan semburat pirang tampak kontras di bawah cahaya temaram.
“Jadi, rumor itu benar,” suara Lucien rendah dan dingin. “Bukan hanya aku yang terbangun dengan rasa sakit ini.”
Vivienne dan Daefiel menoleh serentak. Tanpa membuang waktu, Lucien melepaskan satu kancing teratas kemejanya, memperlihatkan pola bercabang seperti kilat yang merambat di punggung lehernya hingga menghilang di balik pakaian—simbol Iblis Petir.
“Lucien Vlad… si penyendiri dari Crimson Crest,” Daefiel berdiri tegak, matanya berkilat penuh minat. “Apa yang membawamu jauh-jauh ke Arcanova? Ingin mencari obat untuk kutukanmu?”
Lucien menatapnya tajam, membuat udara perpustakaan terasa semakin mencekam. “Aku tidak mencari obat. Aku mencari jawaban. Dan sepertinya, kalian berdua sama tersesatnya denganku.”
Vivienne melipat tangan di dada, pandangannya berganti antara Daefiel dan Lucien. “Lalu apa maumu? Kita bertiga memikul tanda yang sama, namun berasal dari iblis berbeda. Di dunia luar, mereka akan menganggap kita ancaman.”
“Kita memang ancaman,” jawab Lucien singkat. “Namun aku merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu di Hutan Abyss sedang memanggil kekuatan ini. Jika kita tidak belajar mengendalikan tanda ini, tanda inilah yang akan mengendalikan kita.”
Tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Raungan rendah terdengar dari kejauhan, berasal dari arah Hutan Abyss di perbatasan kedua akademi. Ketiganya terdiam, menyadari bahwa takdir mereka kini terikat permanen oleh kegelapan yang mulai bangkit.