Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Makan malam itu berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen dan deru angin malam dari arah tebing Uluwatu. Alana sibuk dengan pikirannya sendiri, berusaha mencerna perhatian Pradipta yang terasa asing baginya, sementara Pradipta sesekali memperhatikan Alana, seolah ingin memastikan bahwa wanita di depannya benar-benar sedang beristirahat dari bebannya.
Keheningan itu pecah saat ponsel milik Pradipta yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Nama "Rina - Sekretaris" muncul di layar.
Pradipta mengernyitkan dahi, merasa terganggu karena momen ini kembali terusik. Ia sempat ragu untuk mengangkatnya, namun melihat kegigihan Rina yang menelepon untuk ketiga kalinya, ia akhirnya menggeser tombol jawab.
"Ada apa, Rina? Bukankah sudah kukatakan jangan ganggu aku malam ini?" suara Pradipta terdengar dingin dan tajam.
Alana refleks menghentikan makannya, mendengarkan percakapan itu meski ia berpura-pura menatap ke arah laut.
"Maaf, Pak. Saya tahu ini mengganggu, tapi dewan komisaris baru saja mengadakan rapat darurat," suara Rina terdengar panik dari seberang telepon. "Mereka menuntut kehadiran Bapak di kantor pusat besok pagi pukul sembilan. Ada masalah terkait akuisisi lahan di Kalimantan yang bocor ke publik. Mereka tidak mau bicara lewat Zoom, Pak. Mereka ingin Bapak hadir secara fisik."
Rahang Pradipta mengeras. Ia melirik Alana yang kini juga sedang menatapnya dengan raut wajah penuh tanya.
"Atur penerbangan paling awal besok pagi," perintah Pradipta singkat, lalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban lebih lanjut.
Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan kasar. Suasana yang tadinya mulai sedikit melunak, kini kembali tegang oleh tuntutan pekerjaan yang tak kenal waktu.
"Kamu harus kembali ke Jakarta?" tanya Alana pelan, ada nada yang sulit diartikan dalam suaranya—antara lega karena "tembok" profesionalisme akan kembali tegak, atau sedikit kecewa karena pelindungnya akan pergi.
Pradipta menatap Alana lekat-lekat. "Dewan komisaris ingin aku di sana besok pagi. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu di lokasi proyek besok."
Alana mencoba memaksakan senyum tipis. "Tidak apa-apa, Pradipta. Itu tanggung jawabmu sebagai CEO. Saya bisa menghandle pengecoran lanjutan dengan Pak Wayan."
Pradipta tidak menyukai kemandirian Alana yang terlalu cepat muncul kembali. Ia merasa seolah Alana sudah tidak sabar untuk mendorongnya pergi agar bisa kembali ke "cangkang" dinginnya.
"Aku akan pergi besok pagi buta," ujar Pradipta, suaranya merendah. "Tapi ingat satu hal, Alana. Ponselmu sudah kembali, tapi bukan berarti beban duniamu harus kembali kamu pikul sendirian. Jangan biarkan pesan-pesan dari rumah merusak pekerjaanmu lagi."
kamu bisa saja membagi beban yang kamu pikul selama ini dengan saya ,saya siap jadi pendengar atau sandaran saat kamu rapuh Alana ,bagi saja dengan saya "
"saya berbicara seperti ini bukan sebagai atasan kamu,tapi sebagai pria yang ingin menjaga binar matamu agar tidak tenggelam"
Alana terdiam, hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa malam ini berakhir terlalu cepat. Saat ia baru saja mulai merasa nyaman dengan kehadiran pria ini, realita dunia luar kembali menarik mereka ke jalur masing-masing.
'' kembalilah ke jakarta besok pagi dip, hati-hati dijalan dan satu lagi kamu tidak perlu khawatir dengan binar mata saya ,karena saya sudah terbiasa dengan binar mata yang hampir tenggelam"