Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jeratan Arus Eddy
Kavaleri berat Inggris menerjang masuk melalui koridor utama gerbang Kendal. Suara derap kaki kuda yang dilapisi baja dan gesekan baju zirah tembaga mereka menciptakan kegaduhan logam yang mengintimidasi. Mereka merasa di atas angin; baju zirah mereka telah dilapisi isolator karet di bagian dalam untuk menangkal kejutan listrik langsung yang selama ini menjadi andalan Jatmika.
"Terjang terus! Jangan beri mereka waktu untuk mengisi daya menara!" teriak Mayor Sterling, pemimpin kavaleri tersebut.
Jatmika berdiri di menara kontrol, tangannya memegang tuas rheostat besar. Ia tidak melepaskan percikan listrik. Ia justru mengaktifkan Kumparan Elektromagnetik Raksasa yang tertanam di dinding kiri dan kanan koridor sempit tersebut.
"Sekarang, Suro! Alirkan arus searah maksimal ke kumparan statis!"
Sesuai dengan Hukum Lenz dan prinsip Arus Eddy (Eddy Currents), ketika konduktor logam (baju zirah dan sepatu kuda) bergerak sangat cepat melewati medan magnet yang kuat, maka akan tercipta arus listrik induksi di dalam logam tersebut yang arahnya berlawanan dengan gerakan benda itu sendiri.
Seketika, kavaleri yang tadinya berlari kencang seolah menghantam tembok transparan yang sangat kental. Kuda-kuda mereka meringkik hebat, tertahan oleh gaya magnetik yang mencoba menghentikan setiap inci gerakan logam di tubuh mereka. Semakin cepat mereka mencoba memacu kuda, semakin besar gaya hambat yang mereka rasakan.
"Kenapa kuda-kuda ini tidak bisa bergerak?!" teriak Sterling panik. Ia merasa baju zirahnya mendadak menjadi sangat berat dan panas.
Panas tersebut berasal dari disipasi energi arus induksi yang terjebak di dalam zirah tembaga mereka. Dalam hitungan detik, baju zirah yang mereka banggakan sebagai pelindung justru berubah menjadi pemanas induksi yang membara.
"Mereka terjebak dalam hukum fisika mereka sendiri," gumam Jatmika.
Namun, Jatmika tidak membiarkan mereka terpanggang. Ia menurunkan tuasnya sedikit. "Gunakan Pelontar Gas Karbon Dioksida! Dinginkan mereka dan buat mereka lemas!"
Dari celah-celah dinding, menyembur gas dingin yang dihasilkan dari reaksi asam dan batu kapur. Gas ini menurunkan suhu zirah mereka sekaligus menipiskan kadar oksigen di koridor, membuat para prajurit dan kuda pingsan karena lemas tanpa perlu menumpahkan darah.
Pertempuran di gerbang utama berhasil diredam. Namun, di luar tembok kota, Kolonel Thorne menyadari kegagalan kavaleri beratnya. Ia tidak lagi peduli pada etika perang atau keselamatan pasukannya sendiri.
"Bawa Meriam Uap Tekanan Ultra ke depan!" perintah Thorne.
Ini adalah teknologi "Gelap" yang dibawa Thorne dari sisa riset terlarang di London. Sebuah meriam yang tidak menggunakan mesiu, melainkan uap air yang dipanaskan hingga fase Superkritis. Tekanannya mampu melontarkan proyektil baja seberat 50 kg dengan kecepatan supersonik, cukup untuk meruntuhkan tembok beton Jatmika dalam sekali tembak.
Jatmika melihat alat raksasa itu mulai diposisikan di kejauhan. Ia menyadari bahwa beton bertulangnya belum cukup kuat untuk menahan hantaman kinetik sebesar itu.
"Yusuf, kita butuh Pertahanan Aktif," kata Jatmika, matanya menatap tajam ke arah meriam uap tersebut. "Kita tidak bisa menahan pukulannya, jadi kita harus membelokkan lintasannya. Siapkan Pelontar Cakram Magnetik di atas gerbang!"
Jatmika berencana menggunakan Gaya Lorentz untuk membelokkan proyektil baja musuh di udara. Ia harus menghitung lintasan proyektil dalam hitungan milidetik dan melepaskan denyut magnetik yang tepat saat peluru itu melintas.
Suara dentuman dari meriam uap superkritis Thorne terdengar seperti petir yang merobek langit. Proyektil baja seberat 50 kg melesat keluar dengan kecepatan $400 \text{ m/s}$, melampaui kecepatan suara. Di menara pengawas, Suro bahkan belum sempat berkedip saat proyektil pertama menghantam menara luar.
BOOOM!
Beton bertulang setebal satu meter hancur berkeping-keping. Debu putih menyelimuti pandangan. Thorne berteriak puas dari kejauhan, "Isi ulang boiler! Hancurkan jantung kota mereka!"
Jatmika berlari menuju ruang bawah tanah, di mana sebuah mesin raksasa yang terbuat dari ribuan roda gigi kuningan dan tuas baja sedang berdengung pelan. Ini adalah Mesin Diferensial—sebuah kalkulator mekanik raksasa yang ia rancang berdasarkan konsep Charles Babbage, namun dimodifikasi untuk menghitung Lintasan Balistik Parabolik secara real-time.