Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bunga Es di Tengah Neraka
hutan Kematian tidak pernah tidur. Saat matahari terbit di ufuk timur, cahayanya berjuang menembus kanopi daun yang tebal, menciptakan pilar-pilar cahaya remang yang menyinari kabut pagi. Namun, keindahan ini menipu. Di balik kabut itu, hukum rimba berlaku mutlak: memakan atau dimakan.
Ye Chen bergerak di atas dahan pohon raksasa. Langkah kakinya seringan kapas, nyaris tanpa suara. Qi Barrier tipis menyelimuti tubuhnya, menahan embun pagi dan hawa dingin.
Sejak menembus Ranah Pemadatan Qi Tingkat 1 semalam, dunia di mata Ye Chen telah berubah. Ia bisa melihat aliran energi di udara, mendengar detak jantung kelinci di balik semak berjarak lima puluh meter, dan merasakan getaran tanah dari langkah binatang buas.
"Kekuatan ini..." gumam Ye Chen sambil menatap tangannya. "Jauh berbeda dengan sekadar otot dan tulang."
Di depannya, seekor Serigala Angin (Wind Blade Wolf) sedang mengunyah bangkai rusa. Binatang buas ini setingkat dengan kultivator Pemadatan Qi Tingkat 1. Dulu, Ye Chen harus bertaruh nyawa untuk melukainya.
Sekarang?
Ye Chen melompat turun.
Serigala itu menyadari bahaya. Ia berbalik, melolong, dan menembakkan bilah angin dari mulutnya.
Wush!
Ye Chen tidak menghindar. Ia hanya mengibaskan Dao berat di tangannya. Bilah pedang itu dilapisi Qi hitam kemerahan.
Clang!
Bilah angin serigala itu hancur berkeping-keping saat beradu dengan pedang Ye Chen. Tanpa kehilangan momentum, Ye Chen mendarat tepat di depan serigala itu.
Sret!
Satu tebasan horizontal. Sederhana, cepat, dan brutal.
Kepala serigala itu terpisah dari tubuhnya bahkan sebelum ia sempat menyadari bahwa ia sudah mati. Darah menyembur, mewarnai rumput hijau menjadi merah.
Ye Chen menjentikkan pedangnya, membuang sisa darah. Wajahnya datar. Tidak ada kegembiraan, hanya efisiensi dingin. Ia membungkuk, membelah dada serigala itu, dan mengambil Inti Binatang (Beast Core) berwarna hijau pucat sebesar kelereng.
"Inti elemen angin. Lumayan untuk menambah kecepatan," katanya, lalu memasukkan inti itu ke dalam Kantong Penyimpanan.
Ye Chen tidak langsung melahapnya. Mutiara Penelan Surga memang rakus, tapi Ye Chen tahu ia harus menjaga fondasi kultivasinya. Menelan terlalu banyak energi berbeda elemen (api dari Kapten Tie, angin dari serigala, logam dari ular) dalam waktu singkat bisa membuat Qi-nya tidak stabil. Ia butuh waktu untuk memurnikannya.
"Sekarang, aku harus mempelajari teknik pedang itu."
Ye Chen mencari tempat aman di atas pohon tinggi. Ia mengeluarkan gulungan Tebasan Pedang Api Liar milik Kapten Tie.
Teknik ini termasuk Tingkat Kuning Menengah (Yellow Rank - Medium). Di dunia kultivasi, teknik dibagi menjadi Tingkat Langit, Bumi, Misteri, dan Kuning. Bagi murid luar sekte, Tingkat Kuning Menengah sudah dianggap harta karun.
Ye Chen membaca gulungan itu dengan cepat. Sutra Hati Asura memberinya pemahaman (comprehension) yang mengerikan. Apa yang butuh waktu berbulan-bulan bagi orang biasa, Ye Chen memahaminya dalam satu jam.
"Gerakannya kasar. Terlalu banyak membuang tenaga," kritik Ye Chen setelah menutup gulungan itu. "Tapi konsep ledakan energinya bisa digunakan."
Ye Chen memejamkan mata, memvisualisasikan teknik itu di benaknya. Ia tidak ingin meniru Api Liar milik Kapten Tie. Ia ingin mengubahnya. Ia mengganti elemen api dengan Qi Asura miliknya yang bersifat korosif dan destruktif.
Ketika ia membuka mata, pedang Dao di tangannya menyala. Bukan dengan api oranye, melainkan api hitam yang seolah menyerap cahaya di sekitarnya.
"Teknik Pedang Asura Gaya Pertama: Tebasan Api Neraka."
Ye Chen mengayunkan pedangnya ke dahan kosong di depannya.
VWOOM!
Tidak ada suara ledakan besar. Dahan pohon sekeras besi itu terpotong tanpa suara, dan bekas potongannya langsung menjadi abu hitam yang beterbangan, seolah dimakan oleh korosi waktu.
"Berhasil," Ye Chen tersenyum tipis. "Sekarang, mari kita lihat seberapa dalam Hutan Kematian ini."
Siang harinya, Ye Chen telah memasuki perbatasan Zona Dalam.
Di sini, pohon-pohon semakin rapat dan udara semakin lembap. Kabut tebal membatasi pandangan hingga sepuluh meter. Suara-suara binatang buas terdengar lebih jarang, tetapi setiap suara membawa aura tekanan yang jauh lebih berat.
Tiba-tiba, telinga Ye Chen menangkap suara yang berbeda.
Trang! Ting! Bumm!
Suara logam beradu. Dan suara teriakan manusia.
Ye Chen berhenti di atas dahan. "Pertarungan? Di kedalaman seperti ini?"
Biasanya, pemburu harta karun atau murid sekte hanya berani beroperasi di Zona Luar. Zona Dalam adalah wilayah Binatang Buas Tingkat 2 (Setara Pemadatan Qi Tingkat 4-6). Masuk ke sini sama saja mencari mati, kecuali mereka adalah kelompok elit.
Didorong rasa penasaran—dan peluang mendapatkan keuntungan—Ye Chen melesat mendekati sumber suara. Ia menyembunyikan auranya menggunakan Teknik Napas Kura-kura hingga nyaris tak terdeteksi.
Ia tiba di tepi sebuah rawa berlumpur hitam. Pemandangan di depannya membuatnya menahan napas.
Di tengah rawa, dikelilingi oleh bangkai tiga ekor buaya raksasa, berdiri seorang wanita muda.
Wanita itu mengenakan jubah putih bersih yang kini telah ternoda lumpur dan bercak darah merah cerah. Rambut hitam panjangnya terurai berantakan, sebagian menempel di pipinya yang pucat namun sangat cantik. Matanya dingin dan tajam, seperti bongkahan es abadi.
Di tangannya tergenggam sebuah pedang panjang yang memancarkan hawa dingin, membekukan lumpur di sekitar kakinya.
Namun, kondisinya buruk. Ada luka cakar yang dalam di bahu kirinya, darah merembes membasahi jubah putihnya. Napasnya tersengal-sengal.
Dan lawannya bukan hanya buaya mati itu.
Di sekelilingnya, lima pria berpakaian hitam dengan topeng kain menatapnya seperti serigala mengepung domba.
"Menyerah saja, Nona Mu," kata pemimpin pria bertopeng itu, suaranya serak dan mengejek. "Pengawalmu sudah mati semua. Racun Ular Tiga Langkah di bahumu juga sudah mulai menyebar. Kau tidak bisa lari lagi."
Wanita itu, Nona Mu, meludahkan darah ke tanah. "Sampah Sekte Bayangan Hitam. Kalian berani menyerang murid inti Sekte Teratai Es? Jika guruku tahu, dia akan meratakan markas kalian!"
Pemimpin itu tertawa. "Hahaha! Itu sebabnya kau harus mati di sini, di perut monster hutan. Tidak akan ada yang tahu kami yang membunuhmu. Kami hanya akan mengambil Teratai Jantung Es yang baru saja kau petik."
Ye Chen, yang bersembunyi di balik dedaunan tebal dua puluh meter di atas mereka, menyipitkan matanya.
"Sekte Teratai Es..." batinnya.
Itu adalah salah satu dari tiga sekte besar di wilayah ini, saingan berat Sekte Pedang Darah. Sekte Bayangan Hitam hanyalah organisasi pembunuh bayaran kelas dua.
Mata Ye Chen tertuju pada luka di bahu wanita itu. Racun. Dan tingkat kultivasinya...
"Dia berada di Pemadatan Qi Tingkat 5," analisis Ye Chen. "Tapi karena racun dan luka, kekuatannya turun drastis mungkin setara Tingkat 2 sekarang. Sementara kelima pembunuh itu rata-rata di Tingkat 3."
Ye Chen menimbang-nimbang. Jika ia pergi, ia tidak rugi apa-apa. Tapi jika ia menolong...
Risikonya tinggi. Melawan lima kultivator Tingkat 3 adalah tantangan berat bagi Ye Chen yang baru di Tingkat 1, meskipun ia memiliki kekuatan fisik Asura.
Namun, tatapan mata wanita itu menarik perhatiannya. Tidak ada rasa takut di sana. Hanya ada tekad untuk membawa musuhnya mati bersama. Itu mengingatkan Ye Chen pada dirinya sendiri saat di tambang.
"Dan lagi... murid inti Sekte Teratai Es pasti kaya," sudut bibir Ye Chen terangkat. "Musuh dari musuhku adalah temanku. Atau setidaknya, alatku."
Di bawah sana, pertarungan kembali pecah.
"Habisi dia! Jangan rusak wajahnya, mungkin kita bisa 'bersenang-senang' sebentar sebelum dia mati!" perintah pemimpin pembunuh itu.
Keempat anak buahnya menerjang maju serentak, pedang-pedang mereka dilapisi racun hijau.
"Mimpi!" Wanita itu menghentakkan kakinya.
Teknik Pedang: Badai Kelopak Es!
Udara di sekitar rawa turun drastis. Serpihan es tajam berputar melindungi tubuhnya, menangkis serangan keempat pembunuh itu.
Tang! Tang! Tang!
Namun, pertahanan itu memakan banyak Qi. Wajah Nona Mu semakin pucat. Kakinya goyah.
"Sekarang!" teriak pemimpin pembunuh itu, melihat celah. Ia melompat tinggi, pedangnya mengarah ke leher wanita itu dari belakang.
Nona Mu sibuk menangkis empat orang di depan. Dia merasakan serangan dari belakang, tapi tubuhnya terlalu lambat untuk bereaksi.
"Apakah ini akhirnya?" batinnya, menutup mata pasrah.
Tiba-tiba.
SWUUUSH!
Sebuah bayangan hitam jatuh dari langit bagaikan meteor. Bukan ke arah Nona Mu, tapi tepat ke jalur serangan pemimpin pembunuh itu.
CLANG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga mengguncang rawa. Gelombang kejut menerbangkan lumpur ke segala arah.
Nona Mu membuka matanya, terkejut.
Di belakangnya, berdiri seorang pemuda berpakaian compang-camping dengan rambut hitam panjang yang menutupi sebagian wajahnya. Pemuda itu memegang Dao besar dengan satu tangan, menahan serangan pemimpin pembunuh itu dengan mudah.
Aura hitam kemerahan menguar dari tubuh pemuda itu, panas dan menindas, sangat kontras dengan hawa dingin milik Nona Mu.
"Si... siapa kau?" tanya pemimpin pembunuh itu, matanya terbelalak kaget. Tangannya gemetar menahan getaran dari benturan tadi. "Jangan ikut campur urusan Sekte Bayangan Hitam!"
Ye Chen mengangkat kepalanya perlahan. Mata hitamnya menatap pemimpin pembunuh itu seolah menatap mayat.
"Kalian terlalu berisik," kata Ye Chen dingin. "Kalian mengganggu tidur siangku."
Krak!
Ye Chen mendorong pedangnya. Kekuatan fisik Asura meledak. Pemimpin pembunuh itu terlempar mundur lima langkah, mendarat di lumpur dengan tidak elegan.
Empat pembunuh lainnya mundur, mengepung Ye Chen dan Nona Mu.
"Bocah gila! Kau hanya Tingkat 1! Kau cari mati!" teriak salah satu pembunuh.
Ye Chen tidak menoleh ke arah mereka. Ia melirik sekilas ke arah Nona Mu yang masih terpaku.
"Hei, Nona Es," kata Ye Chen datar tanpa menoleh. "Bisa kau urus dua yang di kiri? Aku ambil tiga sampah sisanya."
Nona Mu tertegun sejenak dengan arogansi pemuda asing ini. Seorang Tingkat 1 ingin melawan tiga orang Tingkat 3 sekaligus? Termasuk pemimpin mereka?
Namun, melihat punggung kokoh Ye Chen, entah kenapa, rasa putus asanya memudar.
"Jangan remehkan aku," jawab Nona Mu, menggigit lidahnya untuk memaksakan kesadaran. Matanya kembali tajam. "Sisakan satu yang hidup untuk interogasi."
Ye Chen menyeringai, memperlihatkan gigi putihnya. Seringai iblis.
"Tidak janji."
BOOM!
Ye Chen tidak menunggu aba-aba. Ia adalah yang pertama menyerang. Tubuhnya lenyap, meninggalkan jejak bayangan (afterimage) di tempatnya berdiri.
Langkah Bayangan!
Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan pembunuh yang paling dekat.
"Apa—?!"
Tebasan Api Neraka!
Pedang Ye Chen menyapu dengan api hitam. Pembunuh itu mencoba menangkis, tapi pedang biasanya langsung patah, dan kepalanya menyusul terbang ke udara.
Satu mati.
"Membunuh itu mudah," bisik Ye Chen, darah memercik ke wajahnya. "Yang sulit adalah tetap hidup."
Pertempuran di rawa berlumpur dimulai. Dan bagi Ye Chen, ini adalah panggung pertunjukan pertamanya sebagai seorang kultivator sejati.
(Akhir Bab 7)