desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31: Wanita Itu Bernama Vanya
Satu bulan berlalu. Vanya sudah seperti asisten tak resmi Raka. Setiap rapat penting, ia selalu di sampingnya. Setiap presentasi besar, ia yang mempersiapkan. Raka mulai bergantung padanya.
"Aira, akhir-akhir ini aku sering pulang malam," kata Raka suatu malam, dengan nada bersalah. "Ada proyek besar. Tapi tenang, aku akan usahakan pulang cepat."
Aira tersenyum. "Tak apa, Sayang. Aku mengerti. Yang penting kalian bertiga—maksudnya kamu, Arka, dan Pelangi—tetap punya waktu bersama di akhir pekan."
Raka mengangguk lega. "Makasih, Aira. Kau istri pengertian."
Tapi Aira tak tahu, di kantor, Vanya sedang menyusun strategi. Ia tak hanya ingin diakui profesionalismenya. Ia ingin lebih. Ia ingin Raka.
Bukan karena cinta. Tapi karena ambisi. Dengan merebut hati Raka, ia akan punya akses ke segala hal. Termasuk ke proyek-proyek besar yang bisa menguntungkan dirinya dan pihak lain.
---
Suatu malam, saat lembur, Vanya memesan makan malam untuk mereka berdua. Raka awalnya menolak, tapi Vanya meyakinkan.
"Pak, ini sudah jam 9. Kalau Bapak tak makan, nanti sakit. Saya juga kasihan sama istri Bapak kalau Bapak pulang sakit."
Raka akhirnya setuju. Mereka makan di ruang kerjanya. Vanya sengaja memilih makanan kesukaan Raka—ia sudah mencari tahu dari asisten pribadi Raka.
"Wah, sate kambing kesukaan saya," Raka terkejut. "Kok tahu?"
Vanya tersenyum misterius. "Rahasia dapur. Saya suka mengamati bos. Biar bisa memberikan pelayanan terbaik."
Raka tertawa. "Anda ini... memang luar biasa."
Malam itu, mereka berbincang lama. Vanya bercerita tentang kehidupannya di luar negeri, tentang kegagalan dan kesuksesannya. Raka terpikat. Bukan secara romantis, tapi secara intelektual. Vanya cerdas, berpikiran terbuka, dan punya wawasan luas.
"Pak, boleh saya tanya sesuatu yang agak pribadi?" tanya Vanya di akhir obrolan.
"Silakan."
"Bapak bahagia dengan pernikahan Bapak?"
Raka mengernyit. "Kenapa tanya?"
Vanya menghela nafas. "Maaf kalau lancang. Tapi saya lihat Bapak sering lembur. Saya berpikir... apa Bapak tidak punya masalah di rumah? Saya hanya peduli, sebagai teman."
Raka diam. Lalu berkata, "Istriku baik, Vanya. Dia pengertian. Aku bahagia."
Vanya mengangguk. "Syukurlah. Maaf kalau saya terlalu bertanya."
"Tak apa. Saya hargai kepedulian Anda."
Tapi di hati Vanya, ia senang. Raka membuka diri. Itu pertanda baik.
---
Di rumah, Aira mulai gelisah. Raka pulang makin larut. Bahkan di akhir pekan, ia sering ke kantor. Arka dan Pelangi mulai protes.
"Bapak kok jarang main sama Arka?" tanya Arka suatu pagi.
Raka menatap anaknya dengan bersalah. "Maaf, Nak. Bapak sibuk. Nanti kalau proyek selesai, Bapak ajak liburan."
"Janji?"
"Janji."
Aira melihat interaksi itu. Hatinya perih. Tapi ia tak mau cemburu buta. Ia percaya pada Raka.
Sampai suatu malam, ponsel Raka berdering. Ia sedang mandi. Aira melihat layar. Sebuah pesan dari Vanya.
"Pak, terima kasih untuk malam ini. Makan malamnya enak. Besok kita lanjutkan rapat pagi. Selamat istirahat. - V"
Aira membaca. Makan malam? Raka bilang tadi malam ia lembur sendiri. Tapi ternyata makan malam berdua dengan Vanya?
Ia meletakkan ponsel. Tangannya gemetar.
Saat Raka keluar, Aira bertanya dengan tenang.
"Raka, tadi malam kamu lembur dengan siapa?"
Raka mengeringkan rambut. "Sendiri. Ada beberapa dokumen yang harus kuselesaikan."
"Sendiri? Atau dengan Vanya?"
Raka berhenti. Menatap Aira. "Kok tahu?"
"Ponselmu bunyi. Aku lihat pesannya."
Raka menghela nafas. "Aira, itu hanya makan malam kerja. Kami diskusi sambil makan. Tak lebih."
"Kenapa bilang sendiri?"
Raka diam. Lalu berkata, "Aku tak mau kau salah paham."
"Tapi justru dengan sembunyi, aku jadi tambah salah paham."
Malam itu, mereka bertengkar kecil. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka. Raka kesal karena dituduh. Aira kesal karena dibohongi.
---
Keesokan harinya, Vanya menyadari ada yang berbeda. Raka lebih pendiam, lebih formal. Ia bertanya.
"Pak, ada masalah? Kok hari ini Bapak murung?"
Raka menghela nafas. "Istriku tahu tentang makan malam kita."
Vanya memasang wajah iba. "Astaga, Pak. Maaf, saya yang bikin masalah. Saya minta maaf."
"Bukan salah Anda, Vanya. Ini salahku. Aku yang tak bilang jujur."
Vanya menunduk. "Pak, kalau boleh saya saran... mungkin Ibu Aira butuh pengertian. Istri biasanya cemburu kalau suami dekat dengan wanita lain. Tapi saya yakin, kalau Bapak jelaskan baik-baik, beliau akan mengerti."
Raka mengangguk. "Iya. Aku akan coba."
Vanya tersenyum. Tapi dalam hati, ia girang. Keretakan mulai terjadi. Dan ia akan memperbesarnya.
---
Hari-hari berikutnya, Vanya makin lihai. Ia selalu memuji Raka di depan umum, tapi tak berlebihan. Ia selalu ada saat Raka butuh, tapi tak mengganggu. Ia seperti bayangan yang setia.
Di rumah, Aira makin cemas. Raka memang lebih sering pulang cepat, tapi pikirannya seperti di tempat lain. Saat makan malam, ia sering melamun. Saat main dengan anak-anak, setengah hati.
Aira mencoba bertanya, tapi Raka selalu bilang, "Tak apa, Sayang. Hanya capek."
Tapi Aira tahu, itu bukan capek. Itu ada sesuatu.
Suatu sore, saat Raka di kantor, Aira mendapat telepon dari Maya.
"Mba, gue baru liat sesuatu di Instagram."
"Apa?"
Maya mengirim screenshot. Foto Raka dan Vanya sedang diskusi di kafe. Tampak akrab. Vanya tertawa, menatap Raka dengan tatapan... tatapan yang tak biasa.
Caption foto itu: "Diskusi seru dengan bos ganteng. Seneng banget bisa belajar dari yang terbaik. #kerja #bos #inspirasi"
Aira membaca komentar-komentar di bawahnya. Banyak yang memuji, "Pasangan yang serasi", "Bosnya ganteng banget", "Cie yang dekat sama bos".
Aira mengepalkan ponsel. Dadanya sesak.
Maya menelepon lagi. "Mba, lo harus gerak. Itu wanita lagi pasang kuda-kuda. Lo jangan diem aja."
Aira diam. Lalu berkata, "Aku akan bicara dengan Raka malam ini."
---
Malam harinya, Raka pulang lebih awal. Aira sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya tegang.
Raka melihatnya. "Aira, ada apa?"
Aira menunjukkan screenshot itu. "Apa ini?"
Raka melihat. Wajahnya berubah. "Aira, ini hanya foto biasa. Kami sedang diskusi."
"Diskusi sampai dia pasang foto dan dapat komentar macem-macem? Lihat ini! Mereka bilang kalian pasangan serasi!"
Raka menghela nafas panjang. "Aira, aku tak bisa mengontrol apa kata orang. Yang bisa aku kontrol adalah perbuatanku. Dan aku tak melakukan hal yang salah."
"Tapi dia! Dia sengaja pasang foto itu! Dia sengaja bikin orang berpikir macam-macam!"
"Aira, Vanya mungkin tak berpikir begitu. Dia cuma bangga bisa diskusi dengan bosnya."
"Kamu naif, Raka! Atau kamu pura-pura naif?"
Udara di ruangan itu memanas. Mereka bertengkar hebat. Arka terbangun dan keluar kamar.
"Mama, Bapak, kenapa ribut?"
Aira dan Raka berhenti. Menatap Arka dengan bersalah.
"Tak apa, Nak. Mama dan Bapak cuma diskusi. Tidur lagi, ya," kata Raka.
Arka mengangguk, tapi wajahnya sedih. Ia kembali ke kamar.
Aira menangis. Raka memeluknya.
"Maaf, Aira. Aku tak mau kita bertengkar di depan Arka."
Aira terisak. "Aku juga tak mau. Tapi aku takut, Raka. Takut kehilangan kamu."
Raka mengusap air matanya. "Kamu tak akan kehilangan aku. Aku janji. Tapi tolong, percaya padaku."
Aira mengangguk. Tapi di hatinya, badai masih berkecamuk.
---
Keesokan harinya, Vanya datang dengan wajah ceria. Ia menyapa Raka seperti biasa. Tapi Raka agak dingin.
"Vanya, soal foto kemarin... tolong lebih bijak dalam bermedsos. Istriku kurang nyaman."
Vanya memasang wajah bersalah. "Astaga, Pak. Maaf sekali. Saya tak bermaksud apa-apa. Saya hanya bangga bisa kerja sama Bapak. Tapi kalau itu bikin masalah, saya akan lebih hati-hati."
Raka mengangguk. "Terima kasih."
Vanya pergi. Tapi di ruangannya, ia tersenyum puas. Konflik mulai memanas. Dan ia akan terus memanaskan.
---
Minggu-minggu berikutnya, Vanya makin cerdik. Ia tak lagi pasang foto mesra, tapi ia lebih sering "tidak sengaja" bertemu Raka di luar kantor. "Tidak sengaja" ada di kafe yang sama. "Tidak sengaja" ikut seminar yang sama. "Tidak sengaja" duduk di sebelahnya saat penerbangan bisnis.
Raka mulai risih. Tapi Vanya selalu punya alasan profesional. "Ini networking, Pak. Penting untuk perusahaan."
Aira mulai memata-matai. Bukan karena tak percaya, tapi karena ingin tahu sejauh mana Vanya berani. Ia instal aplikasi yang bisa lacak lokasi Raka. Ia tahu itu melanggar privasi, tapi ia nekat.
Suatu malam, ia lihat Raka di sebuah hotel. Bukan hotel biasa, hotel berbintang di kawasan Thamrin. Jantungnya berhenti.
Ia segera ke sana. Naik taksi dengan tangan gemetar. Di lobby, ia bertanya pada resepsionis.
"Maaf, Pak Raka, tamu di kamar berapa?"
Resepsionis mengecek. "Maaf, Ibu. Saya tak bisa memberi informasi tamu."
Aira hampir putus asa. Tapi tiba-tiba, ia lihat Raka keluar dari lift. Dengan Vanya. Mereka tertawa bersama.
Dunia Aira runtuh.
---
"Raka!"
Raka menoleh. Terkejut. "Aira? Kau di sini?"
Aira mendekat. Matanya merah. "Apa yang kalian lakukan?"
Vanya tersenyum. "Bu Aira, kami baru selesai rapat dengan klien. Ada apa?"
"Rapat? Di hotel? Jam 9 malam?"
Raka menghela nafas. "Aira, ini klien penting. Mereka hanya mau ketemu di sini. Vanya menemaniku karena dialah yang mengenal klien ini."
Aira menatap Vanya. Wanita itu tersenyum manis, tapi di matanya ada kemenangan.
"Aira, pulanglah. Nanti aku jelaskan," kata Raka.
"Jelaskan sekarang!"
Vanya ikut bicara. "Bu Aira, saya rasa ada kesalahpahaman. Mungkin lebih baik kita bicara baik-baik di lain waktu. Sekarang, saya permisi dulu."
Vanya pergi. Meninggalkan Aira dan Raka di lobby.
Malam itu, di lobby hotel, mereka bertengkar hebat. Raka marah karena Aira memata-matainya. Aira marah karena Raka tak peka.
"Ini sudah kelewatan, Aira! Kau tak percaya padaku?"
"Kau yang buat aku tak percaya! Sering pulang malam, sembunyi-sembunyi, dan sekarang di hotel dengan wanita lain!"
"Dia rekan kerja! Ada klien!"
"Klien apa yang mau ketemu di hotel malam-malam?"
Raka frustrasi. "Aku capek, Aira. Capek dituduh terus."
"Aku juga capek! Capek cemas tiap malam!"
Mereka pulang dengan hati hancur. Malam itu, mereka tidur membelakangi satu sama lain. Untuk pertama kalinya.
---
Di kamarnya, Vanya tersenyum puas. Ia kirim pesan pada seseorang.
"Langkah awal berhasil. Mereka bertengkar hebat. Lanjut ke fase berikutnya."
Balasan masuk:
"Bagus. Ingat target kita: proyek senilai 500 miliar. Kau harus jadi orang kepercayaannya. Apa pun caranya."
Vanya membalas:
"Aku tahu. Aku akan luluhkan dia. Dan hancurkan rumah tangganya."
Senyumnya lebar. Di cermin, ia melihat bayangannya sendiri. Cantik, cerdas, licik.
Perang baru saja dimulai.
---
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu