NovelToon NovelToon
Papan Takdir

Papan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Penyelamat / Action / Sistem
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PAPAN YANG MUNCUL DI TENGAH HUTAN

Hujan telah mengguyur hutan bambu Mengyou selama tiga hari tiga malam. Suara tetesan air yang jatuh ke atas dedaunan dan tunggul bambu yang rindang membentuk irama yang mengalun, seperti nyanyian kuno yang hanya bisa didengar oleh mereka yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk dunia manusia. Di tengah hamparan bambu yang tinggi menjulang ke arah langit yang selalu berkabus, ada sebuah tempat tinggal sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu—rumah Yin Chen, yang telah menjadi satu dengan lingkungan sekitarnya selama hampir sepuluh tahun lamanya.

Dinding rumah yang dipenuhi dengan lapisan lumut hijau muda menyimpan banyak jejak waktu; beberapa bagian kayu telah mulai mengelupas, mengungkapkan serat yang telah mengeras akibat paparan cuaca selama bertahun-tahun. Di dalamnya, ruangan tunggal yang menjadi ruang tamu sekaligus kamar tidur dan ruang kerja terasa hangat meskipun udara luar masih dingin akibat hujan. Sebuah tungku tanah yang terletak di sudut ruangan menyala dengan lemah, memancarkan asap tipis yang keluar melalui cerobong kecil di atap. Di sekitar tungku, tumpukan buku tua dengan kulit sampul yang sudah menguning dan mulai robek tersusun rapi di atas rak kayu yang tidak rata. Beberapa lembar kertas berisi catatan tangan rapi tersebar di atas meja kerja yang terbuat dari tunggul bambu besar yang telah dibelah rata, di samping sebuah set alat tulis yang terdiri dari kuas bulu angsa, tinta hitam pekat, dan beberapa batu penghalus yang bentuknya sudah licin akibat penggunaan yang sering.

Yin Chen duduk dengan badan sedikit membungkuk di depan meja, matanya fokus menatap lembaran kertas yang sedang dia isi dengan tulisan karakter kuno yang bentuknya mirip cakar burung. Rambut hitam panjangnya yang tidak terikat rapi jatuh menyelimuti bahu kirinya, sebagian menutupi wajahnya yang memiliki tulang pipi yang jelas dan bibir yang sedikit menekuk ke bawah dalam ekspresi serius. Tangan kanannya yang ramping namun berotot menggiring kuas dengan gerakan yang stabil dan terkontrol, setiap goresan mengeluarkan suara lembut saat menyentuh permukaan kertas. Ia sedang mencatat catatan terakhir tentang makna simbol-simbol yang ditemukannya di batu besar yang terletak tiga mil jauhnya dari rumahnya—simbol yang dia yakini memiliki hubungan erat dengan legenda yang pernah diceritakan oleh neneknya sebelum ia pergi ke hutan ini.

“‘Di tempat di mana bambu bertemu dengan air, papan akan muncul untuk memilih yang layak…’” bisik Yin Chen dengan suara yang dalam dan sedikit kasar akibat jarangnya berbicara dengan orang lain. Ia mengangkat kepalanya, matanya yang berwarna hitam pekat seperti biji hitam melihat ke arah jendela kecil yang menghadap ke hutan. Hujan telah mulai reda, hanya menyisakan tetesan air yang masih jatuh perlahan dari helai daun bambu yang menggantung rendah. Cahaya senja mulai merembes melalui celah-celah batang bambu, memberi warna keemasan pada kabut tipis yang masih mengelilingi tempat tinggalnya.

Setelah menutup buku catatannya dan menaruhnya kembali ke rak, Yin Chen berdiri perlahan, merasakan sendi-sendi tubuhnya yang kaku akibat duduk dalam waktu lama. Ia mengambil jubah hitam yang tergantung di atas tiang kayu di dekat tungku, membungkusnya di sekitar tubuhnya untuk melindungi diri dari udara dingin yang mulai menyelinap masuk ke dalam rumah. Sepatu kulit tebal yang telah aus di bagian tumit dikenakannya dengan cepat sebelum ia mengambil tongkat kayu pendek yang terletak di dekat pintu—alat yang biasa dia gunakan bukan hanya sebagai penyangga saat berjalan di medan yang licin, tetapi juga sebagai senjata jika ada bahaya yang mengancam di dalam hutan.

“Aku harus melihatnya lagi,” kata Yin Chen sendiri sambil membuka pintu kayu yang berderit saat diputar. Udara luar yang segar dan penuh dengan aroma tanah basah serta dedaunan bambu langsung menyambutnya. Ia menghela napas dalam-dalam, merasakan bagaimana udara segar itu memenuhi paru-parunya dan membawa sedikit kelegaan bagi pikirannya yang telah bekerja keras selama berhari-hari. Langkahnya yang mantap membawa dia melalui jalan kecil yang telah dia tempuh berkali-kali, di antara ratusan batang bambu yang tinggi menjulang sehingga hampir menutupi pandangan ke arah langit. Daun-daun bambu yang bergesekan satu sama lain mengeluarkan suara seperti bisikan, seolah-olah sedang menyampaikan pesan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang benar-benar menghargai keheningan hutan.

Setelah berjalan selama sekitar seperempat jam, Yin Chen tiba di lokasi batu besar yang menjadi fokus penelitiannya selama beberapa minggu terakhir. Batu yang berbentuk seperti piringan besar itu terletak di tengah sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh bambu dengan diameter yang lebih besar dari biasanya. Permukaan batu yang rata dan halus seperti telah dipoles mengkilap saat terkena cahaya senja, dan di atasnya terdapat pola simbol yang sama seperti yang dia catat di buku catatannya—simbol yang bentuknya mirip dengan bidak-bidak catur namun dengan variasi yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Beberapa bagian simbol tersebut tampak sedikit menerangi dengan cahaya kebiruan yang lemah, terutama di tempat yang terkena tetesan air hujan.

Yin Chen jongkok di depan batu tersebut, matanya mulai memeriksa setiap simbol dengan cermat. Ia mengeluarkan sebuah lensa pembesar kecil yang terbuat dari kristal yang selalu dibawanya di dalam kantong jubahnya, menggunakannya untuk melihat detail yang lebih jelas dari pola yang ada di permukaan batu. Saat ia menggerakkan lensa ke atas satu simbol yang berbentuk seperti kuda catur namun dengan sayap kecil di kedua sisinya, tiba-tiba ada kilatan cahaya kebiruan yang menyilaukan muncul dari tengah batu. Kilatan tersebut begitu kuat sehingga Yin Chen terpaksa menutup matanya dan menjulurkan tangan untuk melindungi wajahnya.

Ketika cahaya mulai mereda dan dia membuka mata kembali, pemandangan di depannya membuatnya terpaku tidak bisa bergerak. Batu besar yang tadinya terletak di depannya telah menghilang tanpa jejak, digantikan oleh sebuah papan catur yang berukuran lebih besar dari biasanya dengan permukaan yang mengkilap seperti dibuat dari marmer hitam dan putih bersih. Setiap kotak pada papan memiliki lekukan kecil di tengahnya yang tampaknya dirancang untuk menampung bidak catur, namun saat ini papan tersebut masih kosong. Udara di sekitar papan terasa lebih dingin, dan ada aura misterius yang mengelilinginya—seolah-olah ada kekuatan besar yang sedang mengendap di dalamnya.

Tanpa sadar, tangan Yin Chen menjulur ke arah papan, ingin menyentuh permukaan yang tampak licin dan dingin. Saat ujung jarinya menyentuh salah satu kotak putih, tiba-tiba ada suara seperti dering lonceng besar yang terdengar dari kejauhan, namun tanpa sumber yang jelas. Bersamaan dengan suara itu, cahaya kebiruan mulai muncul dari dalam setiap kotak pada papan, dan satu per satu bidak catur mulai terbentuk dari cahaya tersebut. Bidak-bidak putih muncul di sisi sebelah Yin Chen, sedangkan bidak-bidak hitam muncul di sisi yang berlawanan. Setiap bidak memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari catur biasa—raja putih memiliki mahkota yang berbentuk seperti mahkota bambu, ratu putih memiliki sayap kecil yang terbuat dari cahaya, dan bidak-bidak lainnya juga memiliki ornamen yang khas yang terinspirasi dari alam sekitar hutan.

Yin Chen berdiri dengan perlahan, matanya tidak bisa lepas dari papan catur yang ajaib itu. Hatinya berdebar dengan cepat, bukan karena rasa takut tetapi karena rasa kagum dan keingintahuan yang luar biasa. Dia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencari bukti tentang keberadaan kekuatan supranatural yang disebutkan dalam legenda kuno, namun tidak pernah menyangka akan menemukan sesuatu yang sesungguhnya di hadapannya. Saat dia masih berdiri tercengang, salah satu bidak putih—bidak pion yang terletak di depan raja—mulai bergetar dengan lembut dan kemudian bergerak sendiri ke depan satu kotak. Gerakan itu disertai dengan suara kecil seperti gemerisik daun, dan saat bidak tersebut mendarat di kotak baru, Yin Chen merasakan getaran kecil yang datang dari bawah tanahnya.

Ia melihat ke arah kejauhan, menatap arah desa terdekat yang terletak sekitar lima mil dari hutan. Meskipun tidak bisa melihat apa-apa selain hamparan bambu dan kabut yang semakin pekat, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah di sana. Seolah-olah gerakan kecil dari bidak catur tersebut telah menyebabkan perubahan yang tidak terlihat di dunia luar. Tanpa berpikir dua kali, Yin Chen duduk di atas tanah yang masih basah di sisi putih papan catur, matanya fokus pada setiap bidak yang ada di atasnya. Dia tahu bahwa momen ini adalah titik balik dalam hidupnya—bahwa dia telah terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan, dan bahwa permainan yang akan dimulai tidak akan pernah bisa dibatalkan lagi.

Saat malam mulai tiba dan bulan mulai muncul dari balik awan, cahaya dari papan catur tersebut menjadi semakin terang, menerangi wajah Yin Chen dengan cahaya kebiruan yang lembut. Dia mengeluarkan buku catatannya lagi, mulai mencatat setiap detail dari papan dan bidak-bidaknya dengan tangan yang sedikit gemetar akibat kegembiraan dan ketegangan. Di dalam hatinya, dia merasakan bahwa perjalanan panjang yang penuh dengan misteri dan bahaya telah dimulai, dan bahwa dia harus siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang—karena tidak hanya kehidupannya yang akan terpengaruh, tetapi mungkin juga takdir dari seluruh dunia yang dia tinggali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!