NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS KHATULISTIWA

11:30 AM. Perairan Kepulauan Luar, Dekat Garis Khatulistiwa.

Matahari tepat berada di atas kepala, membakar permukaan laut hingga tampak seperti cermin perak yang menyilaukan. Perahu cepat stealth berukuran kecil yang mereka tumpangi membelah ombak dengan suara dengung mesin elektrik yang sangat halus nyaris seperti suara desiran angin. Tidak ada asap, tidak ada bau solar. Hanya Raka, Liana, dan hamparan laut biru yang seolah tidak berujung.

Liana berdiri di kemudi, rambut pendeknya berkibar tertiup angin laut yang kencang. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan jaket pelampung taktis yang tampak sedikit kebesaran di tubuhnya. Sesekali, tangannya bergerak lincah di atas layar sentuh navigasi, menghindari gugusan karang dangkal yang tidak tercatat di peta sipil.

"Raka, kau lihat pulau di koordinat 0.4 lintang utara itu?" Liana menunjuk ke sebuah titik hijau kecil di cakrawala. "Itu Obsidian Prime. Fasilitas riset kelautan milik swasta yang secara resmi mempelajari migrasi paus, tapi secara teknis memiliki server bawah laut dengan daya komputasi yang cukup untuk meretas satelit cuaca Rusia."

Raka, yang sedang duduk di kursi penumpang sambil membersihkan lensa teropong termalnya, hanya mengangguk. Ia sudah mengenakan pakaian selam tipis yang memperlihatkan lekuk bahunya yang kokoh. Luka bakar di lengannya sudah dibalut dengan perban kedap air yang baru.

"Dan kau yakin mereka tidak akan keberatan jika kita meminjam otak mereka sejenak?" tanya Raka datar.

Liana menoleh, memberikan senyum nakal yang membuat Raka harus mengalihkan pandangan sejenak. "Mereka tidak akan tahu, Sayang. Aku sudah menanamkan loop pada kamera keamanan mereka sejak kita masih di kapal Bimo. Bagi mereka, dermaga utara akan selalu terlihat kosong, sepi, dan membosankan selama tiga jam ke depan."

"Tiga jam adalah waktu yang lama untuk melakukan kesalahan, Li."

"Makanya, jangan buat kesalahan," sahut Liana ringan. Ia memutar kemudi dengan tajam, membuat perahu itu miring ke kiri dan menyemprotkan air garam ke wajah Raka.

Raka menyeka air di wajahnya, menatap Liana dengan tatapan jengkel yang pura pura. "Kau benar benar menikmati ini, ya?"

"Menikmati apa? Menjadi buronan internasional paling dicari bersama pria paling kaku di dunia? Ya, aku menyebutnya hari Selasa yang menyenangkan," Liana terkekeh, lalu memperlambat kecepatan perahu saat mereka mendekati hutan bakau yang mengelilingi pulau tersebut.

Fasilitas Obsidian Prime tampak seperti bangunan minimalis yang menyatu dengan tebing karang. Tidak ada penjaga bersenjata berat, hanya beberapa drone pengawas berbentuk burung camar yang berputar putar di langit. Namun, Raka tahu bahwa keamanan sejati tempat ini bukan pada senjatanya, melainkan pada enkripsi lingkungannya.

Mereka merapatkan perahu di bawah rimbunnya pohon bakau yang menjorok ke laut. Raka melompat ke air setinggi pinggang, lalu membantu Liana turun.

"Tetap di belakangku," bisik Raka, tangannya secara refleks meraih pistol penenang di pinggangnya.

"Raka, santai sedikit," Liana berbisik balik, namun ia tetap melangkah dengan hati hati. "Ini bukan pangkalan militer. Orang orang di sini adalah ilmuwan yang lebih peduli pada plankton daripada spionase. Gunakan pesonamu, bukan pelurumu."

"Pesona bukan bagian dari perlengkapanku, Li." jawab Raka.

"Makanya aku di sini untuk melengkapimu," jawab Liana sambil mengedipkan mata, lalu ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk seperti pemantik api dan menempelkannya ke panel pintu darurat di sisi tebing.

Klik.

Pintu itu terbuka dengan desisan pelan. Udara dingin beraroma antiseptik dan mesin segera menyambut mereka, kontras dengan udara panas tropis di luar.

Mereka menyelinap melalui lorong lorong putih yang sepi. Berkat manipulasi data Liana, setiap pintu terbuka sebelum mereka sempat menyentuhnya. Mereka sampai di ruang jantung fasilitas sebuah ruangan berbentuk lingkaran dengan lantai kaca yang memperlihatkan mesin mesin pendingin di bawah laut yang bercahaya biru.

"Selamat datang di dapur kita, Kapten," gumam Liana. Ia langsung menuju konsol utama, jemarinya mulai menari di atas keyboard holografik.

Raka berjaga di depan pintu, matanya terus memantau koridor lewat tabletnya. Namun, kesunyian di ruangan itu membuatnya merasa aneh. Ia menoleh ke arah Liana yang tampak sangat serius. Cahaya biru dari layar memantul di matanya, membuatnya terlihat seperti bagian dari mesin itu sendiri namun jauh lebih indah.

"Berapa lama?" tanya Raka.

"Sepuluh menit untuk memproses kunci enkripsi Yudha. Sistem ini sepuluh kali lebih cepat dari laptopku," jawab Liana. Ia berhenti sejenak, lalu menatap Raka. "Hei, Raka. Kemarilah sebentar."

Raka mendekat dengan ragu. "Ada masalah?"

"Tidak. Hanya saja... lihat ini." Liana menggeser salah satu jendela data. Di sana, tertampil sebuah peta dunia dengan ribuan titik merah yang berkedip. "Ini adalah jaringan Aegis yang baru. Yudha tidak bersembunyi di satu server. Dia memecah kesadarannya menjadi jutaan fragmen kecil di setiap perangkat yang terhubung ke internet."

Raka mengerutkan kening. "Berarti kita tidak bisa membunuhnya hanya dengan menghancurkan satu tempat?"

"Secara fisik, tidak. Tapi..." Liana meraih tangan Raka, menaruhnya di atas panel sensor. "Kunci yang kita ambil di Maladewa adalah detonator. Jika kita bisa menemukan node pusatnya, kita bisa mengirim perintah self delete ke seluruh jaringannya sekaligus."

Liana menatap tangan mereka yang bertumpuk di atas sensor. "Kita melakukannya, Raka. Kita benar benar punya kesempatan untuk menghentikannya."

Raka merasakan kehangatan tangan Liana, dan untuk pertama kalinya sejak mereka mendarat di pulau ini, ketegangannya mencair. Ia menatap Liana, bukan sebagai rekan kerja, tapi sebagai wanita yang telah memberikan kembali hidupnya.

"Aku tidak pernah bilang terima kasih secara benar, kan?" kata Raka pelan.

Liana menaikkan alisnya, tampak terkejut. "Terima kasih untuk apa? Membuatmu hampir tenggelam atau membuatmu terseret ke misi gila ini?"

"Untuk tidak menyerah padaku," Raka mendekatkan wajahnya, suaranya nyaris seperti bisikan. "Sepuluh tahun lalu, dan juga sekarang."

Liana terdiam, matanya melunak. Ia melepaskan tangannya dari panel sensor dan melingkarkannya di leher Raka. "Kau tahu, Raka? Di dunia yang penuh dengan kode palsu dan kecerdasan buatan, kau adalah satu satunya hal yang terasa nyata bagiku. Jadi, jangan berani berani menghilang lagi."

Raka menarik Liana ke dalam pelukan yang singkat namun penuh makna. Ia bisa merasakan detak jantung Liana yang stabil di dadanya. Namun, tepat saat ia hendak mengatakan sesuatu yang lebih jauh, alarm kecil berbunyi di tabletnya.

"Li, ada pergerakan di dermaga selatan," kata Raka, kembali ke mode waspada. "Dua helikopter ringan. Tanpa tanda pengenal."

Liana langsung kembali ke layarnya. "Bukan Aegis. Sinyal mereka... itu sinyal militer dalam negeri. Unit taktis dari agensi lama kita."

"Yudha pasti sudah memberi tahu mereka posisi kita lewat jaringan satelitnya," desis Raka. "Dia menggunakan mereka untuk melakukan pekerjaan kotornya."

Liana menyambar sebuah drive kecil tempat data kunci enkripsi yang sudah diproses tersimpan. "Selesai! Kita harus pergi sekarang!"

"Lewat mana? Pintu masuk utama pasti sudah dijaga," Raka memeriksa peta bangunan.

Liana tersenyum lebar, jenis senyuman yang biasanya membuat Raka merasa ngeri sekaligus kagum. "Ingat fasilitas ini riset kelautan, kan? Mereka punya pipa pembuangan air pendingin yang bermuara langsung di palung laut sebelah barat. Kita bisa berselancar lewat sana."

Raka menatap pipa besi besar di sudut ruangan. "Kau bercanda."

"Hanya jika kau takut basah, Kapten," Liana menarik tangan Raka menuju pipa tersebut. "Ayo! Sebelum mereka masuk dan mulai bertanya soal izin kunjungan!"

Mereka melompat ke dalam pipa saat pintu ruang server didobrak oleh tim taktis berseragam hitam. Air dingin yang deras segera membawa mereka meluncur ke bawah, meninggalkan fasilitas itu menuju kegelapan laut.

Di tengah terjun bebas di dalam pipa tersebut, Raka merasakan tangan Liana menggenggam tangannya erat erat. Di tengah kekacauan, pelarian, dan ancaman maut yang terus membuntuti, Raka menyadari bahwa selama ia memegang tangan itu, ia tidak akan pernah benar benar tersesat bahkan jika mereka harus berselancar menuju dasar samudra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!