Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: STIGMA WARGA
Tanah itu basah. Bekas hujan semalam. Aryo masih berlutut di sana meskipun mobil bank sudah lama pergi. Bekas roda becak lagi-lagi membekas di tanah. Seperti luka yang sama, di tempat yang sama.
"Mas..."
Dewi memegang pundaknya. Tangannya dingin. Gemetar. Aryo bisa rasakan getaran itu. Bukan karena kedinginan. Tapi karena takut. Karena lelah. Karena nggak tahu harus bagaimana lagi.
"Mas, bangun... Risma nangis..."
Risma. Ya. Risma masih nangis di dalam. Aryo dengar suara itu. Pecah. Serak. Habis nangis terlalu keras.
Aryo bangkit. Lututnya sakit. Lagi-lagi. Tanah becek membasahi celananya. Tapi ia nggak peduli. Ia lari masuk.
Risma di dipan. Wajahnya merah. Mulutnya menganga, tangannya meronta-ronta kecil. Tapi suaranya hampir habis. Hanya sisa-sisa.
"Nak... Nak... Bapak di sini..."
Aryo gendong Risma. Tubuh anaknya panas. Bukan panas demam. Panas karena nangis. Karena frustrasi. Karena nggak tahu kenapa hidupnya begini.
"Udah, Nak... udah... Bapak nggak ke mana-mana..."
Dewi masuk. Duduk di sampingnya. Ia lihat lutut Aryo basah, berlumpur. "Mas..."
"Nggak papa."
Mereka bertiga diam. Risma mulai tenang. Matanya terpejam. Capek. Aryo masih menggendongnya. Nggak mau lepas.
Dewi pegang tangan Aryo. "Mas... sekarang gimana?"
Aryo diam. Pikirannya kosong. Lagi-lagi nggak tahu harus jawab apa.
"Mas, becak kita diambil lagi. Utang bank 5 juta. Kontrakan ini terancam. Risma butuh obat. Kita makan apa?"
Suara Dewi pelan. Tapi setiap kata seperti palu. Menghantam.
Aryo tatap Dewi. Istrinya itu makin kurus. Pipinya makin cekung. Lingkaran hitam di mata makin pekat. Tapi matanya... matanya masih berusaha kuat. Meskipun bibirnya gemetar.
"Ri, aku cari kerja lagi. Apa aja."
"Kerja apa, Mas? Di desa sini? Udah habis semua. Jadi kuli nggak ada, jadi buruh tani nggak musim."
"Nggak tahu, Ri. Tapi aku harus coba."
Dewi nangis. Nangis lagi. "Mas... aku capek... capek banget... kayak nggak ada habisnya..."
Aryo peluk Dewi. Satu tangan gendong Risma, satu tangan peluk istri. "Maaf, Ri... maafin aku..."
Mereka berpelukan. Bertiga. Risma di tengah. Nggak ada suara. Hanya isak tangis.
Pagi harinya, kabar sudah menyebar. Warga desa pada tahu. Rumah Aryo sudah dijual. Sekarang tinggal di kontrakan. Becak diambil bank. Utang di mana-mana.
Di pos kamling, malam itu, warga bergunjing.
"Kasihan ya si Aryo. Dulu penarik becak, sekarang jadi kuli."
"Itu anaknya kan sakit? Katanya gila."
"Bukan gila, tapi kena guna-guna. Soalnya lahirnya susah."
"Iya, ibunya dulu hampir mati lahiran. Pasti ada yang nggak beres."
"Jangan-jangan keluarga itu kena kutukan."
Bu Satinah duduk di situ. Ia dengar semua. Marah.
"HEH! KALIAN NGGAK TAHU APA-APA! JANGAN NGOMONG SEMBARANGAN!"
Warga pada diam. Tapi cuma sebentar.
"Bu Satinah, jangan belain. Itu anak emang aneh. Nggak normal. Masa umur setahun nggak bisa tengkurap?"
Bu Satinah geleng-geleng. Ia pergi dari pos kamling. Kesal.
Besoknya, ia datangi kontrakan Aryo.
"Pak, saya dengar becak diambil lagi."
Aryo mengangguk lesu. "Iya, Bu."
"Ini, Pak. Saya bawain makanan. Buat sehari-hari."
Aryo terharu. "Bu, saya... saya nggak tahu harus bilang apa..."
"Nggak usah bilang apa-apa. Saya tahu perjuangan Bapak."
Dewi keluar. Matanya sembab. "Bu Satinah... makasih banyak..."
Bu Satinah pegang tangan Dewi. "Bu, jangan menyerah. Saya tahu berat. Tapi jangan menyerah."
Dewi nangis. Nangis di pelukan Bu Satinah.
Tapi kabar buruk belum selesai.
Sore harinya, sekelompok warga datang ke kontrakan. Bawa air suci. Bawa kemenyan.
"Pak Aryo, kami mau bersihin kontrakan ini."
Aryo kaget. "Bersihin? Maksudnya?"
Seorang bapak-bapak maju. "Pak, warga sini resah. Anak Bapak itu... mungkin ada yang nggak beres. Kami takut menular."
Aryo marah. "MENULAR? Anak saya sakit! Bukan penyakit menular!"
"Tapi kelakuannya aneh, Pak. Nggak normal. Wong umur setahun nggak bisa apa-apa."
"ITU KARENA DIA SAKIT! CEREBRAL PALSY! BUKAN KUTUKAN!"
Warga pada mundur. Tapi ada yang berbisik, "Ngasih istilah tinggi biar keliatan pintar."
Aryo dengar. Tangannya mengepal. Ia mau maju, tapi Dewi pegang.
"Mas, jangan... jangan..."
Aryo tarik napas. "Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya minta. Jangan ganggu kami. Anak saya butuh ketenangan."
Warga itu diam. Lalu pergi. Tapi sebelum pergi, salah satu buang air suci di depan pintu.
"Biar ilang sialnya."
Aryo diam. Tangannya gemetar menahan marah.
Malam harinya, Risma gelisah. Mungkin karena suasana tadi. Ia nangis terus. Nggak mau tidur.
Aryo gendong, jalan keliling kontrakan. "Udah, Nak... udah... nggak usah takut..."
Risma tetap nangis.
Dewi bangun. "Mas, gantian. Kamu istirahat."
"Nggak papa, Ri. Aku aja."
Mereka bergantian jaga sampai subuh. Risma baru tenang waktu matahari terbit.
Aryo capek. Tapi ia nggak boleh tidur. Ia harus cari kerja.
Ia keliling kampung. Tawarkan diri jadi apa aja. Tapi banyak yang tutup pintu.
"Maaf, Pak. Nggak butuh."
"Udah ada orang."
"Lain kali aja, ya."
Aryo tahu. Mereka tahu kabar tentang dia. Mereka takut. Atau jijik.
Pulang, ia nggak bawa apa-apa. Kosong.
Dewi lihat wajahnya. "Mas, nggak dapat?"
Aryo geleng.
Dewi diam. Lalu berkata, "Mas, aku jualan gorengan lagi aja. Biar bantu."
"Tapi Risma?"
"Aku bawa. Taruh di depan."
"Kamu nggak kuat, Ri."
"Harus kuat, Mas."
Esoknya, Dewi jualan gorengan lagi. Risma di depan, di gendongan. Sambil jualan, Dewi goyang-goyang biar Risma nggak nangis.
"GORENGAN! GORENGAN!"
Orang-orang lihat. Ada yang beli. Ada yang cuma lihat. Tapi yang paling sakit, ada yang berbisik.
"Itu lho, yang anaknya aneh."
"Katanya kena guna-guna."
"Ibu-ibunya kasihan. Suaminya bangkrut."
Dewi dengar. Tangannya gemetar. Tapi ia pura-pura nggak dengar.
"GORENGAN! GORENGAN!"
Seorang ibu datang. Beli gorengan 5 ribu. Lalu berkata, "Bu, anaknya sakit ya?"
Dewi mengangguk. "Iya, Bu."
"Kasihan. Tapi jangan bawa anak ke sini. Nanti yang lain pada takut."
Dewi diam. Lalu ibu itu pergi.
Dewi nangis. Di lapak gorengannya. Sambil gendong Risma.
Pulang, Dewi cerita ke Aryo.
"Mas, orang-orang... mereka jahat..."
Aryo peluk istrinya. "Maaf, Ri... maafin aku..."
Bukan Aryo yang salah. Tapi ia minta maaf. Karena ia nggak bisa lindungi keluarganya dari dunia yang kejam.
Malam itu, mereka nggak tidur. Mereka duduk di kontrakan kecil. Risma tidur di dipan. Suara jangkrik dari luar. Dingin. Tapi dinginnya nggak seberapa dibanding hati mereka.
"Mas, kita pindah aja. Ke kota. Coba hidup baru."
Aryo mikir. "Ke kota? Dengan apa?"
"Nggak tahu. Tapi di sini, orang-orang nggak akan berubah. Mereka akan terus gunjing kita."
Aryo diam. Pindah ke kota. Tanpa uang. Tanpa kenalan. Dengan anak sakit.
Tapi Dewi benar. Di sini, mereka nggak punya masa depan.
"Besok aku cari info, Ri. Kalau ada yang butuh kuli di kota, kita coba."
Dewi mengangguk. "Iya, Mas."
Esoknya, Aryo ke terminal. Cari informasi. Di terminal, banyak sopir truk. Mereka butuh kenek.
"Pak, butuh kenek?"
Sopir itu lihat Aryo. Badannya kurus. "Kamu kuat? Angkat barang berat?"
"Kuat, Pak. Saya biasa narik becak."
Sopir itu mikir. "Gaji 500 ribu sebulan. Makan tanggung sendiri. Mau?"
Aryo mikir. 500 ribu. Di kota, kontrakan pasti lebih mahal. Tapi nggak ada pilihan.
"Mau, Pak. Kapan berangkat?"
"Lusa. Siap-siap."
Aryo pulang. Cerita ke Dewi.
"Ri, aku dapat kerja. Kenek truk. Gaji 500 ribu."
Dewi senang. Tapi cemas. "Lusa? Berapa lama?"
"Mungkin sebulan baru pulang."
Dewi diam. Sebulan nggak ketemu Aryo. Sendirian ngurus Risma di kontrakan. Tapi apa boleh buat.
"Mas, hati-hati ya."
Aryo peluk Dewi. "Iya, Ri. Jaga Risma baik-baik."
Dua hari kemudian, Aryo pamit. Pagi-pagi buta. Risma masih tidur.
Aryo cium kening Risma. "Nak, Bapak pergi cari uang. Jaga Ibu ya."
Risma nggak bergerak. Tapi tangannya meraih. Seperti tahu Bapaknya akan pergi.
Aryo genggam tangan itu. Erat. Lalu lepas.
Dewi antar sampai pintu. "Mas, bawa bekal ini."
Aryo terima bekal. Nasi bungkus dan gorengan.
"Makasih, Ri. Jaga diri."
"Mas... jangan lupa... kita nunggu."
Aryo mengangguk. Ia pergi. Langkahnya berat. Tapi ia harus kuat. Buat Risma. Buat Dewi.
Dewi lihat dari pintu sampai Aryo hilang di ujung jalan.
Ia masuk. Risma sudah bangun. Matanya terbuka. Menatap langit-langit.
"Risma, Nak... Bapak pergi dulu. Kita doain ya, semoga Bapak selamat."
Risma diam. Tapi matanya berkaca.
Dewi nangis. Nangis di kontrakan kecil itu. Sendirian. Dengan Risma.
Tapi ia harus kuat. Buat Risma. Buat Aryo. Buat keluarga mereka.
Minggu pertama, Aryo telepon. Suaranya capek.
"Ri, gimana Risma?"
"Baik, Mas. Minum obat rutin. Nggak kejang."
"Syukur. Aku di sini berat. Angkat barang terus. Tapi nggak apa-apa."
"Mas, jaga kesehatan."
"Iya, Ri. Kamu juga. Jangan lupa makan."
Mereka ngobrol sebentar. Lalu telepon ditutup. Pulsa mahal.
Minggu kedua, Aryo telepon lagi.
"Ri, gajian minggu depan. 500 ribu. Nanti aku kirim."
"Mas, hati-hati ya."
"Iya, Ri."
Minggu ketiga, Aryo nggak telepon. Dewi tunggu. Hari ke-24, nggak ada kabar. Hari ke-25, nggak ada.
Dewi panik. Ia coba telepon. Nggak aktif.
Ia cari informasi ke sopir lain. Sopir itu bilang, "Truknya kecelakaan di luar kota. Sopirnya selamat. Tapi keneknya... kabur. Nggak tahu ke mana."
Dewi jatuh lunglai.
Kabur? Aryo kabur? Meninggalkan dia dan Risma?
Tidak. Aryo nggak mungkin. Aryo sayang dia. Sayang Risma.
Tapi di mana Aryo? Kenapa nggak pulang? Kenapa nggak kabar?
Malam itu, Dewi nggak tidur. Ia duduk di kontrakan. Risma tidur. Air matanya terus jatuh.
"Mas... di mana kamu... tolong pulang..."
Dari kejauhan, suara jangkrik. Malam makin larut. Tapi Aryo tak kunjung pulang.
Dan Dewi mulai takut. Bukan takut sendiri. Tapi takut... Aryo nggak akan pernah pulang.
[BERSAMBUNG]