Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Ketiga
Arga mencengkram benda pipih itu dengan kuat. Rahangnya mengeras. Ia berjalan dengan pandangan kosong keluar dari kamar.
"Ayah!"
Andini yang sudah menghabiskan makanannya, tak sabar untuk pergi ke warung. Ia mencari Arga dan melihat pria itu keluar dari kamar.
Arga langsung tersadar dan menatap wajah putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Sudah habis nasi gorengnya?" tanya Arga, sambil menahan sesak di dada.
Andini mengangguk singkat. "Ayah, ayo ke warung. Nanti keburu tutup," pintanya sambil menggoyangkan lengan Arga.
Arga mengusap mata yang berair dengan ujung kaos lusuhnya. "Ya sudah, ayo pergi," ajaknya sambil memasukkan ponsel Nadira ke dalam saku celananya.
Mereka berdua pergi ke warung. Meskipun ragu, Arga mengutarakan niatnya untuk berhutang pada pemilik warung, dan berjanji akan membayar setelah ia gajian.
Beruntungnya, Arga selalu menempati janji itu, hingga sang pemilik warung percaya memberikannya hutang.
"Kamu senang?" tanya Arga sambil mengamati Andini yang memakan es kul-kul.
"Rasanya enak, Ayah. Ayah mau?" tawar gadis itu sambil menyodorkan es krimnya.
Arga menggeleng pelan. "Kamu habiskan saja. Ayah tidak suka makan makanan yang dingin, nanti gigi ayah ngilu," alibi Arga.
Andini mengangguk dan kembali menikmati es krimnya. Mereka kembali ke rumah. Gadis itu langsung mengambil gunting, penggaris dan pensil warna.
"Emangnya mau buat apa, Din?"
"Bu guru nyuruh buat gambar macam-macam buah, terus digunting dan ditempel di buku gambar, Yah."
"Ayah bantu Andini, ya. Soalnya Andini nggak bisa gambar banyak buah," kekeh Andini mulai tengkurap di atas kertas karton yang berukuran besar.
Arga, tanpa pikir panjang mengangguk. Meksipun Nadira sering menyakiti hatinya dengan meremehkannya, tapi melihat bagaimana Andini bahagia, itu sudah cukup menjadi obat untuknya.
Suara pintu terdengar dibanting, ayah dan anak itu serempak menoleh ke arah pintu. Sosok Nadira masuk dengan napas terengah, seperti baru berlari, dan berjalan dengan panik masuk ke kamar.
Arga terdiam dan kembali fokus menemani putrinya, meskipun dia tahu istrinya itu pasti pulang untuk mengambil ponselnya.
Benar saja. Nadira langsung mengubrak-abrik isi kamarnya. Melempar bantal ke lantai, melepas seprai, memeriksa di kolong ranjang, hingga mengeluarkan isi pakaian dari lemari.
"Di mana hpku?" Ia menatap kamarnya yang sudah seperti kapal pecah dengan cemas.
"Apa mungkin Mas Arga mengambilnya?" pikirnya.
"Bagaimana jika dia melihat pesan dari Mas Bima?"
Nadira mengingat lewat celah pintu ke ruang tengah. Ekspresi Arga yang biasa saja menepis dugaannya. "Apa jatuh di jalan, ya? Aku nggak ngerasa bawa hp tadi dari rumah. Tapi kenapa di sini juga nggak ada?"
Pintu tiba-tiba terbuka dan Arga masuk sambil menyerahkan ponsel milik Nadira. "Kamu cari ini, Nadira?" tanyanya, berusaha menekan rasa cemburunya.
Nadira, melihat ponsel miliknya langsung menyambar benda pipih itu. "Kamu kenapa nggak kasih tahu sejak tadi kalau hpku sama kamu, Mas? Aku kan nggak perlu ngacak-ngacak kamar. Tambah kerjaan aja!" dumel Nadira sambil mengecek layar ponselnya.
Melihat pesan dari Bima yang terpampang di layar, ia mendadak gugup dan melihat ke arah Arga yang nampak tenang, seolah tak mengetahui tentang pesan itu.
"Kenapa kamu nggak tanya dulu tadi," jawab Arga, lalu meninggalkan istrinya, demi menghindari keributan dan permintaan cerai Nadira lagi.
"Apa iya Mas Arga nggak lihat pesan ini? Nggak mungkin kan kalau dia lihat, terus dia nggak marah?" batin Nadira msnail memeluk ponsel itu.
"Bodo amat lah. Bagus juga kalau dia baca. Dia pasti akan langsung menceraikan aku," gumam Nadira sambil tersenyum miring.
Malam harinya, setelah Arga memastikan Andini tidur dengan lelap. Ia masuk ke dalam kamar yang masih berantakan. Sementara Nadira nampak asik mengobrol lewat ponsel di atas ranjang tanpa seprai.
Arga mengemasi pakaian yang berhamburan di lantai dan diletakan kembali di dalam lemari. Dengan jelas dia mendengar suara tawa Nadira, yang seolah sengaja dikeraskan supaya dia mendengar.
"Aku juga udah lama nggak ke kota. Terakhir waktu masih kecil bareng ibu dan bapak."
"Apalagi belanja ke mall. Suamiku itu jangankan ngajak belanja ke mall, ke warung aja ngutang."
"Suamiku itu pemalas. Dia nggak pernah mau berusaha mewujudkan keinginanku. Mentang-mentang aku nggak pernah minta apa-apa."
"Padahal, aku juga ingin sekali seperti istri orang lain. Tiap hari tukang paket datang nganterin pesanan, sementara aku, harus nunggu lebaran dulu, baru bisa beli baju, itu juga aku harus beli paling murah."
Arga terpaku di depan lemari. Semua kalimat itu benar-benar menjatuhkan harga dirinya sebagai lelaki. Namun, ia merasa tidak berhak marah, karena semua itu memang benar.
Arga perlahan bangkit. Dia berjalan menuju sisi ranjang di mana istrinya berbaring membelakanginya.
Nadira tersenyum puas, sebentar lagi suaminya akan marah dan itu akan menjadi kesempatan besarnya untuk menuntut cerai lagi. Namun, tanpa diduga, Arga justru merampas ponselnya membuat Nadira terkejut.
"Mas, kembalikan hpku!"
Arga menjauhkan ponsel itu, lalu menempelkannya ke telinga. "Apa kamu tahu jika wanita yang kamu ajak bicara itu masih memiliki suami?"
Suara tawa pria terdengar di seberang sana. Tawa yang terdengar meremehkan. "Aku hanya kasihan pada istrimu. Dia sangat tidak beruntung karena memiliki suami seperti kamu yang tidak bertanggungjawab."
Arga melirik istrinya yang justru tersenyum puas. Ia memejamkan mata sesaat, mengumpulkan segenap kekuatan yang dia punya. Dia tidak bisa terus menahan perempuan itu pergi, tidak bisa memaksanya untuk tetap tinggal. Dia tidak bisa memberikan kebahagiaan yang diminta Nadira.
Arga menghela napas panjang, sebelum berkata dengan suara yang bergetar, menahan amarah. "Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Bersambung...