Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Badai di Kantor Polisi
Beberapa menit sebelumnya.
Kombes Pol Hendra sedang menikmati kopi sorenya di kantor ketika HP pribadinya berdering. Melihat nama "Keponakan Siska" di layar, dia langsung mengangkatnya dengan senyum ramah. Dia tahu betul siapa Siska dan siapa ayah Siska.
"Halo, Siska? Tumben telepon Om?"
"Om Hendra, Siska butuh bantuan. Ada oknum di Polsek Kampung Rawa yang nahan penyelamat Ayah secara ilegal."
"Apa?!" Kombes Hendra nyaris tersedak kopinya. "Penyelamat Pak Wagub ditahan? Siapa yang berani?"
"Namanya Aiptu Somad. Tolong Om, ini urgent."
"Om meluncur sekarang!"
Kombes Hendra langsung menyambar topinya, berteriak pada ajudannya, "Siapkan mobil! Kita ke Polsek Kampung Rawa! Sekarang!"
Bawahannya kaget. Jarang-jarang Pak Kapolres turun gunung sendiri ke Polsek kecil. Pasti ada masalah besar.
---
Kembali ke ruang interogasi yang pengap.
Banyu duduk dengan satu tangan terborgol di kaki meja besi. Dia menunggu dengan sabar. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Aiptu Somad masuk, diikuti oleh Joni dan komplotannya yang baru pulang dari Puskesmas.
Mereka terlihat menyedihkan. Ada yang pakai penyangga leher, ada yang tangannya digips, dan Joni sendiri mulutnya diperban tebal karena giginya rontok.
Melihat Banyu yang tak berdaya, wajah menyedihkan mereka berubah jadi seringai jahat.
"Nah... ketemu juga kita, Juragan," desis Joni, suaranya mendem karena perban.
Banyu menatap mereka datar. "Pak Somad, Bapak bawa preman masuk ke ruang pemeriksaan? Ini melanggar prosedur lho. Gak takut dilaporin?"
"Diem lu!" bentak Somad. Dia menoleh ke Joni. "Jon, kasih pelajaran dikit. Tapi inget pesen gue: jangan tinggalin bekas di muka. Pukul perut atau paha aja. Gue mau ngerokok di luar."
"Siap, Om," jawab Joni penuh dendam.
Somad keluar, menutup pintu, dan membiarkan Banyu dikepung lima preman yang sedang haus darah.
Joni mengambil sebuah buku tebal (buku telepon Yellow Pages) dan tongkat pentungan karet dari laci meja.
"Lu tau gunanya buku ini?" tanya Joni sambil menyeringai. "Buat alas pukul. Biar organ dalem lu ancur tapi kulit lu mulus. Pinter kan gue?"
Banyu menghela napas. "Kreatif juga. Belajar dari film mafia mana?"
"Bacot!" Joni memberi kode. "Pegangin dia!"
Dua anak buah Joni maju, mencengkeram bahu Banyu kiri-kanan. Tangan Banyu masih terborgol di kaki meja, posisinya sangat tidak menguntungkan.
Joni mengangkat pentungan karet tinggi-tinggi, siap menghantam dada Banyu yang sudah dialasi buku tebal.
"Rasain ini, Bangsat!"
Tepat saat pentungan itu meluncur turun...
BRAKK!
Meja besi yang berat itu terangkat!
Bukan Joni yang memukul, tapi Banyu yang bergerak. Dengan kekuatan lengan yang tak masuk akal, Banyu menyentak tangannya yang terborgol, mengangkat kaki meja besi yang berat itu seolah cuma mengangkat kursi plastik.
Kaki meja itu menghantam lutut Joni.
"ADUH!!" Joni menjerit, pentungannya terlepas.
Banyu tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya, menggunakan meja besi itu sebagai perisai sekaligus senjata, mendorong dua orang yang memeganginya hingga terpental ke tembok.
Gubrak!
"Gila! Tenaganya monster!" teriak salah satu anak buah Joni ketakutan.
Meskipun terborgol di meja, Banyu bergerak lincah seperti belut. Dia melompat, menendang dada preman yang mencoba mendekat.
Buagh! Preman itu terbang dua meter, mendarat di atas tumpukan berkas.
Dalam hitungan detik, lima orang preman itu kembali babak belur. Mereka mengerang di lantai, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Banyu berdiri di tengah ruangan sambil menyeret meja besi dengan santai, napasnya bahkan tidak terengah.
Pintu terbuka kasar. Aiptu Somad masuk dengan rokok di mulut yang langsung jatuh saking kagetnya.
"Apa-apaan ini?!"
Melihat keponakannya terkapar lagi, Somad kalap. Dia mencabut tongkat polisinya sendiri.
"Bangsat! Lu nyerang polisi! Mati lu!" teriak Somad sambil menerjang maju.
Banyu waspada. Dia bisa saja menghajar Somad, tapi memukul polisi berseragam adalah tiket ekspres ke penjara seumur hidup. Dia harus bertahan tanpa menyerang.
Tepat saat tongkat Somad mau menghantam kepala Banyu...
BRAKK!!
Pintu ruang interogasi ditendang terbuka dari luar.
"BERHENTI!!"
Suara wanita yang menggelegar itu membekukan seisi ruangan.
Di ambang pintu berdiri Siska dengan wajah murka, di belakangnya ada Laras yang ketakutan, dan di belakang mereka... ada sosok tegap dengan seragam lengkap melati tiga di pundak.
Kombes Pol Hendra.
Mata Aiptu Somad melotot. Tongkat di tangannya gemetar. Lututnya lemas seketika.
"Ka... Ka... Kapolres...?"
Kombes Hendra melangkah masuk dengan aura membunuh. Dia menatap Somad, lalu menatap Banyu yang terborgol di meja, lalu menatap preman-preman yang bergelimpangan.
"Somad," suara Kombes Hendra rendah tapi menakutkan. "Bisa jelaskan kenapa ada sirkus di kantor polisi saya? Dan kenapa warga sipil diborgol di meja sementara preman-preman ini bebas?"
"Ba... ba... Pak... i-ini..." Somad gagap parah. Keringat dingin mengucur deras. "Saya... saya lagi melerai perkelahian, Ndan!"
"Melerai?" Kombes Hendra menunjuk tongkat di tangan Somad yang masih teracung. "Dengan cara mau mukul kepala orang yang udah diborgol?"
Tiba-tiba, Kapolsek setempat (AKP Junaedi) lari tergopoh-gopoh masuk ruangan, napasnya ngos-ngosan. Dia baru saja ditelepon ajudan Kapolres kalau "Bos Besar" datang.
"Lapor Ndan! Siap salah!" AKP Junaedi memberi hormat kaku.
Kombes Hendra menatap Kapolsek itu dingin. "Junaedi, anak buahmu ini kerjanya apa? Jadi beking preman?"
"Siap tidak Ndan! Somad ini bertindak sendiri tanpa sepengetahuan saya!" Junaedi langsung cuci tangan, menatap Somad dengan tatapan 'Mati lu'.
Kombes Hendra beralih ke Somad. "Buka borgolnya. Sekarang."
Dengan tangan gemetar hebat, Somad membuka borgol Banyu.
"Ma-maaf... maaf..." gumam Somad.
Siska langsung maju, memeriksa keadaan Banyu. "Kamu gapapa? Ada yang luka?"
Banyu mengusap pergelangan tangannya yang merah. "Aman, Mbak. Cuma lecet dikit. Untung Mbak dateng pas timing-nya pas. Kalau telat dikit, mungkin saya udah jadi tersangka pembunuhan... karena kelepasan mukul polisi."
Siska menghela napas lega. Laras di belakangnya tersenyum haru sambil memeluk tasnya erat-erat.
Somad, yang merasa sudah tamat riwayatnya, mencoba playing victim terakhir kali.
"Ndan! Tapi dia beneran salah! Dia ini tersangka penganiayaan berat! Dia mukulin keponakan saya dan temen-temennya! Liat tuh Joni giginya sampe abis! Mereka ini korban!"
Joni dan kawan-kawan mengangguk cepat, pasang muka melas. "Iya Pak... kami dipukulin..."
Kombes Hendra menatap Banyu. "Benar begitu?"
Banyu tersenyum tipis. Dia menoleh ke Laras. "Laras, tolong HP-nya."
Laras maju, menyerahkan HP Banyu. Banyu menekan tombol play dan mengeraskan volumenya.
Suara Joni terdengar jelas dan jernih di ruangan itu: ...Kita rampok lu sekarang! Serahin dompet lu atau gue patahin kaki lu!...
Hening.
Wajah Joni pucat pasi. Somad mematung. Skakmat.
Kombes Hendra menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya merah menahan marah.
"Rampok. Terang-terangan," geram Kombes Hendra. "Dan kamu, Somad, malah membela perampok dan menahan korbannya? Kamu polisi apa mafia?"
"A-ampun Ndan... saya gak tau..."
"Copot lencananya!" perintah Kombes Hendra pada AKP Junaedi. "Tahan Somad di sel isolasi. Proses pemecatan tidak hormat. Joni dan komplotannya, masukkan sel kriminal. Dan buka kasus pemerasan serta percobaan perampokan!"
"SIAP NDAN!" seru AKP Junaedi tegas.
Para petugas lain langsung bergerak cepat menyeret Somad dan Joni cs yang menangis meraung-raung.
"Ampun Ndan! Ampun Om!" Joni berteriak histeris saat diseret keluar.
Suasana kembali tenang. Kombes Hendra menghampiri Banyu, menjabat tangannya erat.
"Maafkan anak buah saya, Nak Banyu. Ini tamparan keras buat institusi kami. Terima kasih sudah membantu membersihkan sampah di sini."
"Sama-sama, Pak. Saya cuma warga negara yang taat hukum," jawab Banyu merendah.