NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tersisa Setelah Perjanjian Putus

Fariz memapah Sucipto keluar dari ruang bawah tanah makam Eyang Pandilarang.

Tangga naik terasa lebih berat dari tangga turun tadi. Setiap langkah membuat lutut gemetar. Napas terengah. Keringat membasahi pelipis meski udara dingin.

Di belakang mereka, puluhan warga yang sempat menjadi pembaca mantra ikut naik. Sekitar tiga puluh sampai empat puluh orang. Berpakaian hitam. Wajah pucat. Mata yang baru saja kembali normal masih terlihat bingung.

Obor tetap menyala di dinding. Tapi tidak ada lagi dupa. Tidak ada lagi bau kemenyan yang menyengat. Hanya bau tanah lembap dan sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang terasa salah.

Sampai di atas, di area makam yang terbuka, warga mulai berhenti.

Menatap sekeliling dengan bingung. Seperti baru bangun dari tidur panjang dan tidak tahu di mana mereka berada.

"Kenapa aku di sini?"

Salah satu warga berbisik. Suaranya gemetar.

"Aku ingat... aku sedang tidur di rumah. Lalu tiba-tiba..."

Ia tidak melanjutkan. Hanya menatap tangannya sendiri. Seperti mencari jawaban di sana.

"Aku juga. Aku ingat ada yang memanggil. Lalu semuanya gelap."

Warga lain bicara. Suaranya lebih keras. Panik mulai terdengar.

Riuh suara mulai terdengar. Saling bertanya. Saling meyakinkan. Tapi tidak ada yang punya jawaban.

Beberapa dari mereka merasa aneh saat keluar dari area makam. Tubuh gemetar tanpa sebab. Napas sesak seperti ada yang menekan dada. Kepala pusing. Mual.

Dan yang paling aneh: udara terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal ini bukan musim dingin. Tapi seperti ada es yang menyentuh kulit. Seperti ada sesuatu yang berubah di desa ini.

Sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa.

Fariz berdiri di depan pintu makam. Menatap altar di dalam yang sekarang kosong.

Cawan kosong. Pisau tergeletak. Tidak ada lagi cahaya putih. Tidak ada lagi gamelan. Tidak ada lagi Ratu Kalaputih.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Udara di sini terasa lebih berat dari sebelumnya. Seperti ada yang mengawasi. Seperti ada yang menunggu.

Ia menarik napas. Mencoba mengabaikan perasaan itu.

"Ayo, Pak. Kita pulang."

Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksud.

Sucipto mengangguk lemah. Tubuhnya bersandar penuh pada Fariz. Kakinya hampir tidak bisa berjalan sendiri.

Rahman datang dari samping. Membantu menopang Sucipto dari sisi lain.

Aisyah berjalan di belakang mereka. Diam. Tidak bicara. Hanya menatap tanah sambil berjalan.

Mereka berjalan menyusuri jalan desa.

Tidak ada anak buah Darma Wijaya yang berkeliaran seperti malam-malam sebelumnya. Jalanan kosong. Sepi.

Fariz mengerti kenapa.

Mereka semua ada di makam tadi. Sebagai pembaca mantra. Sebagai bagian dari ritual. Dan sekarang, dengan Ratu Kalaputih hilang, kekuatan yang mengikat mereka juga hilang.

Mereka tidak lagi punya ilmu. Tidak lagi punya kekuatan yang diberikan Ratu Kalaputih lewat Darma Wijaya.

Hanya manusia biasa yang lelah dan bingung.

Pintu rumah-rumah tertutup rapat. Cahaya lampu tampak dari celah-celah pintu dan jendela sirip. Tapi tidak ada orang di luar. Seperti semua orang sedang bersembunyi.

Atau menunggu.

Fariz merasakan tatapan dari balik jendela. Seperti ada yang mengintip. Tapi saat ia menoleh, tidak ada siapa-siapa.

Hanya tirai yang bergerak pelan.

Sampai di depan rumah, mereka berhenti.

Ratna berdiri di sana. Di depan pintu. Sudah menunggu sejak tadi.

Wajahnya pucat. Mata merah seperti habis menangis. Tangan dilipat di depan dada. Gemetar.

Saat melihat Sucipto, ia tidak bisa menahan lagi.

"Bapak!"

Ratna berlari. Memeluk Sucipto yang masih ditopang Fariz dan Rahman. Menangis keras. Seperti beban yang sudah lama ditahan akhirnya runtuh.

"Maafkan Bapak..."

Sucipto berbisik dengan suara yang serak. Lemah. Memeluk Ratna dengan sisa tenaga yang ada.

Ratna menggeleng. Tidak bisa bicara. Hanya terus menangis.

Fariz dan Rahman perlahan melepaskan topangan mereka. Membiarkan Sucipto berdiri sendiri dengan Ratna.

Sucipto melepas pelukan sebentar. Menatap Fariz dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu mengangguk pelan.

Terima kasih yang tidak terucap.

Tapi Fariz mengerti.

Aisyah berdiri di belakang mereka. Menunduk. Tangan meremas ujung baju.

"Aku... aku tidak tahu harus ke mana sekarang."

Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar.

Fariz menatapnya. Melihat wajah Aisyah yang bingung. Sedih. Takut.

Ia melangkah mendekat. Bicara dengan lembut.

"Kamu tinggal di sini dulu. Bersama Bapak dan Ibu."

Jeda sebentar.

"Besok kita temui ayahmu. Bersama."

Aisyah mengangkat kepala. Menatap Fariz dengan mata yang berkaca-kaca.

"Tapi... aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya."

"Tidak apa-apa. Kita pikirkan nanti. Sekarang kamu istirahat dulu."

Aisyah mengangguk pelan. Seperti beban sedikit terangkat.

Fariz dan Rahman masuk sebentar ke dalam rumah.

Membantu Sucipto berbaring di kasur. Menutup jendela-jendela yang terbuka. Mengunci pintu. Memastikan semuanya aman.

Ratna duduk di samping kasur. Memegang tangan Sucipto. Tidak mau lepas.

Aisyah duduk di pojok ruangan. Memeluk lutut. Menatap kosong.

Fariz berdiri di pintu kamar. Menunggu sampai napas Sucipto jadi teratur. Sampai ia tertidur.

Lalu berbisik pelan ke Rahman.

"Ayo. Kita ke pondok."

Rahman mengangguk.

Mereka keluar. Menutup pintu pelan. Berjalan ke pondok dalam diam.

Hanya suara langkah di tanah. Dan angin yang bertiup lebih dingin dari biasanya.

KEESOKAN PAGINYA

Fariz dan Rahman kembali ke rumah saat matahari baru terbit.

Langit masih berwarna jingga kemerahan. Udara masih dingin. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari pagi biasanya.

Tidak ada suara ayam berkokok. Tidak ada suara burung. Hanya sunyi.

Di rumah, Aisyah sudah bangun. Membantu Ratna memasak di dapur. Wajahnya masih pucat. Mata sembab. Tapi ia berusaha terlihat sibuk.

Ratna menatap Aisyah sesekali. Tidak tahu harus bicara apa. Di satu sisi, ia tidak ingin menyinggung. Di sisi lain, ia juga merasa canggung.

Tapi mereka berusaha. Untuk saling mengerti tanpa kata.

Fariz masuk ke kamar.

Sucipto masih terbaring di kasur. Tapi sudah bangun. Mata terbuka menatap langit-langit. Napas pelan. Teratur.

Tubuhnya sedikit demam. Dahi hangat saat disentuh. Sesekali batuk kecil karena kelelahan.

"Bapak istirahat. Biar aku yang menggantikan Bapak kerja di sawah."

Fariz duduk di samping kasur. Memegang tangan ayahnya.

Sucipto menatap Fariz cukup lama. Lalu perlahan merubah posisi. Duduk bersandar di kepala kasur.

"Nak... ada banyak hal yang kamu tidak tahu tentang desa ini."

Suaranya serak. Tapi jelas.

Fariz terdiam. Mendengarkan.

"Apa yang kamu lihat selama ini hanyalah kamuflase."

Sucipto menarik napas. Seperti kata-kata ini berat untuk diucapkan.

"Bapak tahu apa yang kamu rasakan waktu di ladang jagung. Tanah yang subur. Panen yang melimpah. Air yang tidak pernah kering."

Ia menepuk tangan Fariz pelan.

"Semua itu hanyalah bagian dari ritual perjanjian. Selama kita terikat dengan Kerajaan Kalaputih, desa ini terlihat subur. Padahal kenyataannya..."

Sucipto menatap jendela. Ke luar. Ke sawah yang terlihat dari sini.

"Selama belasan tahun, kami selalu kekurangan. Kesulitan untuk memanen hasil bumi. Tapi kami tidak bisa bilang. Karena takut."

Dari luar, Aisyah mendengarkan sambil menata piring di meja. Tangannya berhenti bergerak. Mendengar dengan seksama.

Ratna berdiri di samping kompor. Juga mendengar. Menatap api yang menyala dengan tatapan kosong.

"Pak Kades awalnya hanya ingin membuat desa ini lebih baik."

Sucipto melanjutkan. Suaranya lebih pelan sekarang.

"Tapi sejak dulu..."

Ia melirik ke arah pintu. Memastikan Aisyah tidak mendengar langsung. Tapi ia tahu Aisyah pasti mendengar dari luar.

"Leluhur Pandilarang sudah mengikat diri mereka dengan sesuatu yang tidak pernah terungkap. Sampai Pak Kades membangkitkan Ratu Kalaputih dua puluh tahun lalu."

Ia menatap Fariz dengan mata yang serius.

"Dan sebenarnya... ini baru permulaan."

Fariz mengerutkan dahi. "Apa maksud Bapak?"

Sucipto tidak langsung menjawab. Hanya menatap Fariz cukup lama. Seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

Lalu ia bicara pelan.

"Buka laci lemari. Di sana ada peti kecil. Tolong bawa kemari."

Fariz berdiri. Membuka laci lemari yang ada di pojok kamar.

Meraba di dalam. Mengeluarkan beberapa lembar surat-surat tua. Lalu di bawah tumpukan, ia menemukan sesuatu.

Peti kecil berwarna hijau tua. Kayu yang sudah usang. Dengan kunci kecil yang masih terpasang.

Fariz membawanya ke kasur. Menyerahkan kepada Sucipto.

"Buka."

Sucipto mendorong peti kembali ke Fariz.

Fariz membuka kunci. Membuka tutup peti.

Di dalamnya, beberapa lembar kertas lusuh. Dilipat rapi. Dengan tulisan tangan yang ia kenal.

Tulisan Kyai Salman.

Jantung Fariz berdetak lebih keras.

Ia mengambil kertas pertama. Membuka lipatan dengan hati-hati. Kertas rapuh. Seperti bisa robek kapan saja.

Lalu membaca.

"Sucipto,

Anakmu adalah penerus dari keturunan suci. Darah yang mengalir di tubuhnya membawa warisan para ulama yang telah lama berlalu.

Tapi darah ini juga membawa bahaya.

Di desa ini, ada yang terkubur sejak lama. Lebih tua dari Ratu Kalaputih. Lebih gelap. Lebih kuat.

Namanya: Dewi Rengganis.

Ia butuh dua syarat untuk bangkit sepenuhnya: darah ulama suci, dan darah keturunan ulama suci.

Ratu Kalaputih yang dipanggil Darma Wijaya hanyalah yang terkecil di Kerajaan Kalaputih. Ia tahu tentang Dewi Rengganis. Dan ia ingin mengambil darah anakmu — entah untuk membangkitkannya, atau untuk mencegahnya bangkit sepenuhnya, aku tidak tahu pasti.

Tapi yang aku tahu: jika darah anakmu jatuh ke tangan yang salah, pintu akan terbuka.

Bawa dia kepadaku. Aku akan ajarkan cara melindungi dirinya. Cara menggunakan warisan yang ia bawa.

Jangan tunda. Waktu tidak banyak.

Salman."

Fariz membaca surat itu dua kali.

Tiga kali.

Tangannya gemetar memegang kertas.

Dewi Rengganis.

Nama yang tidak pernah ia dengar. Nama yang tidak pernah disebutkan Ratu Kalaputih. Nama yang tidak ada di lembaran mana pun yang pernah ia baca.

"Lebih tua. Lebih gelap. Lebih kuat."

Dadanya sesak.

Ia ingat saat Ratu Kalaputih berbisik di telinga waktu itu: "Bahkan dia pun tidak akan bisa mengalahkan kita."

Dia.

Bukan Kyai Salman.

Tapi Dewi Rengganis.

Ratu Kalaputih takut pada sesuatu yang lebih kuat dari dirinya sendiri.

Dan darahnya — darah Fariz — adalah kunci untuk membangkitkannya.

Darah yang sudah diambil dua puluh tahun lalu. Darah yang kemarin diminum Ratu Kalaputih di ritual.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!