Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Rahasia Yang Terbongkar dan Pilihan Yang Harus Dibuat
Naga Putih Tianwu mengangkat kepalanya ke arah langit gua yang tinggi, dan cahaya kebiruan menyala di matanya. Seolah dengan kehendaknya sendiri, gambar-gambar mulai muncul di dinding gua—gambar yang menceritakan sejarah yang telah tersembunyi selama berabad-abad.
“Seribu dua ratus tahun yang lalu,” mulai suara Tianwu dengan nada yang penuh dengan kenangan, “dunia manusia dan dunia naga hidup berdampingan dalam kedamaian. Kedua ras bekerja sama untuk menjaga keseimbangan alam semesta dan melindungi Tanah Seribu Pegunungan dari bahaya.”
Gambar di dinding menunjukkan manusia dan naga yang bekerja bersama—membangun desa, mengatasi bencana alam, dan hidup dalam harmoni. Di tengah gambar itu, seorang pria dan seorang wanita berdiri bersama dengan Naga Tianwu muda.
“Itu adalah Chen Guang dan Hei Lian—nenek moyangmu, Feng,” jelas Tianwu sambil menunjuk ke gambar itu. “Mereka adalah pasangan yang sangat dicintai dan menjadi jembatan antara manusia dan naga. Chen Guang adalah pemburu naga terkuat zamannya, sedangkan Hei Lian adalah penyihir yang memiliki kekuatan luar biasa.”
Namun kemudian gambar berubah menjadi lebih gelap. Wajah Hei Lian mulai menunjukkan ekspresi yang penuh dengan kesedihan dan kemarahan. “Hei Lian lahir dengan kekuatan yang luar biasa, tapi juga dengan beban yang berat,” lanjut Tianwu. “Kekuatannya tumbuh terlalu cepat dan mulai mengganggu keseimbangan dirinya. Dia mulai berpikir bahwa manusia dan naga harus tidak lagi hidup berdampingan—bahwa salah satu ras harus menguasai yang lain untuk menjaga ketertiban.”
Gambar menunjukkan Hei Lian yang mulai mengumpulkan pengikutnya, membentuk sebuah kelompok yang kemudian dikenal sebagai Sekte Ular Hitam. Mereka mulai menyerang desa-desa kecil dan mencoba mengambil kekuatan naga dengan paksa.
“Chen Guang mencoba membujuknya kembali ke jalan yang benar,” ujar Tianwu dengan suara yang penuh kesedihan. “Mereka adalah pasangan yang dicintai, dan dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa dia. Tapi Hei Lian telah terlalu jauh dalam kegelapan dan menolak untuk mendengarkan nasihatnya.”
Pertempuran besar antara pasukan Chen Guang dan Sekte Ular Hitam muncul di dinding gua. Api dan kilat menyala di seluruh medan perang, dan banyak nyawa hilang dari kedua belah pihak. Akhirnya, Chen Guang terpaksa menghadapi Hei Lian dalam pertempuran satu lawan satu yang akan menentukan nasib kedua ras.
“Untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran yang akan ditimbulkannya, Chen Guang terpaksa mengalahkan Hei Lian,” jelas Tianwu. “Namun dia tidak bisa membunuhnya—cinta yang mereka miliki masih terlalu dalam. Alih-alih itu, dia menyegel kekuatannya dan mengirimkannya ke dunia lain, berharap suatu hari dia bisa menemukan jalan kembali ke kebaikan.”
Gambar terakhir menunjukkan Chen Guang yang membuat perjanjian dengan para pemimpin naga untuk membuat Pedang Naga—sebuah senjata yang dibuat dari tulang punggung naga tertua dan diberi kekuatan oleh cinta dan pengorbanan. “Pedang itu dibuat bukan hanya untuk membunuh,” ujar Tianwu sambil melihat Feng dengan mata yang penuh makna. “Ia dibuat untuk melindungi, untuk membawa kedamaian, dan untuk menyatukan apa yang telah terpisah.”
Feng berdiri dengan terkejut, matanya penuh dengan kesadaran yang menyakitkan. “Hei Yu… apakah dia keturunan Hei Lian?”
“Ya,” jawab Tianwu dengan mengangguk perlahan. “Keluarga Hei telah menyimpan dendam selama berabad-abad, percaya bahwa keluarga Chen telah menyalahkan mereka dan mengambil hak mereka atas kekuasaan. Hei Yu adalah keturunan terdekat Hei Lian, dan dia percaya bahwa mengambil Pedang Naga adalah cara untuk membalas dendam dan menyelesaikan misi leluhurnya.”
Linglong mendekati Feng dan mengambil tangannya dengan lembut. “Jadi semua ini bukan hanya tentang balas dendammu, tapi juga tentang menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama berabad-abad,” katanya dengan suara yang lembut namun jelas.
Feng merenung sejenak, kemudian menatap ke arah kotak batu yang berisi Pedang Naga. Cahaya keemasan dari dalam kotak itu semakin terang, seolah merespon pemahaman baru yang dia dapatkan. “Aku sekarang mengerti mengapa ayah dan ibuku selalu mengatakan bahwa balas dendam hanya akan membawa lebih banyak penderitaan,” bisiknya dengan suara penuh emosi. “Mereka tahu tentang sejarah ini dan tidak ingin aku terjebak dalam siklus yang sama.”
“Kamu masih bisa mengambil Pedang Naga,” ujar Tianwu. “Kekuatannya ada di sana untukmu jika kamu membutuhkannya. Tapi ingat—pedang itu akan merespon niatmu yang paling dalam. Jika kamu menggunakannya untuk membunuh atau membalas dendam, ia akan menjadi senjata kehancuran. Tapi jika kamu menggunakannya untuk melindungi dan membawa perdamaian, ia akan menjadi senjata harapan.”
Dengan tekad yang baru, Feng melangkah ke arah panggung batu. Dia merentangkan tangannya ke arah kotak batu, dan secara perlahan tutup kotak itu terbuka dengan sendirinya. Cahaya keemasan yang luar biasa kuat memenuhi seluruh ruangan, membuat semua orang terpaksa menutup mata sebentar.
Ketika cahaya mulai mereda, mereka melihat sebuah pedang besar dengan gagang berbentuk kepala naga dan bilah yang mengkilap seperti kristal. Di permukaan bilah, pola sisik naga bergerak seperti hidup, dan energi keemasan mengalir di dalamnya seperti aliran sungai.
Feng meraih gagang pedangnya dengan hati-hati. Saat tangannya menyentuh logam yang dingin namun hangat, dia merasakan kekuatan besar mengalir ke dalam dirinya—not kekuatan yang kasar atau destruktif, tapi kekuatan yang penuh dengan kebijaksanaan dan cinta. Bayangan Chen Guang dan Hei Lian muncul di benaknya, bersama dengan suara mereka yang berbisik pesan perdamaian.
“Pedang ini sekarang adalah milikmu, Chen Feng,” ujar Tianwu dengan suara yang penuh dengan penghormatan. “Namun ingatlah selalu—kekuatan sebenarnya tidak datang dari senjata yang kamu pegang, tapi dari hati yang kamu miliki.”
Saat Feng memegang Pedang Naga dengan erat, suara gemuruh kuat terdengar dari arah luar gua. Tanah mulai bergoyang, dan suara teriakan serta jeritan bisa terdengar dari kejauhan. Ye Chen segera berlari ke arah lorong masuk.
“Kita harus pergi sekarang!” teriaknya dengan suara yang penuh kekhawatiran. “Sekte Ular Hitam telah menyerang Kota Yunlong, dan dari getarannya yang kuat, mereka telah membangkitkan sesuatu yang sangat berbahaya!”
Feng melihat ke arah Pedang Naga yang masih berada di tangannya, kemudian melihat ke arah Linglong dan Ye Chen dengan wajah yang penuh tekad. Dia sudah memahami bahwa perjuangan yang akan datang bukan hanya tentang balas dendam atau kekuasaan—ini tentang menyelesaikan konflik lama dan membawa kedamaian yang sebenarnya bagi semua orang.
“Mari kita pergi,” katanya dengan suara yang jelas dan kuat. “Waktunya untuk mengakhiri siklus dendam ini dan membangun masa depan yang lebih baik bagi Tanah Seribu Pegunungan.”
Dengan Pedang Naga yang menyala cahaya keemasan di tangannya, Feng memimpin Linglong dan Ye Chen keluar dari gua. Matahari sudah mulai terbenam di balik pegunungan, menciptakan warna merah dan jingga yang dramatis di langit. Di kejauhan, asap hitam bisa dilihat naik dari arah Kota Yunlong, dan suara guntur yang tidak biasa bergemuruh di udara.
Mereka tahu bahwa pertempuran terbesar masih menunggu mereka di depan—pertempuran yang tidak hanya akan menentukan nasib mereka sendiri, tapi juga nasib seluruh dunia manusia dan naga yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad. Namun kali ini, Feng tidak lagi pergi dengan hati yang penuh kemarahan atau hasrat balas dendam. Dia pergi dengan hati yang penuh dengan harapan, cinta, dan tekad untuk membawa perdamaian yang sesungguhnya.