Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERATAKAN GEDUNG PENEGAK HUKUM SESUAI JANJI
Feng menghentikan langkahnya tepat di depan jeruji besi sel paling ujung. Bau anyir darah dan hawa dingin yang menusuk tulang keluar dari tubuh pria tua yang dirantai itu. Alih-alih gemetar ketakutan, Feng justru memiringkan kepalanya dan menatap pria itu dengan pandangan menyelidik.
"Kunci?" Feng menggaruk dagunya yang tidak gatal. "Maaf, Kek. Kakek salah orang. Saya ini bukan kunci, saya ini cuma murid luar yang kebetulan sedang mencari cara bayar utang panci. Kalau Kakek cari tukang kunci, mungkin bisa hubungi divisi sarpras di atas."
Pria tua itu tertawa, suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan. "Anak muda... kau tidak sadar apa yang kau bawa di bahumu? Naga itu... dia bukan sekadar peliharaan. Dia adalah penghancur tatanan. Dan kau... kau memiliki tubuh yang menolak hukum langit."
"Wah, pujiannya tinggi sekali," sahut Feng santai. Dia melirik ke arah Buntel yang kini sedang mengendus-endus jeruji besi sel yang terbuat dari Baja Hitam—logam paling keras yang ada di sekte ini. "Tapi sekarang, tatanan yang paling mendesak untuk dihancurkan adalah gedung di atas kepala kita ini. Buntel, bagaimana? Baunya enak?"
"Kyuk! Kyuk!" Buntel mengeluarkan air liur perak yang langsung mendesis saat menyentuh lantai penjara. Matanya yang keperakan berkilat penuh nafsu makan.
"Bagus. Makan yang banyak, Buntel. Mumpung gratis dan bukan kuali orang lain," perintah Feng.
Tepat saat itu, langkah kaki berat terdengar dari lorong penjara. Kapten Rano muncul bersama empat penjaga sipir, masing-masing membawa cambuk listrik yang dialiri Qi tingkat tinggi.
"Masih sempat bercanda di depan Iblis Teratai Hitam, hah?!" bentak Rano sambil mengacungkan cambuknya ke arah Feng. "Feng, Ketua Balai memberimu waktu satu jam untuk bicara. Jika tidak, Kakek tua di depanmu ini akan punya teman baru di dalam selnya!"
Feng menoleh ke arah Rano dengan senyum yang sangat menyebalkan. "Mas Rano, saya ini orangnya tepati janji. Tadi di luar saya bilang apa? Jangan masukkan saya ke sini kalau tidak mau gedung ini rata dengan tanah. Tapi Mas dan Ketua Balai bandel sekali sih."
"Tutup mulutmu! Masuk ke sel sekarang!" Rano mencoba mencambuk Feng.
Namun, sebelum cambuk itu menyentuh kulit Feng, Buntel sudah melompat lebih dulu. Bukannya menyerang Rano, naga buncit itu justru menerkam gerbang jeruji besi utama penjara.
KRAAAAK! NYUUT!
Rano dan para penjaga mematung. Mata mereka nyaris keluar dari kelopaknya melihat Buntel mengunyah Baja Hitam yang setebal paha manusia seolah-olah itu adalah kerupuk kaleng. Hanya dalam tiga kali kunyah, gerbang setinggi tiga meter itu bolong separuh.
SISTEM MENGELUARKAN NOTIFIKASI EVOLUSI: PENYERAPAN LOGAM SPIRITUAL TINGKAT TINGGI TERDETEKSI. TINGKAT EVOLUSI TAHAP DUA: LIMA PULUH PERSEN... TUJUH PULUH PERSEN... PROSES PENYERAPAN MEMICU INSTABILITAS STRUKTUR BANGUNAN.
"Buntel! Jangan cuma gerbangnya! Itu dindingnya juga mengandung campuran emas spiritual, lho!" seru Feng memberi instruksi layaknya pelatih sirkus profesional.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! HENTIKAN MAKHLUK ITU!" teriak Rano panik. Dia mencoba menyerang Buntel, namun Feng bergerak lebih cepat.
Feng menghalangi jalan Rano. Tanpa Qi, hanya dengan kecepatan gerak kaki yang membuat udara bergetar, Feng sudah berada di depan wajah Rano.
"Mas Rano, jangan ganggu Buntel makan siang," ucap Feng datar.
Feng mendaratkan pukulan telapak tangan terbuka ke dada Rano.
PLAK!
Bukan suara daging bertemu daging, tapi suara ledakan tekanan udara. Zirah baja yang dipakai Rano mendadak cekung ke dalam, dan pria itu terpelanting menabrak dinding penjara hingga pingsan seketika dengan mulut berbuih.
"Tiga penjaga lainnya, mau ikut tidur juga atau mau lari lapor ke Ketua Balai?" tanya Feng sambil merenggangkan jarinya.
Ketiga penjaga itu menjatuhkan senjata mereka dan lari terbirit-birit sambil berteriak minta tolong. Sementara itu, Buntel semakin menggila. Naga itu kini sudah sebesar harimau dewasa, sisiknya memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Dia mulai merayap ke langit-langit penjara, menggigit pilar-pilar penyangga utama gedung Balai Penegak Hukum.
KREEEK... BRAAAKK!
Suara retakan raksasa mulai menjalar dari bawah tanah hingga ke permukaan. Seluruh gedung Balai Penegak Hukum yang megah itu mulai miring.
"Hahaha! Bagus! Hancurkan semuanya!" pria tua di dalam sel tertawa histeris. "Bebaskan aku, Anak Muda! Dan aku akan memberimu kekuatan untuk mengguncang kerajaan ini!"
Feng berjalan ke arah sel pria tua itu, menatap rantai yang menembus belikatnya. "Kek, saya tidak butuh kekuatan tambahan. Umur saya saja sudah pendek gara-gara peliharaan saya ini rakus. Tapi kalau Kakek mau keluar, silakan saja. Buntel, ganjalan di pundak Kakek ini kelihatannya logam langka, ya?"
Buntel menoleh, matanya berkilat. Dia meluncur turun dan dengan satu gigitan presisi, rantai segel purba yang menahan pria tua itu putus seketika.
"Kyuk!" Buntel menelan rantai itu dalam sekali telan dan langsung bersendawa api perak.
Gedung di atas mereka kembali bergetar hebat. Debu-debu jatuh dari langit-langit yang mulai runtuh. Di luar, suara teriakan ribuan murid dan kepanikan para eksekutor terdengar membahana.
SISTEM: PERINGATAN! INTEGRITAS STRUKTUR BANGUNAN DI BAWAH SEPULUH PERSEN. EVOLUSI BUNTEL TAHAP DUA SELESAI.
BIAYA KALORI TUAN: TIGA JAM WAKTU HIDUP TERPOTONG KARENA GAYA GRAVITASI RUNTUHAN.
"Ayo keluar, Buntel! Kita lihat wajah Ketua Balai saat melihat kantornya jadi puing!" seru Feng.
Feng melompat menaiki puing-puing tangga yang hancur, diikuti oleh naga peraknya yang kini terlihat sangat gagah. Pria tua misterius itu menghilang ke dalam kabut hitam, meninggalkan tawa yang menggema.
Saat Feng menendang pintu keluar dan melompat ke halaman luar, seluruh gedung raksasa Balai Penegak Hukum runtuh total di belakangnya. Awan debu raksasa membubung tinggi ke langit, menutupi sinar matahari sore.
Di tengah halaman, Ketua Balai Penegak Hukum berdiri dengan wajah yang tidak bisa lagi digambarkan dengan kata 'marah'. Tubuhnya bergetar hebat, aura Daulat Pedangnya meledak hingga membuat murid-murid di radius seratus meter terpental.
"FENG!!!" raung Ketua Balai, suaranya menggelegar menghancurkan sisa-sisa jendela yang masih utuh di sekitar situ. "KAU... KAU BENAR-BENAR MERUNTUHKAN BALAI PENEGAK HUKUM KAMI?!"
Feng berdiri di atas gundukan puing bangunan, menepuk-nepuk debu dari pundaknya. Buntel berdiri di sampingnya, mengeluarkan geraman rendah yang membuat pedang-pedang di sekitar lapangan bergetar ketakutan.
"Tadi saya sudah kasih peringatan dini, Pak Ketua. Tapi Bapak malah suruh saya masuk," jawab Feng sambil menunjuk ke arah reruntuhan bangunan di belakangnya. "Sesuai janji saya, gedung ini sudah rata. Sekarang, mumpung Bapak belum makin emosi, bagaimana kalau kita bicarakan soal utang saya? Melihat bangunan ini runtuh, sepertinya Bapak yang sekarang berutang pada saya karena sudah merusak mental peliharaan saya."
Ketua Balai tidak menjawab. Dia mengangkat pedang kegelapannya tinggi-tinggi. Langit di atas sekte mendadak menjadi gelap gulita, petir berwarna ungu mulai menyambar-nyambar di ujung pedangnya.
"Hari ini, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu! Bahkan jika seluruh leluhur turun dari langit, kau akan mati!"
Namun, sebelum Ketua Balai menyerang, sebuah cahaya keemasan meluncur dari arah puncak utama Sekte Pedang Langit. Seorang wanita cantik berjubah sutra putih dengan aura yang sangat suci mendarat di antara Feng dan Ketua Balai.
"Cukup, Ketua Balai!" ucap wanita itu dengan suara lembut namun mengandung kekuatan yang membuat aura pedang Ketua Balai meredup.
"Tetua Agung Yue?!" Ketua Balai tersentak, menurunkan pedangnya sedikit. "Kenapa Anda menghalangi saya menghukum penjahat ini?"
Wanita itu tidak menjawab Ketua Balai. Dia justru berbalik menghadap Feng, menatap Buntel dengan tatapan yang sangat dalam, lalu beralih menatap Feng dengan senyuman misterius.
"Feng, murid dari Asrama Luar," ucap Tetua Agung Yue. "Patriark telah mengeluarkan titah baru. Kau tidak akan dihukum atas runtuhnya gedung ini. Sebagai gantinya... kau dan nagamu diundang untuk mengikuti Turnamen Sekte Jalur Orang Dalam yang akan dimulai besok pagi."
Feng memicingkan mata. "Turnamen? Hadiahnya apa? Kalau cuma medali plastik, saya tidak tertarik."
"Hadiah utamanya adalah akses makan gratis seumur hidup di Kantin VIP Puncak Utama," bisik Tetua Agung Yue dengan nada menggoda.
Mata Feng langsung berbinar seribu watt. "Makan gratis seumur hidup?! Sistem! Daftarkan nama saya sekarang juga!"
Namun, di balik senyum Tetua Agung Yue, Feng melihat ada kilatan kecemasan. Wanita itu melirik ke arah reruntuhan Balai Penegak Hukum, di mana kabut hitam dari Paviliun Teratai Hitam tadi mulai merayap mendekat secara diam-diam.
"Tapi ingat, Feng," bisik wanita itu lagi, suaranya hanya bisa didengar oleh Feng. "Jika kau kalah di babak pertama... kepalamu dan nagamu akan dijadikan hiasan di gerbang sekte yang baru."
Feng menelan ludah, menatap Buntel yang baru saja bersendawa logam. "Waduh... sepertinya turnamen ini tidak semudah lomba makan kerupuk."