NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Tamat
Popularitas:560k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Partner kriminal

Suasana syahdu di dalam ruangan rahasia itu seketika pecah saat suara ketukan pantofel yang tegas bergema di lantai kayu perpustakaan luar. Suara itu sangat familiar, langkah kaki Nyonya Besar yang selalu penuh wibawa dan tuntutan.

​"Ares? Kamu di dalam?" Suara Nyonya Besar terdengar memanggil, dibarengi dengan derit pintu perpustakaan yang terbuka.

​Gia tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan cokelat di tangannya. Ia otomatis menegakkan duduknya dan hendak berdiri dengan wajah pucat pasi.

"Mas... Mama Mertua di luar. Gimana ini?" bisiknya panik.

​Ares tetap tenang, meskipun sorot matanya menunjukkan sedikit kekesalan karena momen manisnya terganggu. Ia menaruh jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Gia tetap diam.

​"Sst, tenang saja. Dia nggak tahu ada ruangan ini di balik rak" Bisik Ares tepat di telinga Gia.

​Mereka berdua terdiam dalam kegelapan yang remang-remang, mendengarkan suara Nyonya Besar yang berjalan mondar-mandir di luar.

​"Ares? Sekretarismu bilang kamu belum berangkat ke kantor. Mobilmu juga masih ada" Gumam Nyonya Besar dengan nada menyelidik.

"Dan ke mana perginya gadis itu? Jam segini seharusnya dia sudah mulai membaca sejarah keluarga!"

​Gia meremas ujung kemeja Ares, jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia takut suaranya bisa menembus dinding kayu. Ares yang menyadari ketakutan istrinya, justru merangkul bahu Gia lebih erat, seolah ingin menyerap semua rasa cemas itu.

​"Jangan takut. Mas di sini!" bisik Ares sangat pelan, nyaris tak terdengar.

​Di luar, suara Nyonya Besar terdengar mendekati area rak buku rahasia itu.

"Aneh sekali. Biasanya dia ada di sini kalau sedang ingin sendiri!"

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, suara langkah kaki itu akhirnya menjauh dan pintu perpustakaan ditutup kembali dengan dentuman pelan.

​Gia menghela napas panjang, bahunya merosot lega.

"Hampir saja... saya takut sekali kalau Mama mertua sampai tahu kita bersembunyi di sini"

​Ares melepaskan rangkulannya, lalu menatap Gia sambil terkekeh pelan.

"Lihat deh, wajah kamu sampai pucat begitu. Mas kan sudah bilang, ini markas rahasia Mas. Nggak akan ada yang bisa masuk tanpa izin Mas"

"Tapi Mas, kalau Ibu Mertua tahu Mas bolos kerja cuma buat makan cokelat di balik rak buku sama saya, Mama mertua pasti bakal makin marah sama saya!"

​Ares menarik hidung Gia yang mancung namun kecil itu dengan gemas.

"Biarkan saja. Sesekali Mas juga butuh bolos, Gia. Apalagi kalau temannya kamu"

​Ares kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Gia.

"Ayo, sepertinya Mama sudah pergi ke ruang senam. Kita harus keluar sebelum Mama balik lagi ke sini buat cari buku!"

​Gia menerima uluran tangan itu. Namun, sebelum mereka melangkah keluar, Ares menahan tangan Gia sejenak. Ia menatap wajah istrinya dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya.

​"Gia," panggilnya serius.

​"Iya, Mas?"

​"Terima kasih ya, sudah mau jadi partner kriminal Mas pagi ini!" ucap Ares sambil tersenyum tulus, lalu mengecup punggung tangan Gia dengan lembut sebelum mereka keluar dari ruangan rahasia itu.

🌹🌹🌹

Suasana di ruang makan siang itu terasa jauh lebih formal dibandingkan kehangatan di kamar tadi. Meja panjang berbahan kayu jati mahal itu telah ditata rapi oleh para pelayan. Nyonya Besar sudah duduk di ujung meja, menatap lurus ke arah pintu masuk dengan sorot mata yang seolah bisa menembus dinding.

​Begitu Ares dan Gia melangkah masuk, keheningan menyambut mereka. Ares masih menggenggam tangan Gia, namun segera melepaskannya dengan halus begitu mereka mendekati kursi masing-masing.

​"Akhirnya kalian muncul juga!" Suara Nyonya Besar terdengar datar namun tajam.

"Ares, Mama cari kamu di perpustakaan tadi pagi. Kenapa sekretarismu bilang kamu tidak ke kantor, tapi kamu tidak menjawab saat Mama panggil?"

​Ares menarik kursi untuk Gia, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri duduk di sampingnya.

"Aku sedang ingin tenang saja, Ma. Tadi Aku sedang memeriksa beberapa koleksi buku lama, mungkin Ares terlalu fokus sampai tidak dengar suara Mama"

​Nyonya Besar mengalihkan pandangannya pada Gia yang sedang berusaha memegang sendok dengan benar.

"Dan kamu, Gia? Apa kamu juga mendadak jadi kutu buku sampai lupa jadwal latihanmu hari ini?"

​Gia menelan ludah, ia melirik Ares sekilas untuk mencari keberanian.

"Maaf, Mama Mertua. Tadi saya... saya menemani Mas Ares"

​"Menemani?" Nyonya Besar tersenyum sinis sambil mengaduk supnya.

"Gia, ingat posisimu. Menjadi istri Ares bukan berarti kamu bisa bersantai dan menariknya menjauh dari tanggung jawabnya. Keluarga Ardiansyah tidak dibangun dengan kemalasan!"

​Ares meletakkan serbetnya di atas meja, gerakan tangannya tenang namun aura di sekitarnya mulai berubah dingin.

"Ma, Gia tidak menarik Ares ke mana-mana. Ares yang minta dia menemani. Lagipula, ini rumah Ares, dan Ares rasa tidak ada salahnya menghabiskan waktu dengan istri sendiri"

​"Istri yang bahkan tidak bisa membedakan jenis sendok sup dengan benar?" sindir Nyonya Besar tanpa ampun.

"Mama perhatikan tadi pagi kalian menghilang berjam-jam. Mama harap kamu tidak sedang mengajarkan hal-hal yang tidak berguna pada gadis ini"

​Gia menunduk, ia merasa butiran nasi di piringnya mendadak terasa hambar. Tiba-tiba, Ares mengulurkan tangannya di bawah meja, meremas lembut jemari Gia yang sedang gemetar di atas pangkuannya.

​"Gia sudah belajar banyak hal yang menurut Ares jauh lebih berguna daripada sekadar tahu jenis sendok, Ma" Ucap Ares tegas.

"Dia belajar bagaimana caranya membuat Ares merasa betah di rumah ini. Dan bagi Ares, itu kualitas yang jauh lebih penting untuk seorang Nyonya Ardiansyah!"

​Nyonya Besar tertegun melihat pembelaan putranya. Suasana menjadi hening seketika. Ares kemudian menoleh ke arah Gia, suaranya berubah drastis menjadi sangat lembut dan hanya bisa didengar oleh Gia.

​"Gia, supnya dimakan. Jangan didengarkan kalau Mas lagi debat sama Mama, ya? Habis ini Mas ada rencana lain buat kita!"

​Mendengar kata "Mas" yang dibisikkan khusus untuknya, jantung Gia berdegup kencang. Itu adalah kode kecil bahwa di balik sikap formal Ares di depan ibunya, pria itu tetaplah sosok hangat yang mendekapnya di kamar tadi.

​Baru saja ketegangan di meja makan mereda, seorang pelayan masuk dengan terburu-buru.

"Mohon maaf Nyonya Besar, Tuan Ares... ada tamu di depan. Nyonya Sarah, Ibunda dari Nona Gia, ingin bertemu"

​Gia seketika membeku. Sendok di tangannya hampir terjatuh. Mamanya yang selama ini memperlakukannya seperti pembantu di rumah, kini datang ke mansion ini.

​Nyonya Besar mengangkat alisnya, tampak tertarik.

"Oh, Sarah? Suruh dia masuk. Sudah lama aku tidak mengobrol dengannya"

​Ares melirik ke arah Gia yang wajahnya mulai memucat. Ia mempererat genggaman tangannya di bawah meja.

"Tenang," Bisik Ares pelan.

"Mas tidak akan biarkan dia macam-macam di sini!"

​Sarah masuk ke ruang makan dengan gaya yang berlebihan, tas bermerek mentereng bertengger di lengannya. Namun, matanya langsung tertuju pada Gia dengan tatapan yang penuh kebencian sekaligus keserakahan.

​"Duh, Nyonya Besar, maaf saya mengganggu makan siangnya," Ucap Sarah dengan nada manis yang dibuat-buat, lalu menoleh pada Gia.

"Gia, sayang... kenapa tidak balas pesan Mama? Mama kan mau tanya, apa kamu sudah terbiasa dengan fasilitas mewah di sini? Jangan sampai kamu lupa daratan ya, ingat siapa yang memberimu makan selama ini!"

1
Violet
Disuruh minta apapun, hal yg Gia hrus lakukan adl meneruskan pendidikan kalo perlu extra panggil guru les bahasa asing, les coding, bljar sdkit bela diri atau kursus apapun biar ga di bodoh2in oleh org2 culas & siap memantaskan diri sbg pendamping suaminya!
Praised26
Pertama kuliah kok langsung suruh gambar? bukannya awal kuliah belajar Mata Kuliah Dasar Umum dulu satu semester dan baru di semester 3 dst baru belajar sesuai jurusannya, itu kalau kuliah di negeri Konoha ya tak tahu kalau kuliah di paman USA mungkin langsung suruh gambar
Praised26: bahkan sebelum menggambar juga akan diajarkan beberapa teori pendukung nya dan baru ke praktek nya, masa iya langsung praktek tanpa belajar teori dulu
total 2 replies
Qaisaa Nazarudin
Tadi aja baru berminggu-minggu, Sekarang udah berbulan aja, Masih belum dapat menemukan jejak Gia..good Job Gia..
Qaisaa Nazarudin
Keliatan kan disini dengan Ares gak bisa menemukan Gia,Itu berarti Ares gak punya kuasa yg tinggi, Pasti ada seseorang yang melindungi kepergian Gia,Dan orang itu lebih berkuasa dari Ares..
Qaisaa Nazarudin
Bagus Gia tdk datang kesini,Mungkin dia tau kalo dia kesini,Ares dengan mudah menemukannya..👏👏👍👍
Qaisaa Nazarudin
Hilman Hilman..Selama ini kau bertahan juga karena HARTA Sarah, Sudah Bangkrut baru mau bersikap TEGAS..Dasar PENGECUT dan LICIK, Sekarang dia milih anaknya yg KAYA MENANTU KELUARGA ARDIANSYAH,Walau harus menurunkan harga dirinya didepan keluarga Ardiansyah, Yang bisa nyicipin harta Ares lewat Anak yg tdk dia Anggap..benaran LICIK Hilman gak punya urat malu, Dan Gia dgn senang hati MEMAAFKAN..ckkk
Qaisaa Nazarudin
Aelah harta alanyay,Udah bangkrut juga,Gak sadar kah..
Qaisaa Nazarudin: Harta apanya,Udah bangkrut juga
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Potong aja burung mu pake rok leboh COCOK buat kamu Hilman..
Qaisaa Nazarudin
Kata2 yang TIDAK BISA BERBUAT APA-APA bikin aku muak..
Qaisaa Nazarudin
Hah hiduplah kamu dengan PENYESALAN Ares..
Qaisaa Nazarudin
Mantap mampos kau Ares..
Qaisaa Nazarudin
Tapi cara kamu itu SALAH,Gia punya Trauma dengan masa lalunya sebagai anak haram anak yg tdk diinginkan, Sekarang kamu juga seakan tidak menginginkan nya lagi, makanya dia kabur,ngapain juga bertahan dengan orang yang sudah tidak PERCAYA kita lagi..
Qaisaa Nazarudin
Ngapain mikirin Gia,Urus aja Ego dan Cemburu mu itu..
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
Qaisaa Nazarudin
Kenapa baru nyadar sekarang,Udaj terlambat, Katanya CEO tp BODOH percaya gitu aja dgn orang yg tdk dikenal,udah jelas2 itu ulah nya Siska..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Dia mendapat kan secara Instant, sekarang biarkan dia berjuang untuk mendapatkan kamu Gia,Bukannya gak terimakasih dengan pengorbanan Mertua dan Ares selama ini, Tapi kamu juga punya harga diri..
Qaisaa Nazarudin
Aku dukung kamu, pergi aja Gia,biar dia NYESEL..sama2 berpikir ulang utk hubungan KALIAN..
Qaisaa Nazarudin
udah tuir juga,Tapi Lebay..
Qaisaa Nazarudin
Keterlaluan,Mana bisa kayak gitu Aneh, CINTA sudah berubah jadi OBSESI..
Qaisaa Nazarudin
Orang BUCIN kalau CEMBURU menyeramkan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!