"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : SEMEN BASAH DAN AIR MATA DI PELITA 4
Di tengah badai yang sering melanda perasaan kami, sebuah rencana besar muncul dari benak Bapak. Ia memutuskan untuk merenovasi rumah yang kami tempati. Rumah yang telah menjadi saksi bisu segala suka dan duka itu akan dirombak. Bapak mulai sibuk menyiapkan berbagai dokumen persyaratan untuk mengajukan pinjaman ke Bank Sumut.
Keberuntungan tampaknya berpihak pada rencana ini. Pinjaman sebesar 20 juta rupiah disetujui. Di masa itu, angka 20 juta adalah jumlah yang sangat besar; harga semen, pasir, dan kayu belum melambung tinggi seperti sekarang. Uang itu terasa seperti gunung emas yang siap mengubah wajah rumah kami yang kusam.
Bapak mulai sering terlihat di meja makan, bukan untuk menghitung kartu, melainkan untuk menggambar denah. Ia merancang setiap sudut ruangan, membayangkan dinding yang lebih kokoh dan atap yang tidak lagi bocor saat hujan deras mengguyur Medan.
Suatu siang, Bapak memanggilku. "Cari kawan Bapak di kedai kopi depan sana. Bilang sama dia, datang ke rumah. Ada urusan penting," perintahnya.
Aku segera meluncur menuju kedai kopi yang dimaksud. Di sana, di antara kepulan asap rokok dan aroma kopi yang kuat, aku menemukan teman Bapak. Ia adalah seorang tukang bangunan bertangan dingin yang sudah lama Bapak kenal. Dengan sopan, kusampaikan pesan Bapak.
"Oalah, si Bapakmu mau bangun rumah? Oke, nanti aku ke sana," jawabnya sambil menghabiskan sisa kopinya.
Sore harinya, teman Bapak datang ke rumah. Mereka duduk bersila di ruang tamu, dengan secarik kertas berisi denah kasar di tengah-tengah mereka. Suasana sore itu terasa sangat serius namun penuh harapan. Aku dan Nugrah sesekali mengintip dari balik pintu, mendengarkan mereka berdiskusi tentang biaya tukang, durasi pengerjaan, hingga material yang harus dibeli.
"Pokoknya buatkan yang paling bagus untuk anak-anak ini," kudengar Bapak berujar.
Kesepakatan pun tercapai. Jabat tangan antara Bapak dan temannya hari itu seolah menjadi tanda dimulainya sebuah proyek perubahan. Di hati kecilku, aku sangat senang. Aku membayangkan rumah yang lebih luas, di mana mungkin tidak akan ada lagi suara kaca pecah atau pintu yang harus kutahan dengan bahuku.
Namun, di sudut hati yang lain, aku tetap waspada. Aku tahu betul bagaimana tabiat Bapak dengan uang. Aku hanya bisa berdoa agar 20 juta itu benar-benar menjadi semen dan batu bata, bukan menguap kembali ke meja judi. Harapan dan kekhawatiran itu beradu, persis seperti bau semen basah yang sebentar lagi akan memenuhi halaman rumah kami.
Rumah impian itu akhirnya berdiri, meski tidak sempurna. Dana 20 juta itu rupanya belum cukup untuk menutup semua biaya. Kami harus meminjam uang kepada tetangga baru kami. Untungnya, ikatan marga menyatukan kami; istrinya adalah boru dari marga kami, sehingga hubungan bertetangga menjadi sangat kompak dan penuh pengertian.
Meski bagian samping dan depan rumah belum sempat dicat karena anggaran yang habis, kami menikmatinya. Di bawah atap baru itu, ada rasa bangga yang menyelinap. Namun, ketenangan itu tak berumur panjang. Kabar duka datang dari Pelita 4: Opung Boru (ibu dari Bapak) meninggal dunia.
Kami menggelar upacara adat Saur Matua, sebuah kehormatan bagi orang Batak yang meninggal saat semua anaknya sudah menikah dan memiliki cucu. Karangan bunga berjajar, menunjukkan betapa dihormatinya Opung di lingkungannya. Usai pemakaman, sebuah keputusan besar diambil dalam diskusi keluarga: kami diminta menempati rumah peninggalan Opung di Pelita 4. Bapak menyetujuinya.
Kami pindah dengan membawa barang seadanya, karena rumah Opung sudah penuh dengan kenangan dan perabotan lama. Namun, kepindahan ini bertepatan dengan kondisi kesehatan Bapak yang mulai merosot tajam. Bapak sering keluar-masuk rumah sakit.
Saat aku sudah duduk di bangku SMA, penyakit Bapak semakin parah. Diagnosis dokter simpang siur; sekali waktu dibilang jantung, di waktu lain dibilang saraf terjepit. Bou (saudara perempuan Bapak) dan Amangboru mengajak Bapak berobat ke Jambi. Dengan kursi roda dan tubuh yang lemas, aku memberangkatkan Bapak dan Mama di bandara. Hatiku hancur melihat Bapak yang biasanya keras, kini begitu rapuh.
"Bapak baik-baik di sana ya, Pak," bisikku dalam hati saat pesawat itu lepas landas.
Di Medan, kami tinggal berempat: aku, kakak, dan kedua adikku. Kami menjalani rutinitas sekolah dengan mandiri, mengandalkan sisa gaji Bapak yang sedikit untuk biaya hidup. Setiap hari, kami menelepon Mama. Mama selalu berkata, "Bapak sudah mendingan, doakan saja."
Namun, kenyataan di Jambi ternyata jauh berbeda. Medis dan pengobatan alternatif sudah diupayakan, hingga akhirnya pihak di sana menyerah. Bapak harus pulang. Bukan dengan pesawat, melainkan melalui jalur darat menggunakan mobil Amangboru yang dikemudikan sopir sewaan.
Hari yang kami tunggu tiba, tapi itu bukan reuni yang membahagiakan. Saat pintu mobil dibuka, tangisku pecah seketika. Aku melihat sosok yang berbeda. Bapak yang berangkat dalam keadaan berisi, kini pulang dalam keadaan kurus kering—hanya kulit membungkus tulang.
Aku mengangkat kasur tempat Bapak berbaring dengan air mata yang tak terbendung. Di detik itu, semua kemarahan masa lalu karena judi atau barang-barang yang terjual, hilang tak berbekas. Yang tersisa hanyalah rasa sayang yang luar biasa pada Bapak.
Malam itu, Bapak yang seolah tahu waktunya sudah dekat, meminta dipanggilkan pendeta. Keadaannya semakin drop. Kami melarikannya ke rumah sakit. Sempat ada harapan saat Bapak mau memakan sedikit roti, namun takdir berkata lain.
Dini hari itu, suasana rumah sakit terasa sangat sunyi. Seorang perawat laki-laki membangunkan kami dengan lembut. "Sabar ya... tabah," ucapnya pelan.
Kami berdiri di samping ranjang Bapak, menyaksikan nafasnya yang tersengal satu-satu, lambat, hingga akhirnya berhenti sama sekali. Dunia seolah berhenti berputar. Bapak telah pergi.
Suara sirine ambulans yang membawa jenazah Bapak ke rumah Pelita 4 menjadi musik pengantar duka. Acara adat kecil dari STM (Serikat Tolong Menolong), gereja, dan keluarga besar digelar dengan sederhana namun khidmat. Bapak dimakamkan tidak jauh dari rumah, meninggalkan kami dengan sejuta kenangan—manis dan pahit—yang membentuk siapa kami hari ini.
Kepergian Bapak meninggalkan lubang besar di hati kami, namun hidup harus terus berjalan. Di rumah peninggalan Opung di Pelita 4, kami menjalani hari-hari dengan disiplin yang lebih ketat. Pagi buta kami sudah bersiap, mengayuh semangat menuju sekolah masing-masing. Tekadku semakin bulat: kemiskinan dan duka tidak boleh menghentikan langkah kami.
Saat Kakak lulus SMA, kekhawatiran tentang biaya kuliah sempat membayangi. Namun, janji Tuhan datang melalui tangan manusia. Tulang tertua kami—sosok yang dulu dibantu Bapak melalui surat saktinya hingga bisa bekerja di BUMN Jakarta—datang membawa kabar haru. Beliau menyatakan akan menanggung seluruh biaya pendidikan kami.
Aku tersentuh menyadarinya. Tulang tidak pernah lupa. Kebaikan Bapak bertahun-tahun lalu, saat Bapak menggunakan relasinya untuk mengubah nasib Tulang, kini kembali kepada kami dalam bentuk kesempatan bersekolah. Kakak akhirnya melanjutkan kuliah D3 di AMIK MBP dengan tenang.
Beberapa tahun berlalu, tiba giliranku menanggalkan seragam putih abu-abu. Aku tidak ingin kuliah di tempat sembarangan; aku mengincar Universitas Negeri. Dengan persiapan matang dan doa Mama yang tak putus, aku mengikuti seleksi masuk Politeknik Negeri Medan (Polmed).
Keajaiban itu terjadi lagi. Aku dinyatakan lulus di Jurusan Akuntansi, Program Studi Perbankan dan Keuangan. Hatiku membuncah bangga. Saat itu, prodi tersebut adalah prodi unggulan dengan akreditasi A. Menjadi mahasiswa di sana adalah impian banyak orang, dan kini aku berdiri di sana sebagai salah satu bagian dari mereka. Aku membayangkan jika Bapak masih ada, beliau pasti akan membusungkan dada melihat anaknya menjadi mahasiswa di kampus bergengsi itu.
Meski sudah menjadi mahasiswa, keterbatasan ekonomi masih terasa. Aku belum memiliki motor untuk berangkat ke kampus yang letaknya di area Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut. Namun, keluarga besar kami di Pelita 4 sangat luar biasa.
Saudara sepupuku, anak dari Bapatua yang tinggal dekat rumah, ternyata juga lulus di Polmed. Ia diterima di Jurusan Teknik Mesin. Karena aku saat itu sama sekali tidak tahu cara mengendarai motor, setiap pagi ia menjadi "sopir" ku.
"Ayo, cepat naik! Nanti kita telat masuk gerbang!" teriaknya setiap pagi dari atas motornya.
Aku membonceng di belakangnya, membelah kemacetan kota Medan dengan tas punggung berisi buku-buku akuntansi yang berat. Di atas motor itu, aku sering termenung. Aku melihat jalanan yang dulu kulalui saat mengadu ayam tanpa alas kaki, dan kini aku melaluinya sebagai seorang mahasiswa dengan masa depan yang mulai terlihat terang.
Kehidupan mungkin pernah merenggut banyak hal dari kami—uang, ketenangan, bahkan sosok Bapak. Namun, kehidupan tidak bisa merenggut solidaritas keluarga dan semangat kami untuk bangkit. Di koridor kampus Polmed, aku memulai langkah pertamaku untuk menuntaskan janji yang kubuat di masa kecil: membawa Mama ke hari-hari yang jauh lebih baik.