Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlatih di Kediaman Tetua Bei
Hari berganti keesokan harinya. Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kediaman Gao Rui, menciptakan garis-garis terang di lantai kayu yang dingin. Gao Rui telah bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyesuaikan jubahnya dengan rapi, memastikan gerakannya bebas, namun tetap terlihat sopan.
Ia melangkah keluar dari kediamannya. Jalan setapak di depan rumah masih sepi, namun beberapa orang sudah mulai keluar dari rumah mereka, sekadar untuk melihat pemandangan pagi. Tatapan mereka tertuju pada sosok Gao Rui. Orang-orang di sekitarnya, para murid, beberapa tetua, dan bahkan warga biasa yang menyukai rumor sekte, perlahan berhenti melakukan aktivitas mereka. Mata mereka mengikuti setiap langkahnya. Ada rasa penasaran, ada juga kilatan iri yang samar.
Gao Rui tidak peduli. Ia menurunkan kepalanya sedikit, namun tetap menjaga punggungnya tegak. Langkahnya mantap, tanpa ragu, menuju kediaman Tetua Peng Bei. Jalanan di antara pepohonan yang rimbun dan batu-batu besar terasa hening. Suara langkah kakinya seolah menegaskan tekad yang dimilikinya.
Beberapa orang yang melihatnya mulai berbisik. Suara mereka nyaris tak terdengar bagi Gao Rui, tapi cukup keras untuk satu sama lain.
“Kenapa Gao Rui pergi ke kediaman Tetua Peng Bei pagi-pagi begini?”
“Lihatlah, ia nampaknya semakin dekat dengan Patriak, Tetua Agung, dan sekarang dengan Tetua Ketiga. Bukankah itu… terlalu cepat?”
“Iri rasanya. Sekarang ia menarik perhatian orang-orang besar di sekte ini.”
Percakapan berbisik itu tersebar di antara para murid yang menatap Gao Rui dari kejauhan. Beberapa tampak kagum, beberapa menahan rasa iri, sementara beberapa lainnya hanya mengerutkan dahi, merasa ketidakadilan halus mengintai di antara garis-garis kekuasaan sekte. Namun Gao Rui tetap berjalan, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Setiap bisik, setiap tatapan iri, hanyalah suara latar yang tak lagi memengaruhi langkahnya.
Sepanjang perjalanan, ia membiarkan pikirannya kembali ke percakapan kemarin dengan Tetua Peng Bei. Semua kata-kata tetua itu, tentang titipan kehendak gurunya, tentang pengawasan, tentang jalur yang sudah dirancang bergema di kepalanya. Ia mulai menyadari bahwa apa yang dilihat orang lain sebagai keberuntungan atau kebetulan, sebenarnya hanyalah sebuah langkah yang sudah tertata rapi, sebuah rencana yang bahkan dirinya sendiri mungkin baru akan memahami sepenuhnya setelah melewati seluruh jalannya.
“Jadi ini memang jalan yang sudah dirancang,” gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh gemerisik dedaunan di atasnya. “Setiap pertemuan… setiap orang… semuanya ada tempat dan peranannya sendiri.”
Pikirannya terus menganalisis. Kedekatannya dengan Tetua Agung, perhatian Patriak, kini latihan di bawah pengawasan Peng Bei… semuanya bukan kebetulan. Gurunya, Boqin Changing, telah menyiapkan semua ini untuknya, langkah demi langkah tanpa disadari siapa pun. Bahkan kepergian gurunya, yang di awal membuat hatinya terasa hampa, kini mulai terlihat sebagai dorongan tersembunyi. Sebuah cara halus untuk memastikan Gao Rui melangkah ke jalur yang benar tanpa terlalu banyak gangguan.
Ia menarik napas dalam, menenangkan hati dan pikirannya. Setiap langkahnya kini tidak hanya bergerak ke arah kediaman Peng Bei, tapi juga ke arah masa depan yang gurunya lukiskan dengan cermat. Tidak ada ruang untuk keraguan, hanya ketelitian dan tekad yang harus dijalani dengan konsisten.
Beberapa saat kemudian, ia sampai di halaman depan kediaman Peng Bei. Pintu kayu besar itu berdiri dengan anggun, menandai batas antara dunia luar dan wilayah seorang tetua. Gao Rui berhenti sejenak, menatap pintu itu dengan penuh hormat. Ia merasakan kehadiran seorang senior yang kekuatannya tak bisa dipandang remeh, namun aura tenang dan kebijaksanaan mengiringi langkahnya.
Gao Rui menurunkan tangan dari sisi tubuhnya, menangkupkan kembali dengan sopan. Tanpa ragu, ia mengetuk pintu dengan ketukan sederhana, namun mantap. Detik-detik menunggu terasa seperti menit. Dari balik pintu, suara langkah ringan terdengar, kemudian pintu terbuka perlahan. Peng Bei muncul, senyumnya tenang, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Gao Rui.
“Selamat pagi,” kata Peng Bei, suaranya ringan namun jelas. “Kau tepat waktu.”
Gao Rui membungkuk sedikit, menangkupkan tangan.
“Murid menghormati Tetua, dan berterima kasih atas kesempatannya.”
Peng Bei mengangguk, lalu melangkah ke sisi halaman, memberi isyarat agar Gao Rui mengikuti.
“Mari kita mulai. Hari ini akan menjadi pemanasan awal, tapi percayalah… setiap latihan kecil bisa menjadi batu loncatan yang menentukan.”
Gao Rui mengangguk sekali lagi. Dengan tekad yang semakin mengeras, ia melangkah ke halaman itu, menyadari bahwa setiap langkahnya hari ini bukan sekadar latihan, melainkan bagian dari rencana gurunya. Rencana yang bahkan ia sendiri baru mulai mengerti sedikit demi sedikit.
Hari itu, di bawah sinar matahari pagi yang hangat namun tegas, langkah Gao Rui ke halaman Peng Bei menjadi awal dari sebuah babak baru awal dari perjalanan yang penuh rahasia, pengawasan, dan rencana yang lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.
Halaman kediaman Tetua Peng Bei ternyata cukup luas, jauh lebih dari yang Gao Rui bayangkan. Rumput hijau terbentang rapi, di beberapa sudut ada pohon-pohon kecil yang dijaga dengan baik, dan di tengah halaman sebuah batu besar menonjol, seolah menjadi pusat dari seluruh tempat itu. Sekte jelas memberikan fasilitas yang pantas bagi Tetua Bei. Tidak hanya kemegahan, tetapi juga ketenangan yang membuat siapa pun merasa nyaman berada di sini.
Gao Rui berdiri di atas rumput, merasakan dinginnya embun pagi menempel di ujung jubahnya, napasnya perlahan menyesuaikan diri dengan udara segar. Di hadapannya, Tetua Peng Bei duduk santai di atas batu besar itu, tangan diletakkan di pangkuan, wajahnya tetap tersenyum hangat namun mata tajamnya mengamati setiap gerakan Gao Rui.
“Kau bebas berlatih di tempat ini,” kata Tetua Peng Bei, suaranya ringan namun terdengar jelas di antara kicau burung dan desau angin. “Jangan terlalu sungkan.” Senyum di wajahnya menenangkan, seolah memberi izin penuh tanpa batasan.
Gao Rui menutup matanya sebentar, mengingat ucapan gurunya, Boqin Changing, saat hari pertama ia mulai diawasi oleh Peng Bei.
“Saat Tetua Bei mulai mengawasi latihanmu, tunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya,” kata Boqin Changing waktu itu.
“Apakah tidak apa-apa, Guru?” tanya Gao Rui ragu, ingatan itu masih terasa hangat di dadanya.
“Tidak masalah. Tunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya,” balas Boqin Changing dengan suara tenang tapi tegas, seolah menanamkan keberanian dan kepercayaan diri.
Gao Rui mengangguk dalam diam. Ia tidak lagi bertanya alasannya. Semua kata-kata gurunya menjadi pedoman yang mengalir di dalam dirinya, menyalakan api tekad.
Di halaman Tetua Peng Bei, Gao Rui perlahan mengeluarkan tombak dari cincin ruangnya. Logamnya berkilau lembut di bawah sinar matahari pagi, menciptakan bayangan panjang di atas rumput. Tetua Peng Bei mengangkat alisnya, menatap dengan penasaran.
Gao Rui memegang tombaknya dengan mantap, posisi tubuhnya seimbang sempurna. Ia mulai menggerakkan tombak itu dengan gerakan-gerakan halus tapi tegas, lalu bertahap menampilkan jurus-jurus tombak yang telah ia pelajari dan kembangkan sendiri. Setiap ayunan, setiap tusukan, bahkan setiap putaran tombak membawa energi yang berbeda, seolah tombak itu hidup dalam tangannya.
Awalnya, Tetua Peng Bei menatap biasa saja. Ia sudah melihat kemampuan Gao Rui sebagai bocah jenius dalam beladiri. Ia bahkan lebih berbakat darinya.
Namun, semakin lama, gerakan Gao Rui semakin memukau. Tombaknya bukan hanya bergerak cepat, tetapi juga mengandung ritme yang harmonis, kekuatan yang tertata, dan teknik yang hampir sempurna.
Matanya mulai melebar. Ia menelan ludah kecil, mencoba menahan reaksi spontan.
“I-Ini tidak mungkin…” gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk dirinya sendiri.