Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Suasana dapur utama kediaman Giovano yang biasanya steril dan sunyi, malam ini sedikit berantakan. Kevin berdiri di depan meja konter marmer dengan celemek putih yang melilit pinggangnya. Di depannya, terdapat beberapa butir stroberi merah segar, nasi sushi yang masih hangat, dan lembaran rumput laut. Ia tampak sangat serius, seolah-olah sedang mengerjakan praktikum laboratorium kimia paling kritis dalam hidupnya.
"Stroberi... nasi... keju krim. Bagaimana cara menyatukan benda-benda ini?" gumam Kevin sambil mencoba mengiris stroberi tipis-tipis.
Di saat yang sama, Maria sedang menjalani tugas malam pertamanya untuk memastikan area dapur bersih dari sisa makanan. Saat ia melangkah masuk, ia tertegun melihat sosok pria dari belakang yang sangat ia kenali. Punggung tegap itu, gaya rambut itu...
"Kevin?" panggil Maria setengah berbisik, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kevin menoleh, matanya membelalak kaget. "Maria? Apa yang kau lakukan di sini?"
Maria langsung menghampiri Kevin dengan langkah riang, sama sekali melupakan instruksi Neena untuk tidak bersuara. "Astaga, aku tidak menyangka kita benar-benar bertemu! Jadi, kau juga bekerja di sini? Pantas saja kau terlihat sangat sukses di desa kemarin. Ternyata kau bekerja di mansion sebesar ini!"
Kevin hendak menjawab, namun Maria terus berceloteh dengan antusias. Gadis itu menatap sekeliling dapur yang luasnya bahkan lebih besar dari rumahnya di desa.
"Luar biasa, Kev... mansion ini benar-benar gila. Aku bahkan takut menyentuh kerannya, takut-takut berlapis emas," Maria terkekeh pelan, lalu menatap celemek Kevin. "Kau bekerja di bagian apa? Koki? Wah, kau pasti mengambil kerja lembur untuk biaya kuliahmu, ya? Semangat, Kev! Kita sama-sama pejuang dari desa yang mengadu nasib di rumah konglomerat ini."
Maria bahkan dengan santainya menepuk bahu Kevin, menunjukkan solidaritas sesama "pelayan" yang ia asumsikan sendiri. "Tapi hati-hati, kata Kepala Pelayan tadi, pemilik rumah ini—si Nyonya Besar itu—sangat menyeramkan. Katanya dia bisa memecat orang hanya karena suara langkah kaki. Kita harus tetap di bawah radar, oke? Jangan sampai kita menyulut emosinya."
Kevin menelan ludah. Ia ingin menjelaskan, namun situasi terasa begitu aneh dan cepat. "Maria, sebenarnya aku—"
"Ssttt! Jangan keras-keras, nanti ada yang dengar," potong Maria sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.
Tepat saat itu, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar dari arah koridor. Neena, sang kepala pelayan, muncul dengan senter kecil di tangannya. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan yang dianggapnya sebagai sebuah skandal besar.
"Maria! Apa yang kau lakukan?!" suara Neena menggelegar meski tetap terjaga volumenya.
Maria tersentak dan langsung berdiri tegak. "M-Maaf, Nyonya Neena. Saya hanya sedang menyapa teman lama saya yang juga bekerja di sini..."
"Teman lama?" Neena menatap Maria dengan pandangan ngeri, seolah-olah gadis itu baru saja mengakui bahwa dia berteman dengan hantu. "Kau... kau berbicara tidak sopan dan menyentuh Tuan seolah-olah dia adalah pelayan setara denganmu?"
Wajah Maria memucat. "Tuan...? Kevin?"
Di saat ketegangan di dapur memuncak, sebuah suara dingin yang sangat familiar turun dari arah tangga melingkar di atas sana.
"Ada apa dengan keributan ini?"
Mereka semua mendongak serentak. Di balkon tangga, Ashley berdiri dengan anggun mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih yang dilapisi robe panjang. Rambutnya terurai, dan wajahnya tampak pucat namun matanya bersinar tajam, menyorot langsung ke arah Maria yang masih berdiri sangat dekat di samping suaminya.
Ashley meletakkan tangannya di pagar balkon, menatap pemandangan di bawahnya dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat. Ia melihat seorang pelayan baru—wanita muda yang tampak akrab dengan Kevin—dan ia mendengar kata "teman lama".
"Neena," panggil Ashley, suaranya pelan namun mengandung ancaman yang nyata. "Jelaskan padaku kenapa pelayan baru itu terlihat sangat lancang di depan suamiku?"
Maria merasa kakinya lemas seketika. Seluruh tubuhnya gemetar saat menyadari bahwa "Nyonya Besar" yang ia takuti adalah istri dari pria yang baru saja ia tepuk bahunya. Dan yang lebih buruk lagi, Ashley Giovano menatapnya seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Kevin hanya bisa berdiri kaku di depan sushi stroberinya, menyadari bahwa malam ini tidak akan berakhir hanya dengan urusan ngidam istrinya, melainkan dengan badai cemburu yang siap meledak.