Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari Pelatihan Tertutup
Boqin Changing mengangguk pelan. Tidak ada pujian. Tidak ada ekspresi berlebihan. Hanya ketenangan yang seolah telah menunggu momen itu sejak awal.
“Bagus,” ucapnya sederhana.
Sha Nuo kembali duduk. Beberapa saat mereka terdiam, menikmati keheningan yang kini terasa berbeda. Bukan lagi sunyi penuh tanda tanya. Melainkan sunyi yang matang.
Akhirnya Boqin Changing berbicara lagi.
“Kita sudah sampai di titik ini. Mulai hari ini… kita akan melakukan pelatihan tertutup.”
Sha Nuo mengangkat wajahnya.
“Berapa lama?”
“Selama yang dibutuhkan,” jawab Boqin Changing tenang. “Paman fokuslah pada terobosanmu. Aku juga memiliki hal yang perlu kukejar.”
Sha Nuo tidak bertanya lebih jauh. Ia mengerti. Setiap pendekar memiliki pintu yang harus dibuka sendirian.
Mereka berdua berdiri. Namun sebelum Sha Nuo melangkah pergi, tiba-tiba tangan kanan Boqin Changing terangkat perlahan. Seketika… cahaya tipis menyelimuti telapak tangannya.
Cahaya itu tidak menyilaukan. Tidak memancarkan tekanan yang menakutkan. Warnanya bening keperakan, seperti embun pagi yang memantulkan cahaya bulan. Namun di dalamnya terkandung getaran yang dalam. Rumit dan seolah berisi ribuan benang pemahaman yang saling terjalin.
Sha Nuo tidak bergerak. Ia tahu apa maksudnya. Tatapannya justru menjadi lebih tenang. Ia berdiri tegak, membiarkan dirinya terbuka tanpa pertahanan.
Boqin Changing tidak berkata apa-apa. Dengan satu gerakan halus, cahaya di tangannya meluncur cepat. Seperti anak panah tak bersuara.
Dalam sekejap, cahaya itu telah tiba di depan Sha Nuo dan menyentuh keningnya. Tidak ada ledakan. Tidak ada suara. Namun saat cahaya itu menyatu dengan keningnya, dunia Sha Nuo seakan berhenti.
Berbagai pemahaman tentang menjadi pendekar langit mengalir masuk ke dalam pikirannya. Konsep “menjadi pendekar langit” tidak lagi sekadar kalimat abstrak.
Ia melihatnya. Ia memahaminya. Batas antara tubuh dengan titik itu sudah semakin dekat. Titik-titik simpul energi yang sebelumnya tak ia sadari kini tampak terang.
Semuanya sangat jelas. Sangat akurat. Bukan sekadar teori. Melainkan rangkuman pemahaman yang telah disaring, diuji, dan disempurnakan.
Beberapa napas kemudian, cahaya itu sepenuhnya menyatu. Sha Nuo perlahan membuka mata. Ada kilatan yang berbeda di sana. Dalam dan stabil seperti seseorang yang kembali melihat cakrawala untuk kesekian kalinya.
Boqin Changing menurunkan tangannya.
“Itu akan membantumu saat pelatihan tertutup dilakukan,” ujarnya tenang. “Aku hanya membuka peta. Jalannya tetap harus Paman tempuh sendiri.”
Sha Nuo menatapnya lama. Lalu perlahan… ia tersenyum. Senyum yang tulus. Tanpa beban. Tanpa keraguan.
“Terima kasih.”
Dua kata sederhana. Namun kali ini diucapkan dengan keyakinan penuh. Boqin Changing hanya mengangguk tipis.
Tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya berbalik. Langkah mereka mantap.
Di dalam rumah itu, mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Satu menuju terobosan menuju pendekar langit. Satu lagi menuju kedalaman yang bahkan belum terlihat batasnya.
Pintu kamar tertutup hampir bersamaan. Sejak saat itu… dunia luar untuk sementara mereka lupakan. Kini tugas para roh pusaka mereka untuk menjaga mereka saat ini.
...******...
Boqin Changing sudah berada di kamarnya. Pintu tertutup rapat. Ia telah duduk bersila di atas bantalan tipis. Punggungnya tegak. Telapak tangan bertumpu di atas lutut. Napasnya perlahan… panjang… stabil. Ia telah memasuki posisi bermeditasi.
Berbeda dengan Sha Nuo yang secara fisik, fondasi, dan jumlah qi sudah siap melangkah menuju pendekar langit, dirinya jelas belum berada di fase itu.
Sha Nuo menghabiskan waktu sangat panjang untuk mencapai titik tersebut. Puluhan tahun menempuh jalur keras. Mengasah fondasi. Menyempurnakan tubuh. Menebalkan qi hingga mendekati batas.
Sedangkan dirinya… ia baru melangkah sembilan tahun sejak kehadirannya kembali di masa lalu ini. Sembilan tahun, waktu itu terdengar panjang bagi seorang bocah yang belajar beladiri. Namun di jalur pendekar tingkat tinggi, itu hanyalah sekejap embun di ujung daun.
Memang benar, di kehidupan ini ia pernah sekali menghabiskan waktu yang cukup lama di pagoda untuk melakukan pelatihan tertutup. Ia pernah menyendiri, memisahkan diri dari dunia, mengasah diri untuk menjadi kuat.
Namun itu tidak serta-merta menghapus hukum langit. Jarak antara pendekar bumi puncak menuju pendekar langit terlihat sangat dekat. Secara teori, ia hanya perlu naik ke ranah pendekar bumi setengah langkah menuju pendekar langit… lalu menembus lapisan terakhir dan menjadi pendekar langit.
Dua langkah. Hanya dua. Namun pada dasarnya, jarak itu jauh. Bahkan sangat jauh. Orang-orang zaman dulu mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun. Sebagian bahkan ratusan tahun… hanya untuk menyentuh ambang tersebut.
Ia sendiri mampu naik dengan cepat ke ranah pendekar bumi puncak karena mengandalkan pengetahuannya di kehidupan pertama, saat ia pernah menjadi penguasa alam ini. Ia tahu jalur mana yang buntu. Ia tahu teknik mana yang boros. Ia tahu cara mengatur aliran qi agar tidak terjadi kebocoran yang tak perlu. Andaikan ia tidak memiliki pengalaman itu… mustahil ia bisa sekuat ini hingga hari ini.
Kemenangannya melawan Sha Nuo beberapa waktu lalu, padahal Sha Nuo secara keseluruhan lebih kuat darinya disebabkan oleh banyak hal.
Tekniknya yang beragam. Penguasaan prinsip dan kemampuannya menghemat qi dan mengatur ritme pertarungan.
Sha Nuo kuat… namun konsumsi qinya lebih besar. Ia bertarung seperti ombak besar. Sedangkan dirinya bertarung seperti arus bawah laut, tenang, tapi menggerus.
Begitu pula kemenangannya melawan Shen Kuang. Pria tua itu secara jumlah qi dan tekanan jelas lebih unggul. Namun ia pernah berlatih tanding di kehidupan pertamanya. Ia mengenal pola. Ia menghafal ritme. Ia tahu celah yang bahkan Shen Kuang sendiri tidak sadari.
Namun sejujurnya… Dari segi jumlah qi dan kekuatan murni, ia masih belum menyamai mereka berdua. Itu fakta dan itu fakta tidak bisa ditutupi dengan kebanggaan.
Untuk itulah kali ini… ia tidak akan mengandalkan pengalaman semata. Ia mungkin akan bertemu lawan yang kuat di masa ini yang belum ia temui di kehidupan pertamanya. Ia akan mencoba mengejar ketertinggalannya itu.
Napasnya berubah lebih dalam. Kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam dantian. Di sana… pusaran qi berputar stabil. Padat namun belum cukup.
“Aku harus memperbanyak jumlah qi milikku.”
Bukan sekadar mengatur efisiensi. Ia harus memperbesar lautan itu sendiri. Ia harus mencoba menaikkan jumlah qinya… dan mendorong dirinya ke ranah pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit.
Boqin Changing mengangkat tangan kirinya. Sebuah kilatan cahaya samar berputar di jarinya, cincin ruang miliknya. Dengan satu niat sederhana, ruang di sekitarnya bergetar halus. Seketika, berbagai sumber daya alam bermunculan di lantai kamar.
Botol-botol giok berisi pil tersusun rapi. Akar-akar tanaman berusia ratusan tahun mengeluarkan aroma pekat. Banyak juga sumber daya lain yang berkilau redup membentuk lingkaran kecil di sekelilingnya. Kamar yang tadinya sunyi kini dipenuhi energi beragam sifat, dari panas, dingin, keras, dan lembut.
Boqin Changing menyapu semuanya dengan tatapan tajam. Beberapa sumber daya menarik perhatiannya.
Matanya berhenti pada sebuah batu sebesar kepalan tangan. Permukaannya bening, namun di dalamnya berputar warna-warna seperti pelangi yang hidup. Cahaya lembut memancar dari inti batunya, namun tekanan yang tersirat di dalamnya begitu dalam hingga udara di sekitarnya terasa lebih berat.
Itu adalah Batu Pelangi Surga. Sumber daya luar biasa. Sumber daya yang bahkan mampu meningkatkan kekuatan seseorang hingga tingkat yang sangat tinggi.
Boqin Changing menatapnya lama. Tatapannya tidak dipenuhi keserakahan. Melainkan perhitungan.
Ia merasa tubuhnya saat ini… masih belum mampu menyerapnya. Ia tahu itu. Ia pernah beberapa kali mencoba menyerapnya dalam kehidupan ini. Setiap percobaan berakhir sama. Energi di dalam batu itu terlalu liar. Terlalu murni. Terlalu padat.
Qi dalam tubuhnya dipaksa melebar secara brutal. Meridian terasa seperti akan robek. Tulang seakan dihantam dari dalam. Rasa sakitnya begitu hebat hingga penglihatannya kabur. Bahkan beberapa kali ia terluka parah dan pingsan. Jika bukan karena fondasinya kuat, mungkin ia sudah mati oleh keserakahannya sendiri.
Dalam kehidupan pertamanya dulu… ia berhasil menyerap Batu Pelangi Surga. Namun bukan dengan kekuatannya sendiri. Ia melakukannya dengan bantuan pengikutnya yang ia panggil dari Bola Pemanggil, Zhi Shen. Pria itu berdiri di belakangnya saat itu, menstabilkan aliran qi, menyaring ledakan energi, dan menjaga meridian agar tidak hancur. Tanpa Zhi Shen… ia takkan berhasil.
Boqin Changing menghela napas pelan. Perlahan ia mengangkat batu itu dan memasukkannya kembali ke dalam cincin ruangnya.
“Belum waktunya.”
Ia menyingkirkan kemungkinan menggunakan batu itu. Keserakahan adalah racun bagi pendekar yang sedang membangun fondasi. Matanya kembali menyapu lantai.
Lalu… tatapannya berhenti pada sebuah bunga. Kelopaknya putih kebiruan, seperti dipahat dari es murni. Di tengahnya, inti bunga memancarkan kabut tipis berwarna perak. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin, namun bukan dingin yang menusuk, melainkan dingin yang menenangkan.
Itu Bunga Lotus Es. Namun bukan lotus es biasa. Bunga ini telah diperkuat oleh energi yin murni. Energi yin itu… ia ambil dari tubuh Shang Ni. Energi yang begitu halus, begitu dalam, dan begitu stabil. Tidak liar seperti Batu Pelangi Surga. Tidak menghancurkan. Yin murni yang telah ia saring sendiri.
Boqin Changing tersenyum tipis. Sumber daya ini… sangat bagus. Yin murni dapat menyeimbangkan pusaran qi dalam tubuhnya. Ia tidak hanya memperbanyak jumlah qi, namun juga memadatkannya tanpa ledakan. Terlebih lagi, tubuhnya saat ini memang lebih cocok menyerap energi bersifat lembut sebelum mencoba energi eksplosif.
Ia mengangkat bunga itu perlahan. Kelopak esnya tidak mencair meski disentuh. Justru terasa seperti menyentuh air yang membeku tanpa suhu. Tatapannya menjadi serius.
“Baik…”
Ia menutup mata.
“Mari kita coba dari ini.”
Dengan hati-hati, ia menempatkan Bunga Lotus Es di genggaman tangannya. Qi dalam tubuhnya mulai bergerak pelan, membentuk pusaran kecil yang menyentuh inti bunga.
Kabut energi yin perlahan terangkat. Tidak tergesa. Tidak memaksa.
Boqin Changing tidak berniat menerobos dulu. Ia hanya ingin memperluas lautan qi-nya sedikit demi sedikit…
Hari itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat… Pelatihan tertutupnya benar-benar dimulai.
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...