Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikung part 2
Jetro dan sepupunya melihat kepergian terburu buru Cakra yang sendirian meninggalkan kafe. Dia seolah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"Dia kelihatan marah." Abiyan tersenyum miring.
"Bukan kelihatan lagi. Kamu ngga khawatir, Jet. Mungkin saja polwan itu sekarang tidak sedang baik baik saja," hasut Baim.
Jetro sempat terpikir begitu juga. Dia langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan sepupu sepupunya yang kini terkekeh berderai mengetawakannya.
"Keren juga kalo Jetro berhasil nikung pacarnya polisi," tawa Abiyan lagi. Baim, Eldar dan Erland juga makin tergelak.
*
*
*
Jetro tersenyum melihat mata yang terbelakak dan wajah yang merona di depannya. Jetro mengulurkan gelas minuman gadis itu.
Febi menerimanya dengan gugup.
Jetro menarik kursi bekas Cakra tadi, bergeser ke sampingnya. Kemudian duduk tegang memperhatikan wajah Febi lekat.
Jetro lega karena tidak melihat pipi yang basah oleh air mata. Yang dia lihat malah wajah yang menahan kesal.
"Kekasihmu marah?" tanya Jetro tenang setelah Febi meletakkan gelas yang minumannya sudah dia habiskan setengahnya.
"Dia bukan kekasihku," bantah Febi.
Jetro mengerutkan alisnya
"Sikapnya seperti orang yang cemburu."
Teringat tatap tajam Cakra padanya saat memasuki kafe tadi. Waktu dia berjalan beriringan dengan Febi.
Jangan lupakan tatap ngga suka kapten itu di ruangannya tadi.
Febi malah tertawa mendengarnya
Kalo dia Fiola, baru bisa cemburu, ralatnya dalam hati.
Jetro suka melihat gadis itu tertawa. Baru pertama kali dilihatnya.
Febi menatap Jetro setelah tersadar dengan tawa spontannya tadi. Tawanya terhenti kini.
Dia berdehem sebentar untuk menghilangkan perasaan kikuk. Tatap laki laki itu membuat jantungnya berdebar cepat dan terasa aneh, tapi menyenangkan.
Dia akan berterus terang.
"Kami dijodohkan," ucapnya apa adanya. Tapi dia tidak melihat keterkejutan di mata laki laki di depannya ini.
"Aku masih boleh mengirimmu bunga, kan?" tanya Jetro santai, seolah perkataan Febi tadi buat batasan buatnya.
Febi merasa heran dengan dirinya, dia merasa tersipu mendengar ucapan Jetro.
"Boleh."
"Mengajakmu mancing?"
Febi tersenyum samar dengan rona tipis di wajahnya.
"Kapan?"
Jetro tersenyum simpatik dan Febi merasa beruntung sudah melihatnya.
Dia tampan sekali.
"Tidak lama lagi. Tunggu saja, pasti akan aku kabari."
Febi tersenyum, tidak menyahut. Tapi rona merah di pipinya makin tampak nyata.
*
*
*
Kata kata Febi membuat Cakra kepikiran juga.
Fiola tertarik dengan Jetro? Cakra menyeringai sinis.
Dia ngga percaya, tapi tetap ada yang mengganjal di dalam pikirannya.
Ngga mungkin, kan.
Tangannya meraih ponselnya. Dia harus menuntaskan rasa penasarannya sekarang. Jantungnya berdegup kencang, tetap berusaha menafikan pikiran buruknya.
"Ada apa lagi? Sebentar lagi aku mau terbang."
Cakra terdiam, sedang memikirkan kata kata yang tepat untuk mengutarakan ganjalan di dalam hatinya
"Cakra, ngomong yang cepat. Aku tutup, nih." Suara Fiola makin ngga sabar.
"Kamu ngga bohong, kan, penyebab kenapa kening kamu luka?" Cakra seolah tak peduli kalo dia sudah mengganggu ritme kerja Fiola. Dia butuh kejelasan.
"Kenapa kamu ngga percaya? Papa juga lihat kalo Febi yang mendorong aku." Fiola terdengar mendengus marah.
"Kamu membuang buang waktuku saja." sambung Fiola lagi dengan nada gusar.
"Kamu kenal Jetro?" Cakra tetap ngga peduli. Dia harus pastikan kebenaran ucapan Febi.
Hening sesaat.
"Kenapa kamu tanya begitu? Aku sempat menjadi pramugari di pesawat pribadi keluarganya."
"Kapan?" Jantung Cakra berdebar keras.
"Sudah lama. Memangnya ada apa? Mengapa kamu bertanya begitu?"
"Kata Febi, dia mendorong kamu karena kamu akan menginjak bunga dari Jetro."
Hening sesaat. Kemudian terdengar tawa berderainya.
"Bunga dari Jetro? Bukannya dari kamu? Papa juga bilang kalo buket bunga itu dari kamu. Sudah, ya, Cakra. Aku kira kamu mau ngomong apa tadi."
Cakra terdiam. Fiola terdengar jujur menjawab pertanyaannya. Hatinya jadi geram karena kata kata Febi hampir saja merusak kepercayaannya pada Fiola.
"Oke, aku percaya kamu," tukasnya merasa bersalah karena sudah mengganggu pekerjaan Fiola.
"Oh ya, Cakra. Ada kabar yang ingin aku katakan. Tapi nanti saja, ya. Aku harus buru buru terbang. Dah honey...." Fiola memutuskan komunikasinya tanpa menunggu jawaban balasan Cakra.
Perasaan leganya tergerus lagi dengan ucapan terakhir Fiola. Dia merasa Fiola akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Perasaannya jadi ngga nyaman.
*
*
*
"Kamu ingin Jetro lebih mengenal putrimu yang pramugari?" tanya Emir pada Anggareksa ketika temannya minta bertemu siang ini.
Mereka ngobrol sambil ngopi.
"Iya. Kata putriku, sudah beberapa kali bertemu Jetro dan orang tuanya ketika menjadi pramugari."
Emir menganggukkan kepalanya sambil memutar cangkirnya perlahan.
"Ya, Adriana juga sudah mengatakannya."
"Aku juga baru tau kemarin malam." Anggareksa tersenyum. Tidak menyangka putrinya pernah menjadi pramugari di pesawat jet keluarga Jetro.
"Putri baik dan sopan, kata Adriana. Juga pekerja keras. Padahal dia tidak perlu sengotot itu bekerja, ya. Kamu lebih dari mampu memberikan kedua putrimu bisa hidup mewah," senyum Emir hangat.
"Ya, dua dua putriku memang pekerja keras." Anggareksa bangga saat mengatakannya.
Emir tersenyum lebih lebar.
"Kenapa harus yang pramugari? Kenapa bukan yang polwan yang ingin kamu kenalkan pada Jetro?" Emir teringat dengan ucapan Adriana kalo putranya biasa saja dengan yang pramugari.
Anggareksa agak terkejut mendengarnya.
Padahal keluarga Jetro sudah mengenal Fiola. Tapi kenapa mereka ingin mengenal Febi? Bukannya baru ketemu tadi malam?
Banyak tanya memenuhi kepala Anggareksa. Dia menghela nafas sebelum menjawab.
"Febi sudah aku jodohkan dengan Cakra, anak wakilku dulu. Aku terikat hutang budi dengannya. Kamu pasti ingat saat wakilku pernah menyelamatkanku."
"Ooh iya iya. Aku masih ingat," angguk Emir maklum.
"Kebetulan putriku dan putranya Danu, wakilku itu, bekerja di kepolisian. Anak Danu, Cakra, jado kaptennya Febi." kekeh Anggareksa.
"Ooh.... Jadi kamu pikir karena mereka satu kantor, keduanya sudah dekat?" tanya Emir setelah meneguk kopinya.
"Sebenarnya kedua putriku dekat dengan Cakra. Tapi Fiola menolak dijodohkan dengan Cakra. Karena itu aku menjodohkan Febi," jelasnya jujur apa adanya.
Emir manggut manggut.
"Febi dan Cakra tidak menolak?"
Anggareksa menggelengkan kepalanya.
"Malam ini kami akan membicarakan kesiapan pernikahan mereka."
Emir mengangguk lagi.
"Menurutmu, ngga apa apa,,kan kalo aku berharap bisa menjodohkan Fiola dengan Jetro? Aku lebih suka menikahkan putri putriku dengan orang orang yang sudah aku kenal."
Emir kembali menganggukkan kepalanya. Dia tentu saja mengerti. Dia pun sama seperti Anggareksa. Lebih suka menjodohkan anak anak mereka dengan orang yang mereka kenal.
"Nanti kita atur pertemuan Fiola dengan Jetro."
"Terimakasih, Mir." Sepasang mata Emir berbinar bahagia. Semoga saja keinginan putrinya bisa direalisasikan.
"Sama sama."
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,