EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Juga Khawatir
Namun, bagi Zunaira malam itu adalah awal dari "puasa perasaan" yang sangat menyiksa.
Ia mulai benar-benar membatasi interaksi, jika tidak sangat mendesak ia tidak akan datang ke pertemuan kurikulum.
Ia mendelegasikan banyak tugas kepada ustadzah lain.
Bahkan saat makan malam bersama keluarga besar pesantren di mana semua ustadzah diundang dan Zunaira memilih duduk di pojok paling belakang tersembunyi di balik pilar besar agar tidak tertangkap oleh radar mata Azlan.
Ia menjadi bayangan yang sengaja menyembunyikan diri dalam kegelapan.
Namun takdir tidak membiarkannya bersembunyi terlalu lama, sebuah berita mengejutkan datang di penghujung minggu itu.
Kyai Hamid jatuh sakit secara mendadak dan seluruh pesantren gempar dan dalam kekacauan itu manajemen pesantren sementara dialihkan sepenuhnya kepada Azlan.
Dan tugas pertama yang diberikan Azlan sebagai pelaksana harian adalah mengumpulkan seluruh data pengajar untuk audit besar-besaran yaitu yang artinya Zunaira harus menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kerja Azlan.
Zunaira berdiri di depan pintu ruang kerja Gus Azlan dengan berkas di tangan.
Jantungnya berdegup kencang, ia sudah mencoba menghindar namun keadaan memaksanya untuk kembali berhadapan dengan "matahari" yang ingin ia hindari.
"Bismillah." bisiknya sambil mengetuk pintu.
"Masuk." suara dari dalam terdengar tegas namun menyimpan kerinduan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka.
Zunaira masuk dan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari bersikap dingin dan ia melihat Azlan tampak sangat lelah.
Lingkaran hitam di bawah mata pria itu menunjukkan betapa berat beban yang ia pikul sejak ayahnya sakit.
Rasa iba di hati Zunaira seketika meluluhkan dinding es yang ia bangun susah payah.
"Gus... ini data yang diminta." suara Zunaira melembut tanpa ia sadari.
Azlan mendongak dan menatap Zunaira dengan tatapan sayu.
"Terima kasih ustadzah Zunaira, setidaknya... ada satu hal yang tidak berubah hari ini yaitu ketepatan waktumu." seru Gus Azlan.
Zunaira hanya bisa terdiam dan berdiri mematung di tengah ruangan.
Sementara di luar sana takdir mulai merajut benang-benang baru yang akan memaksa mereka untuk tidak sekadar menjadi dua orang yang saling diam.
Suasana Pesantren Al-Anwar tampak lebih muram dari biasanya.
Kesibukan yang biasanya diiringi tawa renyah para santri kini berubah menjadi bisik-bisik penuh kekhawatiran.
Sakitnya Kyai Hamid bukan hanya duka bagi keluarga kediaman melainkan mendung bagi seluruh penghuni pesantren.
Namun di tengah kepanikan itu ada satu sosok yang memikul beban paling berat yaitu Gus Azlan.
Sebagai putra kedua yang kini memegang kendali harian, Gus Azlan praktis hampir tidak pernah tidur.
Ia harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, mengurusi administrasi pembangunan masjid baru, hingga menerima tamu-tamu yang datang menjenguk ayahnya.
Zunaira memperhatikan itu semua dari jauh dan ia melihat bagaimana wajah Azlan yang biasanya segar kini tampak pucat, langkahnya yang tegap mulai terlihat lunglai meski pria itu tetap berusaha tampil kuat di depan para santri.
Hingga pada suatu pagi setelah shalat Dhuha, Ummi Salamah memanggil Zunaira ke dapur pribadi kediaman.
Wajah Ummi tampak sembab dan gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari matanya yang teduh.
"Zunaira, Nduk." panggil Ummi dengan suara parau.
"Boleh Ummi minta tolong?" ucap ummi Salamah.
"Nggih Ummi, apa yang bisa Zu bantu?" jawab Zunaira sigap.
Ia merasa sedih melihat kondisi wanita yang sudah seperti ibunya sendiri itu.
"Gus Azlan... dia keras kepala sekali, sejak kemarin dia tidak mau makan dan hanya minum kopi pahit berkali-kali. Tadi pagi Ummi lihat badannya panas sekali tapi dia tetap memaksa mau memimpin rapat pengurus di kantor pusat, Ummi sedang fokus menjaga Abah di kamar, bolehkah Ummi minta tolong kamu buatkan bubur ayam dan wedang jahe kesukaannya? Lalu... hantarkan ke kantornya. Kalau Ummi yang mengantar, Azlan pasti akan menyuruh Ummi kembali ke kamar Abah, tapi kalau kamu setidaknya dia mungkin akan menghargai karena kamu yang membawanya." pinta Ummi Salamah.
Jantung Zunaira berdegup kencang, permintaan ini seperti buah simalakama.
Ia sedang berusaha sekuat tenaga menjauh namun takdir justru mendorongnya ke pusat badai.
"Tapi Ummi, apa tidak sebaiknya Ustadzah Halimah atau santri putra saja yang mengantar?" Zunaira mencoba memberikan alternatif dengan suara halus.
Ummi Salamah menggeleng lemah.
"Anak-anak putra itu kadang tidak telaten Zu dan Halimah sedang sibuk mengurus konsumsi tamu di depan, Ummi percaya padamu. Kamu tahu dosis jahe yang pas kan? Seperti dulu saat kamu sering membantu Ummi kalau Abah sedang kurang sehat." ucap Ummi Salamah.
Zunaira tidak bisa menolak, dengan tangan gemetar ia mulai menyiapkan bahan-bahan.
Ia memilih beras terbaik dan mencucinya dengan zikir yang tak putus dari bibirnya.
Ia mengiris jahe, merebusnya dengan sedikit gula aren dan kayu manis, menciptakan aroma hangat yang menenangkan.
Di setiap adukan buburnya Zunaira menyertakan doa-doa kesembuhan.
Bukan hanya untuk sang Kyai tapi juga untuk pria yang sedang berjuang di kantor pusat itu.
Setelah semuanya siap Zunaira menata makanan tersebut di atas nampan kayu.
Ia menutupinya dengan kain bersih dan dengan langkah yang terasa berat namun penuh tanggung jawab ia berjalan menuju kantor pusat pesantren.
Koridor kantor pusat nampak sepi karena sebagian besar pengurus sedang berada di masjid, Zunaira mengetuk pintu kayu jati yang tertutup rapat itu.
"Masuk." suara Azlan terdengar sangat lemah, jauh dari kesan tegas yang biasanya ia tunjukkan.
Zunaira membuka pintu perlahan, pemandangan di dalamnya membuat hatinya mencelos.
Azlan nampak menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, matanya terpejam dan setumpuk berkas berantakan di depannya.
Sebuah laptop masih menyala, memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang nampak sangat pucat.
Zunaira meletakkan nampan itu di meja tamu, agak jauh dari meja kerja Azlan.
"Gus... ini ada titipan dari Ummi Salamah." ujar Zunaira.
Mendengar suara Zunaira, Azlan membuka matanya perlahan dan ia tampak terkejut seolah tidak percaya bahwa wanita yang beberapa hari ini menghindarinya seperti sedang melihat wabah kini berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang penuh kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
"Zunaira? Kenapa bukan santri putra?" tanya Azlan sambil mencoba memperbaiki posisi duduknya, namun ia justru meringis menahan pening di kepalanya.
"Ummi yang meminta saya Gus, Ummi sangat khawatir karena Gus tidak mau makan sejak kemarin." jawab Zunaira, ia memberanikan diri mendekat sedikit untuk menuangkan wedang jahe ke dalam cangkir.
"Mohon diminum dulu jahenya Gus, ini masih hangat." ucap Zunaira.
Azlan menatap uap yang mengepul dari cangkir itu, lalu menatap Zunaira.
"Kamu juga khawatir Zunaira?" tanya Gus Azlan penasaran.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...