Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai apartemen 703, menyinari butiran debu yang menari di udara. Florence terbangun dengan denyut menyakitkan di pelipisnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk saraf kepalanya.
Rasa haus yang luar biasa mencekat tenggorokannya, namun itu semua tak sebanding dengan sensasi berat yang ia rasakan di pinggangnya.
Saat ia mencoba bergerak, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ada lengan kokoh yang melingkar posesif di perutnya, dan ia bisa merasakan embusan napas hangat yang ritmis di tengkuknya.
Seketika, kilasan memori semalam menghantamnya seperti ombak pasang.
Ia ingat rasa panas yang membakar tubuhnya. Ia ingat aroma alkohol dan seringai menjijikkan sang Senior di lobi. Ia ingat bagaimana ia diseret, namun kemudian... wajah Archelo muncul. Flo memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba membedakan mana halusinasi akibat obat dan mana kenyataan. Namun, rasa perih di bagian bawah tubuhnya dan kehangatan kulit pria di belakangnya adalah bukti yang tak terbantahkan.
Siapa? Apakah Senior itu benar-benar berhasil menghancurkan ku?
Hati Flo mencelos. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Namun, saat ia perlahan memutar tubuhnya dengan gemetar, napasnya tertahan. Itu bukan wajah Senior yang licik. Di depannya, tertidur dengan gurat kelelahan namun tampak sangat damai, adalah Archelo St. Clair.
Rasa hancur yang tadi menghimpit dadanya mendadak menguap, digantikan oleh gelombang emosi yang rumit. Sejujurnya, Flo sudah mengakhiri hubungannya dengan si Senior beberapa hari yang lalu, tepat saat ia menyadari bahwa kebenciannya pada Archelo selama setahun ini hanyalah bentuk penyangkalan atas rasa cinta yang tumbuh secara liar. Senior itu awalnya menawarkan pertemuan sebagai perpisahan teman, namun ternyata ia adalah iblis yang menjebak Flo dengan zat kimia keji.
Flo menatap wajah Archelo. Pria ini yang menyelamatkannya. Pria ini yang meski ia sebut sampah ternyata menjaganya dengan cara yang paling intim semalam. Namun, egonya yang setinggi langit seketika bangkit. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia tidak boleh mengaku bahwa ia menginginkan ini.
Archelo mengerang kecil, kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah mata cokelat Flo yang menatapnya dengan tajam, dan penuh amarah yang dibuat-buat.
Archelo tersentak bangun, ia segera menarik tangannya dan duduk tegak di sisi ranjang, mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut. Wajahnya pucat pasi, penuh dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
"Flo... aku... kau sudah bangun?" suara Archelo parau, penuh dengan ketakutan. "Aku bisa jelaskan segalanya. Semalam... Senior itu menjebak mu. Dia memberimu obat. Aku dan Justine melihatmu di lobi, dan aku tidak punya pilihan selain membawamu ke sini."
Flo tetap diam, ia menarik selimut hingga menutupi dadanya, duduk bersandar di kepala ranjang dengan akting yang sempurna. Wajahnya ia buat sedingin es, seolah-olah ia adalah korban yang paling menderita di dunia.
"Lalu?" tanya Flo singkat, suaranya bergetar sengaja ia buat bergetar. "Kau menyelamatkanku, lalu kau memutuskan untuk meniduri ku juga? Apa bedanya kau dengan dia, Archelo?"
Kalimat itu menghujam jantung Archelo. Ia menundukkan kepala, kedua tangannya mengepal di atas lututnya.
"Aku minta maaf, Flo. Demi Tuhan, aku sudah mencoba menolakmu," ucap Archelo dengan nada yang sangat penuh penyesalan. "Kau meracau panas, kau membuka pakaianmu, dan kau memohon... aku mencoba bertahan, aku bersumpah aku mencoba. Tapi saat kau bilang kau mencintaiku... aku kehilangan kendaliku. Aku mencintaimu, Flo. Selama setahun ini aku hanya mati-matian menahan diri karena aku merasa menjijikkan bagimu."
Archelo berbalik, menatap Flo dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak tahu bahwa di balik wajah marah itu, jantung Flo sedang berdegup kencang karena bahagia mendengar pengakuan cinta Archelo.
"Aku tahu permintaan maaf tidak akan mengubah apa yang terjadi semalam," lanjut Archelo dengan nada sungguh-sungguh. "Aku telah melanggar privasimu, aku telah merusak kehormatanmu saat kau tidak sadar sepenuhnya. Aku benar-benar sampah seperti yang kau katakan."
Flo memalingkan wajah, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. "Kau memang sampah, Archelo. Kau tahu betapa kerasnya aku berusaha menjaga harga diriku di kampus ini?"
"Aku tahu! Dan karena itu, aku akan bertanggung jawab penuh," Archelo meraih tangan Flo, meskipun Flo berpura-pura ingin menariknya. "Aku akan melakukan apa pun. Jika kau ingin aku menikahi mu sekarang juga, aku akan membawamu ke gereja. Jika kau ingin aku pergi dari Harvard agar kau tidak perlu melihat wajahku lagi, aku akan melakukannya setelah memastikan kau baik-baik saja."
Archelo menarik napas panjang, suaranya merendah. "Tapi semalam... aku melakukannya bukan karena nafsu semata. Aku menciummu dengan seluruh rasa cinta yang aku punya. Aku bahkan melakukannya di dalam... karena kau memintanya. Aku tahu itu salah, aku tahu aku bodoh karena menuruti keinginanmu yang sedang dipengaruhi obat. Tapi aku siap menanggung segala risikonya. Jika ada benih yang tumbuh di sana... dia akan menjadi St. Clair yang paling aku sayangi."
Flo tetap diam selama beberapa menit, membuat suasana menjadi sangat mencekam bagi Archelo. Ia sengaja membiarkan pria itu menderita dalam rasa bersalahnya. Bagi Flo, ini adalah pembalasan atas kata-kata tiduri sampai pagi yang diucapkan Archelo setahun lalu.
"Kau pikir dengan menikahi ku semuanya selesai?" Flo menatap Archelo dengan tatapan menghakimi. "Kau menghancurkan segalanya dalam satu malam, Archelo."
"Aku tahu, Flo. Aku tahu," Archelo hampir berlutut di samping ranjang. "Tapi tolong, jangan minta aku untuk pergi. Berikan aku kesempatan untuk menebusnya. Aku akan menjagamu lebih dari siapa pun. Pria brengsek itu... aku sudah meminta Justine mengurusnya, dan aku sendiri yang akan memastikan dia mendekam di penjara atas apa yang dia campurkan ke minumanmu."
Archelo menatap Flo penuh permohonan. "Tolong, katakan sesuatu. Marahi aku, pukul aku, tapi jangan diam seperti ini."
Flo menghirup napas dalam-dalam, berpura-pura menghapus air mata imajiner di sudut matanya. "Keluar, Archelo. Aku ingin mandi. Aku tidak ingin melihatmu sekarang."
"Tapi Flo—"
"Keluar!" bentak Flo dengan akting kemarahan yang luar biasa.
Archelo langsung berdiri, wajahnya penuh kesedihan. "Baik... aku akan menunggumu di ruang tamu. Aku sudah memesankan makanan dan obat untuk kepalamu. Aku tidak akan pergi sampai aku tahu kau sudah tenang."
Saat Archelo melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan, Flo seketika menjatuhkan wajahnya ke bantal dan memekik pelan tanpa suara. Wajahnya memerah sempurna, bukan karena marah, tapi karena malu dan bahagia yang membuncah.
"Bodoh kau, Archelo St. Clair," bisik Flo pada bantalnya. "Kau jatuh dalam perangkapku. Tapi setidaknya, sekarang aku tahu kau benar-benar mencintaiku."
Flo menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit bengkak, mengingat betapa lembutnya Archelo memuja tubuhnya semalam di sela-sela kegilaan mereka. Ia memang marah karena dijebak oleh sang Senior, tapi ia bersyukur karena pangeran yang datang menyelamatkannya adalah pria yang selama ini mengisi mimpi-mimpinya di Harvard.
Drama ini baru saja dimulai, dan Flo memutuskan untuk memainkan perannya sedikit lebih lama, membiarkan Archelo St. Clair berlutut di bawah kakinya untuk menebus dosa yang sebenarnya sangat dinikmati oleh mereka berdua.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰