Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Sepi
Subuh telah tiba dan akhirnya Asha diperbolehkan untuk menengok ke dalam ruangan UGD.
Asha membuka pintu dan ia melihat Arsa terkulai lemas di atas kasur rumah sakit. Kepalanya diperban, tangannya diinfus, dan bajunya telah berganti.
Asha berjalan dengan langkah pelan lalu berdiri di samping Arsa.
Tangan kanannya reflek menutup mulutnya tatkala ia melihat seberapa parahnya kondisi Arsa.
Arsa penuh luka, pucat, dan seperti begitu tersiksa. Ia tak bergerak sesentipun di atas kasur, hanya nafas putus-putusnya saja yang mengisi tubuh itu.
Asha mengambil kursi yang ada di dekat meja, lalu memindahkan ke samping kasur tempat Arsa berbaring.
Ia duduk perlahan-lahan, matanya masih begitu terfokus menatap wajah Arsa. Namun, setiap ia menatap wajah Arsa, penyesalan terus datang menghampirinya.
"Maaf Arsa..." bisik Asha dengan air mata yang jatuh. Sementara tangannya mengelus kepala Arsa.
"Aku nyesal, nyesal banget egois dan gak mau dengerin kamu" lanjut Asha pelan.
Meskipun mau Asha meminta maaf bagaimanapun, ia tetap menghadapi kenyataan bahwa Arsa masih belum siuman.
Menyadari itu, ia menghentikan elusannya dan beralih menggenggam tangan kanan Arsa dengan begitu lembut.
"Dingin banget yah, tangan kamu" kata Asha dengan sedikit tawa canggung. Namun, tak ada jawaban.
Asha tak hanya berhenti di menggenggam tangan Arsa, dia menyandarkan dagunya di tangan Arsa. Serta membuat tangan lemas itu menyentuh pipinya.
Seketika perasaan nostalgia langsung mengisi seluruh hatinya. Begitu lembut dan hangat, tapi begitu menyesakkan hingga Asha meneteskan lagi air mata.
"Kita jangan putus ya, Arsa?" pinta Asha dengan mata yang berbinar-binar dan suara yang lemah.
Asha menggelengkan kepalanya, berusaha menahan dirinya agar tidak terisak-isak.
"Aku sadar, sayangku Arsa. Kalau ternyata aku lah yang membuat seribu kehangatanmu hilang hanya karena satu kesalahan saja."
Asha menurunkan tangan Arsa perlahan-lahan ke kondisi seperti semula.
Dengan pikiran sedikit nakal, ia mendekat ke arah wajah Arsa, mengecup pipi Arsa. Lalu tersenyum hangat.
Asha berdiri dari duduknya. "Gws ya, Arsa" ucapnya kepada Arsa yang masih tak sadarkan diri.
Ia lalu mengusap air matanya dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang badan.
"Aku mau berangkat sekolah dulu, ya" pamit Asha sembari melambaikan tangannya.
Wajah sedih tadi kini berubah menjadi wajah dengan senyuman yang hangat.
Asha lalu berbalik badan dan berjalan pergi dari Arsa yang masih tertidur. Meskipun dia merasa senang Arsa selamat, tapi hatinya begitu menginginkan Arsa siuman secepatnya.
Dan tiba-tiba ketika Asha sudah setengah jarak dengan pintu, langkahnya terhenti karena sesuatu.
"Asha" panggil suatu suara yang sangat familiar di telinga Asha, yaitu suara Arsa.
Kehangatan dan kelembutan suara Arsa benar-benar ciri khas dari Arsa itu sendiri.
Asha langsung berbalik dengan cepat, dia awalnya berpikir bahwa Arsa telah siuman dan memanggilnya. Tetapi, Arsa masih baring tak sadarkan diri.
Asha yang wajahnya senang berubah kembali menjadi sedikit sedih, tetapi dia memaksa dirinya untuk tersenyum.
Ia lalu melambai sekali lagi. "Byee byee, sayang."
Cekreekk... (suara pintu tertutup)
🌷🌷🌷
Asha mengetuk pintu rumahnya tatkala jam sudah menunjukkan pukul 5:37. Ia menunggu begitu lama hingga akhirnya ibunya membukakan pintu.
Asha sudah menduga apa yang akan ibunya lakukan, yaitu sudah pasti akan memarahinya.
"Kamu ya?! Bikin ibu khawatir aja semalam ditelpon gak diangkat-angkat" omel ibu Asha dengan nada suaranya yang cempreng itu, berisik.
Asha membuang pandangannya, ia merasa malu dan kesal karena ibunya yang pagi-pagi sudah begitu berisik.
"Aku bermalam di rumahnya Cinta" bohong Asha dengan mata yang tak berani menatap mata ibunya.
Ibunya Asha tau bahwa Asha saat itu berbohong, tentu karena ia yang paling mengenali bagaimana kebiasaan anak tersebut.
Meski tahu pun, ibu Asha sama sekali tidak bisa membuktikan apapun karena Cinta semalam juga memberi-tahunya.
"Ya tapi setidaknya telpon itu diang—" sanggah Ibu Asha namun langsung dipotong begitu saja oleh Asha.
"Ibu kenapa sih overprotective banget? Aku udah gede!" potong Asha dengan nada suara yang cukup nyaring, cukup membuat ibunya itu terdiam.
Asha lalu langsung melewati ibunya begitu saja dan masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.
Ibu Asha hanya dapat terdiam sembari memegang dadanya yang merasakan sakit hati. Ia ingin marah, tapi dia tidak punya tenaga.
Hubungan Asha dan ibunya memang kurang baik. Semuanya berawal sejak masa lalu yang begitu lama.
Sikap Asha memang begitu keterlaluan untuk orang yang melahirkannya. Akan tetapi, tak serta merta Asha hanyalah anak durhaka pada umumnya.
Asha memiliki rasa kebencian tersendiri kepada ibunya. Sejak ia kecil, ibunya selalu saja mengurungnya di rumah, selalu saja menekannya untuk berprestasi, dan tak segan menghukum jika ia gagal.
Selain itu juga, ibunya selalu saja memarahi Asha ketika ia bertanya ayahnya seperti apa.
Asha pada akhirnya tidak pernah mengetahui siapa ayahnya dan apa yang terjadi padanya, sampai-sampai tak pernah hadir dalam kehidupannya.
Asha benar-benar tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan ibunya dan tanpa kasih sayang orang tua. Jadi wajar saja sifatnya seperti itu.
Setelah bersiap-siap untuk sekolah, Asha kembali bersekolah seperti biasanya lagi. Berangkat tidak terlalu terlambat.
Ia berjalan di lorong menuju kelasnya, sekelebat ingatan tentang Arsa yang mengejarnya untuk meminta maaf langsung menyambar isi kepalanya.
Hatinya langsung terasa begitu sakit, bukan karena ego tetapi karena rasa penyesalan.
Tapi apa yang bisa ia lakukan dengan penyesalannya? Nasi sudah menjadi bubur, begitulah pikirnya.
Meskipun Asha berusaha berpikir seperti itu dan bertindak seperti biasa, tapi kehadiran Arsa dalam hidupnya adalah hal biasa.
Asha melihat ke depan kelasnya, biasanya, hampir setiap hari Arsa akan berdiri menunggu di pintu kelas dengan wajah yang penuh rasa kangen.
Begitu aneh, Asha merasa seperti melihat sosok Arsa berdiri di pintu kelas.
Awalnya sosok Arsa tidak menyadari kehadiran Asha, namun saat ia menyadari Asha datang. Wajah itu langsung penuh senyuman.
Bayangan Arsa itu melambai kepadanya dengan begitu kuat.
"Pagi Asha!" sapa Arsa dengan suara yang penuh semangat.
Tanpa sadar Asha membalas lambaian itu. "Pagi Arsa!" balas Asha dengan suara yang pelan, sedikit serak.
Hatinya begitu terkoyak tatkala ketika ia mengedipkan mata, sosok Arsa yang melambai di depan pintu hilang begitu saja.
Asha menurunkan tangannya dengan perlahan, lalu berjalan menuju kelas dengan hati yang langsung menanam rindu kepada Arsa.
"Bisakah kita kembali normal seperti biasa, Arsa?" batin Asha dengan ribuan ketakutan yang bersarang dalam hatinya.
Pada akhirnya Asha menjalani jam pagi masih dengan rasa kangen yang luar biasa.
Matanya terus saja menengok ke arah meja Arsa yang tidak ditempati oleh siapapun.
Asha selalu teringat kenangan sederhana di mana ketika Asha curi-curi pandangan ke meja Arsa, Arsa akan menyadarinya.
Arsa biasanya akan langsung tersenyum hangat dan melambaikan tangan, begitu lama hingga sang guru menegurnya. Asha yang mengingat itu hanya bisa tertawa.
Asha hari ini benar-benar menyadari bahwa kesehariannya selalu saja dipenuhi oleh Arsa, mulai dari pagi hingga pulang sekolah.
Hari ini yang tanpa kehadiran Arsa sedikitpun membuat kekosongan di hati Asha.
'Mengapa kehadiran Arsa yang begitu berharga tidak pernah aku anggap spesial kemaren?' batin Asha dengan penuh penyesalan.
Pada akhirnya hari yang begitu berat itupun berakhir. Sepulang sekolah Asha selalu saja mampir ke rumah sakit, namun tetap saja Arsa tidak menunjukkan tanda-tanda siuman.
Sedih, takut, harap, dan kangen semua Asha rasakan setiap harinya. Di sekolah ia memaksa dirinya untuk biasa saja, meskipun begitu berat bagi hatinya.
Sepulang sekolah, ia selalu mampir ke rumah sakit melihat Arsa yang masih pulas. Dan malam, adalah waktu yang selalu membuat Asha menangis.
Dalam kesehariannya, selalu ada doa agar Arsa selalu bangun.
Dan...
2 Minggu Kemudian...
"Pagi Mba Asha, pasien atas nama Kian Arsa, sudah siuman."
TO BE CONTINUED
Urgh capeeee, perasaan author sekarang kurang enak. Ntar dah klo ada typo dibenerin, yang penting up chapter dulu yagayaaaa 😭.
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku