Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Mansion megah keluarga Volkov di Texas kini terasa seperti makam besar yang dingin dan sunyi. Tidak ada lagi suara langkah kaki yang tegas atau aroma cerutu kemenangan yang biasanya memenuhi ruangan. Sejak kepergian Nikolai tiga belas tahun lalu, rumah ini telah kehilangan denyut jantungnya.
Helen Volkov duduk di kursi goyang di balkon kamarnya, menatap hamparan tanah Texas yang luas namun terasa kosong. Rambutnya kini sepenuhnya memutih. Sorot matanya yang dulu tajam dan penuh penghinaan, kini hanya menyisakan kerinduan mendalam. Di pangkuannya terdapat sebuah bingkai foto kecil—potret terakhir Nikolai sebelum putra tunggalnya itu pergi meninggalkan Texas demi Rosemary.
Setiap hari, Helen dihantui penyesalan. Ia menyadari bahwa segala rencana keji yang ia susun belasan tahun lalu serta sabotase-sabotase berikutnya hanyalah cara untuk mempertahankan kendali. Ia pikir, dengan membuat Nikolai menderita dan bangkrut, putranya akan merangkak kembali ke Texas untuk meminta maaf dan mengakui bahwa ibunya benar. Namun, ia salah menilai darah dagingnya sendiri. Nikolai memiliki watak keras kepala yang sama dengan ayahnya, namun memiliki kesetiaan yang entah ia warisi dari siapa.
Di ruang kerja lantai bawah, Viktor Volkov terduduk lesu di balik meja kebesarannya. Pria yang dulu dijuluki "Singa Texas" itu kini tampak ringkih. Selama bertahun-tahun, ia melancarkan serangan membabi buta terhadap setiap bisnis yang coba dibangun Nikolai di Eropa dan Rusia. Ia membekukan akun, menyuap mitra, dan menghancurkan kontrak.
Viktor melakukan itu bukan karena ingin menghancurkan Nikolai secara total. Di balik ego maskulinnya yang bengkok, Viktor berharap Nikolai akan menyerah pada tekanan ekonomi dan pulang. Ia ingin Nikolai datang kepadanya dan berkata, "Ayah, aku butuh bantuanmu." Viktor ingin kembali menjadi pahlawan bagi putranya, namun dengan cara yang salah—melalui penindasan.
"Dia tidak akan pernah datang, Viktor," Helen masuk ke ruangan dengan langkah gontai. Suaranya serak. "Seranganmu semalam ke pelabuhan Rusia... itu hanya akan membuatnya semakin membencimu."
Viktor mengepalkan tangannya di atas meja. "Aku hanya ingin dia sadar bahwa tanpa nama Volkov, dia bukan siapa-siapa! Tapi anak itu... dia lebih memilih hidup seperti tikus di Rusia daripada menjadi raja di Texas."
"Dia bukan tikus, Viktor," Helen berbisik, air mata jatuh ke pipinya yang keriput. "Dia adalah seorang pria yang sedang melindungi keluarganya dari kita. Dari kakek dan nenek yang bahkan tidak tahu seperti apa rupa cucu mereka."
Ketidaktahuan adalah hukuman terberat bagi pasangan tua ini. Nikolai telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam menyembunyikan identitas keluarganya. Viktor telah menyewa detektif terbaik, namun Nikolai—yang kini mahir dalam taktik gerilya bisnis dan keamanan siber—selalu berada sepuluh langkah di depan.
Viktor dan Helen bahkan tidak tahu bahwa mereka telah kehilangan satu cucu. Nikolai sengaja merahasiakan kematian Alexander sepuluh tahun lalu. Baginya, Viktor dan Helen tidak layak mendapatkan kesempatan untuk berduka atas anak yang secara tidak langsung mereka bunuh melalui tekanan finansial yang menghambat perawatan medis saat itu. Di mata Texas, cucu kembar mereka mungkin masih hidup dan tumbuh besar di suatu tempat.
"Apa kau pikir mereka mirip Nikolai?" tanya Helen tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang selalu ia ulang setiap malam. "Atau mungkin mereka mirip wanita itu?"
Viktor terdiam. Ia sering membayangkan seorang anak laki-laki dengan mata tajam keluarga Volkov berlari di koridor mansion ini. Ia membayangkan dirinya mengajari cucunya cara menunggang kuda atau mengelola bursa saham. Namun, bayangan itu selalu buyar saat ia menyadari bahwa ia bahkan tidak memiliki satu pun lembar foto cucunya. Nikolai benar-benar menghapus keberadaan mereka dari radar orang tuanya.
Sore itu, sebuah laporan intelijen terakhir sampai di meja Viktor. Laporan itu singkat dan menyakitkan: Target Nikolai telah mencapai stabilitas total di Saint Petersburg. Upaya sabotase terakhir gagal karena serangan balik digital dari sumber yang tak dikenal. Target tidak menunjukkan keinginan untuk berkomunikasi. Silsilah keluarga tetap tertutup rapat.
Viktor melemparkan laporan itu ke perapian. Ia melihat kertas itu terbakar, perlahan menjadi abu—sama seperti harapannya.
"Aku menyerah, Helen," ucap Viktor dengan suara pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Dia menang. Nikolai benar-benar sudah menghapus kita dari hidupnya."
Helen mendekati suaminya, meletakkan tangan di bahu pria yang selama puluhan tahun ia dampingi dalam keangkuhan. "Kita yang salah, Viktor. Kita pikir cinta bisa dibeli dengan kekuasaan. Kita pikir kesetiaan bisa dipaksakan dengan rasa lapar. Kita menghina Rosemary, tapi ternyata dialah yang menjadi fondasi kekuatan Nikolai."
Mereka berdua menyadari realitas pahit itu sekarang. Putra mereka tidak akan pernah kembali untuk meminta maaf, karena tidak ada yang perlu ia maafkan pada dirinya sendiri. Justru merekalah yang seharusnya bersujud di kaki Nikolai, namun kebanggaan dan waktu yang sudah terbuang membuat pintu itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Viktor menatap ke arah brankas besar di sudut ruangan, tempat surat wasiat keluarga Volkov disimpan. Nama Nikolai masih tercoret di sana, sebuah tindakan emosional yang ia lakukan sepuluh tahun lalu saat sedang murka. Dulu, ia pikir ancaman penghapusan warisan itu akan membuat Nikolai berlutut.
"Biarkan nama itu tetap tercoret," bisik Viktor. "Karena Nikolai sudah memiliki warisannya sendiri. Dia memiliki cinta yang tidak pernah kita miliki, dan dia memiliki putra yang tidak akan pernah merasakan racun dari tangan kakeknya."
Di Texas, matahari mulai terbenam, menyisakan bayangan panjang di mansion yang sunyi. Sementara itu di Rusia, ribuan mil jauhnya, Theodore sedang tertawa bersama Rose dan Nikolai di depan perapian yang hangat. Theodore, sang cucu yang tidak pernah mereka kenal, adalah bukti hidup bahwa serangan Viktor gagal total.
Viktor dan Helen kini hanyalah dua orang tua kesepian di atas tumpukan emas. Mereka memiliki segalanya, kecuali satu hal yang paling mereka inginkan: kehadiran seorang putra dan pelukan dari cucu yang wajahnya pun tak pernah mereka ketahui. Mereka akhirnya menyerah, mengakui bahwa cara mereka mencintai adalah senjata yang akhirnya membunuh hubungan mereka sendiri.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰