Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.8 Nilai Tinggi dan Hukuman
Suara tepuk tangan pelan mulai menggema di lapangan utama Akademi Luminiella. Matahari pagi sudah tinggi, cahayanya keemasan menyentuh rumput yang masih basah embun. Penonton duduk di bangku kayu panjang, beberapa siswa mencondongkan tubuh ke depan dengan mata penuh kekaguman, sementara yang lain bertepuk tangan ragu-ragu. Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan daun segar. Beberapa siswa mulai berbisik, suara mereka samar tapi jelas di tlinga Nyx yang berdiri di panggung.
Cae menurunkan tangannya pelan. Aliran mana dari Gentle Gale memudar secara bertahap, meninggalkan rasa hangat kecil di telapak tangannya. Napasnya masih sedikit tersengal, tapi ia menahan agar tidak terlihat lelah. Keringat tipis menetes di dahi, membuat rambut biru tuanya yang diikat tinggi menempel sedikit di kulit. Ia menatap Guru Lumina yang berdiri di pinggir panggung. Jubah guru itu bergerak pelan ditiup angin. Cae bisa mendengar detak jantungnya sendiri, lebih cepat dari biasa, tapi mulai melambat seiring tepuk tangan yang bertambah.
Ely menyarungkan katana kembali. Gerakannya mulus dan tenang. Ia berdiri tegak, mata mnatap ke depan tanpa ekspresi berlebih. Tangan kanannya menyentuh sarung katana secara refleks, merasakan dingin logam yang mulai hangat karena panas tubuhnya. Nyx berdiri di sampingnya. Ekor hitamnya melengkung pelan ke atas. Telinganya berdiri tegak, menangkap suara tepuk tangan yang bertambah. Matanya kuning keemasan berkedip. Cahaya perak samar di pupilnya masih terlihat, tapi sudah mulai memudar seiring buff malAmnya dimatikan.
Guru Lumina mngangkat tangan. Suara tepuk tangan pelan-pelan berhenti. Lapangan menjadi diam. Hanya suara angin dan daun yang bergesekan di pohon-pohon pinggir lapangan. Guru itu menatap trio dengan mata tajam tapi adil.
“Demonstrasi dari kelompok Caeril Fulvus selesai dengan baik,” katanya. Suaranya menggema jelas di lapangan. “Kolaborasi kalian menunjukkan efisiensi yang tinggi dalam pertarungan nyata. Buff, teknik berpedang, dan sihir menyerang tergabung dengan mulus. Nilai kalian untuk proyek ini adalah yang tertinggi di kelas ini.”
Suara tepuk tangan kembali terdengar. Lebih keras dari tadi. Beberapa siswa terlihat kagum. Beberapa bertepuk tangan pelan tapi tulus. Cae merasa dada terasa lebih ringan. Nilai tertinggi. Kata itu terdengar seperti angin segar di telinganya. Ia mengangguk kecil sebagai terima kasih. Ely tetap tenang. Nyx tersenyum kecil, ekornya bergerak lebih cepat sejenak.
Guru Luminamelanjutkan. Suaranya masih pelan tapi tegas. “Namun, ada gangguan selama demonstrasi. Aku sudah investigasi selama demonstrasi berlangsung. Mantra sabotase berasal dari siswa Varian de Luthaine.”
Suara desir terdengar dari penonton. Beberapa siswa menoleh ke arah Varian yang berdiri di baris belakang. Wajahnya pucat sekarang. Tangan kanannya tersembunyi di balik jubah, tapi gerakannya berhenti. Matanya menatap Guru Lumina dengan kaget. Teman-temannya mundur setengah langkah, seperti tidak ingin terlibat.
Guru Lumina mnatap Varian langsung. Matanya dingin. “Varian de Luthaine, kau akan mendapat hukuman. Dua minggu skorsing dari kelas dan latihan sihir. Kau juga harus minta maaf secara resmi kepada kelompok Caeril. Kegagalan mematuhi berarti dikeluarkan dari akademi.”
Varian menunduk. Matanya menatap tanah. Suaranya pelan. “Saya… minta maaf.”
Guru Lumina mengangguk pelan. “Demikian demonstrasi hari ini selesai. Kalian semua boleh bubar.”
Penonton mulai bangkit. Beberapa siswa berbisik sambil pergi. “Varian ketahuan.” “Kelompok Caeril hebat.” “Beastkin itu… kekuatannya aneh.”
Cae, Ely, dan Nyx berjalan menjauh dari lapangan. Cae berjalan di tengah. Ia menarik napas pelan. Dada terasa lebih ringan. Nilai tertinggi. Hukuman untuk Varian. Semua terasa seperti angin segar di wajahnya. Tapi ada rasa khawatir kecil di ujung pikirannya. Varian adalah bangsawan. Hukuman ini mungkin membuatnya lebih dendam.
Ely berjalan di sebelah kanan Cae. Katana sudah kembali di sarung. Tangan kanannya menyentuh gagangnya secara refleks. Ia tidak bicara banyak. Matanya menatap ke depan. Tapi ada kepuasan kecil di tatapannya.
Nyx berjalan di sebelah kiri Cae. Ekor hitamnya melengkung pelan. Telinganya masih berdiri tegak. Ia menangkap suara bisik-bisik yang menjauh. Cahaya perak samar di matanya masih terlihat, tapi sudah memudar. Buff malamnya sudah dimatikan.
Cae menoleh ke Ely. “Terima kasih. Kalau tidak ada kalian, aku tidak yakin bisa selesai sebaik ini.”
Ely mengangguk pelan. “Kita bertiga. Bukan aku sendirian.”
Nyx mengangguk cepat. Ia menggeser lebih dekat ke Cae. “Iya. Kita bersama. Itu yang membuat kita menang.”
Cae tersenyum kecil. Senyum yang tulus. Ia mengangguk. “Kalian benar. Kita bertiga.”
Mereka berjalan keluar dari lapangan. Angin siang berhembus lagi. Daun-daun bergesekan. Suara itu sekarang terasa seperti dukungan.
Mereka tahu… ini bukan akhir. Ini awal dari sesuatu yang lebih besar.
Dan mereka siap.