NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Gengsi Sang Komandan

​"Hasilnya positif, Ndan. Seratus persen akurat. Gila, Ibu istri Komandan itu makan apa sih pas hamil?"

​Dokter Rudi melempar tumpukan kertas hasil laboratorium ke atas meja besi di ruang rapat Divisi Kriminal. Wajahnya kusut karena kurang tidur, tapi matanya berbinar penuh kekaguman. Dia menunjuk grafik spektrometer di halaman pertama.

​"Sianida dosis tinggi. Disuntikkan lewat pembuluh darah kapiler di kaki, persis seperti yang dibilang Bu Zoya. Dan ini..." Rudi membalik halaman berikutnya dengan semangat, "residu di leher korban bukan lebam mayat alami. Itu efek sublimasi dry ice. Pelaku sengaja bikin kita mikir korban dicekik biar kita buang-buang waktu nyari sidik jari di leher."

​Kalandra duduk di ujung meja, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Ruangan itu penuh asap rokok dan bau kopi basi, tapi yang paling bikin dia sesak napas adalah fakta yang baru saja dibeberkan Rudi.

​"Lo yakin bukan kebetulan, Rud?" tanya Kalandra sangsi, meski hatinya mencelos. "Mungkin dia cuma nebak? Atau dia pernah baca kasus serupa di novel detektif?"

​"Nebak gundulmu, Ndan," semprot Rudi, lupa sopan santun karena terlalu antusias. "Dia tahu dosisnya, dia tahu metode manipulasinya. Itu pengetahuan level spesialis forensik senior, bukan level pembaca novel. Kalau nggak ada Bu Zoya, sampai lebaran monyet juga kita bakal nyari pembunuh yang suka nyekik, padahal pelakunya tukang suntik!"

​Raka, yang duduk di sebelah Rudi, mengangguk setuju sambil mengunyah ujung pulpen. "Berarti profil pelaku kita berubah total, Ndan. Kita bukan nyari preman berotot yang bisa matahin leher. Kita nyari orang cerdas, rapi, mungkin punya akses ke bahan kimia atau peralatan medis."

​Kalandra diam. Harga dirinya serasa diinjak-injak. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan ruang rahasia di kamar Zoya, dan pagi ini dia ditampar lagi dengan fakta bahwa istrinya lebih kompeten daripada seluruh timnya.

​"Kita butuh profil psikologisnya, Ndan," lanjut Raka, menatap papan tulis putih yang penuh foto korban. "Kenapa posisinya kayak boneka? Kenapa baju merah? Kenapa di pelabuhan? Kita butuh orang yang bisa 'baca' mayat kayak kemarin lagi. Kita butuh Bu Zoya."

​Suasana hening. Semua mata tertuju pada Kalandra.

​Kalandra mendengus kasar. Minta tolong pada Zoya? Pada istri yang kemarin dia sebut beban dan pengangguran? Mau ditaruh di mana muka garangnya ini?

​"Nggak perlu," potong Kalandra cepat, nadanya defensif. "Kita punya psikolog kepolisian. Panggil Dokter Sarah."

​"Dokter Sarah lagi cuti melahirkan, Ndan," sahut Raka polos. "Lagian, analisis Bu Zoya kemarin tajam banget. Sayang kalau nggak dimanfaatin."

​"Ah, paling juga Bu Zoya cuma hoki," celetuk sebuah suara dari arah pintu.

​Sinta masuk membawa nampan berisi gorengan, pinggulnya digoyang-goyangkan sedikit berlebihan saat melewati kursi Kalandra.

Dia meletakkan nampan itu di meja sambil tersenyum sinis.

​"Kalian ini berlebihan banget sih mujinya," kata Sinta sambil melirik Kalandra, mencari dukungan. "Namanya juga zaman internet. Siapa tahu sebelum ke TKP, Bu Zoya sempat googling tanda-tanda keracunan sianida. Atau mungkin dia nonton serial CSI di Netflix seharian di rumah. Kebetulan aja pas."

​Kalandra menatap Sinta. Harusnya dia setuju. Harusnya dia mengangguk dan membenarkan ucapan Sinta demi menyelamatkan egonya. Tapi bayangan kerangka manusia dan mikroskop elektron di kamar rahasia Zoya kembali melintas di kepalanya. Itu bukan barang yang dibeli penonton Netflix.

​"Iya kan, Ndan?" pancing Sinta lagi, menyentuh lengan Kalandra. "Masa Komandan yang gagah berani kalah sama ibu rumah tangga yang kerjanya cuma belanja? Pasti cuma kebetulan itu."

​Kalandra menepis pelan tangan Sinta, lalu berdiri mendadak. Kursinya berderit nyaring.

​"Raka, siapkan mobil," perintah Kalandra kaku.

​"Mau ke mana, Ndan? Kita kan harus rapat strategi," tanya Raka bingung.

​"Pulang," jawab Kalandra singkat. Dia menyambar kunci mobilnya di atas meja. "Gue mau jemput saksi ahli."

​"Saksi ahli siapa?"

​"Istri gue."

​Rahang Sinta jatuh. Raka dan Rudi saling pandang sambil senyum-senyum tertahan.

​Kalandra berjalan cepat keluar dari ruang rapat, wajahnya panas.

Sialan. Sialan.

Dia benci situasi ini. Dia benci harus mengakui bahwa dia butuh Zoya. Tapi kasus The Puppeteer ini sudah memakan tiga korban, dan dia tidak mau ada korban keempat hanya karena dia gengsi.

​Sesampainya di lobi, Kalandra merogoh ponselnya. Jempolnya ragu-ragu melayang di atas nama kontak "Zoya" di layar. Selama dua tahun menikah, dia bisa menghitung pakai jari berapa kali dia menelepon istrinya. Itu pun biasanya cuma titip pesan ke pembantu.

​Dia menekan tombol panggil.

​Tuuuut... Tuuuut...

​Panggilan tersambung. Kalandra menahan napas, menyiapkan kalimat pembuka yang tidak terlalu merendahkan harga dirinya tapi cukup membujuk.

​Tuuuut...

​Tidak diangkat.

​Kalandra mencoba lagi. Kali ini dia membiarkannya berdering sampai mati sendiri.

​Tetap tidak ada jawaban.

​"Sombong banget sih," gerutu Kalandra, rasa kesalnya naik ke ubun-ubun. "Baru bener sekali aja sudah berlagak sibuk kayak presiden."

​Padahal di kepalanya, dia tahu Zoya mungkin sedang di kamar rahasia itu, sibuk dengan dunianya sendiri yang mengerikan. Atau mungkin sengaja mengabaikannya sebagai balasan atas ucapan kasarnya kemarin pagi.

​Kalandra memasukkan ponsel ke saku dengan kasar. Dia tidak punya pilihan. Dia harus menyeret Zoya keluar dari "guanya".

​"Ndan, saya nyetir?" tawar Raka yang sudah standby di depan lobi.

​"Nggak usah! Lo urus data CCTV pelabuhan. Biar gue sendiri yang urus masalah internal," tolak Kalandra sambil masuk ke kursi pengemudi.

Dia membanting pintu mobil, menginjak gas dalam-dalam meninggalkan markas kepolisian.

​Misi Kalandra hari ini bukan menangkap penjahat, tapi menaklukkan gengsinya sendiri dan membujuk istri "patung es"-nya untuk bicara.

Dan entah kenapa, tugas kedua ini rasanya jauh lebih menakutkan daripada menghadapi pembunuh berantai manapun.

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!