Damian, lelaki yang dikenal dengan julukan "mafia kejam" karena sikapnya bengis dan dingin serta dapat membunuh tanpa ampun.
Namun segalanya berubah ketika dia bertemu dengan Talia, seorang gadis somplak nan ceria yang mengubah dunianya.
Damian yang pernah gagal di masa lalunya perlahan-lahan membuka hati kepada Talia. Keduanya bahkan terlibat dalam permainan-permainan panas yang tak terduga. Yang membuat Damian mampu melupakan mantan istrinya sepenuhnya dan ingin memiliki Talia seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Keesokan paginya, Talia bangun lebih awal dari biasanya. Ia langsung beranjak dari tempat tidur dengan semangat, masih dengan muka bantal. Hari ini adalah hari perlombaan Casen, dan meskipun dia tidak terlalu memahami dunia balap, dia tetap ingin memberikan dukungan penuh untuk sahabatnya. Apalagi Casen juga selalu mendukungnya.
Talia keluar menuju kamar Lintang dan Casen, dan mengetuknya beberapa kali sampai pintu di buka oleh Casen. Cowok itu sudah siap, beda sama Lintang yang masih terlelap di tempat tidur. Talia menghela nafas panjang lalu mendekato lelaki itu.
"Lintang, bangun! Kita harus siap-siap ke sirkuit!" serunya mengguncang tubuh Lintang yang masih terlelap di ranjang. Cowok itu hanya mengerang dan menarik selimut menutupi kepalanya.
"Lima menit lagi Tal ..."
"Gak ada lima menit! Kita harus berangkat dalam satu jam! Casen udah siap! Cepet bangun! Gue harus pastiin lo biar gue bisa siap-siap juga." Talia terus menarik selimutnya hingga Lintang akhirnya menyerah dan bangun dengan wajah mengantuk. Casen tersenyum tipis. Talia memang ahlinya bangunin orang.
"Astaga Talia, iya-iya gue siap-siap sekarang." kata Lintang sambil menggaruk-garuk rambutnya. Talia tersenyum puas.
"Ya udah. Dua puluh menit lagi gue balik ke sini. Awas aja kalo lo belum siap kayak Casen.
Lintang hanya mendesah malas. Talia keluar.
"Cas, kalo dia masih gak bangun lo siram aja pake air satu gelas ya." Casen tertawa tetapi tetap mengangguk.
"Mm."
"Sahabat laknat bener lu." kata Lintang dongkol. Talia hanya menjulurkan lidahnya dan keluar dari kamar itu.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian kasual yang nyaman, mereka bertiga berangkat menuju arena balap. Sepanjang perjalanan, Talia terus berbicara tanpa henti tentang betapa menegangkannya melihat balapan secara langsung. Casen hanya menanggapi dengan anggukan dan sesekali tersenyum, sementara Lintang sibuk mencari tempat kopi terdekat untuk mengusir kantuknya.
Setibanya di sirkuit, suasana sudah sangat ramai. Para pembalap sedang bersiap di paddock masing-masing, dan penonton memenuhi tribun. Talia dan Lintang duduk di area yang telah disediakan untuk tim Casen, menunggu lomba dimulai.
"Jangan gugup, Cas. Kita di sini buat dukung lo," kata Lintang sambil menepuk bahu Casen sebelum cowok itu menuju garasi timnya.
Casen hanya mengangguk, lalu berjalan dengan percaya diri. Dia mengenakan pakaian balap lengkap dengan helmnya di tangan. Ini adalah momen yang sudah dia tunggu-tunggu.
Ketika balapan dimulai, Talia tak bisa menahan diri untuk berteriak memberi semangat.
"Ayo, Casen! Gaspol! Jangan kasih kendor!"
Lintang tertawa melihat antusiasme Talia.
"Tal, dia gak bakal dengar lo dari sini."
Namun, Talia tak peduli. Matanya fokus pada lintasan, melihat Casen melesat di antara para pembalap lainnya. Napasnya tertahan setiap kali ada tikungan tajam, dan dia hampir melonjak dari tempat duduk saat Casen berhasil menyalip lawannya.
Hingga putaran terakhir, Casen berada di posisi kedua. Semua orang menahan napas, menunggu momen penentuan. Dengan manuver tajam di tikungan terakhir, sampai mencapai garis Casen tetap mempertahankan dirinya di posisi kedua."
"Casen! Casen! Juara dua tetap juara, kita bangga sama lo Cas!" Talia bersorak kegirangan, melompat-lompat sambil menarik tangan Lintang.
Casen turun dari motornya dan melepas helmnya, menghembuskan napas lega. Para anggota timnya langsung menghampiri dan memberikan selamat. Lintang dan Talia ikut berlari ke arahnya. Walaupun bukan juara pertama, dia tetap patut di berikan penghargaan. Karena untuk mendapatkan juara dua saja sangat sulit dan harus usaha.
"Selamat bro!" kata Lintang menepuk pundak Casen.
"Gila, Cas! Lo beneran keren!" tambah Talia dengan mata berbinar.
Casen hanya tersenyum kecil. Tanpa Talia sadar, dari keramaian di atas tribun ada yang terus mengamatinya. Orang itu awalnya kaget melihat Talia, tetapi rasa kagetnya berubah menjadi rasa kesal melihat gadis itu yang tampak dekat sekali dengan dua pria. Satunya adalah peserta lomba yang berhasil mendapatkan juara dua.
"Damian ada apa, apa yang kau lihat?"
Ya, laki-laki itu Damian. Siapa lagi?
Ethan yang berdiri di sampingnya bertanya sambil menatap ke bawah, penasaran dengan apa yang dilihat oleh Damian. Saat ia menyadari pria itu menatap ke tiga orang anak muda yang asyik berbincang di bawah sana, alisnya terangkat.
"Kau kenal mereka? Lelaki yang pakai seragam itu perwakilan dari salah satu club Indonesia. Lumayan bisa juara dua." kata Ethan.
Tapi Damian sama sekali tidak peduli dengan laki-laki yang di ceritakan oleh Damian. Dia lebih peduli dengan sosok gadis yang terlihat berbicara terus tanpa henti di bawah sana. Sesekali lelaki yang berdiri di sebelahnya akan mengusap lembut rambutnya.
Damian sangat kesal melihatnya. Cemburu? Sepertinya iya. Karena ia tahu dirinya sudah mulai tertarik kepada gadis itu.
"Damian, Damian?" panggilan Ethan menyadarkan Damian.
Pria itu menoleh.
"Bagaimana bisnis kita? Senjata-senjata itu sudah harus di amankan. Lihat ke sana, pria itu adalah salah satu ketua organisasi. Dia yang ingin bertemu denganmu. Aku sudah mengatur tempat pertemuan kalian. Sekarang di hotel sebelah arena balap ini."
Damian melirik ke seorang pria paruh baya yang di tunjuk Ethan. Pria itu dan anak buahnya juga sedang menatap ke arah mereka. Ethan dan orang itu tampak berkomunikasi lewat mata.
Damian menarik napas panjang, menahan kekesalannya. Dia mengalihkan pandangannya dari Talia dan kembali fokus pada urusan utamanya.
"Baik, ayo kita selesaikan," ucapnya datar.
Ethan mengangguk dan berjalan lebih dulu, sementara Damian melirik ke bawah sekali lagi. Talia masih tertawa bersama kedua pria itu, seolah dunia mereka hanya berputar di sana. Dia mendecak pelan, lalu berbalik, mengikuti Ethan menuju hotel tempat pertemuan akan berlangsung.
Kesal sekali berada di posisi seperti ini. Tetapi Damian tidak dapat berbuat apa pun. Biar bagaimanapun tujuan utamanya datang ke negara ini adalah karena pekerjaan, bukan liburan. Meski rasanya ia ingin sekali menarik gadis itu ikut dengannya.
Entah racun apa yang telah gadis itu berikan padanya, yang pasti Damian sekarang sering sekali terbayang-bayang akan wajah gadis itu. Sungguh, nama Kanara bahkan sudah sepenuhnya menghilang dari pikirannya.
"Kau tidak fokus hari ini Damian, sebenarnya ada masalah apa?" Ethan bertanya pelan di saat mereka memasuki mobil. Ia bisa melihat perubahan Damian.
"Tidak ada, hanya urusan pribadi yang tidak ada hubungannya denganmu." kata Damian to the point.
Ethan akhirnya tidak bertanya lagi, meski merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Damian. Jarang sekali ia melihat lelaki itu kurang fokus.
hadeuh taliaaa,emang bikin gemes deh
orang asing yg aku kenal bagaimana bisa kyk gitu
🤣🤣🤣
Damian dipukul-pukuli bertubi2 saking terkejutnya tenang aja nona falesnaian bukan tipe pria yg ngambil kesempatan dalam kesempitan....
Damian menolongmu dlm keadaan mabuk parah dan tidak terjadi apa2...
Damian jg menjagamu dan melindungimu.....
damian udah bener2 kena racun ini siih..
lanjuuuut thooor,,gas pol mumpung blm puasa hihi