NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pintu apartemen tertutup dengan bunyi klik yang hampa, mengunci kebisingan Jakarta di luar sana. Namun, kesunyian di dalam ruangan ini justru terasa lebih memekakkan telinga. Aku menyandarkan punggung di balik pintu, membiarkan tubuhku merosot hingga terduduk di lantai yang dingin.

Apartemen ini adalah pelarianku selama setahun terakhir. Tempat yang kupikir adalah ruang untuk "menyembuhkan diri", padahal nyatanya hanyalah bunker tempatku bersembunyi dari kenyataan yang memuakkan.

Pandanganku kosong, tertuju pada sebuah kotak kayu kecil di atas meja rias yang sudah lama tidak kubuka. Dengan tangan gemetar, aku bangkit dan melangkah mendekatinya. Di dalamnya, masih tersimpan ponsel lama yang kugunakan saat SMA hingga awal kuliah—benda yang sengaja kumatikan dan kusimpan dalam-dalam sejak hari aku memutuskan untuk "menghilang".

Tanganku ragu saat menekan tombol power. Butuh beberapa saat hingga layar itu menyala, menampilkan wallpaper foto kami berdua di kantin universitas. Aku yang menghadap kamera dengan ekspresi datar, dan Baskara yang tersenyum lebar sambil memegang cup cake.

Begitu sinyal tertangkap, rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi hingga ponsel itu bergetar hebat di tanganku. Sebagian besar dari satu tahun yang lalu.

“Na, kamu di mana? Ibumu bilang kamu nggak pulang.”

“Aruna, tolong angkat. Aku cuma mau tahu kamu aman.”

“Aku salah apa, Na? Kasih tahu aku supaya aku bisa perbaiki.”

Lalu, sebuah pesan terakhir dari enam bulan lalu, singkat dan penuh kepasrahan:

“Aku berhenti mencari, Aruna. Semoga kamu bahagia di mana pun kamu berada. Terima kasih untuk semuanya.”

Aku meremas ponsel itu ke dadaku, terisak hingga sesak. Setiap pesan adalah bukti betapa kerasnya Baskara mencoba mengetuk pintu yang sengaja kukunci rapat. Dia tidak pernah mengkhianatiku. Dialah yang selama ini kukubur hidup-hidup dalam ketidakpastian, sementara aku dengan sombongnya merasa sebagai pihak yang tersakiti.

Malam ini, di tengah cahaya lampu apartemen yang remang, aku baru menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Baskara tidak hanya sudah pergi, dia sudah selesai dengan luka yang kuberikan. Dan kini, giliran luka itu yang mulai membusuk di dalam diriku.

Pagi itu, mataku yang sembab hanya bisa tersamarkan oleh lapisan concealer yang tebal. Aku melangkah menyusuri koridor kantor dengan map laporan di pelukan, seolah benda itu adalah perisai pelindungku. Namun, keberanianku menciut tepat di depan pintu ruangan Baskara.

Di sana, seorang wanita dengan senyum paling tulus yang pernah kulihat sedang merapikan dasi pria itu. Rasya.

"Jangan lupa dimakan ya, Bas. Aku buatkan cumi hitam kesukaanmu," suara Rasya lembut, memenuhi udara yang mendadak terasa menyesakkan bagiku.

Baskara mengangguk, ekspresi wajahnya yang semula kaku saat membaca dokumen langsung melunak. Ada binar di matanya yang dulu hanya kulihat saat ia menatapku—binar yang sudah lama kumatikan. "Terima kasih, Sya. Kamu tidak perlu repot-repot bangun pagi hanya untuk ini."

"Bagi aku ini bukan repot, ini cara aku bilang terima kasih karena kamu sudah ada," jawab Rasya sembari meletakkan kotak bekal berwarna biru di atas meja.

Aku mematung di ambang pintu, merasa seperti penyusup di tengah kebahagiaan yang seharusnya bisa jadi milikku jika saja aku tidak egois. Kenangan tentang bagaimana aku selalu menolak setiap kali Baskara ingin membawakanku makanan, atau bagaimana aku mencibir perhatian-perhatian kecilnya, menghantamku telak. Rasya memberikan apa yang dulu aku anggap sebagai "beban".

"Aruna?" Suara Baskara memecah lamunanku. Nada bicaranya kembali dingin, profesional, dan berjarak.

Rasya menoleh, tersenyum ramah padaku tanpa tahu bahwa wanita yang berdiri di depannya adalah sosok yang pernah menghancurkan pria yang dicintainya. "Eh, ada mbak Aruna. Mau menyerahkan laporan ya? Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Bas."

Rasya sempat menepuk bahuku pelan saat berjalan keluar—sebuah gestur persahabatan yang membuat hatiku semakin perih. Kini, hanya tersisa aku dan Baskara dalam keheningan yang mencekam.

"Laporannya," ucapku lirih, meletakkan map itu di ujung meja, jauh dari kotak bekal buatan Rasya.

Baskara tidak langsung menyentuh map itu. Ia menatap kotak bekalnya, lalu beralih menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Kamu lihat itu, Aruna? Dia tidak pernah bertanya apakah aku akan bosan. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seseorang yang peduli."

Aku menunduk, tidak sanggup membalas kalimatnya. "Aku tahu, Bas. Aku... aku hanya ingin memberikan laporan ini."

"Letakkan saja. Dan Aruna," ia menghentikan langkahku saat aku hendak berbalik. "Jangan pernah lagi mencoba menunjukkan wajah penuh penyesalan itu di depan Rasya. Dia tidak berhak menanggung sisa kotoran dari masa lalu kita."

aku menoleh ke belakang dengan wajah datar " aku tidak pernah menunjukan wajah penuh penyesalan di depan siapapun termasuk Rasya pak baskara, anda tenang saja sisa kotoran masa lalu kita sudah ku buang seperti sampah " ucapku pelan

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!