NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

emas,darah dan amukan sang ratu

Pagi itu, Desa Aethelgard diselimuti kabut tipis yang menyegarkan. Ferdi sedang berdiri di pinggir kolam barunya ketika Elrond, pemimpin kaum Elf, datang membawa dua ember besar berisi air yang bergolak.

Di dalamnya, sepuluh ekor ikan hias berukuran besar dengan warna sisik yang berkilau—perpaduan emas dan biru safir—berenang dengan lincah.

"Sesuai pesananmu, Tuan Ferdi," ucap Elrond sambil menuangkan ikan-ikan itu ke dalam kolam. "Ikan-ikan ini berasal dari danau kristal, sangat kuat dan indah. Mereka akan memberikan ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya."

Ferdi tersenyum puas melihat kolamnya kini benar-benar hidup. Ia merogoh kantong kulit di pinggangnya. "Ini untukmu, Elrond. Sepuluh koin emas, dua koin tembaga, dan ini... ambil juga pisang, apel, serta sebungkus serbuk kopi terbaik dari kebunku."

Elrond terbelalak. "Ini terlalu banyak, Ferdi! Aku hanya menjalankan tugas kecil. Koin emas ini saja sudah cukup untuk membeli sepuluh kolam seperti ini!"

"Ambil," desis Ferdi dengan tatapan tajam khas penguasa yang tak terbantahkan. "Ini untuk keamanan dan kebaikanmu menjaga desa ini. Dan kopi itu... itu adalah tanda terima kasihku secara pribadi. Jangan menolak jika kau masih ingin telingamu utuh."

Elrond menelan ludah, ia tertegun melihat transformasi pria ini. Sosok yang seribu tahun lalu dikenal sebagai pembantai dingin yang menghancurkan kerajaan hanya karena bosan, kini berdiri di depannya sebagai seorang calon ayah yang sangat dermawan. "Terima kasih, Ferdi. Kau... kau benar-benar telah berubah."

Setelah Elrond pergi, Ferdi terdiam. Ia mendengar bisikan dari para penebang kayu Elf tentang sebuah goa kuno yang tiba-tiba terbuka di jantung hutan terdalam akibat pergeseran lempeng sihir semalam. Insting petualangnya mendadak bangkit. Ia ingat, goa-goa kuno seperti itu biasanya menyimpan berlian dan harta karun peninggalan era dewa.

Vani sedang mengandung. Aku butuh perhiasan pelindung untuknya. Dan aku butuh emas tambahan agar anak kami tidak kekurangan apa pun, batin Ferdi.

Ia menoleh ke arah rumah. Vani sedang duduk di teras, merajut baju bayi kecil dengan wajah serius. Ferdi tahu, jika ia jujur ingin ke goa terlarang, Vani yang sedang sensitif karena hamil akan mengomelinya sampai kiamat.

"Vani!" seru Ferdi di depan pintu.

"Apa lagi?!" sahut Vani dari teras dengan nada tinggi. "Jangan bilang kau mau memperluas sawah lagi! Aku sudah pusing melihatmu bekerja seperti sapi jantan!"

"Aku... aku akan pergi ke pasar dengan Elrond! Mungkin sampai sore! Ada beberapa alat tani dan benih langka yang harus kubeli!" bohong Ferdi. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia berperang.

"Pasar? Bukankah kemarin kau bilang alat tanimu sudah lengkap?" Vani menyipitkan matanya, menatap Ferdi dengan penuh kecurigaan. "Jangan coba-coba keluyuran ke hutan, Ferdi! Ingat, aku sedang hamil besar, kalau ada apa-apa dan kau tidak di sini, aku akan membakar seluruh kebunmu!"

"Hanya ke pasar, Sayang! Aku janji!" Ferdi segera berlari sebelum Vani sempat berdiri dan menahannya.

Ferdi bergabung dengan pasukan Elf Elrond di perbatasan hutan. Mereka bergerak cepat menembus pepohonan raksasa hingga tiba di depan sebuah mulut goa yang menganga seperti kerongkongan monster. Udara di dalamnya berbau busuk, lembap, dan kuno.

"Kita bagi dua," perintah Ferdi dengan nada berwibawa. "Elrond, kau dan pasukanmu ambil jalur kiri. Aku akan mengambil jalur kanan. Jalur ini terasa lebih... berbahaya, cocok untukku."

Saat Ferdi melangkah masuk ke jalur kanan, ia langsung disambut oleh ribuan laba-laba raksasa yang merayap di dinding goa. Belum sempat ia menarik napas, kelelawar buas sebesar tangan manusia menukik tajam, mencoba mencabik lehernya.

"Makhluk-makhluk kotor!" Ferdi mengayunkan tangannya, menciptakan gelombang tekanan udara yang menghancurkan kawanan kelelawar itu. Namun, seekor laba-laba raksasa berhasil mendaratkan gigitannya di lengan kiri Ferdi saat ia sedang lengah.

"Argh!" Ferdi meringis. Rasa sakitnya menusuk, racunnya mulai menyebar. Tapi pikiran pertamanya bukan kematian, melainkan: Sial, Vani pasti akan tahu kalau aku terluka. Omelannya akan lebih beracun dari laba-laba ini.

Ia terus masuk lebih dalam hingga tiba di sebuah ruang luas yang berkilauan. Di tengah ruangan itu terdapat peti harta karun kuno yang dikelilingi oleh tumpukan emas. Namun, di atas peti itu, melingkar seekor ular raksasa sepanjang 10 meter.

Ular itu mendesis, matanya kuning pekat menatap Ferdi sebagai mangsa. Tanpa peringatan, ular itu melesat. Ferdi terlempar menghantam dinding batu.

Brak!

"Hanya segini?" Ferdi bangkit, meski kepalanya bercucuran darah. Ia menyerang dengan kekuatan fisik murni, memukul rahang ular itu hingga retak. Namun si ular membalas dengan kibasan ekor yang membuat Ferdi terlempar lebih dari sepuluh kali. Kaki Ferdi mulai pincang, dan kepalanya terasa berdenyut hebat.

Ferdi melihat ke atas. Di langit-langit goa, tepat di atas posisi ular itu, terdapat sebuah stalaktit besi tajam peninggalan zaman kuno yang tampak rapuh. Ferdi menyeringai. Ia sengaja membiarkan ular itu mendekat, membiarkan dirinya terluka demi posisi yang pas, lalu dengan kecepatan kilat, ia melemparkan pedangnya ke arah pangkal besi tersebut.

Clang!

Besi panjang dan lancip itu jatuh dengan kecepatan penuh, menancap tepat di kepala sang ular, menembusnya hingga ke lantai goa. Ular itu mengejang sesaat sebelum akhirnya kaku tak bernyawa.

Ferdi terengah-engah. Ia memanggil Elrond untuk membantu mengangkut harta itu. Ferdi mengambil sebuah perhiasan kuno—sebuah kalung dengan permata merah yang memancarkan kehangatan sihir. Ia juga mengambil beberapa berlian langka, kertas sihir kuno, dan pedang pusaka.

Dalam perjalanan pulang, Ferdi melihat seekor sapi liar raksasa. "Vani butuh protein untuk bayinya," gumamnya. Ia segera menyembelih sapi itu, memotong dagingnya dengan rapi di hutan untuk dibawa pulang sebagai "oleh-oleh" tambahan.

Ferdi tiba di rumah saat matahari sudah hampir terbenam. Ia berjalan pincang, , wajahnya penuh darah kering, namun tangannya menyeret karung berisi daging sapi dan peti harta karun.

Vani sudah berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di bawah perutnya yang buncit. Matanya berkilat marah dan penuh air mata.

"Pasar, katamu?" suara Vani rendah, namun bergetar hebat.

"Vani... lihat, aku membawa daging sapi segar dan... dan berlian," Ferdi mencoba tersenyum meskipun bibirnya pecah.

"DARI MANA KAU MENCURI SEMUA ITU, FERDI?!" teriak Vani, emosinya meledak karena hormon kehamilan dan rasa khawatir. "Kau bilang ke pasar! Tapi kau pulang dengan luka di kepala, tanganmu membiru, dan kau pincang! Kau pikir aku bodoh?!"

"Aku tidak mencuri, Vani! Aku ke goa kuno di hutan terdalam. Aku melawan ular raksasa dan laba-laba untuk mendapatkan perhiasan ini," Ferdi mencoba mendekat, namun Vani mundur, wajahnya memerah karena marah.

"GOA TERLARANG?! Kau mempertaruhkan nyawamu demi benda-benda bodoh ini saat istrimu sedang hamil besar?!" Vani menunjuk ke arah emas dan berlian dengan jijik.

"Kau pikir aku peduli pada emas? Bagaimana kalau kau mati? Bagaimana kalau anak ini lahir tanpa ayah karena ayahnya terlalu sombong ingin menjadi pahlawan?!"

"Aku ingin memberimu kalung ini, Vani," Ferdi mengeluarkan kalung permata merah itu dengan tangan gemetar.

"Ini kalung kuno. Dia bisa melindungimu saat aku tidak ada, memberimu kehangatan saat dingin, dan menyejukkanmu saat panas. Aku hanya ingin kau dan anak kita aman—"

"AKU TIDAK BUTUH KALUNG ITU! AKU HANYA BUTUH KAU TETAP HIDUP!" Vani berteriak sambil menangis histeris. Ia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu kamar. BRAK! "Jangan masuk! Tidur saja di kolam ikanmu dengan harta karunmu itu! Aku tidak mau melihat wajah pembohongmu!"

Ferdi terdiam di ruang tamu yang gelap. Ia menatap kalung di tangannya, lalu menatap luka-lukanya sendiri. Ia merasa sangat bodoh. Ia bermaksud memberikan perlindungan, namun justru memberikan ketakutan pada istrinya.

"Vani..." Ferdi mengetuk pintu kamar dengan pelan. "Maafkan aku. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang spesial untukmu dan calon anak kita. Pakailah kalungnya, diletakkan di meja depan pintu. Aku akan mandi dan mengobati lukaku."

Tidak ada jawaban, hanya suara isak tangis dari balik pintu yang menyayat hati Ferdi. Sang Raja Kegelapan menyadari, kemenangan di goa itu tidak ada artinya jika ia kalah dalam menjaga hati istrinya.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!